I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present

.

With You

By Wuufan88

Lagu yang dipilih: Erase

Chanyeol x Baekhyun

.

Disclaimer:

Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!

Happy Reading!

.

.

Seharusnya Baekhyun bisa mengerti keadaan mereka, dimana hanya ada kata 'kita' jika hanya mereka berdua saja. Hanya ada kata 'cinta' disaat waktu mengizinkannya, bahkan memegang tangannya saja begitu berat untuk Baekhyun. Ketika seinci kulitnya mendambakan kehangatan yang biasa mereka bagi di malam hari, tetapi itu akan terasa asing ketika mereka tidak lagi berdua.

Apa ini yang di sebut dengan 'kita' ? Jika sesungguhnya hanya ada 'diriku' dan 'dirimu' selama ini?

-Chanbaek-

Pandangan mata Baekhyun menerawang jauh ke depan, dimana ia bisa melihat refleksi seorang pemuda tinggi yang tengah melambaikan tangannya bersemangat kearah kerubunan penonton. Senyuman lebar milik pemuda itu menular ke seluruh manusia yang berdiri dengan teriakan memekakan telinga. Begitu pun dengan Baekhyun yang juga ikut tersenyum ketika melihat senyuman itu.

Langkah dari kaki pendeknya tanpa sadar mendekati sosok itu, seperti sebuah magnet yang menarik dirinya untuk selalu berada di sisinya. Tangan mungilnya menggapai lengan kekar milik pemuda itu, merasakan betapa hangatnya kulit yang biasanya bisa ia pegang kapanpun ia mau.

Tetapi sebuah tepisan ringan di terima Baekhyun ketika ia sudah memegang sempurna lengan itu.

Baekhyun tidak terkejut, ia hanya tersenyum seperti biasa. Menyembunyikan lolongan sakit yang mendarah daging di jiwanya. Apakah mereka tidak bisa sekali saja untuk bersentuhan? Apa ada larangan disini?

"Jangan mendekat, mereka bisa curiga"

Itulah perkataan sosok tinggi tadi seraya berlalu, meninggalkan Baekhyun yang sudah hampir menangis dengan bahu sedikit berguncang. Bahkan rasa sakitnya melebihi rasa sakit ketika ia tertusuk jarum di jarinya.

Dengan senyuman palsunya, ia mendekatkan mikrophone miliknya untuk mulai bernyanyi. Rasa sakit yang ia rasakan makin menjalar ketika melihat sosok tadi tengah berangkulan mesra dengan teman satu grup mereka. Bercanda tanpa beban dan bebas bersentuhan. Tidak seperti dirinya yang di tolak mentah-mentah padahal ia adalah milik pemuda itu.

Baekhyun jadi berpikir, apakah mereka adalah 'kita' jika bersentuhan saja terlihat tabu seperti tadi?

-Chanbaek-

"kerja bagus semuanya, konser kali ini begitu sukses!"

Pekikan bahagia dari salah satu staff konser membuat seluruh manusia disana tersenyum cerah. Mereka membungkuk dalam demi berterimakasih atas semua bantuan yang begitu memudahkan jalannya konser kali ini.

Semua terlihat bahagia, merasa puas dan begitu menikmati waktu, kecuali pemuda mungil yang kini tengah duduk menyendiri di sofa pojok ruangan.

Ia menunduk dan menatap kosong kearah tangannya yang terbalut pita emas. Kejadian beberapa menit yang lalu membuat semangatnya menghilang begitu saja, membuatnya tak bisa tersenyum dan berkoar seperti biasa.

Tidak ada yang berani mendekatinya, kecuali sosok tinggi yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam.

"Baek, bergabunglah, kita akan merayakannya dengan memotong kue"

Baekhyun menoleh dan menunjukkan senyuman tanpa minatnya. Ia berdiri, melepaskan lilitan pita emas yang melekat di tangannya, lalu menatap mata bulat pemuda itu.

Bahkan ketika memasang wajah lelah ia masih terlihat tampan dimata Baekhyun.

"Aku tidak ikut dulu, sepertinya aku demam dan aku akan kembali ke hotel. Bersenang-senanglah tanpaku" lirihan Baekhyun disertai ringisan kecil membuat dahi pemuda tinggi dihadapannya mengkerut dalam. Baekhyun kira ia akan ditanya perihal demamnya, tetapi jawaban dari pemuda itu membuat hati Baekhyun mencelos saat itu juga.

"Baiklah, kami akan bersenang-senang tanpamu kali ini"

-Chanbaek-

Baekhyun akhirnya menangis. Ia menenggelamkan dirinya didalam selimut tebal dan mulai terisak. Rasa sesak yang makin menjadi membuatnya tak bisa bernafas dengan benar, membuat dirinya begitu tersiksa.

