Dimple

Chapter 18: A New Start


.

.

BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M

.

.

.


.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.


"Jadi, jelaskan apa maksud dari tindakan konyolmu ini, Min Yoongi."

"Hanya sebuah hadiah kecil karena sudah membuatmu sakit." Jawabnya santai.

Seokjin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban tak masuk akal dari sang sahabat. Tangannya tampak sibuk mengompres pipi Namjoon yang mulai memunculkan bekas lebam akibat pukulan keras yang diberikan Yoongi.

Sungguh ia tak habis pikir dengan teman kecilnya yang satu ini.

"Aku hanya memintamu untuk membawakan beberapa pakaian ganti dan laptopku kemari, bukan memberikan Namjoon sebuah pukulan." Kesalnya.

"Sudah Jinseok. Ini bukan salahnya. Lagipula aku hanya lebam sedikit, bukan masalah besar." Namjoon tersenyum kecil. Berusaha menenangkan Seokjin yang sepertinya sudah siap meledak saat itu juga.

"Tapi Joonㅡ"

"It's okay." Ia mengusap lembut punggung tangan Seokjin yang masih setia bertengger di pipinya.

Pria manis itu tampak mendengus seraya melemparkan tatapan tajamnya pada sosok bersurai hitam di sofa.

"Tapi aku masih menginginkan permintaan maaf darinya."

Yoongi melirik sang sahabat tak tertarik. "What?"

"Tidak." Jawab Seokjin acuh. "Mana kekasihmu? Dia tidak ikut?"

Pertanyaan Seokjin itu membuat Yoongi tersadar jika Jimin tidak bersamanya sejak tadi. Kepalanya tampak menoleh kesana-kemari, berusaha mencari sosok sang kekasih yang sayangnya tidak berhasil ia temukan di dalam kamar luas itu.

Di mana Jimin?

"Kalau tidak salah dia tinggal di bawah dengan Hoseok tadi."

Pria bersurai hitam sontak menolehkan kepalanya ke arah Namjoon. "Apa?"

CKLEK!

"Minuman datangg!" Seru pria bersurai oranye yang baru saja memasuki kamar, diikuti oleh seorang pria berpipi tembam di belakangnya.

"Maaf aku sudah menggunakan dapurmu tanpa ijin Namjoon-ssi." Jimin meletakkan nampan berisi empat gelas orange juice di atas meja.

"Santai saja Jiminie. Dia tidak akan marah meski kau membawa pulang seluruh isi kulkasnya sekaligus."

Hoseok tampak merangkul pinggang ramping milik pria bersurai blonde dengan santai tanpa menyadari jika seseorang tengah melemparkan tatapan super tajam ke arahnya.

"Tidak ada yang berani merampok kulkasku kecuali kau." Sahut Namjoon kesal. "Dan ingat, urusan kita belum selesai kuda brengsek."

"Oh ayolah sepupu. Jangan bersikap kasar di depan tamu. Kau harusnya menjamu mereka dengan baik." Cengirnya seraya melepaskan rangkulannya pada pinggang Jimin. "Duduklah Chim, anggap saja rumah sendiri."

"Ah ya, terima kasih hyung." Jimin tampak menyunggingkan senyum kecil kemudian mendudukkan diri di sebelah sang kekasih. "Hyungie, mau minum?"

Pria pucat itu tampak mengabaikan pertanyaan Jimin dan memilih fokus pada benda persegi di tangannya. Merasa aneh karena sang kekasih tiba-tiba mengabaikannya, Jimin menggeser duduknya lebih dekat dengan Yoongi.

"Is there something wrong?"

"Menurutmu?"

Jimin menghela napas pelan. Jika Yoongi sudah bersikap dingin dan acuh seperti ini padanya, berarti ia sudah melakukan sesuatu yang membuat kekasih pucatnya itu tidak senang.

"Aku minta maaf jika sudah berbuat salah hyung. Tolong jangan abaikan aku seperti ini." Bujuknya.

Pria pucat itu tampak mendengus seraya memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. "Ayo pulang."

