I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
Back To You
By Nagisa otakuriri
Lagu yang dipilih: Erase
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
Baekhyun menengadahkan kepalanya ketika merasa ada titik air yang jatuh. Baekhyun mempercepat langkah kakinya. Tidak jauh dihadapannya terdapat halte bus.
Baekhyun mendudukkan dirinya dibangku yang ada di halte bus tersebut. Dia menatap pada jalanan kosong dihadapannya. Baekhyun dapat melihat ada beberapa wanita dengan kemeja kerja mereka dan mungkin sedang menunggu bus seperti dirinya.
Baekhyun menunduk untuk menatap sepatunya yang sedikit basah dengan tali sepatu yang terlepas. Baekhyun tertegun.
Dulu—mungkin sekitar satu tahun yang lalu pasti selalu ada sosok protektif yang akan marah jika melihat kecerobohannya. Baekhyun yang ceroboh, selalu jatuh karena tali sepatunya sendiri. Lalu, sosok itu akan langsung bersujud dan mengikatkan tali sepatunya. Baekhyun pernah malu setengah mati karena dia melakukannya di tengah lapangan ketika mereka sedang mengikuti pelajaran olahraga—saat itu mereka masih SMA. Sejak kejadian itu, Baekhyun selalu diledek teman-temannya.
Namun, Baekhyun tidak pernah peduli. Baekhyun juga tidak pernah protes. Baekhyun justru bahagia. Baekhyun menyayangi sosok itu dengan sepenuh hatinya. Sosok itu, sahabatnya sejak sekolah dasar—Park Chanyeol namanya.
Baekhyun memasuki flat sederhananya. Berjalan menghampiri kulkas demi menemukan satu botol air putih dingin lalu duduk di sofa. Sedikit menyandarkan tubuhnya untuk melepas penat.
Baekhyun meminum air putihnya lalu mencari remote tv. Dia menatap layar tv yang sudah menyala dan menampilkan berita malam.
Baekhyun mulai merebahkan dirinya pada sofa. Matanya masih terpusat pada layar tv. Ketika matanya mulai terasa berat dan hampir terpejam, Baekhyun merasa ponselnya bergetar. Dia mengeluarkannya, lalu menemukan ada satu pesan masuk. Namun, sebelum sempat membuka pesan itu, Baekhyun terdiam untuk menatapi wallpaper di ponselnya.
Ada dirinya yang mengenakan bando kelinci putih sedang dipeluk dari belakang oleh Chanyeol yang mengenakan bando rilakuma. Chanyeol menempelkan bibirnya pada pipi Baekhyun tanpa sedikitpun melihat ke kamera.
Baekhyun ingat bahwa saat itu dia sempat kesal karena Chanyeol tidak melihat ke arah kamera. Tetapi lelaki itu hanya menanggapi protesnya dengan satu kalimat yang membuat Baekhyun bungkam dan merona.
"Aku hanya ingin melihat wajah Baekhyunku yang sangat menggemaskan"
Entah sejak kapan, air mata Baekhyun menetes. Ia memeluk ponselnya erat.
"Chanyeol"—lirihnya.
"Baekhyun, dimana aku harus menaruh ini?" Chanyeol tampak kesulitan membawa dua kantung belanja milik Baekhyun.
Hari ini adalah hari kedua Baekhyun tinggal di flatnya. Baekhyun memutuskan untuk tinggal sendiri karena ingin belajar mandiri sekaligus beralasan bahwa flat ini dekat dengan kampusnya. Awalnya Chanyeol memaksa ingin ikut tinggal bersama Baekhyun, namun kedua orangtua mereka melarang keras.
Chanyeol sangat kesal karena sadar betapa kolotnya para orangtua.
Chanyeol dan Baekhyun adalah sepasang kekasih. Mungkin sekitar dua tahun yang lalu—tepatnya ketika mereka berada di kelas 2 SMA. Sebelumnya mereka bersahabat dekat sejak sekolah dasar. Rumah Chanyeol dan Baekhyun hanya berjarak dua blok saja dan mereka selalu berada di kelas yang sama sejak kelas empat SD.
