Dimple

Chapter 15: Starry Night


.

.

BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M

.

.

.


.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.


Warning!
Some explicit mature scene in this chapter.
Read for your own risk


.

.
I've been warn you.

.

.


"Hyung apa kau sudah selesai?!" Seru pria bersurai blonde dari ruang tengah.

Ia melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Sudah hampir setengah jam dirinya menunggu sahabatnya itu bersiap-siap dan ia mulai tidak sabar sekarang. Sebenarnya sejak siang tadi ia sudah membantu Seokjin untuk menyiapkan baju yang akan dipakainya malam ini, tapi entah karena grogi atau apa, pria itu masih saja lama berkutat di dalam kamar.

DRRT! DRRT!

...

Ddybunn's calling...

...

"Halo Kookie?"

"Halo, kau sudah berangkat?" Tanya orang di seberang.

"Belum. Masih menunggu Jin-hyung. Dia lama sekali di kamar, entah apa yang sedang dia lakukan."

Jungkook tertawa kecil. "Tunggu saja, mungkin dia sedang bingung memilih pakaian yang bagus untuk bertemu Namjoon-hyung."

"Sebenarnya Kook, kami sudah menentukan bajunya sejak sore tadi untuk mengantisipasi hal seperti ini, tapi tetap saja."

"Mungkin dia masih menyiapkan mental babe." Kekehnya. "Ya sudah, aku sedang dalam perjalanan menuju club dengan Hoseok-hyung. Kau hati-hati di jalan."

"Oke. Ucapkan maaf pada Hoseok-hyung karena mungkin kami akan terlambat."

"Akan kusampaikan nanti. Ah ya, kau jangan pakai baju yang terlalu terbuka. Aku tidak ingin kau jadi pusat perhatian orang-orang."

Giliran Taehyung yang terkekeh sekarang. "Kita lihat saja nanti. Lagipula aku tidak bisa mengganti pakaianku sekarang, waktunya tidak akan cukup."

"Tae"

"Ah, sepertinya Jin-hyung sudah selesai. Sampai jumpa di club Jungkookie."

PIP!

Taehyung kembali mengeluarkan tawa kecil dari bibirnya. Ia yakin kekasih kelincinya itu sedang berusaha menahan kekesalan di sana. Sekali-sekali menggodanya tidak masalah kan?

CKLEK!

"Uh Tae, aku tidak yakin dengan choker ini."

Taehyung tampak menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya tampak melebar begitu melihat tubuh tinggi sang hyung yang dibalut dengan kemeja putih dengan deep V-neck, celana ketathitam, dan sebuah choker berwarna senada yang melekat di leher jenjangnya.

"Woah! Kau terlihat hebat hyung!"

"Benarkah? Tapi apa tidak"

"Tidak tidak! Tidak sama sekali. Percaya padaku hyung." Taehyung tersenyum kotak.

Seokjin menghela napas pelan. "Baiklah. Berangkat sekarang?"

"Yup! Kita sudah ditunggu semua orang di club."

Pria bersurai blonde bergegas bangun dari duduknya kemudian sedikit merapikan kemeja panjang serta rambutnya sebelum mengikuti Seokjin keluar dari apartemen. Setelah memastikan pintu apartemen terkunci, kedua pria tampan itu tampak berjalan beriringan menuju lift yang terletak tak jauh dari kamar Seokjin.

"Jangan gugup begitu hyung. Santailah, Namjoon-hyung pasti senang melihatmu di sana. Apalagi dengan penampilanmu yang seperti ini."

Rona merah seketika menjalar di pipi Seokjin. "Jjangan bicara yang aneh-aneh."

"Aku serius hyung." Ujar Taehyung seraya berjalan memasuki lift. "Tak akan ada yang bisa menolak pesonamu malam ini, kujamin itu."

"Astaga Taehyung! Kau membuatku semakin gugup."