"Hㅡhuh? Tapi kita kan baruㅡ"

Belum sempat Jimin menyelesaikan kata-katanya, Yoongi sudah lebih dulu menarik tangannya hingga ikut berdiri di sebelah sang kekasih.

"Kami pulang dulu." Ujar Yoongi tiba-tiba.

"Eo? Pulang sekarang? Tapi kau baru saja sampai." Seokjin tampak mengerutkan dahinya heran.

"Masih ada pekerjaan. Kau istirahatlah yang cukup. Kabari aku jika terjadi apa-apa."

"Bukankah kau baru saja menyelesaikan deadlinemu? Sudah ada pekerjaan lagi?" Timpal Hoseok seraya menyesap orange juicenya.

"Ya. Aku sibuk."

"Santailah sedikit Yoongs. Gunakan libur yang kuberi di setiap akhir deadline untuk istirahat atau kencan dengan kekasihmu. Kasihan Jimin yang selalu kesepian karena kau tinggal selingkuh dengan komputermu."

Yoongi mengangkat alisnya curiga. "Dari mana kau tahu dia kesepian?"

"We talk about it sometimes." Cengirnya. "We're friends, right Jiminie?"

Ya memang benar jika Jimin berteman dengan Hoseok dan mengobrol dengan pria itu ketika sedang di kelas ataupun lewat chatting, tapi mengakui jika ia masih tetap berhubungan dengan Hoseok setelah Yoongi melarangnya bukanlah satu hal yang bagus. Jadi ia memilih untuk diam saja dan berusaha untuk menghindari lirikan tajam yang tengah diberikan oleh sang kekasih.

"Kami pulang."

Yoongi segera menarik Jimin keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Seokjin dan Namjoon yang masih keherenan melihat perubahan sikap mereka serta Hoseok yang geleng-geleng kepala dengan senyum geli di wajahnya.

"Posessive boyfriend."

Gumaman itu sontak mengundang perhatian sepasang pria yang tengah duduk di atas ranjang.

"Apa kau ada hubungannya dengan semua ini?" Tanya Namjoon curiga.

Hoseok mengedikkan bahunya. "Yoongi yang terlalu cemburu padaku. Dia tidak senang karena aku berteman dengan Jimin."

"Yakin kau tidak terlibat dalam hubungan mereka?"

"Aku ini termasuk salah satu pria paling diminati di Korea eoh untuk apa aku jadi orang ketiga di hubungan orang lain sementara aku bisa dengan mudah mendapatkan pasangan yang masih single." Dengusnya. "Jimin memang tipeku, tapi dia sudah punya Yoongi dan aku tidak minat dengan barang milik orang lain."

Namjoon tampak menganggukkan kepalanya. "Hanya memastikan jika kau masih berada di jalan yang benar."

"Jung Hoseok selalu aman terkendali, jangan khawatir." Ia menyeringai. "Harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri sebagai pasangan baru."

Dahi Namjoon seketika berkerut. "Kenapa aku?"

"Hormon."

Setelah itu bungkusan es yang berada di pipi Namjoon tampak melayang bebas ke arah pria bersurai oranye diiringi dengan pekikan Seokjin dan teriakan kencang dari sang korban setelahnya.


.

.

~Buttermints~

.

.


Seokjin tampak menguap seraya menutup laptop di atas pangkuannya. Iris gelapnya kemudian melirik pada jam digital yang ternyata sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

"Jam sebelas? Tak kusangka aku sudah bekerja selama itu." Ia terlihat memasukkan laptopnya ke dalam ransel sambil bergumam. "Namjoon belum kembali. Apa dia masih bekerja di bawah?"

Setelah selesai makan malam dan mengusir Hoseok dari rumahnya tadi, Namjoon memang sempat minta ijin pada Seokjin untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruangannya dan sampai saat ini pria itu belum juga kembali. Sebenarnya ia ingin mengecek keadaan kekasihnya itu di bawah, tapi ia tidak mau mengambil resiko terjatuh dari tangga gara-gara langkah kaki yang belum stabil.

