Dimple

Chapter 17: Morning Talk


.

.

BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M

.

.

.


.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.


Jaejoong meletakkan cangkir yang berisi teh buatan sang anak di atas nightstand. Tatapannya kembali ia fokuskan pada sepasang pria yang duduk di depannya. Posisi mereka bertiga masih berada di dalam kamar Namjoon. Mengingat keadaan Seokjin yang tidak bisa berjalan, pria cantik itu memutuskan untuk mengobrol dengan mereka di kamar saja. Ia paham betul dengan apa yang dirasakan Seokjin sekarang.

"Jadi kalian sudah resmi?"

Sepasang pria di depannya tampak saling bertukar pandang kemudian mengangguk dengan sedikit malu-malu.

"Dan kalian ingin menjalani hubungan ini dengan lebih serius?"

"Tentu saja kami akan serius mom. Aku sama sekali tidak punya niatan untuk bermain-main dengan Seokjin. Ini pertama kalinya aku mengalami perasaan seperti ini dan perasaan ini hanya muncul ketika aku bersama Seokjin. Jadi aku akan berusaha untuk menjaga komitmen yang sudah kubuat." Namjoon menggenggam erat tangan kekasih manisnya yang sudah kembali memerah karena mendengar ucapan tegas pria itu.

"Siapa yang mengajarimu bicara sedewasa itu hm?" Jaejoong tertawa kecil seraya menoleh ke arah pria yang satu lagi. "Seokjin? Bagaimana denganmu?"

"Aku juga akan berusaha untuk menjaga komitmenku sama seperti Namjoon. Kupikir di usiaku yang sekarang sudah bukan waktunya untuk bermain-main dalam suatu hubungan. Meskipun mungkin kami masih memiliki resiko untuk dipisahkan, tapi aku tidak akan mengurangi usahaku untuk mempertahankan hubunganku dengan Namjoon."

Kedua jawaban itu memancing senyum lega di wajah nyonya besar Kim. Ia senang karena akhirnya sang anak berhasil menemukan tambatan hati yang tepat setelah sekian lama. Umur Namjoon memang masih muda, tapi ia tak bisa melarang anak semata wayangnya itu jika dia memang ingin serius dengan hubungannya.

Dan kenyataan itu membuatnya ingin menangis karena terharu.

"Mom, matamu berkaca-kaca."

"Really?" Jaejoong tertawa kecil seraya mengusap pelan matanya dengan punggung tangan. "Hanya sedikit emosional mengingat dirimu ternyata sudah dewasa Namjoonie."

"Tolong jangan sekarang mom. Aku tidak ingin terlihat cengeng di depan Seokjin."

Seokjin mengusap punggung tangan sang kekasih. "Tak apa. Menangislah jika kau ingin, aku tak akan menilaimu buruk Namjoon-ah."

Pria berlesung pipi tampak menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi bisakah aku pinjam pundakmu sebentar?"

"Tentu." Seokjin tersenyum seraya membuka kedua tangannya. "Come."

Dengan perlahan Namjoon masuk ke dalam pelukan hangat itu kemudian menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih. Jemari Seokjin tampak mengusap lembut punggung lebar Namjoon, berusaha memberikan ketenangan padanya.

"Dia memang sensitif dengan topik pembicaraan yang menyangkut keluarga. Bagi Namjoon keluarga adalah segalanya."

Pria berusia paruh baya itu melemparkan senyumnya pada sang calon menantu.

"Selamat datang di keluarga Kim, Seokjin-ah."

Sungguh jantung Seokjin serasa akan meloncat dari tempatnya begitu mendengar ucapan Jaejoong. Percikan rasa bahagia kembali terasa di relung hatinya, memberikan sensasi yang begitu menyenangkan.

"Tㅡterima kasih nyonya Kim."

"Aish ayolah. Kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan itu? Panggil aku ibu, eomma, atau sebutan lain yang sejenis dengan itu." Protes Jaejoong.

