I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
WHY WOULD YOU?
By Zeeneaya
Lagu yang dipilih: Missing You
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
"..Biarkan aku menolongmu, aku akan berusaha untuk merubah segalanya.."
- ; -
180911
Semua mata tertuju pada satu titik, pada pintu kelas yang terbuka. Tak lama pandangan mereka beralih, kini pada seseorang yang berjalan masuk seperti mayat hidup sampai ke deretan meja belakang, lalu mengabaikannya, pura-pura. Namanya Baekhyun, murid yang dari hari kemarin tengah ramai diperbincangkan seluruh isi sekolah
"Baek, kau baik?" dari semua, ternyata masih ada satu orang yang peduli akan kondisinya, Baekhyun bersyukur untuk itu
Ia mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Jeonghan yang kini tersenyum tipis
Jeonghan menarik satu kursi disamping tempat ia duduk untuk kawannya "Aku pikir kau tidak akan masuk hari ini" ia bergumam setelah bokong Baekhyun mendarat dengan aman di atas kursi
Yang lain tersenyum "Awalnya iya, ingin tidak masuk, tapi rasanya akan sangat canggung jika aku melakukan itu 'kan?"
"Jangan terlalu dipikirkan, ya?" usapan di punggungnya seperti dapat mengisi seluruh kekuatan yang ia buang
Baekhyun bisa saja mengangguk menyanggupi, tapi kenyataannya, ia tidak, karena sungguh, itu tidak bisa pergi begitu saja dari ingatannya
Pintu kelas kembali terbuka, kini karena Joonmyeon, si ketua OSIS, yang setengah berlari menghampiri Baekhyun dengan sebuah buku harian tidak asing berwarna pastel di tangan kanannya
"Kepala sekolah memanggilmu" ujarnya dengan wajah dan nada kaku
Baekhyun tahu inilah yang akan menjadi sarapan paginya, jadi tanpa menunggu apapun lagi ia berdiri, mengekor beberapa langkah dibelakang ketua OSIS setelah melempar senyum tanda aku tidak apa-apa pada Jeonghan yang berkeringat
Langkahnya mulai memberat kala mata sabitnya menangkap pintu ganda di ujung koridor yang entah kenapa terasa lebih pendek dari hari-hari sebelumnya, itu ruangan beliau, tempat kepala sekolah menunggu kehadirannya. Ia menarik napas dalam, mencoba untuk tenang dan yang paling penting tidak menangis
Joonmyeon mengetuk pasang pintu itu dua kali sebelum membukanya, Baekhyun tetap mengekor sampai ke tengah ruangan, lalu berdiri disisi ketua OSISnya, disaat itulah ia baru sadar dengan luka lebam di pipi seputih susu itu
Joonmyeon membungkuk dalam lalu berkata; "Selamat pagi, Kepala sekolah Kim"
Sang petinggi sekolah mendongak menatap mereka setelah beberapa detik hanya duduk di bangkunya dengan dua jari telunjuk yang bermain di atas meja, menatap Baekhyun dan Joonmyeon bergantian
"Duduklah" lalu ujarnya terdengar tegas
Dua yang lebih muda memilih tempat mereka masing-masing, Joonmyeon duduk tepat disebrang Kepala sekolah sedangkan Baekhyun di sisi lain. Udara menjadi dingin tiba-tiba, itulah yang Baekhyun rasakan, tapi sekujur tubuhnya berkeringat, dan lengannya bergetar kala Kepala sekolah menatap langsung dimatanya
Joonmyeon meletakan buku yang sedari tadi ia bawa ke atas meja, mendorongnya agar lebih dekat pada yang paling tua
"Itu, aku menemukannya di loker" ujarnya halus
Baekhyun menoleh dengan cepat, lalu menaruh matanya penuh pada buku harian tadi, yang sekarang tengah di teliti oleh Kepala sekolah. Baekhyun menarik napas, membuatnya mendapat atensi penuh dari dua orang lain yang ada disana
"Itu buku milikku" ucapnya halus hampir seperti bisikan
Decikan terdengar dari mulut Kepala sekolah mereka "Dan ada bersamanya?"
"Senior Chanyeol sulit menceritakan sesuatu pada orang-orang, jadi aku menyuruhnya untuk menulis disana"
"Kalian, terdengar sangat dekat 'kan?"