"Haahㅡsekarang apa yang harus kulakukan?" Seokjin menggaruk kepalanya bingung. "Apa aku tidur duluan saja? Ugh, tapi aku tidak enak dengan Namjoon."

Pria cantik itu menghembuskan napasnya pelan. Andai saja tubuhnya tidak sakit, dia pasti bisa membuatkan sesuatu untuk Namjoon. Entah itu minuman atau kudapan kecil untuk menemani kekasihnya bekerja.

CKLEK!

"Um? Jinseok? Kau belum tidur?"

Pandangan Seokjin seketika beralih ke arah sosok tinggi yang baru saja memasuki kamar. Pria itu tampak melemparkan senyum kecil lengkap dengan dimple manis favorit Seokjin di pipinya. Tidak ketinggalan sebuah kacamata yang saat ini tengah membingkai wajah tegasnya, membuat pria itu tetap terlihat tampan meskipun sedang memakai busana rumahan biasa.

Sungguh Seokjin tak bisa melepaskan pandangannya barang sedetikpun dari sosok nyaris sempurna itu.

"Jinseok?"

Pemilik surai hitam seketika terkesiap. "Hㅡhuh?"

Namjoon tampak meletakkan kaca matanya di atas nightstand sambil terkekeh pelan. "Kenapa belum tidur?"

"Aㅡah aku baru selesai merevisi draftku dan umㅡmenunggumu selesai." Gagapnya.

"Menungguku?"

Seokjin mengangguk pelan. "Aku merasa tidak enak jika harus tidur lebih dulu."

"Sebenarnya kau tidak perlu menungguku. Kau bisa tidur duluan Jinseok." Namjoon tersenyum kecil. "Tapi terima kasih karena sudah bersedia menungguku sampai aku selesai."

Pria manis itu kembali mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya. "Umㅡkalau begitu, tidur sekarang?"

"Okay." Namjoon mematikan lampu utama kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Seokjin.

Selama beberapa saat tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Jarak cukup lebar yang terlihat di antara mereka berdua seakan menandakan bahwa mereka sedang dikuasai perasaan gugup karena berada di atas ranjang yang sama. Baik Seokjin ataupun Namjoon, keduanya sama-sama merasakan debaran menyenangkan itu.

Sejujurnya Namjoon ingin menghapus jarak yang tengah memisahkan mereka saat ini, namun ia takut jika Seokjin merasa tidak nyaman dengan keinginannya.

"Namjoon?"

Kepala pria itu sontak menoleh. "Ada apa? Perlu sesuatu?"

"Umㅡkeberatan jika aku sedikit mendekat?" Tanyanya lirih.

Namjoon tampak mengerjapkan kedua matanya, sedikit merasa tidak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar. Jika Seokjin bertanya seperti itu padanya, berarti dia juga menginginkan apa yang sedang ada di dalam pikirannya sekarang.

Dan fakta itu tak ayal mengundang perasaan hangat di dada Namjoon.

"Uh tㅡtidak apa-apa jika kau tidak bersedia. Aku mintaㅡ"

"Tak apa." Jawab Namjoon cepat. "Sebenarnya aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu, tapi kau sudah lebih dulu mengucapkannya."

Bibir Seokjin seketika membentuk senyum tipis. "Jadiㅡtak apa?"

Pria bersurai ash brown mengangguk kecil seraya memiringkan tubuhnya menghadap ke arah sang kekasih. "Come here."

Tawaran terbuka itu tentunya disambut dengan senang hati oleh Seokjin. Ia segera menggeser tubuhnya mendekati Namjoon kemudian menyamankan kepalanya di atas lengan pria tinggi itu. Sungguh Seokjin menyukai bagaimana lengan kokoh itu memeluk pinggang rampingnya, memberinya kehangatan dan juga perasaan aman di saat yang bersamaan. Ditambah lagi dengan wangi maskulin yang entah kenapa selalu bisa memberikan ketenangan untuknya.

Namjoon benar-benar terasa seperti rumah untuknya.