"Di sana saja. Di atas meja Yeol. Nanti aku yang akan memasukkannya ke dalam kulkas." Baekhyun menyahut dari dalam kamar. Chanyeol pun menurut saja dan bergegas menuju dapur. Sebetulnya tidak sepenuhnya bisa disebut dapur karena tidak ada sekat yang memisahkan antara lokasi meja makan, kulkas, dan rak kompor gas dengan ruang santai yang berisikan tv dan sofa.
Namun, meskipun flat ini terlihat sederhana, Chanyeol merasa nyaman dan yakin akan sangat betah di sini.
Setelah melakukan tugasnya, Chanyeol melangkah menuju sofa. Dia membaringkan tubuh letihnya. Matanya terpejam dan lengannya dia gunakan sebagai alas kepala.
"Chanyeol, kau ingin makan sesuatu?" itu Baekhyun yang berjalan mendekati kekasihnya. Baekhyun mengguncang tubuh Chanyeol, namun lelaki itu tidak merespon.
Laki-laki mungil dengan paras imut itu menghela nafas. Mungkin kekasihnya lelah setelah menemaninya berbelanja, menyetir untuknya, bahkan membawakan barang-barangnya.
Baru saja Baekhyun berniat untuk berbalik ke kamar untuk mengambilkan Chanyeol selimut, tangannya sudah lebih dulu ditarik.
Baekhyun mengerang karena tiba-tiba saja tubuhnya sudah ada di atas tubuh Chanyeol. Dia memukul dada kekasihnya kesal.
"Kau pura-pura tidur" rajuknya
Chanyeol terkekeh. Laki-laki itu mulai melingkarkan lengannya pada pinggang Baekhyun. Memeluk kekasihnya layaknya guling. Baekhyun tidak protes melainkan terkekeh. Dia mana bisa marah sungguhan pada Chanyeol. Laki-laki ini selalu melakukan apapun untuknya.
"Apa kau tidak lelah? Beratku bertambah akhir-akhir ini." Tanya Baekhyun sembari meletakkan kepalanya pada dada kekasihnya.
Chanyeol menggeleng. "Baekhyunku sangat ringan seperti kapas. Baekhyunku juga wangi seperti stroberi. Memelukmu membuat lelahku hilang"
"Dasar gombal." Ejek Baekhyun sambil tertawa pelan. Dia justru semakin menyamankan dirinya sembari sesekali mengusel-uselkan wajahnya pada dada Chanyeol.
"Geli, Sayang." Kekeh Chanyeol.
"Makanya lepaskan aku. Ayo kita makan. Kau belum makan siang kan." Kata Baekhyun.
"Sebentar lagi. Sepuluh menit"
"Yeol.."
"Baiklah. lima menit."
Baekhyun pun tidak protes lagi. Sesekali Chanyeol akan mencium pipi chubby Baekhyun gemas lalu beralih pada keningnya. Tidak puas hanya itu saja, Chanyeol juga memberikan kecupan pada bibir mungil Baekhyun. Tidak lama, namun berkali-kali. Lalu mengeratkan pelukannya.
"Kurasa sudah lebih dari lima menit."
Secara tiba-tiba Chanyeol bangun dari posisi berbaringnya. Kini Baekhyun justru terduduk di pangkuan Chanyeol.
Baekhyun yang terkejut memukul pundak Chanyeol kesal.
Chanyeol mengabaikan protes Baekhyun, melainkan justru melempar satu kecupan lagi di bibir laki-laki mungil itu. Tanpa aba-aba dia memindahkan Baekhyun pada bagian sofa yang kosong. Berdiri dan merenggangkan tubuhnya.
"Kira-kira menu makan siang apa yang enak ya?"gumam laki-laki itu jahil sambil mengambil ponselnya untuk memesan makanan.
