I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present

.

Keep In Touch

By Summer Haze

Lagu yang dipilih: Love Rain

Chanyeol x Baekhyun

.

Disclaimer:

Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!

Happy Reading!

.

.

Hujan adalah fenomena alam yang ku benci. Kenapa? karena kau akan menemukan banyaknya genangan air dan lumpur di jalan.

Oleh sebab itu aku sudah siap menghadapinya dengan mengenakan jas hujan, sepatu boots, payung, masker wajah dan sarung tangan silicon.

Aku berjalan santai menuju halte bus untuk berangkat ke sekolah. Tak ku perdulikan tatapan nyinyir orang-orang sekitar mengenaiku yang berdandan aneh yakni aku tetap mengenakan perlengkapan itu meski hujan sudah tidak turun lagi.

Bus terasa penuh karena banyaknya penumpang, ini hal yang paling kubenci setelah hujan. Berjubel dengan puluhan manusia di dalam bus.

Aku berdiri tak jauh dari pintu bus menyadarkan tubuhku pada badan bus. Rasa tak nyaman mengerjapiku berhimpitan dengan penumpang lain.

Seandainya, mobil appa tidak masuk bengkel, aku tak kan mengalami pagi yang menyedihkan ini.

I wanna crying. God, help me!

Beberapa kali, paman pengemudi menginjak rem dadakan yang membuat siapa saja nyaris limbung seandainya tak berpegangangan pada hand holder.

Aku mencoba menahan diriku dari rasa panik dan ketakutan yang ku hadapi saat ini. Mendekap erat tas pada tangan kiriku dan tangan kanan ku yang kubungkus sarung tangan bertumpu pada hand holder dengan gemetar.

Tiba-tiba seorang namja bertubuh jangkung menghampiriku, ia mengukung tubuhku dengan lengannya. Aku tak tahu apa maksudnya seperti itu.

Entah kenapa aku merasa kesal, bukan hanya karena sikapnya. Tapi, karena tinggi kami yang tak sejajar. Aku yang bertubuh pendek hanya sebatas bahunya saja membuatku tak percaya diri.

Ia mengukungku dengan lengan kekarnya, melindungiku dari dorongan tubuh penumpang lain agar aku tetap merasa nyaman berdiri.

Kudongakkan pandangan mataku ke arah wajahnya yang terpaku menatapku. God, ia tampan sekali. Bibir tebalnya yang penuh melengkungkan senyum hingga terlihat lesung yang dalam pada pipi kirinya.

Untuk beberapa saat aku terpesona, hingga tiba saat bus yang ku tumpangi terasa menginjak rem dadakan untuk kesekian kali.

'BRUKKKKKKK' suatu insiden terjadi.

Entah seperti apa prosesnya, bibir tebalnya menempel pada pipiku. Wajahku memerah dan kau tahu? apa reaksiku setelah itu?

Aku memukul kepalanya dengan tas yang kudekap sedari tadi beberapa detik kemudian aku meminta turun di halte yang bukan pemberhentian tujuanku.

Aku turun dari bus dengan menggerutu dan memakinya. Ia hanya terdiam dengan ekspresi bersalah membiarkanku pergi begitu saja.

Ah sial! Ia mencari keuntungan di tengah kesempitan. Menyebalkan sekali!

Ini yang paling tidak ku inginkan. Wajahku yang tampan ini tampak menyedihkan setelah munculnya bintik-bintik kecil memenuhinya.

Aku benci disentuh!

Kata dokter aku ini mengidap Mysophobia. Mysophobia adalah ketakutan berlebihan dan tidak masuk akal terhadap kontaminasi bakteri, kotoran, debu, kuman, dan risiko infeksi penyakit. Mysphobia juga dikenal dengan fobia kuman atau fobia kotor.

Oleh karena itu aku terbiasa dengan hidup higienis, kemana-mana aku harus memakai sarung tangan, membawa cairan antiseptic yang kusemprotkannya pada benda-benda yang akan ku gunakan dan kulap dengan tisu kering, aku harus bawa sendok dan sumpit pribadi serta peralatan makan lainnya secara pribadi, tak ingin memakai perlatan makan dan minum yang bekas dipakai orang lain meski sudah dicuci bersih.

Merepotkan memang. Tapi, inilah yang kujalani lebih dari 10 tahun lamanya.