"Terima kasih Joonie." Gumam Seokjin.

Pria yang lebih muda terlihat memberanikan diri untuk mengusap surai gelap milik sang kekasih. Usapan lembut itu membuat Seokjin semakin menenggelamkan wajahnya ke dada Namjoon. Jika kepalanya terus diusap seperti ini, dijamin ia akan segera masuk ke dalam alam mimpi tak lama lagi.

"Good night."

Dan mata indah Seokjin tertutup tepat setelah Namjoon memberikan sebuah kecupan singkat di puncak kepalanya.

"I love you, Jinseok."


.

.

~Buttermints~

.

.


"Ku dengar kau baru saja menghubungi pengacara Jung. Apa sedang ada masalah?" Jaejoong melirik ke arah sang suami yang baru saja memasuki kamar.

"Ah itu. Aku sedang mengurus surat pemindahan hak milik perusahaan."

Pria bersurai cokelat tampak menutup majalah yang tengah dibacanya dengan raut wajah heran. "Pemindahan hak milik? Kau menjual salah satu perusahaan kita tanpa sepengetahuanku?"

"Aish tidak sayang, bukan begitu. Aku mengurus pemindahan hak milik perusahaan untuk Namjoon." Jelas Yunho.

"Untuk Namjoon? Kenapa mendadak sekali?"

"Seperti yang kau katakan tadi, pernikahan Namjoon dan Seokjin hanya kurang sekitar dua bulan lagi. Aku berencana memberikan perusahaan utama di Seoul untuk Namjoon dan mengenalkannya sebagai penerus perusahaan kita setelah mereka berdua menikah." Yunho mendudukkan diri di sebelah sang istri. "Cukup banyak yang harus diurus, maka dari itu aku memutuskan untuk memulainya sekarang agar semuanya bisa selesai tepat waktu."

"Tapi apa menurutmu semua itu tidak terlalu terburu-buru?"

"Apa menurutmu begitu?"

Jaejoong mengangguk kecil. "Namjoon baru akan mendapat gelar magister bulan depan dan menikah pada bulan selanjutnya. Saat ini ia juga sedang mengembangkan bisnis cafe. Meskipun dia baru mengelola tiga cabang, tapi aku yakin pekerjaannya tidak sedikit. Jika kau langsung menyerahkan perusahaan utama dalam rentan waktu sedekat ini, aku takut Namjoon akan stress karena mendapat tanggung jawab besar secara tiba-tiba dan dia tidak bisa menikmati momen pernikahannya dengan Seokjin."

"Dan bisa memperlambat kita mendapatkan cucu." Kekeh Yunho seraya mengusap kepala Jaejoong dengan sayang.

"Ya itu juga penting. Aku tidak mau sampai tertunda mendapatkan cucu karena mereka stress. Bagaimanapun juga kebahagiaan keluarga lebih penting daripada apapun."

"Okay, aku akan bicarakan dulu dengan Namjoon tentang ini, tapi segala sesuatunya tetap akan kuurus mulai sekarang karena pada akhirnya Namjoonlah yang akan mewarisi perusahaan kita nantinya."

Nyonya besar Kim terlihat menganggukkan kepalanya setuju. "Bimbinglah dia secara perlahan karena meskipun anakmu itu pintar, umurnya masih terlalu muda untuk mendapat tanggung jawab sebesar itu."

"Tenang saja sayang, aku tidak akan melepaskan tanggung jawabku sebagai orang tua. Kau jangan khawatir."

Yunho mengecup puncak kepala sang istri. Ini bukan pertama kalinya Jaejoong bersikap sedikit overprotective pada sang anak. Meskipun anak mereka sudah dewasa seperti sekarang, sikap itu sama sekali tidak hilang dari dalam diri Jaejoong.

"Entah kenapa aku jadi punya firasat." Jaejoong menyandarkan kepalanya ke pundak Yunho.

"Firasat apa?"

"Firasat jika tak lama lagi kita akan mendapatkan cucu."


.

.

TBC

.

.