Taehyung seketika tertawa melihat ekspresi lucu yang ditampakkan oleh sang hyung. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lift seraya mengingat-ingat rencana yang suah Jungkook dan Hoseok susun. Pada awalnya ia tak menyetujui rencana mereka berdua yang terbilang tidak biasa, tapi setelah mempertimbangkan efek baik dan buruknya, akhirnya ia menyanggupi rencana itu.

Semoga setelah ini permasalahan mereka berdua bisa segera selesai.


.

.

~Buttermints~

.

.


Seorang pria bersurai ash brown tampak turun dari mobil Bentley New Continental berwarna hitam yang terparkir di halaman samping club. Kehadirannya sontak menarik sejumlah pengunjung club yang berada di sana. Aura berwibawa, wajah tegas sekaligus tampan, tubuh semampai yang dibalut dengan setelan kemeja dan celana mahal, serta sebuah tunggangan mewah yang baru saja dia naiki.

Bagaimana orang-orang tidak tetarik dengan sosok yang nyaris sempurna ini?

Beberapa wanita dan pria di sana terlihat terang-terangan menunjukkan ketertarikan mereka pada pria itu, namun sayang semua gestur itu diabaikan mentah-mentah oleh si pria. Ia tampak berjalan lurus masuk ke dalam club VIP yang sudah disewa semalam penuh oleh sepupu sekaligus teman masa kecilnya yang sedang berulang tahun.

"Kenapa tempat ini terasa penuh sekali? Berapa orang yang diundang oleh kuda pemaksa ini?" Erangnya seraya berusaha melewati kerumunan orang yang sedang bercengkerama di dekat lantai dansa.

"Woah! Namjoon, saudaraku!" Teriak pria bersurai hitam dengan segelas champagne di tangannya. "Welcome to the club bro!"

Namjoon mendesah pelan seraya menghampiri pria itu. "God, berapa orang yang kau undang ke sini huh? Kau bilang ini private party."

"Surprise?" Jawabnya dengan cengiran tanpa dosa.

"Jung Hoseok, I swear to godㅡ"

"Kujamin kau akan menikmati pestanya sepupuku. Siapa tahu kau bisa pulang dengan salah satu tamuku malam ini." Bisiknya di telinga Namjoon.

Pemilik surai ash brown tampak memutar matanya malas. "Aku datang ke sini hanya untuk menepatiㅡ"

"Ayo ayo! Kuantarkan kau ke meja khusus!"

Namjoon mengerang ketika tangannya ditarik paksa oleh sang sepupu. Hoseok membawa Namjoon menaiki tangga kemudian menghampiri sekelompok orang yang sedang sibuk mengobrol di bagian balkon. Tempat itu sedikit terpisah dengan yang lain, seperti memang sengaja dikhususkan untuk orang-orang tertentu.

"Everybody! Please meet my forever-single-friend, Kim Namjoon!"

Orang-orang di meja itu tampak kompak menolehkan kepalanya ke arah dua pria yang baru saja datang, termasuk pria berkemeja putih yang duduk di salah satu sofa. Tubuh Namjoon seketika menegang begitu menyadari wajah yang familiar itu.

"Seokjin?"

Pria yang dipanggil tampak menyunggingkan senyum malu pada Namjoon. "Hㅡ hai."

Tanpa ia sadari, iris gelapnya bergerak menyusuri tubuh Seokjin dari atas ke bawah. Kemeja putih dengan deep v-neck yang menampakkan sebagian dada dan tulang selangkanya, celana ketat yang memeluk kaki jenjangnya dengan sempurna, serta jangan lupakan choker hitam yang menambah kesan seksi pada pria itu.

Bohong jika Namjoon tidak merasakan gejolak aneh pada tubuhnya setelah melihat penampilan Seokjin yang konservatif.

"Well well." Hoseok menunjukkan seringai lebarnya kemudian mendorong Namjoon hingga jatuh terduduk di sebelah Seokjin dengan sengaja. "Selamat menikmati pestanya saudaraku."