Joonmyeon tertawa canggung "Mereka berteman dengan baik"
Baekhyun menggeleng "Aku baru mengenalnya dua hari yang lalu"
Semua orang terdiam, jadi Baekhyun melanjutkan dengan suara tersenggal di tenggorokan, mengumpulkan seluruh keberaniannya di ujung lidah
"Senior Chanyeol, ia, bukankah ia tidak seharusnya melakukan itu?" Baekhyun menatap Joonmyeon, memohon jawaban atas pertanyaannya
Yang ditatap bersuara setelah melewati beberapa detik bersama keheningan "Baekhyun, apa kau mau menceritakan semua yang kau tahu?" ia menatapnya
"Jika aku melakukannya, apa yang akan terjadi?"
"Bisakah aku memohon?"
Baekhyun menemuka dua pasang mata yang biasanya terlihat tenang kini dipenuhi emosi dan rasa bersalah
"Waktu itu" Baekhyun membuka kalimat pertamanya, bibir bergetar dan mata memerah mengumpulkan air mata "Saat pertama kali aku berbicara dengannya. Aku tertidur di atap sekolah..."
- - : : - -
180909
"Aw!" Baekhyun merintih saat merasa punggungnya seperti terbakar "Jam berapa ini?" ia meracau, mencari jam tangan yang sudah pasti berada dipergelangan lengannya
Matanya membulat kala melihat angka 3 dan huruf Pm tersusun dengan sangat baik di jam digital pemberian orangtuanya, ia dengan sergap berdiri di atas kedua kakinya meski masih di ambang kesadaran, menendang jauh beberapa box kertas yang menghalanginya dari sinar matahari
Ia harus berlari, pikirnya, lima menit lagi akan ada pergantian pelajaran, jika ia sampai di kelas sebelum guru masuk, ia akan selamat, jika tidak, matilah ia. Tapi belum sempat ia berlari, langkahnya sudah terpaku pada seseorang yang duduk tepat di pinggir atap dengan kepala tertunduk, Baekhyun yang merasa hawatir menghampiri
"Kau bisa saja terjatuh" suaranya menarik perhatian lawan bicara yang langsung mendongak, Baekhyun bisa segera mengenali orang itu "Senior Chanyeol?"
Senior Chanyeol, mungkin bukan ia satu-satunya murid yang tahu akan nama dan orang itu, satu sekolah mengenalnya. Sayang, namanya dikenal bukan karena hal yang baik
Chanyeol tersenyum masam dengan luka lebam yang memenuhi hampir seluruh wajahnya, Baekhyun tidak pernah melihat lebam separah itu sepanjang hidupnya
"Andai saja angin bisa mendorongku" katanya, dengan suara yang terdengar putus asa. Bisa saja, angin bisa saja membawa tubuh ringkih itu jika mereka mau
"A- ha ha ha" Baekhyun tertawa dengan canggung dan itu terdengar bodoh
Ia harusnya pergi, mengabaikan Chanyeol, karena jika ada yang melihat mereka bersama, terlebih jika itu Senior Luhan dan teman-temannya, ia juga pasti akan ikut menjadi bulan-bulanan, tapi, Baekhyun tidak bisa tidak peduli, Chanyeol terlihat sangat tidak berdaya sekarang
"Senior, apa kau mau aku antar ke ruang kesehatan?" tawarnya "Kau bisa istirahat disana"
Chanyeol tidak menjawab, hanya menatap wajah didepan sana dengan pandangan tak terbaca
Mata mereka bertemu, terpaku untuk pertama kalinya, ditemani suara desiran angin musim gugur yang mulai mendingin, juga langit jingga yang dipenuhi gumpalan awan. Harusnya ini menjadi hal yang romantis, atau memang itu yang Baekhyun pikirkan selama sepuluh detik berlalu, sampai mata bulat itu perlahan terpejam memutus pandangan, dengan tubuh lunglai yang hampir terjatuh jika Baekhyun tidak segera menangkapnya dengan sigap, mendekap wajah penuh luka itu disela lengan dan dadanya yang berdegup tanpa alasan
Baekhyun menghela napas, memikirkan bagaimana jika ia tidak segera menangkapnya, Chanyeol pasti sudah mendarat dibawah sana dengan tidak selamat, paling tidak, tulang belakangnya akan hancur. Meluncur dari bangunan berlantai lima, itu akan sangat ajaib jika kau masih bisa bernapas dengan biasa esok hari
Yang lebih pendek masih membiarkan wajah itu dalam dekapannya, entah untuk berapa lama karena kini ia rasa lengannya mulai pegas
Baekhyun tiba-tiba teringat dengan hari pertama ia masuk kesekolah menengah atas ini, bersama Jeonghan yang sudah bersamanya sejak sekolah menengah pertama. Nama Park Chanyeol adalah yang paling sering ia dengar, dimana-mana, bersama kabar buruk tentangnya, tentang ia yang seorang penyuka sesama jenis, juga tentang ia yang berasal dari keluarga tidak berada dan belakangan juga ada kabar yang mengatakan kalau ia memperkosa seorang murid, tidak masuk akal pikir Baekhyun. Jika Chanyeol memang seorang gay, lalu kenapa ia memperkosa seorang wanita?