"Mㅡmaaf nyoㅡum maksudku eoeomma." Ujarnya malu-malu.

Jaejoong tampak menyunggingkan seringai puas. "Begitu lebih baik. Ah dan kurasa aku pulang saja sekarang. Ada beberapa hal yang harus kuurus. Lagipula aku juga tidak mau mengganggu momen mesra kalian berdua."

"Mom jangan mulai." Erang sang anak yang sudah kembali duduk di kursinya.

"Aku bicara benar eoh. Kalian akan mengalami masa after sex setelah melakukan kegiatan malam kalian. Masa itu akan mempengaruhi beberapa sisi emosional kalian berdua, terutama jika kalian melakukan sex untuk yang pertama kalinya. Tidak perlu menahan diri jika salah satu dari kalian ingin melakukan kontak fisik yang sedikit intim karena hal itu memang wajar terjadi."

Penjelasan panjang dari pria cantik itu sontak memunculkan rona merah di wajah Namjoon dan Seokjin. Meskipun mereka sudah cukup dewasa untuk mengetahuinya, namun tetap saja rasanya aneh jika hal seperti ini dibahas dengan orang lain.

"Menjauh dari pasanganmu setelah berhubungan sex justru akan membuatnya sedih karena ia merasa tidak diinginkan. Paham Kim Namjoon?"

"Huh? Kenapa aku?"

"Karena kau masih amatir. Aku tidak perlu mengkhawatirkan Seokjin karena dia pasti sudah lebih paham akan hal ini." Jaejoong terkekeh seraya berdiri dari duduknya. "Jangan lupa untuk memakai salepnya dua kali sehari, pagi dan malam. Bantu Seokjin untuk memakainya."

"Tㅡtidak perlu! Aku bisa memakainya sendiri!" Sahut Seokjin cepat.

"Untuk hari ini kau pasti memerlukan bantuan Namjoon, Jinnie. Tubuhmu masih sakit dan pegal, ingat?" Ujaran nyonya besar Kim seketika membuat Seokjin terdiam dengan wajah yang semakin merona. "Baiklah, aku pulang dulu. Jika ada apa-apa segera hubungi aku."

"Terima kasih sudah datang mom." Namjoon memeluk pria bersurai cokelat itu.

"Sama-sama anakku. Tidak perlu mengantarku ke bawah. Kau jaga Seokjin baik-baik." Ia menepuk pelan kepala sang anak. "Dan jangan kasar-kasar jika kau ingin bermain lagi."

"Mom!"

Serentetan tawa puas mengiringi kepergian pria paruh baya itu. Kegiatan menggoda Namjoon memang tak pernah membuatnya bosan. Kadar kepolosan berlebih yang dimiliki oleh sang anak selalu berhasil membuat Jaejoong gemas hingga ingin terus melancarkan godaan padanya.

"Ah ya, aku harus menghubungi Heechul dan mengundangnya ke rumah untuk membicarakan rencana Namjoon semalam." Gumamnya seraya memasuki lift.

Sepeninggal Jaejoong, sepasang kekasih yang baru saja resmi itu tampak saling terdiam di posisinya masing-masing. Sedikit merasa canggung setelah pembicaraan bertopik sensitif yang dibahas oleh nyonya besar Kim.

"Jinseok."

Pria bersurai hitam tampak mendongakkan kepalanya terkejut. Respon itu sontak memunculkan rasa panik di hati Namjoon.

"Mㅡmaaf aku hanyaㅡ"

"Tak apa." Seokjin tertawa kecil. "Aku suka panggilan itu Joonie."

"Benarkah? Uh maksudku jika kau tidak nyaman makaㅡ"

Kata-kata Namjoon seketika terhenti saat pipi kirinya mendapat sebuah kecupan lembut dari sang kekasih.

"Aku menyukainya." Ia mengusap dimple yang muncul samar di pipi Namjoon. "Jaㅡssh!"