Namjoon mengerang seraya melemparkan tatapan tajamnya pada Hoseok. "Kuda sialan."

"Sudah hyung, ini minumanmu." Jungkook menyodorkan segelas champagne ke hadapan Namjoon. "Tenang, minuman ini tidak mengandung terlalu banyak alkohol."

Pria bersurai ash brown menerima gelas berisi cairan beralkohol itu. Ia menggumamkan kata terima kasih pada Jungkook sebelum menyesap champagnenya dengan perlahan.

"Ah ya, perkenalkan hyung. Ini Min Yoongi, salah satu produser di entertainment Hoseok-hyung dan di sebelahnya Park Jimin, kekasih Yoongi-hyung." Jelas Jungkook.

"Kim Namjoon."

Yoongi menyambut uluran tangan pria berlesung pipi. "Min Yoongi, panggil saja Yoongi."

"Hai Namjoon-ssi, aku Jimin. Salam kenal." Pria bersurai golden brown tersenyum lebar seraya menyalami Namjoon.

"Senang bertemu dengan kalian." Senyumnya.

"Hyung kau tidak menyapaku?" Protes Taehyung di sebelah Jungkook.

Namjoon tertawa kecil. "Maaf. Selamat malam Taehyung-ah."

Pria bersurai blonde tersenyum puas. Ia terlihat menyesap minumannya seraya menunjuk Seokjin dengan dagunya. Namjoon yang mengerti dengan gestur Taehyung tampak melirik pria di sebelahnya dengan sedikit gugup.

Santai Joon, bersikaplah seperti biasa.

"Selamat malam, Seokjin."

"Aㅡah ya, selamat malam." Jawab Seokjin dengan kepala menunduk.

Adegan manis itu sontak mengundang sorakan dari seluruh penghuni meja, membuat wajah Seokjin memerah karenanya. Namun berbeda dengan Seokjin, Namjoon tak merespon kalimat-kalimat godaan yang dilontarkan oleh teman-temannya. Ia tampak sibuk menyesap champagnenya dengan pandangan yang dialihkan ke arah lain.

"Menikmati pestanya?"

Kepala Namjoon menoleh ke arah pria yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.

"Ya, mungkin." Namjoon memutar matanya malas. "Tapi aku tak bisa lama-lama. Banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan."

Seokjin seketika melirikkan matanya. Sedikit merasa kecewa mendengar Namjoon tidak akan tinggal lama di tempat ini.

"Oh ayolahh. Malam ini saja. Kau kan jarang-jarang pergi berkumpul dengan teman-temanmu."

"Tidak bisa, pekerjaanku menumpuk Hoseok-ah."

Sang sepupu mendengus. "Baiklah, kau boleh pulang. Tapi kau harus mencicipi minuman spesial yang sudah kusiapkan khusus untuk teman-teman dekatku lebih dulu."

Alis Namjoon seketika terangkat. "Minuman apa? Kau tahu kan jika toleransi alkoholku rendah. Aku tidak mau."

"Don't worry my son, kujamin kau akan ketagihan setelah mencicipi minuman spesial ini." Hoseok memberi tanda pada bartender di dekat meja mereka untuk menyiapkan minuman yang ia maksud.

"Kau benar-benar membeli minuman limited edition itu hyung?" Tanya Taehyung.

"Yup! Dalmore 62, hanya diproduksi dua belas buah dan aku berhasil mendapatkan empat diantaranya untuk kalian." Jawab Hoseok bangga.

"Dalmore 62? Bukankah minuman itu memiliki harga $215,000 per botolnya?"

Ucapan Jimin itu sontak membuat Namjoon tersedak. "Kau menghabiskan $860,000 hanya untuk minuman beralkohol? God, uang itu bisa kau gunakan untuk membangun perusahaan baru jika kau mau."

