I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present

.

That Day

By Summer Haze

Lagu yang dipilih: Missing You

Chanyeol x Baekhyun

.

Disclaimer:

Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!

Happy Reading!

.

.

Pertama kali aku melihat namja mungil itu di taman tepian sungai Han, aku sering melihatnya duduk termenung di kursi taman. Pandangan matanya terasa jauh, sesekali ia tersenyum menikmati semilir angin sore yang menyibakkan surainya berwarna abu-abu.

Aku tak pernah tahu siapa namanya, tak punya nyali untuk menghampirinya untuk sekedar berkenalan. Memandangnya dari jauh saja sudah cukup bagiku.

Aku tak menduga sama sekali, ternyata aku dengannya berkerja di kantor yang sama. Ia yang memiliki tangan lentik terlihat saat ia memegang gagang cangkir dan bibir tipis kemerahan ketika ia meniup pelan asap yang mengepul berasal dari cangkir yang ia pegang.

Ia menyadariku berdiri terpaku memandang kearahnya, dikernyitkan dahinya karena terkejut dengan keberadaanku pagi itu di pantry kantor.

"Maaf, kau siapa yah?" tanyanya padaku sambil menengadahkan kepalanya karena tinggi kami tak sejajar.

"Selamat pagi, aku Park Chanyeol karyawan baru di departemen Maintenance." Sahutku sambil memberikan bow untuknya.

"Pagi, aku Byun Baekhyun dari departemen Finance. Salam kenal, Chanyeol-ssi."

Itu percakapan singkat antara aku dengan namja mungil bernama Byun Baekhyun yang menarik perhatianku selama ini.

Aku sering datang ke ruangannya memberikan laporan keuangan, membuatku betah berlama-lama menatapnya ketika ia menyibukkan diri di depan PC-nya.

"Kau sedang apa?"Baekhyun melirikkan matanya ke arahku yang masih berdiri di sisi kanan meja kerjanya. "Sana kembali keruanganmu." Titahnya tanpa mengalihkan pandangannya pada layar PC.

Aku jatuh cinta padanya, semua yang ada pada dirinya terlihat sangat indah di mataku.

Bahkan ketika ia sedang sibuk mondar-mandir ke toilet, wajahnya yang terlihat kurang sehat ia yang selalu memegang perutnya-pun terlihat menggemaskan.

"Minumlah teh pahit ini, siapa tahu ini bisa meredakan diare-mu." Aku menyodorkan secangkir teh panas untuknya ketika ia melewati pantry sebelum ia kembali ke ruangannya.

Aku memang sengaja menunggu disana.

"Kau... kenapa memberikanku ini?" tanyanya terkejut.

"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tak tega melihatmu mondar-mandir ke toilet." Jawabku sekenanya. Kuraih tangan lentiknya itu untuk ku berikan secangkir teh pahit. "Minumlah, kau pasti akan membaik setelahnya." Lanjutku dan segera berlalu.

Di depan lobby utama kantor, aku melihat Baekhyun tengah gelisah menunggu seseorang. "Kau sedang menunggu jemputan?" tanyaku sambil menghampirinya.

"Ya." Jawabnya singkat.

"Mau ku temani? Ini sudah hampir jam 9 malam. Hari sudah gelap, lampu juga sudah di padamkan."

"Ah, tak perlu. Kau pulang saja duluan." Ia menolaknya dengan senyum tipis.

Aku tetap tak beranjak darinya, ia melirikkan matanya kearahku. "Kau tidak pulang? Bus terakhir akan tiba beberapa menit lagi. Kau akan tertinggal?" tanya Baekhyun.

"Aku akan menemanimu sampai jemputanmu datang." Jawabku bersemangat, Baekhyun hanya terdiam.

Tak lama sebuah mobil sedan hitam berhenti di hadapan kami, sepertinya yang ditunggu Baekhyun telah datang.

Kulihat seorang namja terlihat dari dalam mobil tersebut setelah ia menurunkan kaca mobil depannya. "Sayang, maafkan aku terlambat." Ujar namja itu dengan wajah menyesal.

Baekhyun menghampiri mobil tersebut. "Tak apa, aku senang akhirnya kau datang menjemputku. " sahutnya pelan. Baekhyun membalikkan tubuhnya kearahku. "Terimakasih sudah mau menemaniku. Aku duluan." Ia berpamitan dan segera masuk ke dalam mobil tersebut. Aku hanya tersenyum menatap ia berlalu.