Mata sabitnya membengkak dan memerah, menandakan jika ia sudah menangis sejak beberapa jam yang lalu. Ia tak peduli jika harus mengenakan kacamata hitam ketika di bandara nanti. Yang ia inginkan hanya menangis seharian penuh.

Ia sudah mengirimkan pesan pada manager mereka jika ia tidak bisa di ganggu. Sudah hampir 2 jam lamanya ia sendirian didalam kamar, menumpahkan segala kekesalan dan juga kesedihan yang selama ini ia pendam.

Baekhyun adalah sosok yang ceria dan periang. Ia tidak terlalu banyak menunjukkan kesedihan yang ia rasakan di depan umum. Tetapi pasti ada satu orang yang akan menjadi tempat untuk merasakan kesedihan itu bersamanya. Seseorang yang akan memeluk dirinya erat dan membisikan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.

Dan sekarang orang itu pula yang menjadi alasan Baekhyun menangis.

Jujur saja, Baekhyun lelah dengan semua ini. Dia adalah pihak yang mencintai terlebih dahulu, menunggu hingga dirinya bisa diterima oleh sosok yang begitu ia cintai itu dan dirinya pula yang paling tersakiti. Karena Baekhyun merasa jika orang yang ia cintai itu hanya Iba pada sosoknya yang seperti mengemis cinta, iba pada Byun Baekhyun yang tidak normal karena mencintai sejenisnya.

Cinta Baekhyun tidaklah salah, tetapi hal tersebut masih tabu untuk sekitarnya. Beruntung anggota tim Baekhyun bisa menerimanya dengan baik meski ia memiliki kekurangan. Bagaimana jika tidak? Apa yang harus Baekhyun lakukan?

Tangisan Baekhyun sedikit mereda tatkala ponsel miliknya berdering. Ia melirik ponsel pintar itu dan tertera nama seseorang yang diakhiri dengan emoticon hati disana. Seseorang yang sungguh special untuk Baekhyun, tetapi mungkin saja Baekhyun bukan yang teristimewa untuk orang tersebut.

Park Chanyeol.

Pada akhirnya panggilan dari Park Chanyeol tidak di gubris oleh Baekhyun. Ia hanya menghelah napas ketika merasa sesak dengan keputusannya sendiri. Padahal ia memang menantikan Chanyeol yang akan menelepon dan mungkin saja menanyakan soal 'demam' yang ia alami.

Tak berapa lama, satu pesan masuk ke ponsel miliknya. Ia mengerutkan dahi ketika melihat nama 'Jongdae' yang tertera disana. Dengan ragu, Baekhyun membuka pesan itu. Dan setelahnya, ia segera meraih mantel dan keluar dari kamar seperti orang kesetanan.

'kenapa tidak kau angkat telepon dari Chanyeol?! Dia membutuhkanmu, bodoh! Cepat ke kamarnya, dia memiliki masalah pernapasan dan sekarang tidak sadarkan diri'

-Chanbaek-

Baekhyun menetralkan deru napasnya ketika sampai didalam kamar milik Chanyeol. Ia menatap nanar kearah tubuh tinggi yang sekarang tengah berbaring lemah dengan masker oksigen menutupi setengah wajahnya. Seluruh member dan manager yang mengelilingi kasur milik Chanyeol segera memberi ruang untuk Baekhyun.

"Chanyeollie?" Panggil Baekhyun. Ia menyentuh tangan Chanyeol dan rasa dingin lah yang pertama kali ia rasakan. Air mata mengalir deras setelah Baekhyun melihat rambut Chanyeol basah karena keringat. Pasti kekasihnya ini mengalami kesulitan tadi, dan Baekhyun tidak ada di sampingnya. Padahal, jika Baekhyun butuh pertolongan, maka Chanyeol adalah orang pertama yang akan muncul dihadapannya.

"Saat aku masuk ke kamar, aku sudah menemukan tubuh Chanyeol ditempat tidur, tapi kepalanya terkulai begitu saja. Tangannya memegang ponsel yang terhubung padamu. Kukira kau sudah tahu keadaan Chanyeol, ternyata tidak"

Baekhyun makin terisak setelah mendengar penuturan Jongdae. Ia merasa sangat bersalah pada Chanyeol sekarang. Karena keegoisannya, pemuda yang begitu ia cintai ini sampai susah-susah dan sakit seperti ini.

"Aku akan tidur dengan Kyungsoo malam ini. Kau jaga saja Chanyeol hingga ia sadar" itulah kata terakhir Jongdae sebelum mereka semua keluar dari kamar, meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol berdua saja.