Bodohnya, banyak orang termakan berita yang asalnya tidak jelas dari mana
Juga tentang Senior Luhan, nama itu juga menjadi tidak asing setelah ia membagikan foto yang berisi surat pengakuan yang ditulis Chanyeol untuknya pada seluruh murid, dibantu teman-temannya. Baekhyun masih ingat betul isi surat itu, jika ia yang menerimanya, ia akan merasa sangat tersanjung, tulisan itu terasa sangat tulus, Chanyeol memberikan seluruh hati pada tulisannya dan Luhan malah menjadikan itu kesempatan untuk menyakiti Chanyeol sepanjang hari
Bukankah itu terdengar tidak adil?
Jika cinta seperti itu adalah sebuah kesalahan, lalu kenapa Tuhan menanam perasaan itu padanya?
Dan kenapa Chanyeol harus memilih Luhan yang angkuh dari sekian banyaknya pria didunia ini? Jika itu bukan Luhan, andai itu bukan Luhan, mungkin ia tidak akan menerima kebencian yang lebih banyak lagi dari sebelummya
- : -
"Lenganmu pasti sakit"
Baekhyun refleks memundurkan lengannya saat Chanyeol hendak menyentuhnya, ia menggeleng pelan
"Aku baik"
Chanyeol mendesis "Aku ada disana selama hampir satu jam, apa kau bercanda?"
Dan Baekhyun kehilangan kalimatnya, ia tersenyum kaku sembari menggaruk leher dan itu membuat Chanyeol tertawa. Itu juga yang pertama ia melihatnya tertawa
"Kau harus segera pulang, jika ada yang melihatmu bersamaku-"
"Aku akan baik-baik saja" Baekhyun menyela "Jam pelajaran akan berakhir lima menit lagi, aku akan turun dan mengambil tasku lalu kembali"
Yang lebih tinggi menggeleng "Kau tidak perlu kembali, segera pulang saja"
"Aku akan kembali dan membawa beberapa obat untuk lukamu" ia menjawab seperti tidak mendengar apa yang Chanyeol katakan
"Tidak perlu"
Atau Baekhyun memang benar-benar tidak mendengarnya, karena ia segera pergi, sesaat setelah bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Ia sedikit berlari menuruni anak tangga, langkahnya melambat saat melewati koridor yang mulai ramai karena murid yang meninggalkan kelas
Wajah kesal Jeonghan adalah apa yang ia dapatkan saat masuk ke kelas
"Kemana saja? Kau melewatkan tiga pelajaran! Kau bilang hanya ingin ke kamar mandi!"
Baekhyun meringis mendengar ocehan sahabatnya "Aku tertidur"
"Di toilet?!" Jeonghan hampir berteriak
Menggeleng "Di atap sekolah"
"Memangnya di atap ada toilet?"
Rasanya malu sekali, seperti kau tertangkap basah saat mencontek jawaban temanmu di ujian nasional
Baekhyun tertawa pelan "Aku tidak akan mengulanginya lagi, okay?"
Jeonghan berdecih, menahan senyum "Mau pulang bersama tidak?"
Ia mengggeleng "Ada sesuatu yang harus aku lakukan"
"Baik, aku duluan, ya?"
"Iyaaaa!" Baekhyun berteriak tepat di wajah Jeonghan yang langsung memukulnya
Yang lain berjalan lebih dulu, meninggalkan Baekhyun yang tak lama ikut meninggalkan kelas menuju ruang kesehatan bersama tas dipunggungnya. Ruang kesehetan memang selalu sepi seperti ini, jadi Baekhyun bisa dengan mudah membawa alkohol pembersih luka, beberapa lembar kapas dan kain kasa kedalam tasnya. Setelah selesai, ia segera pergi untuk kembali menyusul Chanyeol yang pasti masih berada di atap, ia masih ingat melihat tas besar berwarna hitam didekat kaki Chanyeol tadi
Dengan perasaan riang yang ia bingung kenapa, Baekhyun menaiki anak tangga
"Senior-"
Bisikannnya tersendat, wajah bahagianya dengan cepat berganti
Disana, ia melihat Chanyeol yang tengah berdiri di atas tumpukan balok, didepannya berdiri Luhan dan beberapa temannya yang tidak Baekhyun kenal kecuali Senior Mingyu dan Jongin (mereka sering sekali mampir ke kelasnya untuk menggoda murid wanita disana) memegang sebuah balok kayu dan memukulkannya pada kaki Chanyeol
"Kau bilang, kau menyukaiku 'kan?"