Pria manis itu mendesis ketika merasakan rasa nyeri pada bagian bawahnya. Padahal dia hanya mencoba menggerakkan kakinya sedikit, tapi rasanya begitu menusuk hingga membuat kedua matanya berkaca-kaca.

"Jangan terlalu banyak bergerak, oh god. Lebih baik kau berbaring agar tubuh bagian bawahmu bisa rileks." Saran Namjoon yang langsung diangguki oleh Seokjin. "Biar kubantu."

Pria bersurai ash brown tampak mengangkat tubuh kekasihnya dengan perlahan kemudian merebahkannya di atas ranjang. Seokjin mendesis tertahan ketika kembali mendapat serangan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.

Ya tuhan, ini benar-benar menyiksa.

"Aku minta maaf karena sudah membuatmu seperti ini." Sesalnya seraya menggenggam erat tangan Seokjin.

"It's okay Joonie." Pria manis itu tertawa kecil. "Aku akan baik-baik saja selama kau di sini. Ah, boleh aku minta obat yang dibawakan ibumu tadi?"

Namjoon segera meraih benda persegi berukuran sedang di dalam kantong plastik kemudian memberikannya pada Seokjin.

"Terima kasih." Ujarnya seraya mengeluarkan produk salep itu dari kotaknya.

"Jinseok."

"Hum?"

"Jㅡjika kau mengijinkan. Aku bisa membantumu untuk memakainya."

BLUSH!

Rona merah tampak merambati kedua pipi Seokjin setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Namjoon. Sejujurnya ia memang membutuhkan bantuan sang kekasih mengingat gerakan tubuhnya yang sangat terbatas. Namun bayangan dimana ia harus melepaskan celana dan menunjukkan area privatnya di depan Namjoon membuatnya berpikir dua kali untuk menerima tawaran itu.

Mereka berdua memang sudah saling melihat tubuh masing-masing, tapi tetap saja ia masih merasa malu jika harus menunjukkannya secara bar-bar seperti ini.

Tak ada cara lain, aku memang harus meminta bantuannya. Berhenti bertingkah seperti anak remaja Seokjin, ini bukan pertama kalinya untukmu.

Seokjin menghela napasnya pelan. "Baiklah. Tolong bantu aku memakainya."

"Okay." Pria berlesung pipi meraih salep yang diberikan Seokjin. "Bagaimana posisinya? Seperti ini saja atau ada posisi lain yang membuatmu lebih nyaman?"

"Uh sebenarnya akan lebih mudah jika akuㅡkau tau, menungging."

Namjoon meneguk ludahnya kasar. Bohong jika dirinya tidak membayangkan hal yang aneh-aneh setelah mendengar kata-kata Seokjin barusan. Bayangan lekuk tubuh Seokjin tadi pagi masih menempel samar di benaknya. Ya tuhan, kenapa dirinya jadi bertingkah seperti remaja puber dengan hormon meledak-ledak begini.

"Joonie?"

Teguran dari pria yang lebih tua seketika menyadarkan Namjoon dari lamunannya.

"Mㅡmaaf. Kalau begitu kita lakukan sekarang."

Seokjin tampak mengangguk kemudian berusaha membalikkan tubuhnya secara perlahan. Erangan yang keluar dari bibir tebalnya membuat Namjoon segera membantu sang kekasih untuk memposisikan diri di atas ranjang.

Pria berlesung pipi kembali meneguk ludah begitu dihadapkan dengan tubuh bagian belakang milik kekasihnya.

"Sshㅡkau bisa menurunkan celanaku sekarang."

"Okay."

Dengan sedikit gugup, ditariknya celana pendek serta underwear yang dipakai oleh Seokjin secara perlahan. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan seiring semakin turunnya helaian kain itu.

"Oh my god."


.

.

~Buttermints~

.

.


"Jadi kau sudah mengkonfirmasi kepada mereka berdua dan mereka mengatakan jika benar-benar ingin serius?"