Baekhyun yang merona di tempatnya menutup wajahnya.
Sadar kalau Baekhyun belum mengikutinya, Chanyeol menoleh. "Baekhyun, kita jadi makan kan?" Tanya laki-laki itu polos. Baekhyun rasanya ingin memukul wajah tampan itu.
.
.
.
Baekhyun terbangun ketika sadar ponselnya bergetar. Baekhyun bangkit dari posisinya lalu mengusap wajahnya. Baekhyun kembali teringat Chanyeol.
Setelah mengucap janji untuk menikahinya, laki-laki itu justru tidak pernah kembali.
Lagi-lagi air mata itu mengalir tanpa persetujuannya. Baekhyun tidak mau menangis. Namun, air matanya tidak bisa diajak kompromi.
"Harusnya saat itu aku tidak melepaskannya." Lirih Baekhyun
"Harusnya aku tidak setuju"
"Harusnya… Hiks… Chanyeol…"
Chanyeol adalah seorang tentara. Dia memiliki pangkat yang cukup tinggi dan seringkali mendapat tugas untuk berjaga di daerah perbatasan.
Saat itu, Korea Selatan berencana mengirimkan tim untuk membantu sebuah negara yang sedang berperang. Chanyeol menjadi salah satu bagian dari tim itu.
Orang pertama yang Chanyeol datangi ketika mendapatkan tugas itu adalah Baekhyun. Chanyeol membutuhkan persetujuan laki-laki itu. Jika memang Baekhyun akan melarangkan maka Chanyeol akan mengikuti kemauan laki-laki itu.
Namun, Baekhyun tetaplah Baekhyun. Kekasih mungil Chanyeol adalah sosok malaikat yang pengertian. Baekhyun tidak melarang Chanyeol. Baekhyun berkata bahwa dia akan selalu mendukung keputusan Chanyeol.
Untuk pertama kalinya Chanyeol merasa ragu dengan tugasnya. Chanyeol justru berharap Baekhyun melarangnya.
Saat itu, Baekhyun hanya tersenyum. Memberikan kecupan di pipinya lalu menangkup wajahnya.
"Chanyeol akan kembali kan?"
"Tentu saja, sayang." Ujar Chanyeol, berusaha terlihat yakin. Tentu saja dia akan kembali. Kemana lagi dia bisa kembali jika bukan kepada Baekhyun.
Baekhyun mengangguk membalasnya.
"Kalau begitu pergilah. Aku ada disini menunggumu." Setelah mengucapkan itu, Baekhyun mencium bibir Chanyeol. Mereka berciuman pelan. Chanyeol melumat bibir mungil itu perlahan. Menikmatinya dengan sepenuh hatinya. Bibir ini satu-satunya yang selalu menjadi candu baginya. Hanya bibir Baekhyun yang bisa membuatnya tidak bisa berhenti untuk mengecap rasa manis disana.
"Aku mencintaimu." Bisik Chanyeol.
"Aku juga."
Dua hari setelahnya Chanyeol berangkat. Laki-laki itu menyempatkan diri untuk mendatangi flat Baekhyun. Sempat bercumbu sejenak lalu menikmati sarapan bersama. Setelah itu, Chanyeol pun berpamitan.
Baekhyun bisa melihat bahu kokoh kekasihnya dari belakang. Dia tidak bisa melupakan ucapan Chanyeol padanya sebelum pergi tadi.
"Setelah aku kembali, ayo kita menikah"
Baekhyun sadar bahwa ini memang sudah saatnya. Usia mereka 26 tahun. Cukup matang untuk membangun keluarga kecil mereka sendiri.
Baekhyun jelas tidak akan menolak. Laki-laki itu hanya bisa mengangguk lalu mengalungkan lengannya pada leher laki-laki tinggi itu.
Baekhyun menyentuh dadanya. Ada sedikit sesak disana entah karena apa. "Cepatlah kembali, Chanyeollie." Bisik Baekhyun lirih.