"Tidak masalah, berapapun akan kukeluarkan untuk teman-teman tersayangku." Cengirnya seraya menyodorkan gelas pada Namjoon dan Seokjin. "Ini untukmu dan ini untuk Seokjin."

"Ah terima kasih Hoseok-ssi."

Seokjin menerima gelas yang sudah terisi dengan cairan beralkohol itu. Setelah memastikan semua orang mendapatkan minumannya, Hoseok tampak mengangkat gelas miliknya sambil melemparkan seringai penuh makna ke arah Taehyung dan Jungkook.

"Untuk pria tertampan sejagat raya, Jung Hoseok dan malam yang panas untuk kalian semua! Cheers!"


.

.

~Buttermints~

.

.


"Jinseok I love you~"

Seokjin terkekeh di rangkulan pria berlesung pipi. Mata pria manis itu tampak sayu akibat pengaruh alkohol yang diminumnya tadi.

"I love you too Joonie~"

Kemudian terdengar kekehan senang dari bibir sepasang pria yang sedang sama-sama mabuk itu.

"Menggelikan sekali." Ujar pria bersurai hitam di kursi pengemudi.

"Ini semua karena ide gilamu dan Hoseok-hyung. Kalian berdua membuat mereka terlalu banyak minum eoh!"

"Bukan aku babe! Hoseok-hyung yang melakukannya!" Pria itu mencebik tak terima.

"Harusnya aku tidakㅡ"

"Sepasang suami istriㅡhik! Tidak baik bertengkar seperti itu, benar kan Jinseok?"

Seokjin mengangguk pelan. "Yaaㅡung Joonie, aku ingin menikah jugaa."

"Menikah? Kau ingin menikah denganku Jinseok?"

"Umm." Pria manis itu kembali mengangguk seraya memainkan jarinya di dada Namjoon. "Marry me, pwease?"

Namjoon tampak merogoh kantong celananya dengan asal, berusaha meraih ponselnya di dalam sana. Setelah mendapat apa yang dia cari, Namjoon menyodorkan ponselnya kepada Taehyung yang kebingungan.

"Apa ini?"

"Callhik! My mom."

"Hah?"

"Hurry."

Taehyung dan Jungkook tampak saling melempar pandang. Dengan sedikit kebingungan, Taehyung melakukan permintaan Namjoon kemudian menyerahkan kembali ponsel itu pada si empunya setelah meloudspeaker panggilan.

"Halo? Ada apa menelepon larut malam seperti ini Joonie?"

"Aku dan Seokjin akan menikah, mom." Kekehnya.

"Apa?! Menikah? Kau tidak sedang menipu ibumu kan?!" Respon orang di seberang heboh.

"Tidak momm. Aku benar-benar akan menikahi Seokjin."

"Astagaastaga! Aku benar-benar senang jika kau serius dengan hal itu Joonie! Oh my god! Aku akan bicarakan kabar bahagia ini dengan ayahmu dan kita akan melakukan pertemuan keluarga untuk membicarakan hal ini secepatnya."

"Tidakhik. Tidak perlu mom. Atur saja semuanyaa, asalkan aku bisa menikah dua bulan lagi." Jawabnya sambil mengusap kepala Seokjin yang tengah bersandar manja padanya.

"God, oke. Baik, aku akan menyiapkan semuanya, tapi kita tetap harus bertemu untuk membicarakan hal ini, oke Joonie?"

"Uhumm. Terima kasih mom, I love youu."

PIP!

"Tenang Jinseok, kita akan menikahㅡhik secepatnya."

Seokjin tampak mengusap pipi Namjoon sayang dengan senyum tipis di bibir penuhnya. "I love you Jooniee, so so so so muchh."

Sementara sepasang pria di jok belakang melanjutkan sesi bersmesraan mereka, dua orang yang berada di jok depan justru dilanda kebingungan karena dihadapkan dengan situasi yang benar-benar di luar perkiraan.