Nyonya besar Kim mengangguk pelan. "Mereka bilang sendiri padaku Yunnie. Syukurlah jika apa yang Namjoon bilang semalam bukan hanya sekedar candaan. Aku sempat merasa curiga karena nada bicara anak itu terdengar cukup aneh."

Yunho tertawa kecil seraya mengusap sayang kepala sang istri. "Aku senang anak kita akhirnya menemukan pasangan yang tepat."

"Ya, aku juga." Ia menyandarkan tubuhnya ke pundak Yunho. "Heechul akan datang sebentar lagi untuk membicarakan pernikahan Namjoon dan Seokjin. Kita hanya punya waktu kurang dari dua bulan untuk mempersiapkannya."

Ucapan dari sang istri sedikit membuat kepala keluarga Kim itu terkejut. "Benarkah?"

"Uhum, tapi tenang. Aku punya banyak kenalan wedding organizer yang bagus dan terpercaya. Lagipula Namjoon sudah menyerahkan semuanya padaku, jadi aku tinggal menanyakan mana yang ia dan Seokjin suka lalu segera mengeksekusinya." Jawabnya mantap.

"Sudah tanya pada mereka tipe pernikahannya? Private atau terbuka, indoor atau outdoor."

"Ah benar, aku hampir lupa masalah itu." Jaejoong tertawa kecil. "Tapi sepertinya mereka akan memilih private wedding. Hanya mengundang kerabat dan teman. Kau tahu kan bagaimana Namjoon."

Sang suami tampak mengangguk setuju. "Aku memang lebih setuju jika diadakan secara privat. Suasana bahagia akan lebih terasa karena yang datang adalah orang-orang terdekat kita."

"Itu benar. Aku tidak mau memasang senyum palsu di hari bahagia anak kesayanganku."

Di tengah-tengah pembicaraan sepasang suami istri itu, sang asisten pribadi tampak memasuki ruang tengah kemudian menunduk sopan pada mereka berdua.

"Mohon maaf mengganggu tuan. Tuan Heechul sudah datang dan menunggu di depan."

"Ah dia sudah datang rupanya." Gumam Jaejoong seraya bangun dari duduknya. "Tolong minta pelayan untuk menyajikan teh dan kudapan. Terima kasih Mingyu."

"Baik tuan. Saya permisi."

Pria cantik itu tampak menganggukkan kepalanya kemudian menoleh ke arah sang suami yang sudah berdiri di sebelahnya. Setelah sedikit merapikan penampilan masing-masing, mereka berdua segera beranjak menuju ruang tamu untuk menemui Heechul.

"Selamat datang Heechul-ah."

Sudut bibir Heechul terangkat begitu tinggi begitu melihat Yunho dan Jaejoong memasuki ruangan. Akhirnya setelah sekian lama mereka bertiga bisa berkumpul kembali secara langsung. Ia dan Jaejoong memang sudah kembali menjalin komunikasi, namun tak bisa bertemu langsung karena jadwal mereka yang sama-sama sibuk.

"Ya tuhan, aku benar-benar merindukan kalian berdua." Ujarnya seraya memeluk suami istri Kim itu secara bergantian. "Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita berkumpul."

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertemu setelah mendengar cerita Jaejoong waktu itu, tapi jadwalku sangat padat, jadi aku tidak bisa." Sesal Yunho.

"Ya ya aku bisa memakluminya. Pengusaha besar sepertimu memang selalu sibuk. Untung saja Jaejoong setia, jika tidak, mungkin kau sudah ditinggal olehnya karena tidak pernah di rumah." Candanya.

Jaejoong tampak mengangguki ucapan sang sahabat. "Itu benar. Untung saja aku terlalu mencintaimu dan anak kita Yunho-ssi."

"Kalian berdua tetap saja suka membullyku." Yunho tertawa kecil.

