I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
The Truth
By Jung Yoojin
Lagu yang dipilih: You Call It Romance
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
Of all the guys who fell in love with you
I was happy to be the one to have you
From two awkward relationships
We became one whole love
So believe you are all mine
Suara alunan lagu yang begitu keras sedikit memecah kesunyian di pagi hari. Lelaki yang tergelatak di lantai dengan kondisi yang berantakan itu mulai terbangun. Rambut yang acak-acakkan, mata memerah dan sembab, juga gairah semangatnya yang tidak ada sama sekali. Jangan lewatkan kondisi sekitarnya, botol minuman air mineral berserakan di samping buku-buku tebal, juga ramen di dalam wadah yang mulai berubah warnanya. Kondisi kamar itu jauh dari kata bersih.
Lelaki itu meraih buku tulis yang tertulis nama 'Byun Baekhyun' dan membukanya sesaat sebelum kemudian mencampakkannya. "Tidak berguna!" gumamnya sembari berdiri lalu berjalan menuju arah jendela. Jemari mungilnya membuka gorden itu dan seketika sinar matahari menerpa wajahnya.
Pandangan lelaki itu menjadi sayu, kegiatan beberapa orang yang berlalu lalang dibawah sana tampak tidak menarik baginya. Tatapannya kosong, namun beberapa saat kemudian aliran bening mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"Chanyeollie…." Lirihnya sembari menyentuh kaca jendela dengan jemarinya. Ia kemudian membalikkan tubuh mungilnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, bagaimana ia akan menjalani hari ini dengan baik jika tidak ada hasrat semangat sama sekali. Hanya ada satu alasan mungkin yang membuat lelaki itu untuk tetap berani menghadapi dunia hari ini, bertemu dengannya.
:::
Dengan sedikit mengendap-endap, Baekhyun yang saat ini sudah memakai celana jeans dengan kaos putih dipadukan dengan kemeja biru tanpa ia kancingkan juga ransel yang ia gendong ditubuhnya, ia membuka gerbang rumah yang cukup besar itu. Langkah yang begitu pelan dan kepalanya yang menengok ke kanan kiri dengan resah, seolah ia tidak ingin ada yang memergokinya saat ini.
"Kau kesini lagi?"
Suara itu seolah membuat seluruh keberanian Baekhyun lenyap entah kemana. Ia dapat melihat lelaki yang berdiri disana menatapnya tak suka seolah dirinya ini adalah pengganggu. Ia kemudian berjalan mendekat. "Hari ini…kumohon izinkan aku…"
"Tidak boleh!" sahutnya cepat.
"Katakan padanya jika aku datang, aku hanya ingin…ingin berbicara…tidak bolehkah…?"
"Kau sudah tahu jawabannya Baekhyun-ssi…"
"Tapi aku…"
"Jangan mengganggunya lagi…"
Baekhyun merasakan hatinya berdenyut sakit, rasa sakit yang ada di dalam hatinya seolah telah menumpuk menjadi satu kesatuan dan perlahan mulai membiasakan diri untuk menerima kehadiran rasa sakit lainnya. Mata bening lelaki berkulit putih itu mulai menatap ke samping kanan bagian dari rumah itu. Pandangannya bertemu dengan sorotan mata seseorang yang sangat ia rindukan. Dari balik jendela itu ia dapat melihatnya, yang juga tengah menatapnya. Tetapi yang membuat Baekhyun bertambah sakit…tatapan itu bukan tatapan rindu seperti miliknya, tetapi tatapan dingin dan benci, hingga beberapa saat kemudian gorden tersebut ditutup dengan kasar. Yaah….dia sudah membencinya, membencinya sehingga untuk sekedar bertemu pun tidak mau.
:::
You're the one who made me feel loved again
I was grateful that you chose me
So i don't really ask for a lot from you
I'm fine with simply being your side
Setelah lonceng tanda pelajaran berakhir semua berlarian untuk segera pulang. Tak terkecuali langkah kecil dari Baekhyun. Seragam sekolahnya yang sudah mulai tidak rapi dan keringat yang membahasai wajahnya seolah tak menyurutkan niatnya untuk berlarian keluar dari kelas. Dan senyum manis dari remaja itu merekah ketika melihat seseorang yang berdiri di depan gerbang sekolahnya itu. Ia segera berlari lebih cepat.
"Kenapa lari-lari? Bagaimana jika kau jatuh hmm?" tegur lelaki itu.