"Tenang sayang, mereka pasti akan meluruskan semuanya ketika sadar nanti. Jangan khawatir." Jungkook menepuk-nepuk paha sang kekasih.

"Kau dalam masalah besar, Jeon." Taehyung mengusap dahinya lelah. "Kau dalam masalah besar."


.

.

~Buttermints~

.

.


BRUK!

Jungkook merebahkan tubuh Namjoon ke atas ranjang tepat di sebelah Seokjin yang sudah ia bawa terlebih dulu. Sepasang pria yang setengah sadar itu tampak saling memeluk satu sama lain, mencari kehangatan dari tubuh pasangannya. Di sisi lain, pria bersurai blonde terlihat berusaha melepaskan sepatu dan kaus kaki milik kedua hyungnya.

"Hyung sudah? Kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka melakukan adegan tidak pantas tepat di depan mata kita."

"Berhenti berpikiran mesum Jeon. Belum tentu mereka melakukan hal itu." Timpal Taehyung tajam.

"Tidak melakukan bagaimana? Kau tidak lihat tangan Namjoon-hyung sudah merayap masuk ke dalam kemeja Jin-hyung?"

Taehyung sontak mengembalikan pandangannya pada dua orang pria di atas ranjang. Benar saja, ia bisa mendengar desah tertahan yang keluar dari mulut Seokjin serta melihat tangan Namjoon yang sepertinya mulai bergerilya di dalam kemeja milik Seokjin. Entah apa yang sedang dilakukannya di dalam sana.

"Ooh god! Cepat cepat! Kita keluar dari sini!" Pria bersurai blonde tampak melangkah dengan terburu-buru keluar dari kamar milik Namjoon.

"Told you." Gumam Jungkook seraya mengikuti sang kekasih yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan itu.

BLAM!

Tepat setelah pintu itu ditutup, suara desahan yang awalnya pelan, kini berubah menjadi sedikit lebih keras dan menggema di kamar luas yang sepi itu. Begitu pula dengan posisi mereka yang ikut berubah, Namjoon di atas dan Seokjin di bawah.

"Ahㅡ JㅡJoonie!"

Jemari Seokjin reflek meremat surai ash brown milik pria di atasnya guna melampiaskan rasa geli menyenangkan yang menyerang perut serta lehernya.

"Kau terlihat seksi denga baju ini, Jinseok." Namjoon mengecupi garis leher Seokjin, tak lupa memberikan gigitan-gigitan kecil disela-sela kecupannya. "Kau memberiku banyak ujianㅡhik malam ini."

Seokjin semakin mendongakkan kepalanya untuk memberikan akses lebih pada pria yang lebih muda. Desahannya terdengar semakin keras ketika Namjoon mengecupi daerah sekitar telinganya.

"I miss youㅡ" Ia mengecup bibir plushy milik pria di bawahnya. "I miss you so bad, Jinseok."

"II miss you ttoo."

Tanpa berlama-lama lagi, pria berlesung pipi segera memagut bibir menggoda itu. Ciuman mereka tampak kacau, selain karena kurangnya pengalaman dari Namjoon, perasaan yang campur aduk juga turut mempengaruhi ciuman yang terkesan terburu-buru itu. Alkohol benar-benar membuat mereka lupa dengan sifat malu-malu yang biasa ditampakkan pada saat mereka dikuasai kesadaran secara penuh.

Adrenalin, gairah, cinta, semuanya bercampur menjadi satu dan menguasai tubuh mereka berdua.

"JㅡJoonie hh." Napas Seokjin tampak terengah begitu tautan mereka terlepas. Ia mengusap pelan kedua pipi Namjoon seraya menatap mata tajam milik pria yang disukainya. "Lolove you Joonie."