Chanyeol tidak merespon pertanyaan Luhan
"Jadi kau harus melakukan apa yang aku katakan!" ia berteriak "Buka celanamu" nadanya merendah dengan senyum iblis di bibirnya "Aku akan memberimu service jika kau melakukan itu"
Dan yang lebih tinggi masih terdiam
Mingyu dan seseorang yang lain tertawa, Baekhyun baru sadar kalau satu di antara mereka memegang sebuah ponsel yang sepertinya di gunakan untuk merekam
Mereka mulai bersorak "Buka celanamu!" berulang kali
Dan Chanyeol dengan mudah menuruti, lengannya bergerak menuruni sisi tubuhnya, membuka ikat pinggang yang melingkar di tempatnya tanpa berpikir. Sama seperti Baekhyun yang berjalan mendekat dengan langkah gegabah
"Tidak! Berhenti!" teriakannya membuat semua yang ada disana menoleh, dengan napas tersenggal ia melanjutkan "Jangan lakukan itu, Senior"
Jongin berdecak "Mau apa dia?"
Luhan benar-benar mengabaikan kehadiran Baekhyun "Cepat buka celanamu, kenapa kau berhenti? Kau menolakku, huh?"
Lengan Chanyeol kembali bergerak, Baekhyun dengan cepat menghadangnya, menarik pria lemah itu untuk turun dan pergi dari sana, pergi sejauh mungkin
"Wow! Wow! Sepertinya ia pacar Chanyeol!" ujarnya yang memegang sebuah ponsel
Lalu mereka tertawa dengan suara yang memuakan, Baekhyun benci itu, tapi ia lebih benci dengan Chanyeol yang sangat lemah, lebih dari perkiraannya
"Kau sinting, ya?" tanyanya dengan penuh rasa marah "Kenapa kau tidak melawan? Kenapa kau hanya diam dan menuruti perkataan mereka?"
Tidak ada suara yang menyahutinya, jadi ia menoleh dan melihat lebih banyak luka lagi di wajah tirus itu, hembusan angin menabrak wajah mereka
"Kenapa?" ia tidak bermaksud menjadi cengeng, tapi air mata sudah menggenang membuat pandangannya memburam, melihat orang ini, orang yang baru ia ajak bicara empat jam yang lalu begitu tersiksa membuat hatinya seperti dihancurkan "Kenapa?! Bisakah kau menjawabku? Kenapa?!"
Ia tanpa sadar berteriak, membuat suaranya merambat, memenuhi ruang parkir sekolah sampai bergema
Chanyeol tersenyum tipis "Aku tidak bisa menyakiti Luhan"
Baekhyun tidak percaya, benarkah yang ia dengar ini?
Ternyata yang orang katakan tentang cinta itu buta benar, benar-benar nyata dan terjadi tepat dihadapannya
Yang lebih pendek mendengus keras, mengambil kunci motor miliknya didalam saku celana, berjalan menjauh dari Chanyeol yang tidak melakukan apapun kecuali bernapas untuk mengambil motornya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri, setelah menaiki dan menyalakan motornya, dengan tidak menatap Chanyeol sama sekali, ia pergi, tapi hanya berhasil dengan beberapa meter karena ia tidak bisa benar-benar mengabaikan orang itu
"Naiklah, ayo pulang bersamaku" ajaknya
Chanyeol menggeleng sopan "Aku akan naik bus"
"Aku memaksa!" ia kembali berteriak
Dan itu berhasil membuat Chanyeol bergerak, berangsur naik ke motornya meski canggung. Diluar gerbang, mereka kembali bertemu dengan Luhan yang hanya bersama satu teman (yang tadi merekam), Baekhyun tidak peduli tapi ia melajukan motornya dengan kecepatan penuh, berharap mereka tidak sadar dengan apa yang terjadi meski ia tahu kalau namanya besok pasti akan sangat ramai diperbincangkan
Disepanjang jalan, Baekhyun mengoceh tentang banyak hal, salah satunya tentang bagaimana Chanyeol harus melawan mereka agar tidak selalu di perlakukan dengan buruk
"Aku diam dan mereka masih tetap melakukannya, apa kau pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika aku melawan?"
