Dimple
Chapter 16: Euphoria
.
.
BTS Fanfiction
Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy
Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv
Rating: M
.
.
.
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
Sesosok pria bria bersurai gelap tampak mengerang ketika tidurnya terganggu oleh cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca. Jemarinya bergerak memijat daerah pelipis kepalanya untuk menghilangkan rasa sakit yang begitu menusuk.
"Kepalakuㅡakh!"
Erangan sakit kembali meluncur dari bibirnya ketika ia merasakan sakit pada bagian bawah tubuhnya.
Ya tuhan, kenapa rasanya sakit sekali? Dan kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana?
"Fuckㅡ"
Mata bulatnya menjeblak terbuka saat mendengar umpatan dengan suara yang begitu familiar di telinganya.
Suara iniㅡ
"NㅡNaㅡakh!"
Jeritan itu sontak membuat sosok bersurai ash brown menghentikan seluruh pergerakannya. Kedua kelopak matanya tampak mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan diri pada objek yang berada di hadapannya.
Seokjin?
Ia memandang pria yang tengah meringis sakit itu dengan tatapan bingung. Kedua tangannya tampak berada di sisi kanan dan kiri kepala Seokjin untuk menahan berat tubuhnya. Pandangannya kemudian turun menuju dada telanjang yang sudah dihiasi bercak keunguan diㅡ
Tunggu, telanjang?
Rasa panik seketika menguasai tubuh Namjoon ketika menyadari situasi yang tengah ia hadapi saat ini. Dia dan Seokjin berada dalam satu ranjang, dengan tubuh yang sama-sama tidak dibalut sehelai benangpun, bercak keunguan, organ vitalnya yang entah kenapa terasa seperti dijepit sesuatu, serta aroma aneh yang menyelimuti kamarnya.
Mereka seperti pasangan yang baru saja melakukan seks.
Tidak tidak, ini tidak mungkin. Aku dan Seokjin tidakㅡ
"NaㅡNamjoon. Jangan bㅡbergerak." Seokjin meringis. "Sakit."
"Mㅡmaaf Seokjin! God! Apaㅡapa yang harus kulakukan?" Ujarnya panik.
Ingin rasanya Seokjin menangis karena rasa sakit yang begitu hebat di bagian bawah tubuhnya. Gerakan-gerakan kecil yang dilakukan oleh Namjoon juga semakin memperparah rasa perih yang tengah ia rasakan.
"Namjooㅡahk! Kㅡkumohon jangan bergerak." Seokjin mengusap lengan pria berlesung pipi, berusaha untuk menghilangkan rasa panik yang tengah menyerangnya.
Jujur saja ia juga sama paniknya dengan Namjoon, tapi jika dirinya tidak menekan rasa panik itu, situasinya justru akan semakin runyam nanti.
"Tㅡtapi kau kesakitan. Aku harus melakukan sesuatu."
"Iya tapi kau harus tenangㅡssh. Iㅡikuti instruksi yang kuberikan, oke?"
Namjoon tampak diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk patuh.
"Bagus. Sekarang aku ingin kau mengeluarkan itu dari dalam tubuhku secara perlahan."
Rona kemerahan langsung menjalari pipi pria bersurai ash brown setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Seokjin. Ini merupakan pengalaman pertamanya, jadi wajar bukan kalau dia masih sedikit malu ketika Seokjin membahasnya?
"Uh baiklah." Jawabnya lirih. "Aku akan berusaha mengeluarkannya sepelan mungkin."
Seokjin mengangguk pelan seraya menggigit bibir bawahnya sedikit kuat, bersiap untuk kembali menghadapi rasa sakit saat Namjoon mengeluarkan kejantanannya dari dalam sana. Ukuran Namjoon tidak main-main, ia bisa merasakan itu.
"Aku mulai."
"Nngh!"
Suara erangan serta pekikan yang cukup nyaring terdengar menggema di sana. Namjoon benar-benar berusaha melawan instingnya untuk kembali menghunjamkan benda kebanggaannya ke dalam rongga hangat itu. Bagaimana tidak, setiap ia bergerak mundur, hole Seokjin selalu mengetat seakan-akan tidak mau melepaskan kejantanannya dari dalam sana. Jika begini terus, ia takut jika sampai hilang kendali dan berakhir menyetubuhi Seokjin untuk yang kedua kalinya.
"SㅡSeokjin ssh! Tolong rileks, aㅡaku tidak bisa bergerak jika kau menjepitku seperti ini."
"Maㅡmaaf nngh!"
Setelah mengalami beberapa kali push and pull akhirnya mereka berdua bisa terlepas. Seokjin berusaha untuk menahan desahannya ketika cairan dengan jumlah cukup banyak meluncur keluar dari holenya setelah mereka terpisah. Ia memang pernah beberapa kali melakukan seks dengan mantan kekasihnya dulu, tapi ini pertama kalinya ia melakukan seks tanpa menggunakan pengaman.