Namjoon kembali memagut bibir yang sudah terlihat membengkak itu. Kali ini tangannya turut bergerak membuka kancing kemeja milik pria bersurai hitam dan menyingkap kain putih itu hingga memperlihatkan tubuh bagian atas Seokjin. Jemari Namjoon kemudian bergerak menyusuri setiap jengkal kulit mulus yang terpampang jelas di bawahnya.

"Nggh! Haㅡah! Joonieㅡ"

Pekikan itu membuat tautan mereka sontak terlepas. Seokjin meremat kemeja hitam yang dipakai oleh pria bersurai ash brown lalu menariknya dengan sedikit kencang untuk menarik perhatian si empunya.

"Joonㅡlepas nngㅡcepat." Pintanya.

Pria berlesung pipi tampak menjauhkan tubuhnya kemudian mulai melepas pakaiannya sesuai dengan permintaan Seokjin. Pria di bawahnya reflek menjilat bibirnya begitu dihadapkan pada tubuh tegap nan kokoh yang semakin terlihat seksi dengan tonjolan urat-urat di bagian pergelangan tangan. Bibirnya makin terasa kering ketika celana ketat itu menghilang dari tubuh Namjoon, menyisakan sebuah dalaman berwarna abu-abu yang melindungi bagian private miliknya.

Sungguh rasanya ia tak bisa menahan diri lebih lama lagi.

"You look pretty Jinseok." Ujarnya seraya melepaskan celana hitam dari kaki Seokjin. "I can't hold it any longer."

Seokjin menatap Namjoon dengan tatapan sayu. "Please."

Sebuah permohonan singkat itu membuat gejolak di tubuh Namjoon semakin besar. Ia langsung saja menarik dalaman hitam yang dipakai oleh Seokjin kemudian membuangnya ke lantai. Dan di sinilah ia, berdiri dengan lututnya di atas ranjang sambil menatap setiap jengkal tubuh telanjang Seokjin yang begitu seksi. Kulit mulus, perut rata, pinggang ramping, dan benda di tengah-tengah selangkangannya yang mengacung tegak minta diperhatikan.

Jujur ia merasa semakin sesak di bawah sana.

"Joonieㅡ"

Rintihan Seokjin seketika menyadarkan Namjoon dari lamunan singkatnya. Tanpa menunggu lama lagi, ia segera melepaskan satu-satunya kain yang tersisa di tubuhnya, menampakkan benda kebanggan seorang Kim Namjoon yang membuat Seokjin meneguk ludahnya kasar.

It's big

and thick.

"Suka dengan yang kau lihat?"

Namjoon menyeringai tipis seraya menopangkan kedua kaki Seokjin ke pundaknya. Kedua pria itu sama-sama mendesah ketika Namjoon menggesekkan kejantanannya ke lubang berkedut milik Seokjin.

"Ahㅡplease." Seokjin memeluk leher pria berlesung pipi. "Please touch me."

Pria bersurai ash brown mengecup bibir penuh Seokjin. "As you wish, princess."

Sebuah desahan panjang kembali meluncur dari bibir Seokjin saat pria di atasnya memompa kejantanannya. Ditambah lagi gesekan teratur pada holenya yang membuatnya semakin merasakan kenikmatan.

"Aku masuk sekarang."

Pernyataan singkat itu membuat mata Seokjin seketika terbuka. Ia berusaha menahan gerak tubuh Namjoon yang tengah memposisikan kejantanannya di hole Seokjin.

"Llube! LuㅡAHK!"

Seokjin menancapkan kuku-kukunya di punggung Namjoon untuk melampiaskan rasa sakit yang menyerangnya secara tiba-tiba karena holenya dimasuki tanpa persiapan. Ditambah lagi pria berlesung pipi itu sama sekali tidak menggunakan lube atau cairan bantuan apapun untuk mempermudah pergerakannya. Rasanya begitu menyakitkan, sungguh!