Benar juga, bisiknya
- : -
Matahari mulai terbenam dan mereka sampai di halaman rumah sederhana milik Chanyeol (Chanyeol yang memberitahu alamatnya), saat yang lebih tinggi pamit untuk masuk, Baekhyun menahannya, mengeluarkan peralatan pembersih luka yang ia bawa dari tasnya juga sebuah buku harian yang sudah menemaninya kurang lebih dua bulan belakangan ini
"Aku mengambilnya dari ruang kesehatan" ia tersenyum kaku "Dan buku ini... Aku juga tidak memiliki banyak teman, tapi aku masih punya Jeonghan, jadi aku pikir kau lebih membutuhkannya, masih banyak halaman kosong, aku hanya menulis beberapa hal penting"
"Untuk apa?"
"Aku pernah dengar, jika kau memiliki masalah dan tidak punya siapapun untuk berbagi cerita, menuliskan itu disebuah buku bisa sedikit mengurangi beban emosionalmu, kau harus mencobanya, dan aku memaksa"
Chanyeol menerima semua itu dengan lengan kanan yang ternyata dibungkus perban, Baekhyun tidak penasaran sama sekali dengan siapa pelakunya, ia mengucapkan terimakasih dengan lembut juga usapan yang ia jatuhkan dipuncak kepala Baekhyun yang harum buah-buahan
Baekhyun terdiam untuk beberapa saat, merasa aneh dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di perutnya
Lalu menghabiskan sisa malamnya dengan merasakan telapak tangan hangat Chanyeol masih berada dipuncak kepalanya
- - : : - -
180910
Baekhyun tersenyum cerah saat kembali menemukan Chanyeol di atap sekolah seperti kemarin, masih ada lebam di wajahnya tapi tidak seburuk hari kemarin, ia mengambil sisi kosong di samping Chanyeol untuk duduk
"Apa kau selalu disini, Senior?" seperti biasa, Baekhyun yang memulai pembicaraan
Chanyeol mengangguk "Aku akan ke kelas saat bel berbunyi, jika aku datang lebih awal, mereka akan menggangguku"
Ia mengangguk mengerti, dengan perasaan sakit
Chanyeol balik bertanya "Lalu kenapa kau kemari? Sepagi ini?"
"Hanya ingin" jawabnya asal
"Aku tahu, jangan berbohong" yang lebih tinggi bergumam
Kedua alisnya terangkat, sepertinya mereka benar-benar membagikan potongan video itu ke semua orang disekolah
Yang lebih pendek menghela napas "Rasanya sulit sekali melihat orang-orang menatapku dengan pandangan menilai" ia menatap lawan bicaranya "Kau sudah melewati hal seperti itu sangat lama, apa yang membuatmu bisa bertahan?"
Chanyeol menggidikan bahunya "Ada saat dimana aku benar-benar ingin menyerah, tapi ada seseorang yang aku hargai, yang membuatku kembali berpikir untuk bertahan"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya sebelum kembali bertanya "Kenapa kau menyukainya, Senior?"
Ia mendengus menahan tawa "Tidak tahu, pertama kali melihatnya aku langsung, jatuh hati?"
Entah kenapa Baekhyun merasa geli sendiri mendengar bagaimana canggungnya Chanyeol mengucapkan kata terakhir dari kalimatnya
"Ya, Senior Luhan memang tampan, andai saja ia tidak berprilaku seperti itu" dan ia teringat akan sesuatu "Ah, ya!" ia sedikit membungkuk "Namaku Byun Baekhyun, aku kelas sebelas, aku lupa belum memperkenalkan diri padamu, Senior"
Chanyeol tersenyum "Aku tahu"
Obrolan mereka terputus karena bunyi bel tanda pelajaran pertama dimulai berbunyi, masing-masing dari mereka pergi ke kelas dengan jarak waktu yang lumayan lama, itu usul Chanyeol agar Baekhyun tidak mendapat lebih banyak masalah karenanya
Di kelas, Baekhyun sama sekali tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik, tatapan hawatir dan menyelidik yang Jeonghan berikan padanya sepanjang waktu juga membuat ia merasa kurang nyaman, meski berkali-kali menjelaskan kalau kabar tentang ia dan Chanyeol berkencan tidaklah benar, Jeonghan tetap bersikap tidak seperti biasa padanya
- : -
"Baekhyun-"
"Aku sudah mengatakannya, Jeong-ah, aku dan Senior Chanyeol tidak berkencan atau apapun" Baekhyun melayangkan tatapannya pada Jeonghan yang berjalan disampingnya "Itu hanya kebetulan saat mereka mengganggunya aku sedang berada disana, jadi aku membantu, apa aku salah?"