Tidak seperti harapannya.
Jauh dari angan bahagianya.
Hari berganti menjadi minggu, kembali berganti menjadi bulan, hingga akhirnya genap enam bulan. Chanyeol tidak pernah kembali.
Sebuah kabar datang padanya yang mengatakan bahwa Chanyeol menghilang ketika sedang menjalankan tugas. Ada musuh yang membawanya, namun berita buruk lainnya berkata bahwa pesawat yang diduga berisikan musuh beserta Chanyeol di dalamnya tiba-tiba saja meledak. Tidak ada yang tahu bagaimana kejelasan akan berita itu.
Baekhyun yang mendengar hal tersebut bahkan tidak sanggup untuk sekedar menangis. Laki-laki itu pingsan saat itu juga. Saat sadar, Baekhyun meronta dan berteriak. Dia memanggil Chanyeol. Memohon laki-laki itu kembali dan memenuhi janjinya.
Butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk pulih kembali. Semua orang terdekat selalu ada di sisinya. Secara bergantian mereka selalu menemani Baekhyun. Menghubungi laki-laki itu untuk memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja. Bahkan Sehun—adik laki-laki Chanyeol—yang tidak begitu dekat dengannya turut khawatir dan rutin mengirimkan pesan ataupun menelponnya.
Baekhyun berhenti dari pekerjaannya sebagai guru TK. Dengan uang simpanan yang dimilikinya—yang rencananya akan digunakan untuk membeli rumah kecil impiannya bersama Chanyeol, mereka sudah berjanji untuk menabung bersama karena tidak ingin merepotkan kedua orangtua mereka—Baekhyun mendirikan toko bunga. Ini juga salah satu mimpinya setelah nanti menikah dengan Chanyeol. Baekhyun ingin membangun toko bunganya sendiri sembari merawat anak yang akan diadopsinya bersama Chanyeol.
Baekhyun selalu membayangkan akan sebahagia apa mereka jika semua mimpinya terwujud. Sayangnya, mimpi tetaplah menjadi mimpi.
"Ya! Baekhyun"
Itu Luhan. Laki-laki dengan paras cantik itu tampak kesal. Dia berkacak pinggang sambil menatap Baekhyun tajam. Ada Kyungsoo disamping Luhan yang juga menatap Baekhyun sama kesalnya. Dua orang itu adalah sahabatnya.
"Ada apa? Kenapa kalian datang pagi-pagi sekali?" Baekhyun menguap. Dia menatap kedua sahabatnya dengan tatapan lugu. Tidak heran melihat keberadaan keduanya di flatnya. Mereka tahu password flat-nya.
"Tolong jangan mengabaikan telfon dan pesan dari kami. Kami perlu tahu bahwa kau masih hidup atau tidak." Omel Luhan. Masih dengan berkacak pinggang. Baekhyun mengusap lehernya lalu meringis.
"Maafkan aku. Aku tertidur semalam."
"Kau ini benar-benar membuat kami khawatir dan tidak bisa tidur." Keluh Kyungsoo.
"Kalian berlebihan sekali. Aku baik-baik saja" kata Baekhyun
"Katakan itu setelah kau bercermin dan lihat bagaimana kacaunya wajahmu. Matamu bengkak dan eyeliner yang kau banggakan itu hanya menjadi noda hitam dari mata hingga pipi babimu." Kata Luhan sinis.
Baekhyun cengengesan. Dia tidak pernah bisa berbohong.
"Ayo sarapan bersama." Ujarnya berusaha mengalihkan perhatian mereka lalu bangkit dari sofanya—semalaman dia memang tertidur disana.
Baekhyun hanya memiliki roti dan selai stroberi. Untungnya Luhan dan Kyungsoo tidak protes dan menikmati saja sarapan yang Baekhyun sediakan.