Berbeda dengan Seokjin, Namjoon justru mengeluarkan erangan nikmat ketika kejantanannya dilingkupi oleh sesuatu yang hangat nan ketat. Otaknya seperti berhenti bekerja selama sesaat akibat kenikmatan yang mendadak melanda tubuhnya itu.

"Hiks! Saㅡsakit! Sakit JooㅡAHK!" Seokjin kembali berteriak ketika Namjoon memasukkan kejantanannya dengan sekali hentak tanpa memberikan peringatan.

"Jinseokㅡssh! Aku mㅡminta maaf." Erangnya seraya memeluk erat pria manis yang sedang terisak itu.

"I'm sorry baby."

Seokjin merasakan penuh dan sakit yang benar-benar menyiksa di bawah sana. Maklum saja, ukuran Namjoon memang tidak main-main, ditambah pria itu memasukinya dengan kering. Sudah pasti holenya luka sekarang.

Tapi semakin lama menunggu, semakin lama pula ia akan merasakan rasa sakit ini.

"Tㅡtak apa Joonie. Beㅡbergeraklah perlahan."

"Okayssh! I love you."

Namjoon mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan seraya memompa kejantanan Seokjin, berusaha mengalihkan rasa sakit yang dirasakan oleh si pria manis. Desahan nikmat bercampur dengan sakit kembali terdengar di kamar luas itu. Lengan Seokjin tampak memeluk erat leher Namjoon untuk melampiaskan nikmat yang dirasakannya.

"HhhㅡughㅡJinseok." Erangnya seraya mengecupi pundak Seokjin.

"Lㅡlebih cepat ah! Dㅡdisanah!"

Seokjin menjatuhkan kepalanya ke atas bantal dengan tubuh yang melengkung ketika kejantanan Namjoon menabrak sweat spotnya di dalam sana. Sementara desahan seksi serta remasan holenya pada kejantanan Namjoon berhasil membuat gairah pria berlesung pipi itu semakin memuncak.

"AhㅡhnghㅡJoonie!"

"Jinseok hhㅡ" Namjoon menghentak pinggulnya semakin cepat, berusaha mengejar puncak yang tidak lama lagi menjemputnya. "Jinseokㅡ"

Tak berbeda dengan Namjoon, pria bersurai hitam juga turut merasakan gejolak menyenangkan di perut bagian bawahnya. Bibirnya berkali-berkali mengebutkan nama Namjoon disela-sela desahannya. Ia tampak meremat bantal di bawahnya kuat-kuat untuk melampiaskan kenikmatan yang kian memuncak dan siap untuk meledak tak lama lagi.

"Ah! Joonieㅡcom ngg! Coming!"

"Come withughㅡme." Namjoon memeluk erat tubuh pria di bawahnya dengan gerakan pinggul yang tak beraturan. "Akuㅡsshㅡmencintaimu."

Bibir mereka kemudian bertaut, membungkam semua erangan dan lengkingan desahan yang keluar dari mulut mereka berdua. Dan satu hentakan terakhir dari Namjoon mengantarkan mereka berdua ke puncak gairah secara bersamaan. Seokjin tampak memeluk erat leher Namjoon ketika puncak kenikmatan itu menghantamnya, sementara tubuh pria bersurai ash brown tampak menegang setelah ia menumpahkan semua benihnya di dalam Seokjin.

Tautan bibir itu perlahan terlepas seiring melemasnya otot-otot tubuh mereka. Tubuh Namjoon tampak terjatuh lemas di atas Seokjin yang tengah sibuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Aku mencintaimuㅡ" Ujar Namjoon yang sudah berada di ambang kesadarannya. "ㅡSeokjin."

Seokjin tampak tersenyum tipis seraya berusaha memeluk tubuh pria di atasnya. "Akuㅡjuga mencintaimuㅡ"

Kesadaran mereka kemudian menghilang secara perlahan. Deru napas mereka terdengar teratur, menandakan bahwa mereka berdua sudah masuk ke alam mimpi masing-masing.


.

.

TBC

.

.