"Jangan melakukan hal seperti itu lagi"
Baekhyun berdecak sebal, mengambil dua buah nampan berisi makan siang mereka untuknya dan Jeonghan, lalu memberikan yang satunya pada yang lain, yang masih menunggu jawaban atas permintaannya
Kaki mereka berjalan dengan seimbang menuju meja paling belakang, tempat yang paling tenang dari yang lain
"Apa aku harus pura-pura tidak melihat saat ada seseorang yang di ganggu separah itu?" Baekhyun akhirnya bicara setelah mereka duduk
Jeonghan menghela napas "Kau boleh menolong siapapun, asal jangan Senior Chanyeol"
"Memangnya kenapa? Kenapa aku tidak boleh menolongnya?"
"Kau lihat 'kan apa yang mereka lakukan padamu karena itu, Baek-ah?"
Baekhyun tahu kalau Jeonghan hawatir, tapi mendengar ia berkata seperti itu membuatnya marah
"Kau egois" ujarnya singkat, memotong seluruh kalimat yang Jeonghan ucapkan padanya
Yang lain tidak membalas, hanya menelusuri bagaimana temannya menyuap sesendok penuh nasi kedalam mulut dengan tergesa-gesa, lalu ikut melahap makan siangnya dengan tenang
Ketenangan yang mereka lalui tidak bertahan lama, karena tiba-tiba beberapa orang mendatangi meja mereka, bersama tarikan napas dari murid-murid lain yang juga tengah menghabiskan makan siang di kafetaria
Jeonghan hampir berteriak saat kepala Chanyeol mendarat di atas meja mereka, bersama dengan tekanan kuat yang Jongin berikan dikepala si malang juga lengannya yang terlipat di belakang tubuh
Luhan mengambil tempat di sisi Baekhyun yang membeku dan mulai bicara "Sepertinya Chanyeol ingin sekali bertemu denganmu, jadi kami langsung mengantarnya kemari"
Lalu Mingyu mengambil sisi kosong lainnya di samping Baekhyun, memakan irisan apel miliknya yang masih utuh
Baekhyun masih diam, menatap Chanyeol yang tidak berkutik dibawah lengan Jongin. Begitu juga dengan Jeonghan, dan murid-murid yang lain, yang hanya menyaksikan ini seperti bukanlah hal yang serius
Ia membuka mulutnya "Apa yang kalian inginkan sebenarnya?"
Luhan tertawa remeh "Aku hanya ingin mempertemukan kalian, Chanyeol merindukanmu, ya 'kan Chan?"
Jongin menarik rambutnya sampai ia mendongak, membiarkan Baekhyun melihat lebih dan lebih banyak lagi luka di wajahnya
"Lihat dia!" perintah pria berkulit tan itu sambil tersenyum miring dan Chanyeol melakukannya, memandang penuh Baekhyun dengan senyum tipis terpatri di bibirnya yang terdapat darah mengering
Baekhyun berdiri, berjalan melewati Luhan dan mendorong Jongin, melepaskan lengannya pada Chanyeol yang masih hanya diam, lalu melayangkan satu pukulan dipipinya, membuat ia tersungkur ke lantai. Baekhyun tidak pernah tahu kalau ia sekuat itu
Luhan bahkan terbengong dengan mulut menganga
"Aku peringatkan kalian" Baekhyun mendesis
Mingyu bangkit setelah Luhan memintanya untuk membalas apa yang Baekhyun lakukan pada Jongin. Mingyu hanya berhasil menarik rambutnya karena sebelum ia melakukan hal lain, Chanyeol entah bagaimana langsung menyerang, memberikannya pukulan bertubi-tubi, sambil terus berkata
"Jangan berani menyentuhnya!"
Jeonghan tidak berpikir panjang untuk segera berlari meminta bantuan dari Joonmyeon, ketia OSIS mereka
Baekhyun sangat takut, melihat bagaimana Chanyeol bisa saja membunuh Mingyu karena pukulannya. Ia berusaha untuk menghentikan Chanyeol, tapi pria itu tidak bisa di hentikan, bahkan saat Joonmyeon dan beberapa guru mulai berteriak memintanya untuk berhenti, ia tetap melakukannya. Sampai Joonmyeon tidak memiliki pilihan lain selain menendang sisi tubuhnya sampai ia terjatuh ke sisi Mingyu yang hampir tidak sadarkan diri
"Park Chanyeol, segera keruanganku!"