"Kauㅡberdarah." Mata Namjoon terbelalak saat melihat bercak merah yang mewarnai bed cover. "Seokjin! Kau berdarah!"
"Jㅡjangan lihat. Kau pakailah bajumu." Seokjin berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
Namjoon yang tersadar buru-buru meraih bokser hitam di lantai kemudian memakainya. Entah itu miliknya atau Seokjin yang penting benda pribadinya sudah tertutupi untuk sementara.
"Uh kau harus membersihkan diri."
Pria bersurai hitam mengangguk pelan. "Aku tahu, tapi tubuh bawahku sakit sekali saat digerakkan."
"Biar kubantu." Sahut Namjoon. "Aku yang bertanggung jawab atas semua ini."
Jawaban tegas itu membuat Seokjin terpana untuk beberapa saat. Sikap gentleman seperti inilah yang membuatnya semakin menyukai Namjoon. Sungguh ia bersyukur karena telah dipertemukan dengan sosok nyaris sempurna seperti pria itu.
Dan ia berharap jika mereka tidak menjadi berjauhan setelah kejadian ini.
"Seokjin?"
Pria bersurai hitam terkesiap. "Uh bㅡbaiklah."
"Kau bisa mandi sementara aku membersihkan kamar dan akan kucarikan obat untukㅡum bagian bawahmu." Ujarnya sedikit canggung.
Pria bersurai hitam tampak mengangguk pelan dengan pipi yang sudah kembali memerah. Begitu sudah mendapat persetujuan, Namjoon segera mengangkat tubuh yang terbalut selimut itu kemudian membawanya ke kamar mandi.
Seokjin tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya ketika mereka berdua memasuki kamar mandi. Ruangan luas itu didominasi oleh warna abu-abu gelap, lantai berwarna broken white, dan sebuah bathtub berukuran cukup besar yang berada di tengah-tengah ruangan. Terlihat minimalis sekaligus mewah di saat yang bersamaan.
"Kau bisa menggunakan bathtub ini sebagai shower untuk membilas tubuhmu." Namjoon mendudukkan Seokjin di dalam bathtub. "Ini tombol untuk menyalakan keran dan yang satunya untuk menyalakan shower di atas. Kau juga bisa mengatur suhu airnya sesukamu."
"Ah ya, terima kasih." Jawabnya.
"Aku punya beberapa bath bomb, kau bisa memakainya dan letakkan saja selimutnya di lantai, biar aku yang bereskan nanti." Ia meletakkan sebuah kotak berisi bath bomb di dekat dinding. "Aku akan membuka sedikit pintunya agar kau bisa memanggilku saat sudah selesai nanti."
Sebuah anggukan kecil dari Seokjin membuat Namjoon menyunggingkan senyumnya. Ia kemudian beranjak keluar dari kamar mandi agar Seokjin bisa membersihkan diri.
"Ini semua gara-gara kuda sialan itu. Dia pasti sengaja membuatku dan Seokjin mabuk." Geramnya seraya mendudukkan diri di pinggir ranjang.
Iris gelapnya tampak menelusuri permukaan bed cover yang sudah ternoda di beberapa sisi. Hatinya kembali dirundung rasa bersalah begitu melihat bercak merah yang juga ikut mengotori bed covernya.
Ia sudah melukai Seokjin dan juga menyentuh apa yang bukan miliknya.
.
.
~Buttermints~
.
.
"Terima kasih untuk sarapannya."
Seokjin meletakkan gelas di atas meja kecil bersama dengan mangkok sup yang juga sudah kosong. Ya, dia baru saja menyelesaikan sarapannya di atas ranjang milik Namjoon. Dirinya sempat kaget saat pria berlesung pipi itu membawa nampan berisi sup, air, dan beberapa obat ke dalam kamar kemudian menyiapkan sebuah meja kecil di atas ranjang agar dia bisa makan dengan nyaman.
Setelah ia selesai mandi tadi, Namjoon menggendongnya kembali ke kamar yang sudah rapi dengan hati-hati. Pria itu juga menyiapkan satu stel pakaian bersih dan membuatkannya sarapan selagi menunggu dirinya selesai berganti pakaian.
Namjoon benar-benar memperlakukannya seperti seorang pangeran.
"Ah kubereskan sebentar agar kau bisa istirahat." Ujarnya seraya menurunkan meja kecil itu ke lantai. "Dan umㅡaku ingin bicara sebentar sebelum kau istirahat, kuharap kau tidak keberatan."
Pria berbahu lebar itu tersenyum kecil. "Tak apa, duduklah."