Mereka bertiga kemudian tertawa karena mengingat kebiasaan lama mereka. Memang dulunya di dalam kelompok mereka, Yunho lah yang sering menjadi bahan bullyan oleh tiga temannya yang lain, tapi dua mantan diva inilah yang paling sering.

"Jadi bagaimana anak-anak kita? Kau benar-benar membuatku terkejut tengah malam Jaejoong-ah." Heechul menyesap teh yang baru saja dihidangkan oleh Mingyu.

"Aku sudah bertemu dengan mereka berdua pagi ini."

Heechul meletakkan cangkirnya. "Dan?"

"Danㅡmereka berdua membenarkan jika ingin serius dengan hubungan yang sedang mereka jalani saat ini."

Ucapan itu sontak memunculkan senyum lebar di wajah Heechul. "Oh my god! Kita akan menjadi besan!"

Mereka bertiga kembali tertawa. Sama-sama mengekspresikan kebahagiaan yang sedang mereka rasakan.

"Tinggal menunggu Namjoon datang ke rumahmu untuk memperkenalkan diri sekaligus meminta ijin. Sampai detik ini anakku tidak tahu jika kita berdua saling kenal." Ujar Yunho.

"Aaa... kalau begitu aku akan pura-pura tidak tahu tentang hubungan mereka." Seringai licik muncul di wajah cantik pria itu. "Sedikit ujian tidak masalah kan?"

Jaejoong seketika terkekeh. "Pasang kamera tersembunyi jika perlu. Aku ingin melihat reaksi anakku ketika berhadapan denganmu."

Tawa licik yang meluncur dari bibir kedua mantan diva itu membuat Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Rupanya meskipun sudah berumur, kejahilan mereka tetap sama seperti dulu. Bedanya target mereka kali ini adalah anak-anak mereka sendiri.

Entah respon seperti apa yang akan diberikan oleh Namjoon dan Seokjin begitu mengetahui jika ternyata ibu mereka bersekongkol untuk menyusun rencana ini.


.

.

~Buttermints~

.

.


"Kembali ke sini kau kuda sialan!"

Teriakan kesal tampak menggema di sebuah pent house mewah milik pria bermarga Kim yang tengah mengejar seorang pria bersurai oranye. Berbeda dengan si pemilik rumah yang sedang emosi, pria itu justru tertawa kencang di sela kegiatan larinya.

"Berani-beraninya kau menunjukkan muka di depanku setelah rencana bejat yang kau susun semalam! Aku tidak akan mengampunimu Jung Hoseok!"

Hoseok terlihat melambatkan langkahnya ketika sampai di belakang sofa. Ia melemparkan cengiran tak bersalahnya pada sang sepupu.

"Kau justru harus berterima kasih padaku. Karena aku, kau bisa bersatu dengan Seokjin sekaligus menikmati malam pertama kaliㅡaw! Yak! Kenapa melemparkan spidol itu padaku?!"

"Kau bahkan pantas mendapatkan siksaan yang lebih dari ini kuda sialan." Geramnya. "Seokjin jadi sakit karenamu!"

Hoseok mengusap-usap dahinya yang baru saja terkena lemparan spidol. "Kau ini bagaimana eoh?! Jelas-jelas kau yang memasukinya! Bukan aku! Kenapa jadi aku yang salah?!"

"Itu karenaㅡ"

TING TONG!

Namjoon mengumpati siapa saja yang mengganggu kegiatan balas dendamnya pada Hoseok. Ia melayangkan tatapan mengancamnya pada pria bersurai oranye sebelum akhirnya melangkah ke pintu depan dengan sedikit terburu-buru.

Ia sungguh tidak sabar untuk menghabisi kuda liar itu.

CKLEK!

"Ya? Siaㅡ"

BUGH!

Tubuh Namjoon seketika terhuyung ke belakang begitu mendapatkan hantaman yang cukup keras di pipi kirinya.

"Astaga! Yoongi-hyung!" Pekik pria berpipi tembam yang muncul dari samping pelaku pemukulan itu.


.

.

TBC

.

.