Itulah yang Baekhyun dengar terakhir kali sebelum Jeonghan menariknya menuju kelas
- : -
Hidup yang Chanyeol lalui sangat tidak adil, itulah yang Baekhyun pikirkan saat melihat pria itu berdiri di tengah lapangan saat udara sedang sangat dingin, menerima hukuman yang seharusnya tidak dilimpahkan hanya padanya
Saat jam kosong, Baekhyun pergi menemui Joonmyeon yang kebetulan sedang menyusun dokumen sekolah di ruang rapat OSIS
"Apa yang Chanyeol lakukan sampai ia harus di hukum seperti itu?" ia bertanya tanpa menunggu apapun lagi
Joonmyeon memandangnya sebentar sebelum kembali pada kegiatan awal "Ia memukuli seseorang sampai membuatnya kehilangan kesadaran, di sekolah"
"Lalu apa yang kau lakukan pada Senior Luhan yang memukulinya setiap hari, di sekolah?"
"Aku tidak pernah mendengar apapun tentang Luhan"
"Jadi kau hanya bertindak saat seseorang memberitahukannya padamu?"
Joonmyeon tidak menjawab, jadi Baekhyun melanjutkan
"Kalau begitu aku akan melaporkannya, aku melihat Chanyeol dipukuli di atap sekolah kemarin"
Joonmyeon menghela napas "Kembalilah ke kelas, sebentar lagi guru pengganti akan masuk"
Baekhyun ingin tidak percaya, bagaimana bisa seseorang yang di kenal karena rasa tanggung jawab yang tinggi menjadi sangat tidak peduli seperti ini
Ia mengambil langkah, pergi dari sana dengan perasaan tidak karuan di dalam dadanya, kembali ke kelas yang membuatnya merasa muak sepanjanag sisa jam pelajaran terakhir
Suara bel yang ia tunggu-tunggu akhirnya terdengar, ia bergegas pergi dari sana, mencari Chanyeol yang ternyata sudah tidak ada di lapangan, syukurlah, pikirnya
Ia mencari pria itu ke kelasnya tapi juga tidak berada disana, di atap tempat biasa ia menghabiskan waktu juga tidak. Ia kewalahan mencarinya ke seluruh tempat sampai seseorang memberitahunya kalau Chanyeol berada di atap gedung perpustakaan, gedung yang memiliki lantai paling tinggi di sekolah, berdiri di ujung sana, entah bermaksud apa
Baekhyun merasa sesuatu menghantam dadanya dengan sangat keras, membuat sekujur tubuhnya bergetar, ia segera berlari ke tempat itu, menaiki anak-anak tangga dengan seluruh tenaga yang ia miliki tanpa menyadari kalau Jeonghan mengekor di belakangnya dengan sangat panik
"Senior!" Baekhyun berteriak, mendapatkan atensi Chanyeol sepenuhnya yang memutar tubuh ke arah ia berdiri
Chanyeol menatapnya dalam, matanya kali ini menjelaskan banyak hal
Baekhyun melangkah maju "Jangan lakukan hal bodoh, apapun itu jangan!"
Jeonghan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berdiri ditempatnya dalam diam, berharap kalau apapun yang Baekhyun lakukan akan bisa menghentikan Chanyeol
Suara Chanyeol terdengar serak saat berkata "Semua orang selalu mengatakan, kalau aku tidak seharusnya di lahirkan"
Baekhyun kembali melangkah maju "Jangan mengatakannya, semua orang pantas dilahirkan"
Chanyeol mengambil satu langkah mundur "Apa yang aku dapatkan hari ini membuatku sadar kalau, seharusnya, aku menyerah sejak lama"
"Biarkan aku menolongmu, aku akan mengubah segalanya" ia menjulurkan lengannya "Chanyeol, kau bisa mengandalkanku, kita akan menghadapinya bersama"
Baekhyun melihat dengan jelas bagaimana air mata akhirnya meluncur bebas di kedua pipi Chanyeol yang terluka, ia berharap, kalimat yang ia katakan berhasil meluluhkannya
Ia kembali mengambil langkah maju, mencoba menangkap lengan pria putus asa itu yang kini tengah memejamkan mata dalam keheningan
Ia hampir sampai, tapi ramai suara orang berteriak membuatnya sadar kalau ia terlambat, tidak ada lengan Chanyeol yang ia genggam, pria itu tidak ada lagi disana, ia lebih memilih untuk mengakhiri rasa sakitnya, hari ini, dihadapan Baekhyun, dihadapannya yang menangis dengan lutut bersimpuh menopang tubuhnya
Jeonghan menghampiri temannya untuk memberikan sebuah pelukan penenang dan tepukan di pundaknya yang bergetar
"Baekhyun-ah"
- - : : - -
180911
Kepala sekolah dan Joonmyeon menarik napas dalam saat Baekhyun selesai dengan cerita yang menguras emosinya, ia masih bertahan dengan angkuh untuk tidak meneteskan air mata sampai akhir
Sang petinggi sekolah memberikan buku hariannya yang terbuka pada si pemilik pertama
"Ada sesuatu yang Chanyeol tulis untukmu" ia berkata dengan suara bergetar
Baekhyun mengambil buku itu lalu berdiri, membungkuk padanya sebelum pergi dari sana, Joonmyeon pun melakukan hal yang sama
"Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang? Tetap membiarkan Luhan?" ia bahkan tidak lagi memakai embel-embel Senior untuk Luhan
Joonmyeon menghindar dari tatapan Baekhyun, mencoba mengatakan kalimatnya dengan tenang "Aku akan menunggu keputusan dari Kepala sekolah"
"Kenapa kau terus saja melindungi Luhan seperti itu, Senior?"