Aku tahu siapa yang menjemput Baekhyun malam itu, ia adalah kekasihnya. Park Hera seorang calon ibu yang tengah hamil besar yang memberitahuku. Hera adalah rekan kerja Baekhyun di departemen yang sama. Aku menjadi akrab dengannya karena ia tengah mengidam ingin aku mengelus perut buncitnya. Karena alasan itulah aku jadi bisa mampir ke meja Hera hanya untuk mengelus perut buncitnya dan sembari mencuri pandang ke arah Baekhyun yang berada sebrang meja kerjanya.

"Kau menyukai Baekhyunie?" Hera mencium gelagat ketertarikanku pada Baekhyun.

Aku tergelak tawa mendengar ucapan Hera. "Kau memang peka sekali, noona." Sahutku.

"Cepat ungkapkan perasaanmu padanya!"

"Apa? Tidak, aku tak berani mengatakannya. Lagipula, ia sudah punya kekasih." Aku pesimis atas perasaanku ini pada Baekhyun. Ku tak pernah mengharap ia membalasnya, melihat ia tersenyum sudah cukup bagiku. Meski tidak bersamaku.

"Ah, selama mereka belum meresmikan statusnya, masih ada kesempatan kok untuk merebutnya." Ujar Hera bersemangat, ia ringan sekali mengatakan hal itu.

Hera menceritakan kalau Baekhyun sudah lama berkencan dengan kekasihnya itu, namun hubungan mereka tak ada perkembangan berarti. Baekhyun ingin meresmikannya hanya saja kekasihnya itu tak kunjung menikahinya. Ia lebih tertarik mengembangkan karirnya ketimbang meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.

Aku sering diam-diam memperhatikannya menunggu kekasihnya untuk menjemputnya pulang. Menunggu hingga hari sudah gelap dan pada akhirnya ia berjalan sendirian menuju halte bus dengan langkah gontai. Seseorang yang ia tunggu tidak datang menjemputnya.

Seperti malam ini, hal itu terjadi lagi. Baekhyun berjalan sambil menundukkan wajahnya, seseekali ia mengusap air mata disudut mata bulan sabit itu. Ah, aku ingin sekali rasanya menghapus derai air mata itu, namun lagi-lagi aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan menyembunyikan diriku darinya.

Baekhyun duduk di kursi halte bus, menunggu bus yang akan mengantarnya pulang. Aku yang biasanya hanya bisa berdiri jauh beberapa meter darinya, saat ini aku beranikan diri duduk di dekatnya. "Ah, Chanyeol-ssi." Gumamnya terkejut menyadari kehadiranku disampingnya sambil buru-buru menghapus air matanya. Kulihat kedua matanya sembap.

"Kau tidak dijemput?" tanyaku mencoba membuka percakapan diantara kami.

Ia menggelengkan kepalanya. "Ia mendadak ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Jadi, aku pulang sendirian." Jawabnya mencoba mengembangkan senyumnya.

"Hmmm begitu." Aku mengangguk pelan. "Aku sering melihatmu menunggu berjam-jam lamanya di depan lobby dan berakhir pulang sendiri seperti sekarang ini." Aku dengan mudahnya mengatakan hal itu mebuat Baekhyun bereaksi, semula ia menundukkan wajahnya jadi menoleh kearahku. Raut wajahnya terlihat terkejut mendengar ucapanku.

"Kau menguntitkukah?" tanyanya.

Aku tergelak tawa. "Hahahha tentu saja tidak. Aku selalu lembur, dan sering melihatmu menunggu bus disini." Jawabku, Baekhyun menatapku lekat. "Sebentar lagi, busmu akan datang." Aku saking sering memperhatikannya hingga hafal jadwal bus yang akan ditumpangi Baekhyun.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, bus yang Baekhyun tunggu sudah tiba. Baekhyun sepertinya tidak membawa payung, aku berinisiatif meminjamkan payungku padanya. "Nah kau bawa saja payungku." Ucapku sambil menyodorkan payung lipat milikku padanya.

"Ah, tidak perlu." Ia menolak sambil menggelengkan kepalanya.

