I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present

.

LAST DAY WITH YOU

By ZooToChan

Lagu yang dipilih: Erase

Chanyeol x Baekhyun

.

Disclaimer:

Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!

Happy Reading!

.

.

Seoul 7 Juni 2001

Pagi ini aku terbangun karna suara gemericik air diluar rumah terasa mengagetkanku.

Kulirik stick note yang tertempel di sebuah papan disamping lemari, dimana tanggal 7 yang terlingkar merah disana membuatku tersenyum mengingat hari ini adalah hari besar yang akan mengubah hidupku.

Satu Setengah jam kuhabiskan untuk mandi dan bersiap dengan satu stel Tuxedo hitam juga sepatu yang kuingat sebagai hadiah dari Ayahku kemarin.

Semua tampak sempurna saat aku memandang pantulan diriku sendiri dicermin.

Ya, sempurna sebagai Byun Baekhyun yang akan mengubah dunianya hari ini.

"Baekhyun, cepat turun. Ayah sudah menunggumu di mobil."

"Baik, bu."

Setelah memandang kembali cermin didepanku, aku berjalan keluar kamar sembari menatap kamar yang telah lebih dari 27 tahun menjadi saksi bisu atas hidupku.

Karna nanti, aku tidak akan bisa tidur lagi ditempat yang menjadi ruang pribadiku selama ini. Aku akan tinggal dan tidur ditempat yang lebih nyaman dari kamar tua dengan ranjang yang baru diganti awal tahun ini oleh Ayah.

Kututup pintu kamar perlahan, dan mulai melangkah menuruni tangga lalu keluar memasuki mobil yang telah bersiap Indah dengan pita didepannya.

Selama perjalanan menuju gereja katedral, tidak ada diantara aku maupun Ayah dan Ibu yang berucap sesuatu. Hanya ibu yang tampak gugup melihat anggota keluarganya yang akan segera melepas kesendiriannya dan Ayah dengan senyum hangatnya menggengam tulus tangan Ibu.

Aku ingin menangis melihat bagaimana kedua orangtuaku saling memberi kekuatan, mereka tampak tak pernah kehilangan sedikitpun perasaan mereka satu sama lain. Apa aku Juga bisa mempertahankan perasaanku seperti apa yang Ayah dan Ibu lakukan?

"Kita sudah sampai Tuan."

Suara supir disampingku membuatku menoleh dan menatap bangunan gereja yang megah disana. Sangat cantik dengan rangkaian bunga Mawar juga tulip di sekitaran kebun didedepan gereja.

"Baekhyun, persiapkan dirimu dengan baik, nak." aku mengangguk dan membenarkan letak dasi kupu-kupu yang terasa mencekikku untuk sementara waktu. Tidak apa, aku tidak merasa sakit.

"Aku tidak menyangka anak kita akan segera mempunyai pendamping seperti Chanyeol. Ternyata Tuhan memberikan keberuntungan untuk keluarga kita." Ayah memandang pintu masuk gereja dengan senyum lebar yang menular pada Ibu.

Kulangkahkan kakiku dengan lengan ayah yang mengapitku disisi kanan, sedangkan Ibu telah lebih dahulu pergi memasuki gereja.

Gugup. Tanganku bahkan sedikit gemetar dan dingin mulai merayap disekujur tubuhku saat pintu utama gereja itu terbuka lebar.

Disana, didepan seorang Pastor, seorang laki-laki tampan dengan Tuxedo putihnya tengah berdiri gugup tanpa melirik kearahku yang kini memandangnya dengan tatapan kagum.

Park Chanyeol, pria tampan dengan Tuxedo putih dan bunga Mawar di sakunya.

Park Chanyeol, Kekasihku.

Kekasih yang dalam hitungan menit akan menikahi Adik kandung ku, Byun Taeyeon.

Ayah membawaku duduk dibarisan paling depan, tepat dibelakang Pria yang kini menengokku dengan pandangan sendunya. Tidak apa, aku tidak akan menangis untuk hal ini.

Bahkan, jika aku harus membunuh perasaan Cinta ini untuk selamanya pun aku juga tidak apa. Bukankah aku lahir untuk menjadi seorang yang selalu mengalah pada takdir?

Bahkan ketika takdir mempersatukan Priaku dengan adik kandungku sendiri, aku masih berucap tidak apa.

Suara terompet dan nyanyian yang teriring dengan piano membuyarkan atensiku atas Pria yang kini ikut menoleh kearah pintu utama. Taeyeon, adikku tampak cantik dengan gaun putih gading dan tudung renda yang menyembunyikan wajah mungilnya. Sebuket Mawar merah dan baby's breath sebagai pelengkap itu dibawanya dengan erat. Senyum merekah tidak bisa lagi dia sembunyikan, dia pasti sangat bahagia. Akupun harus begitu.

"Hari ini, dibawah lindungan Tuhan, dipertemukan dua anak Adam dan Hawa yang akan mengikat janji suci sehidup semati. Apakah engkau, Saudara Park Chanyeol akan menerima Byun Taeyeon sebagai pendapingmu dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin dan sakit maupun sehat? "

Kupingku berdengung tanpa bisa mendengar apapun, aku menatap Chanyeol yang melirikku dengan pandangan sedihnya.

Tidak. aku tidak apa Chanyeol, jangan melihatku seperti itu.