Satu hal lagi, aku menghindari apapun yang namanya kontak fisik dengan orang lain dan hewan yang ada disekitar, seperti anjing atau kucing.

Apabila aku mengalami insiden seperti tadi dampaknya adalah muncul bintik-bintik merah pada wajahku.

Aku mengadu sejadi-jadinya pada eomma setelah aku pulang sekolah. Eomma hanya tertawa dengan ceritaku. "Baekkie, bagaimana nanti kau akan berkencan dan menikah? Kau kan harus kontak fisik dengan calon pasanganmu kelak. Ahh eomma tak habis pikir apa yang akan terjadi nanti padamu. Bisa-bisa kau tak kan pernah berkencan kalau kau begini terus." eomma dengan ringannya mengatakan hal menyebalkan itu padaku.

"Hiks, memangnya aku ingin hidup seperti ini?" sahutku sambil terisak. "Kalau bukan karena si caplang, hidupku tak kan menderita seperti ini!" gerutuku kesal.

Ada hal yang menyebabkanku seperti ini! Ketika ku berusia 5 tahun aku mengalami kecelakaan yang sangat memalukan. Dulu saat itu aku sangat gemar bermain hujan dilapangan dekat rumah. Saking asyiknya menyipratkan genangan air pada rumput-rumput hijau, aku tak menyadari ada sebuah bola sepak yang sangat kumal dan berlumpur mengenai wajahku.

Aku terduduk lunglai dan genangan lumpur mengotori badan dan wajahku. Aku menangis sejadinya karena sakit akibat hantaman bola tersebut dan panik karena seluruh tubuhku merasakan gatal bukan main.

Aku demam tinggi setelahnya dan muncul bintik-bintik merah. Parahnya, aku takut sekali melihat sesuatu yang kotor seolah mereka menghantuiku setiap saat.

Semua karena si caplang yang bodoh menyepak bola mengenaiku. Meski ia bilang itu tak disengaja, tetap saja dampaknya sangat buruk pada diriku.

Semenjak itu aku benci kotor!
***

"Kau siapa?" tanyaku kaget melihat seseorang tertidur pulas diatas kasurku.

Ia terbangun dari dengkurnya, lelehan saliva berkerak terlihat di pipinya, ia menggaruk-garuk perutnya asal sambil menguap lebar. Kembali ia menggaruk-garukkan rambut hitamnya yang tak beraturan.

Pemandangan ini sungguh menjijikkan. "Huwaaa... eomma... mengapa ada orang asing di tempat tidurku." rengekku dengan keras membisingkan seisi rumah, namja itu hanya terkekeh melihat ekspresiku yang luar biasa ini.

"Kau lupa dengannya, Baekkie? Dia Chanyeollie. Park Chanyeol sepupumu." ujar eomma mengajakku bicara di ruang makan setelah aku tenang dari shock yang kualami tadi.

Park Chanyeol, nama itu tak asing di telingaku. Bayangan hitam putih seolah terulang dalam ingatanku mengenai sosoknya. Ah, iya! aku ingat siapa si menyebalkan ini. Dia si caplang!

"Caplang?" terucap sebutan itu dari mulutku, ia hanya tertawa renyah yang duduk di sebrang meja makanku.

"Baekkie, tak sopan memanggilnya begitu. Bagaimanapun usianya lebih tua dua tahun darimu. Kau harus memanggilnya hyung." Sahut eomma.

"Tak apa, ahjumma. Aku tak masalah dipanggil begitu oleh Baekhyun." sahutnya santai.

Ia adalah sepupu jauh dari pihak keluarga eomma. Kata eomma ia akan tinggal disini beberapa minggu untuk mengikuti tes ujian masuk Universitas Seoul.

Aku bergegas ke kamar mandi untk sikat gigi sebelum tidur. Saat ku buka pintu kamar mandi yang tak terkunci aku terkejut mendapati Chanyeol sedang menyikat giginya dengan sikat gigi bermotif strawberry milikku.

"Yak! Kenapa kau memakai sikat gigiku, eoh!" bentakku kesal padanya dan ia acuh saja tak perdulikan bentakkanku sambi tetap menyikat giginya.

"Hahahha habisnya lucu sih, sikat giginya bermotif strawberry. Aku jadi ingin memakainya." Sahutnya tanpa meras berdosa.

Aku terpaksa mengambil sikat gigi baruku.

Ughh aku sangat kesal padanya!