"Hei, aku tahu kau gampang terkena flu kalau kehujanan. Nah bawa saja payungku." Aku memaksanya lagi, terdengar bunyi klakson bus dihadapan kami yang tak sabar menunggunya. Ia segera mengambil dan mengembangkan payung tersebut.

Aku melambaikan tangan padanya sambil mengembangkan senyum. Kulihat dari jendela bus, Baekhyun turut mengembangkan senyum tipisnya padaku. Aku tetap berdiri memandang bus yang membawa Baekhyun, beraharap suatu hari nanti ada hari dimana aku bisa mengobrol lebih lama dengannya.

Aku limbung karena memaksakan diri hujan-hujanan berlari dari harlte bus terakhir menuju studioku malam itu. Sudah dua hari aku meringkuk di balik selimut tebal, kepalaku pusing dan suhu tubuhku terasa panas, aku sepertinya terkena flu berat.

Sudah dua hari ini aku tak bisa melihat Baekhyun di kantor. Rasa rindu menjalar pada tubuhku. Sesekali aku menggumamkan nama Baekhyun dengan lirih, otakku terasa penuh dengan senyum Baekhyun.

Suara bel pintu berbunyi berkali-kali tiada hentinya, seingatku aku tidak memesan makanan kepada kurir atau apapun itu. Studio kecil ini tak pernah kedatangan tamu, jadi terasa aneh kalau ada seseorang yang memencetnya seperti itu.

Aku berjalan lunglai untuk membuka pintu, siapa tamu yang keras kepala yang tak sabaran berada di balik pintu tersebut tak henti-hentinya memencetkan bel yang membuat kepalaku makin sakit.

"Chanyeol-ssi kau benaran sakit, eoh?" tanya tamu itu segera setelah aku membuka pintunya. Ia langsung menjatuhkan plastik yang entah berisikan apa ke lantai hingga mengenai kakiku dan rasanya lumayan nyeri. "Ah, maafkan aku." Ucapnya menyesal sambil memapah tubuhku, aku hanya tersenyum sipu.

Baekhyun, namja mungil yang kusukai berada disini, di studioku. Ini bukan mimpikah? Ia benar-benar ada di hadapanku.

Ia membelikanku bubur nasi yang ia beli di kedai bubur tak jauh darisini, juga minuman ginseng untukku. "Aku tak begitu mahir memasak, jadi aku hanya membeli makanan jadi saja dan tinggal memanaskannya untukmu." Ucap Baekhyun sambil meletakkan semangkuk bubur nasi diatas meja makanku.

"Terimakasih kau sudah mau menjengukku. Maaf merepotkan." Ucapku tersipu malu.

"Aku tahu alamat rumahmu dari Hera noona. Selain itu, aku ingin mengembalikan payungmu. Kau sakit karena aku, kau pasti kehujanan kan malam itu? Maafkanku, Chanyeol-ssi." Ujarnya sambil menundukkan wajahnya dan terlihat muram.

Kuberanikan diri menyentuh dagunya bermaksud menyuruhnya menengadahkan wajahnya. "Tak apa aku yang sakit seperti ini, asal kau baik-baik saja." Gumamku pelan dengan suara berat. "Kau baik-baik saja kan?" tanyaku padanya sambil mengusap rambut abu-abunya yang ia sisir kedepan hingga poninya menutupi dahi.

"Ya, aku baik-baik saja. Berkat kau aku tidak terkena flu." Jawabnya pelan, ia diam saja saat ku belai surainya yang harum strawberry.

Aku tertawa pelan, usapan tanganku kuturunkan pada pipinya. Aku merasa hangat ketika menyentuh pipi lembut yang sangat menggemaskan itu. Kedua mata bulan sabit milik Baekhyun tak lekat menatap mata bulatku, ia menggapai tangan kananku yang asyik bermain pada pipinya, pupil mataku melebar terkejut dengan perlakuannya yang tidak kuduga.

"Chanyeol-ssi, tanganmu terasa dingin. Wajahmu terlihat pucat sekali. Bibirmu terlihat membiru." Ucapnya dengan nada gemetar dan lirih. Baekhyun masih saja mencium pelan tangan kananku, aku terlihat bingung dengan sikapnya yang biasanya terlihat dingin mengapa kini menjadi agresif? "Mianhaeyo, aku terlambat datang menemuimu. Kalau saja aku datang beberapa jam sebelumnya aku masih sempat menyelamatkanmu." Ucapnya sambil menitikkan air mata.