Namjoon tampak mendudukkan diri di pinggir ranjang dengan posisi sedikit miring agar bisa leluasa memandang Seokjin. Ruangan itu tampak hening selama beberapa saat karena mereka berdua hanya saling bertukar pandang tanpa bicara.
"Aku minta maaf."
Alis Seokjin seketika terangkat. "Hum? Untuk apa?"
"Kejadian semalam." Ia menghela napas pelan. "Seharusnya aku tidak melakukan hal itu."
Dada Seokjin seketika merasa sesak setelah mendengar kalimat bernada menyesal yang meluncur dari bibir Namjoon. Kenapa dia menyesal? Apa Seokjin tidak cukup baik untuknya? Memang mereka melakukannya dalam keadaan tidak sadar, tapi kata-kata penyeselan itu menandakan bahwa Namjoon sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi.
Atau dengan kata lain, Namjoon tidak menginginkannya.
"Tㅡtidak apa-apa Namjoon-ah. Kita sama-sama tidak sadar malam itu, jadi kau tidak perlu merasa bersalah seperti ini." Seokjin tersenyum tipis.
"Mana mungkin aku tidak merasa bersalah, Seokjin." Namjoon menatap iris gelap milik pria di depannya. "Aku sudah melakukan tindakan seksual di luar ijinmu, terlebih lagi menyakitimu seperti itu, dan akuㅡaku sudah menyentuh sesuatu milik orang lain karena keteledoranku. Bagaimana aku tidak merasa bersalah setelah melakukan semua itu?"
"Tunggu dulu. Apa maksudmu dengan menyentuh sesuatu milik orang lain?" Tanya Seokjin bingung.
Tanpa diduga raut wajah Namjoon seketika berubah menjadi sedih dan hal itu justru membuat Seokjin semakin bingung.
"Kau dan Ken. Aku tahu jika kalian sudah kembali bersama."
Iris gelap Seokjin seketika melebar. "Dㅡdari mana kauㅡ"
"Aku melihatnya, kalian berdua, di basement."
"Kau melihatnya?" Ujarnya tak percaya.
"Ya, aku di sana." Namjoon tersenyum tipis. "Saat aku berjalan ke lift yang ada di basement, aku melihat kalian berdua turun dari mobil dan juga mendengar sedikit percakapan kalian. Setelah itu aku memutuskan untuk pulang karena tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian. Ah, dan selamat juga untuk kalian berdua."
Penuturan Namjoon seketika membuat ingatan Seokjin kembali pada percakapannya dengan Jungkook kemarin lusa. Jadi Namjoon benar-benar ada di sana dan itu berarti buket bunga yang terjatuh di parkiran adalah milik Namjoon.
"Apa waktu itu kau membawa buket mawar berwarna salmon?"
Sekarang giliran Namjoon yang melemparkan tatapan kaget pada Seokjin. "Kenapa kau bisa tahu?"
"Tetanggaku menemukan bunga itu dan mengantarkannya padaku. Aku sempat bertanya-tanya siapa yang mengirimkannya, tapi tak ada satupun identitas pengirim di sana selain namaku. Saat itu kau juga tidak bisa kuhubungi."
Namjoon menggaruk belakang kepalanya dengan kepala menunduk. "Ya, bunga itu memang dariku dan sebenarnya aku juga sudah merencanakan makan malam denganmu di hari itu."
Bohong jika Seokjin tidak merasakan letupan rasa senang di hatinya saat ini. Namjoon berniat untuk mengajaknya makan malam berdua, apa yang lebih membahagiakan daripada itu?
"Lalu kenapa kau tidak datang?"
"Karena aku merasa jika makan malam itu akan sia-sia, sebab kau sudah kembali bersama Ken."
"Kembali bersama? Aish, aku tidak mengerti apaㅡ"
"Kau dan Ken sudah kembali menjadi sepasang kekasih kan? Maka dari itu rasanya percuma jika aku melanjutkan makan malam dan menyatakan perasaanku padamu malam itu karena sudah pasti kau akan menolakku." Sahut Namjoon cepat.
Tunggu, apa katanya barusan?
"Kㅡkau akan menyatakan perasaanmu? Pㅡpadaku?"
Sebuah anggukan kecil dari pria berlesung pipi membuat hati Seokjin terasa ingin meledak saat itu juga. Perasaan tidak percaya, senang, bingung semuanya bercampur menjadi satu.
"Tapi karena kau sudah bersama Ken akuㅡ"
"Aku menolaknya."
Namjoon seketika mendongak. "Hㅡhuh?"
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikiran seperti itu, tapi aku menolak Ken." Seokjin menatap iris gelap milik pria di depannya dengan pipi yang bersemu merah. "Kㅡkarena aku sudah menyukai pria lain, yaitu dirimu."