Langkah mereka melambat dengan Baekhyun yang mencoba tenang menunggu kalimat yang akan Joonmyeon katakan
"Keluargaku berhutang budi padanya" ucapnya halus "Ayahku memintaku untuk menjaga Luhan, jadi aku akan melakukan apapun untuk itu"
"Jadi, haruskah aku merasa penasaran dengan luka yang kau dapat di pipimu?
- : -
Baekhyun menghabiskan sepanjang waktu untuk membolos di perpustakaan, duduk di sudut ruangan dengan mata menelusuri setiap tulisan yang Chanyeol tinggalkan di sisa halaman kosong buku miliknya
Ada satu di antara mereka yang awalannya adalah namanya, jadi ia membaca itu lebih dulu. Di paragraf pertama hanya ada cerita bagaiman Chanyeol merasa senang karena akhirnya ada seseorang yang mendekatinya bukan untuk melayangkan pukulan padanya, lalu tentang sifatnya yang ramah dan pandai membuka obrolan
Kalimat terakhir adalah apa yang membuat Baekhyun terkejut bukan main, disana Chanyeol menjelaskan tentang bagaimana surat pernyataan itu, yang diterima oleh Luhan, seharusnya Baekhyunlah yang menerimanya.
"Aku sekilas melihatmu di loker sedang mengambil sesuatu, aku pikir itu tempat dimana kau menyimpan barangmu, tapi ternyata bukan, itu bukan milikmu"
Bukan pernyataan cinta seperti ini yang ia inginkan, bukan pernyataan yang dipenuhi rasa sakit juga penyesalan
"Mungkin ini membuatmu salah paham, atau hanya pikiranku saja, saat aku berkata kalau aku tidak bisa menyakiti Luhan, itu bukan karena aku yang menyukainya, tapi karena kerabat Luhan adalah orang yang membiayai aku sekolah, aku harap kau mengerti, Baekhyun"
"Kau adalah seseorang yang sangat berharga untukku"
Baekhyun menutup buku itu, dengan tangis yang akhirnya pecah setelah ia berhasil menahannya begitu lama
Banyak hal yang juga ingin ia sampaikan pada Chanyeol tapi tidak bisa ia lakukan, ia juga ingin mengatakan betapa berharganya Chanyeol untuknya
Banyak pula pertanyaan yang ingin ia ajukan, andai ia bisa
- : -
Tepat saat jam pelajaran berakhir, ia pergi meninggalkan perpustakaan, memetik sebuah tulip berwarna putih yang ada di taman sekolah untuk ia letakan di tempat dimana Chanyeol mendaratkan tubuhnya sebelum menghembuskan napas yang terakhir, disana masih terdapat bercak darah juga garis yang dipasang oleh polisi
Baekhyun menatap tempat itu lebih dari dua puluh detik sebelum akhirnya pergi dengan langkah kaki terseok
"Jika benar dengan melakukannya membuatmu tidak lagi merasa sakit, aku akan baik-baik saja disini, mengenang hari singkat bersamamu. Senior Chanyeol, kau juga seseorang yang berharga untukku"
Langkahnya ia arahkan pada kelas Joonmyeon yang sudah sepi, ia berhenti tepat di hadapannya, tersenyum tipis
"Jika kau tidak bisa melakukan apapun padanya, maka uruslah surat perpindahan sekolah untukku, Senior"
"Baekhyun-ah"
"Tidak ada yang bisa aku harapkan di sekolah ini. Aku akan terus mengingat semua perlakuan buruk kalian padanya" bibirnya bergetar kala air mata kembali membasahi pipi dinginnya
"Kau hanya seorang pria berumur sembilas belas tahun, kenapa kau memilih untuk mengakhiri hidupmu?"
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