"Kau masih mengidap mysphobia?" tanyanya dibelakangku, aku melirikkan mataku padanya yang terpantul dari cermin wastafel.

"Darimana kau tahu?"

"Tadi pagi, kita tak sengaja bertemu di bus. Kau tak ingat? Aku yang ng.. yeah tak sengaja mencium pipimu." aku tak menduga, namja yang menyebalkan itu adalah si Caplang! Aku membelalakkan mataku kesal padanya, ia hanya tertawa seolah senang membuatku kesal. "Aku melihat bintik-bintik merah di wajahmu tadi." lanjutnya masih terkekeh.

Aku sudah tak dapat menahan diri dan membalikkan tubuhku. Ku injak kakinya dengan kencang dan ia mengaduh kesakitan.

Aku cukup puas dengan hal itu.

Chanyeol tiba-tiba menarik tanganku, kau tahu apa yang ia lakukan padaku? Ia mendekapku dengan erat dan berbisik seduktif. "Aku yang menyebabkan kau begini, maka aku yang akan menyembuhkanmu kali ini."

Tahukan setelah ini apa yang terjadi padaku? Bintik-bintik merah di wajahku tercuat kembali, kali ini bercampur dengan semburat pink sebagai warna dasarnya.

Kerja jantungku tak wajar, ku injakkan kakinya kembali dengan sendal kepala teddy bear yang ku kenakan. Chanyeol melepas dekapnya sambil mengaduh kesakitan, aku tak perduli dan segera berlalu.
***

Ini benar-benar konyol. Si caplang memakai perlengkapan mandiku, seperti handuk dan shower cap serta sikat gigi yang baru ku buka semalam ia pakai lagi.

"Tolong yah, caplang! Kalau kau mau menyembuhkan mysphobia-ku bukan begini caranya! Ini namanya menyiksaku tahu!" Aku benar-benar marah.

Ia seolah tak mengindahkan ocehanku, Chanyeol berlalu begitu saja.

Aku bangun tidur kesiangan karena stres tak bisa tidur semalam. Naik bus atau mobilnya appa tak kan cukup mengejar waktu agar aku sampai di sekolah tepat waktu.

"Naiklah, aku akan mengantarmu." Tawar Chanyeol sambil menggeberkan motor sport merah miliknya. "Cepat naik! Kalau tidak kau akan terlambat." ia memaksa.

Naik motor, kena debu dan menghirup asap knalpot yang sama sekali tidak nyaman. Aku tak menginginkannya. Tapi ada daya ku tak ingin terlambat. Berat hati akupun mengiyakan ajakkannya, duduk dibelakangnya secara tak langsung aku bersentuhan dengannya.

God, ini sama saja menyuruhku masuk ke kubangan lumpur tak berdasar.

"Kencangkan pegangan tanganmu di pinggangku." Titahnya sambil menarik tanganku untuk dilingkarkan pada pinggangnya. Aku pasrah saja, Chanyeol melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi.

Seperti naik roller coaster perasaankupun naik turun.

Chanyeol benar-benar senang mengerjaiku.

Sudah beberapa kali ia menyentuh tanganku seharian ini. Terakhir saat ia membantuku mengerjakan tugas, tak sengaja tangan kami bersentuhan saat mengambil karet penghapus.

Bintik-bintik merah di wajahku tak separah seperti beberapa waktu yang lalu. "Kau kuperhatikan sudah lebih baik kondisinya, tidak seaneh saat pertama kali kita bertemu." Ujarnya sambil memperhatikan wajahku yang tertunduk.

Aku tak bisa berkata, tiba-tiba ia memojokkan tubuhku di tembok memaksa ingin melihat wajahku. "Ma.. mau.. apa kau Caplang!" tanyaku gugup sambil mendekap diriku sendiri.

"Kalau sedekat ini, bintik merahmu sudah berkurang. Kurasa sebentar lagi kau akan sembuh dari fobiamu." ujarnya terkekeh.

Tanpa basa-basi, ia dengan santai mengecup bibirku sekilas. Bukan bintik-bintik merah yang muncul tapi keseluruhan wajahku memerah. Chanyeol tertawa menang.

Kali ini ku hantam kepalanya dengan keningku dengan keras. Ia meringis kesakitan. "CAPLANG BODOH!" pekikku dan aku lari menuju kamarku meninggalkannya di ruang keluarga sendiri.