"A... apa maksudmu, Baekhyun-ssi?" tanyaku gugup tak paham dengan apa yang ia katakan.

Kutanya seperti itu, derai air matanya semakin deras. Aku tak ingin melihatnya menangis, aku lebih suka ia terlihat dingin padaku ketimbang menangis tersedu sepert saat ini.

"Maafkan aku, Chanyeol-ssi. Maafkan aku." Isaknya lagi, aku langsung memeluknya erat mencoba menghentikan tangisnya.

"Jangan menangis, kumohon. Aku tak ingin melihatmu seperti ini."

Isak tangis Baekhyun makin menjadi saat aku mengucapkan kalimat itu, ia menghamburkan dirinya dalam dekapku menangis sejadinya membuatku makin tak paham mengapa ia seperti itu.

Hingga, aku tersadar. Aku melihat diriku yang lain tergeletak tak berdaya di depan kamar mandi. Aku terkejut bukan main dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku melepaskan dekap tubuh Baekhyun, ku tatap dalam-dalam wajahnya yang terlihat sembap.

Tak terasa air mataku berderai kemudian, aku paham apa yang dimaksud ucapan Baekhyun tadi.

Aku sudah tidak ada di dunia ini.

Aku tersenyum getir, Baekhyun masih terisak. "Maafkanku jika aku punya salah padamu, Baekhyun." Bisikku pelan sambil mengusap air mata yang menetes pada pipinya. "Aku tak pernah sempat mengatakan perasaanku padamu, karena aku tak punya keberanian."

Baekhyun tak melepaskan tatapan matanya padaku sambil memegang tanganku yang beraada di pipinya. "Aku sudah menyukaimu sejak awal aku bertemu denganmu kalau kau ingin tahu. Ah, aku kesal pada diriku, mengapa aku baru mengatakannya saat ini, kenapa tidak dari kemarin-kemarin." Aku menertawakan diriku sendiri yang bodoh ini. "Mungkin, hanya ini kesempatanku untuk mengatakan apa yang kurasa padamu." Aku mengatakannya mencoba menahan isakku, Baekhyun makin tak bisa mengendalikan dirinya terdengar isak tangisnya makin menjadi setelah mendengar apa yang kuucapkan padanya.

"Maafkan aku, Chanyeol-ssi. Maafkan aku." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya sambil tetap tersedu sedan.

"Kumohon sampaikan salamku pada Hera noona, semoga ia melahirkan bayi yang sehat dan tampan serta wajahnya mirip denganku. Kau kan tahu, Hera noona sangat ingin bayinya mirip denganku." Aku tertawa menyampaikan pesan itu untuk Hera, Baekhyunpun ikut tertawa pelan dalam isak tangisnya. "Katakan pada kedua orangtuaku, aku ingin jenazahku di kremasi dan abunya di tebar di tengah sungai Han. Agar aku selalu ada bersama angin untuk menemani Minggu soremu disana." Ucapku padanya sambil tersenyum, Baekhyun langsung mendekapku tubuhku erat seakan ia engan aku pergi dari sisinya.

"Mengapa kau tak pernah mengatakannya sedari dulu? Hikss, kau tahu... setiap kau mencuri pandang padaku aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu. Terlebih setiap hal kecil yang kau lakukan padaku berdampak besar padaku, akupun sebenarnya menyukaimu, Chan." Ungkap hati Baekhyun, diujung kalimatnya ia makin mengetatkan peluknya.

Aku tanpa berpikir lagi, ku kecup lembut bibir tipisnya itu dengan perlahan. Ciuman itu terasa basah karena tetesan air mata Baekhyun yang terus berderai diselingi isak tangisnya.

"Baekkie, aku mencintaimu. Maafkan aku." Bisikku di telinganya, lalu untuk terakhir kalinya mata kami saling bertemu, mata bulan sabit yang selalu kurindukan terlihat sembap dan nanar, seolah ia tak ingin aku segera pergi dari hadapannya.

Perlahan dan pasti, aku merasakan tubuhku seperti melayang bagai kapas yang tertiup angin, melayang-layang hingga aku aku tak dapat merasakan lagi dekap erat Baekhyun.

I never forget that day, when i meet you for the first time, then in my last day i can tell how my feeling to you. I love you, Byun Baekhyun.

.

.

.

The End


Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^

Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!