Ketika Baekhyun sudah hampir menggigit rotinya, pintu flat-nya menjeblak terbuka. Baekhyun menoleh dan mendapati Sehun yang tersengal di sana. Tidak memberikan kesempatan bagi Baekhyun untuk bertanya, Sehun langsung menghampiri Baekhyun. Dia memeluk Baekhyun erat. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Baekhyun dan kedua sahabatnya.
Baekhyun ingin bertanya—namun Sehun lebih dulu bersuara.
"Hyung. Chanyeol Hyung ditemukan. Dia ditemukan Hyung."
Setelah itu Baekhyun tidak mendengar apapun lagi. Dunianya serasa berhenti.
Baekhyun menatap gedung putih dihadapannya.
Rumah Sakit Jiwa Seoul
Sehun menceritakan semua detailnya. Chanyeol yang disandera ketika perang. Laki-laki itu terluka parah namun berhasil melarikan diri sebelum pesawat musuh lepas landas untuk membawanya entah kemana.
Chanyeol ditolong oleh penduduk sekitar. Chanyeol pingsan dan dinyatakan mengalami koma. Dia tertidur selama hampir delapan bulan. Ketika kesadaran menjemputnya dengan kondisi fisik yang sudah membaik, nyatanya ada luka lain yang tidak bisa disembuhkan dengan mudah. Kondisi psikologisnya memburuk. Chanyeol berteriak. Dia ketakutan saat ada yang mendekatinya.
Menurut dokter yang ada di sana, Chanyeol menunjukkan gejala posttraumatic stress disorder. Chanyeol pun sempat dirawat sebelum akhirnya dikembalikan ke negaranya. Di sini. Sehun yang selalu menunggu dan mencari kabar tentang kakaknya—karena memang jasad Chanyeol sendiri tidak pernah ditemukan—karena dia percaya Chanyeol masih hidup.
Baekhyun melangkah yakin. Dia kini berdiri di depan sebuah pintu yang terdengar begitu ribut. Tanpa sadar Baekhyun menahan nafasnya. Pintu itu sedikit terbuka.
Dadanya seakan berhenti berdetak ketika akhirnya dia bisa melihat Chanyeol. Laki-laki itu ada disana. Sedang berteriak sambil melempar semua barang yang ada disekitarnya. Laki-laki itu lalu menutup telinganya sambil terus meraung.
"Pergi. Kumohon menjauh. Jangan tangkap aku. Lepaskan aku. Aku harus kembali. Baekhyunku menunggu dan dia akan menangis jika aku tidak kembali" racau laki-laki itu.
Baekhyun menutup mulutnya. Dia berusaha menahan tangisnya.
Dokter dan perawat sepertinya berniat untuk menyerah dan mundur secara perlahan. Dokter tersebut menyadari keberadaan Baekhyun. Dia sudah berniat mengusir Baekhyun.
"Tuan, anda…"
"Chanyeol…" lirih Baekhyun pelan. Dia melangkah maju. Mulai mendekati pintu dan masuk ke dalamnya.
Seketika Chanyeol berhenti berteriak. Laki-laki tinggi itu seolah terhipnotis. Dia mengangkat wajahnya.
"Chanyeol… ini aku" ucap Baekhyun pelan namun cukup untuk terdengar oleh Chanyeol. Baekhyun melangkah mendekat. Sangat dekat hingga sudah berhadapan dengan Chanyeol. Laki-laki itu hanya diam. Tidak mengamuk seperti ketika dokter atau perawat yang mendekatinya.
"Ini aku. Baekhyunmu" Ujar Baekhyun. Laki-laki mungil itu langsung menghambur memeluk Chanyeol erat. Rasa rindunya membuncah.
Chanyeol yang awalnya diam pun mulai tergerak. Tangan besarnya perlahan terangkat. Dia membalas pelukan Baekhyun. Melingkarkan lengannya pada pinggang lelaki mungil itu.
"Baekhyun…"
"Iya ini aku."
"Baekhyun…"
"Terima kasih Chanyeol. Terimakasih karena sudah kembali."
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