Aku bertahan dari rasa mualku, ini adalah ciuman pertamaku. Si caplang licik itu benar-benar memanfaatkan keadaan.

Ugh aku benar-benar kesal!

Kusikat gigiku dan berkumur-kumur dengan cairan penyegar berkali-kali agar bibirku steril dari kuman yang dibagi olehnya. Tapi, entah mengapa bibir tebal itu masih terasa menempel pada bibir tipisku?

Aku nyaris pingsan.

Ku akui, aku tak seekstrem dulu lagi, aku sudah mencoba makan di kantin sekolah dengan piring dan gelas yang disediakan, aku bisa memakannya. Meski sendok dan sumpit tetap kupakai milikku pribadi.

Saat temanku, kusuruh untuk menyentuh jariku. Bintik merah itu hanya muncul beberapa saja.

Sepertinya aku lebih baik kondisinya belakangan ini.

"Caplang. Aku ingin kau menyembuhkan mysphobia ku ini." pintaku tiba-tiba.

"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Chanyeol terkejut mendengar permintaanku, aku mengangguk penuh percaya diri. "Wah sepertinya ciumanku berguna juga yah." Cih, rasanya ingin sekali ku tinju rahangnya itu.

Hujan turun, Chanyeol mengajakku ke sebuah lapangan tempat dimana kami sering bermain bersama sewaktu kecil. Di tempat ini pula terjadinya insiden yang tak bisa kulupakan yang mengakibatkan aku menjadi seperti ini.

Ia mengatakan agar aku benar-benar sembuh dari rasa fobiaku, aku harus mengalami trauma yang sama yang mengakibatkanku seperti ini.

Hujan dan lumpur adalah awal yang membuatku begini. "Kau harus mencoba menikmati hal ini." ucapnya sambil menggandengkan tanganku, ok aku sudah terbiasa bersentuhan dengannya.

Kupijakkan kakiku diatas genangan air pada rumput lapangan ini sambil menikmati guyuran hujan. Aku awalnya takut namun Chanyeol mengalihkan rasa takutku dengan mengajakku berdansa dibawah hujan.

We're dancing on the rain. It's so romantic, right? Mungkin setelah ini aku jadi tidak membenci hujan.

Kami saling tertawa menikmati ini, pandangan mata tak pernah lekang.

"Baekkie, kau sangat cantik saat tertawa. Aku ingin melihat kau seperti ini setiap hari." kata-katnya membuatku tersentak, ini bercandakah? Tapi, melihat tatapan matanya ini terlihat sangat jujur, kurasa ini adalah benar. "Aku menyukaimu." lanjutnya tiba-tiba.

Aku hanya terdiam, lengannya masih melingkar di pinggangku dan aku mengalungkan lehernya dengan kedua tanganku. Kedua mata kami bertukar tatap, hingga kualihkan kemudian saat ku lihat seekor anjing kecil berlari kearah kami dan aku langsung melepas tautanku dengan Chanyeol menghampiri anjing kecil itu.

"AWASSSSS!" pekikku pada anjing kecil itu. Brukkkkk, aku lunglai kemudian setelah sebuah bola sepak menerjang punggungku demi melindungi si anjing kecil itu.

Chanyeol berlari kearahku segera. "Baekkie, kau tak apa?" tanyanya khawatir sambil menjatuhkan badannya memapahku.

Aku rasa aku baik-baik saja, terlebih anjing kecil yang kuselamatkann mengongong riang seolah berterimkasih karena aku menyelamatkannya.

"Kau tidak apa-apa anjing kecil?" tanyaku pelan.

Anjing kecil itu menjilati pipiku dengan sayang. Aku sangat senang dan gemas padanya.

"Baekkie, kau sudah sembuh dari fobiamu?" tanya Chanyeol terperangah dengan apa yang terjadi dihadapannya.

"Eh, yang benar? aku sudah sembuh?" aku tak menyadarinya, rasa takut pada kotor seolah menguap tergantikan dengan rasa nyaman.

Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali mendekapku. Iya, aku tak merasa bintik-bintik merah itu muncul di wajahku. Terlebih aku tak takut menyentuh anjing kecil ini dan tentunya ciuman lembut Chanyeol pada bibirku ini.

Aku sudah sembuh.

Emmm caplang terimakasih. Aku juga menyukaimu.

.

.

.

The End


Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^

Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!