Ketika mendengar suara pintu ditutup, Baekhyun segera menghambur ke pelukan Chanyeol. Ia memeluk tubuh tak berdaya itu erat, lalu menangis di dada bidangnya. Sesekali Baekhyun akan kehilangan napasnya karena menangis, dan terbatuk setelah mengatur napasnya kembali. Wajahnya memerah, bahkan riasan yang belum ia hapus setelah konser memenuhi wajah bayinya, membuat mata, bibir serta pipinya tercoreng make up. Baekhyun sungguh kacau.

"Maafkan aku, Chanyeollie. Seharusnya aku langsung datang kesini" lirih Baekhyun setelah tangisannya mereda. Ia menatap wajah pucat Chanyeol yang masih betah terpejam, tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.

"Aku bukanlah kekasih yang baik untukmu" Baekhyun mengusap sayang pipi milik Chanyeol, manatapnya penuh kasih meski air mata terus mengalir dari sana.

"Chan, aku ingin jujur padamu" bisik Baekhyun. Ia menggigit bibir bawahnya ketika ingin mengutarakan isi hatinya. Ia takut salah, tetapi merasa Chanyeol harus tahu meski keadaannya sedang tidak sadarkan diri.

"Aku lelah dengan hubungan ini, Chan. Aku merasa tidak berarti untukmu, aku.. aku ingin kita kembali seperti dulu, aku tidak ingin kau terkekang denganku. Aku sadar, jika hanya aku saja yang mencintaimu, aku terlalu berharap banyak padamu. Kau sungguh malaikat, Chan. Bahkan kau mengizinkan diriku yang hina ini menyematkan status kekasih dari Park Chanyeol" Baekhyun menghelah napas dan kembali menitikkan air mata. Merasa hatinya diremas kuat karena mengatakan hal barusan.

"Aku.. ingin mengakhiri hubungan kita, Chan"

Bisik Baekhyun pasti. Ia mengedip dua kali dan air mata berlomba-lomba turun dari mata sipitnya. Membuat baju yang dikenakan Chanyeol menjadi basah.

"Mari akhiri semuanya, dan kau akan bebas dariku"

"Aku tidak mau"

Baekhyun tersentak kaget ketika mendengar suara Husky menyapa Indra pendengarannya. Ia mengangkat wajahnya dan menemukan Chanyeol tengah memandangnya dengan tatapan sedih. Air mata sudah memenuhi pelupuk mata besar Chanyeol, membuatnya tampak menyedihkan.

"Chan.."

"Jangan tinggalkan aku, Baek. Aku mencintaimu"

Lagi-lagi Baekhyun menangis. Ia mencengkram baju bagian dada milik Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya disana. Hatinya merasakan sakit yang teramat sangat tatkala meminta hubungannya dengan Chanyeol diakhiri.

Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun, dan ia dengan lemah melepas masker oksigen yang ia kenakan tadi. Dengan sangat pelan, Chanyeol mengecup kening Baekhyun dengan sayang, sebelum membisikkan sebuah kalimat yang membuat Baekhyun kembali terisak kencang.

"Aku mencintaimu, Baek. Aku tidak ingin semua ini berakhir. Aku akan berjuang melindungimu, tapi aku mohon, tolong sedikit bersabar dengan diriku. Aku hanya ingin melindungimu, dan juga hubungan kita"

"Tapi hubungan ini membuatmu terbebani, aku hanya beban untukmu"

Chanyeol menggeleng tegas. Ia berusaha untuk mengatur napasnya dan menangkup pipi basah milik pria mungilnya. Air mata yang begitu ia benci sudah memenuhi wajah Baekhyun, membuat hatinya berdenyut sakit melihat itu. Chanyeol mencintai Baekhyun bukan karena rasa iba, tetapi hatinya lah yang memilih sandarannya sendiri dan pilihan itu jatuh pada Baekhyun.

Pria mungilnya, sang pemegang penuh hatinya.

"Jangan akhiri kisah kita, Baek. Diluar sana, banyak yang masih mendukung kita. Aku hanya ingin menjagamu, aku tak ingin kita kembali tersakiti karena pihak yang lain"

"Chanyeol.."

"Jadi percayakan semuanya padaku, dan hubungan kita akan baik-baik saja kedepannya"

Baekhyun mengangguk mengerti. Ia menaruh wajahnya pada curuk leher Chanyeol dan menghirup aroma milik dominannya itu. Ia merasa lega luar biasa karena pengakuan Chanyeol. Hanya kalimat sederhana, tapi bisa membuat Baekhyun sangat bahagia.

"Aku mencintaimu, Baek. Jangan pernah meragukan cinta ku lagi"

Dan Baekhyun membalasnya dengan sebuah ciuman mesra di bibir. Menyalurkan betapa besar rasa cintanya untuk sosok Chanyeol. Hanya Chanyeol-nya, dan tak akan pernah berubah.

"Aku akan selalu mencintaimu, Chanyeol. Apapun hal yang akan kita lewati, aku akan tetap disini bersamamu.."

.

.

.

The End

Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^

Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!