Tolong jangan bangunkan Namjoon jika semua ini merupakan sebuah mimpi.
"Saat itu aku menunggumu sampai malam, tapi kau tak datang dan ponselmu pun mati selama berhari-hari. Aku mencarimu di kampus, tapi kau juga tidak ada di sana. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu Namjoon-ah. Akuㅡ"
Kata-kata Seokjin terhenti ketika tubuhnya direngkuh oleh pria berlesung pipi secara mendadak. Ia bisa merasakan jantung Namjoon berdetak cukup kencang di dalam sana. Apa itu karena dirinya?
"Jadi kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Ken?"
"Hubunganku hanya sebatas mantan kekasih dan teman, tidak lebih dari itu." Jawabnya seraya mengusap pelan punggung Namjoon.
"Oh god." Pria itu menghela napasnya lega. "Jadi aku bisaㅡ"
"Tentu saja kau bisa."
Seokjin menjauhkan tubuhnya dan menatap lekat iris gelap Namjoon. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terlihat manis di mata Namjoon.
"Mㅡmaksudku di sini? Bukankah kita harus pergi ke suatu tempat yang romantis?"
"Um jika kau ingin, lakukan saja. Tidak ada yang akan melarangmu Namjoon-ah." Jawab Seokjin dengan pipi memerah.
Rasa gugup seketika menyerang tubuh Namjoon. Semuanya sudah jelas sekarang, Seokjin tidak memiliki hubungan dengan siapapun dan dia juga sudah memberikan lampu hijau padanya. Sekarang tinggal bagaimana ia mengatakan perasaannya pada pria itu.
Sungguh ini pertama kalinya ia merasakan rasa gugup yang tidak terkontrol.
"Uㅡuh ini pertama kalinya untukku, maaf jika terlihat payah dan sama sekali tidak membekas di hatimu." Ia menggenggam tangan Seokjin dengan tatapan yang tak lepas dari mata pria itu. "Aku tidak bisa menjanjikan terlalu banyak hal padamu karena aku tidak pernah berada dalam hubungan semacam ini sebelumnya. Mungkin aku akan banyak melakukan kesalahan di masa depan, tapi aku berjanji untuk memperbaiki setiap kesalahan yang kubuat dan kuharap kau mau membantuku untuk belajar."
Namjoon tampak menghela napas sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
"Aku bukan tipe pria yang romantis, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia dan menjadi pria yang bertanggung jawab untukmu. Percayalah bahwa aku akan setia kepadamu karena kau adalah satu-satunya orang yang bisa kucintai."
Seokjin tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan dengan begitu tegas oleh Namjoon.
"Jadi, Kim Seokjin, maukah kau menjadi kekasihku?"
Pemilik surai hitam tampak menyunggingkan senyum malu seraya menganggukkan kepalanya.
"Oh god." Namjoon menghela napas lega dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "God, thank you."
Seokjin bisa melihat rasa lega yang begitu besar di wajah pria bersurai ash brown itu. Tak dapat dipungkiri bahwa ia juga turut merasakan euforia kebahagiaan karena mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih. Ia mengusap lembut cekungan kecil yang ada di pipi pria itu.
"Namjoon."
Pandangan Namjoon kembali bertemu dengan iris gelap milik sang kekasih. Sapaaan serta usapan lembut di pipinya membawa Namjoon kepada ketenangan yang begitu menyenangkan. Tanpa ia sadari, kepalanya mulai bergerak mendekati wajah Seokjin secara perlahan. Seokjin yang menyadari pergerakan itu ikut menutup kedua matanya dan menunggu dengan jantung yang berdebar begitu kencang.
CKLEK!
"Sudah kuduga kalian berdua masih asik bermesraan di kamar sampai-sampai tidak mengangkat telepon dan menyambutku di bawah."
Sepasang kekasih itu reflek menjauhkan tubuh mereka masing-masing dengan wajah yang terlihat memerah. Merasa malu karena ketahuan oleh pria paruh baya yang tengah menyeringai tanpa dosa di ambang pintu.
"Mㅡmom?!"
"Maaf mengganggu waktu kalian anak-anakku, tapi kedatanganku kemari tidak bisa ditunda karena harus membicarakan hal yang penting." Ujarnya dengan seringai yang sama sekali tidak hilang di wajah cantiknya. "Aku juga bawa obat olesuntuk mempercepat pemulihan Seokjin. Aku tahu dia tidak bisa berdiri apalagi berjalan sekarang akibat permainan amatir anakku yang masih polos."
Dan wajah mereka berdua nampak semakin terbakar akibat kata-kata sedikit vulgar yang diucapkan oleh nyonya besar Kim itu.
.
.
TBC
.
.