Dan saat air mataku turun, aku bisa menyaksikan ciuman lembut yang lebur bersama tepukan tangan gemuruh orang-orang dibelakangku. Tidak apa, aku selalu begitu, kan?

Air mata bodoh ini terus saja turun hingga membuat orang disekitar menatapku heran.

Aku tidak peduli atas apa yang mereka bicarakan tentangku, tantang caraku menyambut kebahagiaan sepasang burung merpati yang tengah menyalami ratusan orang dipernikahan mereka.

'Jika aku menjadi Baekhyun pasti aku sudah bunuh diri sejak awal.'

'Lihat, kupikir Chanyeol akan bahagia dengan Taeyeon suatu saat.'

'Aku terkejut saat mengetahui jika Chanyeol yang menghamili adik kekasihnya sendiri, tapi Taeyeon memang lebih pantas dibanding kakaknya.'

Suara yang ku tangkap memang benar adanya.

5 tahun aku mempertahankan hubungan Cinta yang dimulai semenjak kelulusan sarjana, tak benar membawa kebahagiaan itu. Karna dua minggu menjelang pertunangan ku dengan Chanyeol, sebuah petir menyambar kehidupanku. Kekasihku, datang bersujud didepan kedua orangtuaku yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kemarahan mereka.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, bahkan ketika adikku satu-satunya ikut bersimpuh, aku mulai paham sesuatu disini.

"Baek..."

Kupingku berdengung saat suara baritone itu pecah, aku masih melihat bagaimana mata bulat yang selalu memandangku dengan manis itu tidak hentinya mengeluarkan airmata.

"Aku akan mengurus pernikahan kalian minggu depan, dan jangan harap aku akan membiarkanmu menyentuh Baekhyun walau seujung jari, pun." Ayah berlalu dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung, tapi aku bisa melihat ibu yang tersenyum disana.

"Baekhyun, maaf..." Jika aku memeluknya, apakah aku telah berhasil menjadi orang munafik? Jika aku menamparnya, apakah semua akan terulang hingga tidak terjadi apapun?

"Jaga adikku, karna sekarang kau akan menjadi pelindungnya."

Aku tidak banyak berucap kala itu, mungkin benar jika aku marah, tapi aku tahu bahwa ini adalah takdir Tuhan. Aku bahkan hanya seorang yang baru mengenal apa itu Cinta di umur duapuluh dua tahun, dan aku kini juga baru mengenal rasanya sakit karna patah hati.

"Baekhyun, bisakah kita bicara?"

Aku tersadar dari lamunanku lalu menatapnya, dan mata bulat itu bukanlah mata yang akan membuat diriku nyaman lagi kini.

Saat Chanyeol mulai melangkahkan kakinya kearahku, aku justru berbalik dan lari sekuat tenaga. Aku bahkan tidak peduli atas seruan orang-orang yang tidak sengaja kutabrak, karna yang ada dipikiranku hanyalah pergi menjauh.

Hingga aku telah berhenti pada satu tempat. Pembatas jalan yang kuingat menjadi tempat sahabatku duduk untuk terkahir kalinya sebelum terjun bebas kebawah dan berteriak akan cintanya yang telah pergi terlebih dahulu.

"Kyungsoo, bukankah kau yang selalu berkata jika kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan di dunia ini, maka pergi saja untuk mendatangi Tuhan?"

"Aku ingin kesana, aku ingin menemui Tuhan dan meminta Chanyeol untuk bersamaku."

Aku mulai melangkah dan duduk diatas pembatas jalan itu. Rasa ringan kala kaki-kaki milikku berayun mengikuti angin. Hingga bayangan ketika aku dan Chanyeol membuat banyak kenangan manis sepanjang tahun.

Aku muak, aku membencinya!

Detik berikutnya, yang aku rasakan adalah tubuhku yang mengikuti arah gravitasi, hingga samar kudengar teriakan orang lain dan sesuatu yang membentur kepalaku dengan sangat keras. Tidak apa, aku hanya akan menemui Tuhan setelah ini.

.

Seoul, 7 Juni 2011

"Ini telah lewat dari sepuluh tahun semenjak kejadian itu, tapi Ibu masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri." Taeyeon menatap Ayahnya yang hanya duduk dikursi roda sembari memperhatikan istrinya yang tengah meraung di salah satu bangsal rumah sakit jiwa. Sepuluh tahun berlalu setelah Baekhyun meninggal, semua belum baik-baik saja.

"Aku juga salah disini, Ayah. Bukan keinginanku menjebak Chanyeol seolah dia yang menghamiliku."

"Ayah tahu, Ibumu hanya menginginkan yang terbaik untuk putrinya."

Taeyeon mengangguk, lalu melirik jam tangan yang menunjukan pukul sepuluh pagi. Hari ini adalah tepat tahun kesepuluh kakaknya meninggal, juga tahun kesepuluh Chanyeol pergi menyusul kakaknya dengan cara yang sama.

"Ibu, cepat aku ingin bertemu paman." pemuda kecil dengan nama Sehun itu merajuk dan menggandeng tangan ibunya.

"Iya, ayo kita bertemu paman Baekhyun dan paman Chanyeol."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

'Aku tidak menyesal datang pada Tuhan, karna pada akhirnya aku dipersatukan dengan orang yang benar aku cintai.'

'Baekhyun, aku mencintaimu.'

'Aku juga mencintaimu, Chanyeol.'

.

.

.

The End


Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^

Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!