"hosh..hosh…" Baekhyun terengah-engah. "Aku hanya tidak ingin Chanyeol menunggu lama…"
Lelaki itu tersenyum kemudian meraih Baekhyun untuk lebih mendekat. Dan dengan sayang ia mengelap keringat yang mulai membasahi wajah manis itu. "Meskipun kau lama aku akan selalu menunggumu sayangku…." Ucapnya. "Bagaimana? Mau makan atau pulang?"
"Makan, Chanyeol yang traktir ya…" pinta Baekhyun dengan manja. Lagi-lagi Chanyeol hanya tersenyum. "Apapun untukmu Byun…"
"Chanyeol setelah makan antar aku pulang juga yaa, aku pasti mengantuk jika kenyang…"
"Hmm…kalau begitu hadiahnya mana sayang?" goda Chanyeol sembari mendekatkan pipinya pada Baekhyun. Dan Baekhyun hanya memukul pipi itu dengan jemarinya lembut. Chanyeol kemudian merangkul kekasihnya untuk segera pergi. Membuat kekasihnya senang adalah kepuasan hatinya, dan ia tidak pernah merasa keberatan untuk menuruti semua keingininan Baekhyun.
"Chanyeol aku ingin makan ice cream stroberi…"
"Chanyeol aku ingin pergi nonton bersamamu…."
"Chanyeol antarkan aku ke rumah Luhan…"
Dan Chanyeol akan selalu tersenyum dan mengusap lembut kepala kekasihnya itu. Karena dia lah Park Chanyeol, Park Chanyeol yang selalu mencintai Byun Baekhyun.
"Byun Baekhyun-ssi! Silahkan keluar dari kelasku jika kau tidak berminat datang!"
Baekhyun tersentak mendengar bentakan itu, semua lamunannya buyar. Dan kini ia menyadari satu kelas menatapnya dengan tatapan yang menurut Baekhyun sinis. Ia tidak peduli, lelaki itu mulai memasukkan buku ke dalam tasnya lalu beranjak dari bangkunya.
"Dasar sinting… kurasa Baekhyun benar-benar tidak waras.."
"Lihatlah penampilannya terlihat seperti preman.."
"Kurasa sebaiknya kelas akan lebih baik tanpa dia…"
Baekhyun menulikan pendengarannya, ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan mereka. Ia memang berantakan, tidak punya semangat, tidak punya teman, dan ia tidak peduli itu. Hidupnya terasa tak berguna, sepanjang hidupnya ia selalu bergantung pada Chanyeol, saat Chanyeol pergi, tak ada lagi teman dalam hidupnya.
"Chanyeol…." Baekhyun terduduk dan menyandarkan dirinya pada dinding pembatas yang dingin, ia kemudian menekuk lututnya dan memeluknya erat. Ia merindukan Chanyeol, ia merindukan perhatian, pelukan dan segalanya dari Chanyeol. Baekhyun mulai merasa matanya basah, sudah tak terhitung jumlahnya ia menangis selama setahun ini, semuanya karena Chanyeol. Chanyeol yang dengan tiba-tiba memutuskannya, tanpa alasan yang jelas. Ia meninggalkannya seolah ia bukan Park Chanyeol yang ia kenal. Dan Baekhyun merasa hidupnya tak berarti, ia tidak pernah peduli apapun sejak Chanyeol pergi.
:::
I love you, in love with someone you say you don't love
I must be stupid, so stupid, so stupidly in love with you
How can this be?
How can this be?
Stop it
But i'll let it go for now
Menatap keluar jendela dengan pemandangan yang seperti biasanya, juga di depan sana yang terlihat seorang namja bertubuh kecil yang sudah hampir tiga jam berdiri di depan gerbang. Sesekali menatap ke dalam rumah, penampilannya yang sedikit sudah berantakan, juga raut wajah yang sayu.
"Chanyeol-ah…" panggil sebuah suara dan diiringi derap langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya.
"Sudah hampir empat jam, jika dia terus kesini…aku tidak bisa lagi untuk mencegahnya…"
Chanyeol membisu.
"Ponselmu juga terus berdering…jika kau tidak berniat menjawabnya…lebih baik kau buang ponselmu, dan jika kau tidak ingin menyakiti hati Baekhyun…jangan biarkan dia terus menunggumu, biarkan dia bebas menjalani kehidupannya…"
Chanyeol benar-benar tak bergeming, seolah semua ucapan itu tidak masuk sama sekali dalam kepalanya. Tatapannya sulit untuk dipahami, apapun yang ia pikirkan saat ini hanya dirinya yang tahu.
:::
Dengan langkah sempoyongan Baekhyun membuka pintu kamarnya, dan begitu ia sampai, tubuh kurusnya itu segera terkulai lemas di atas sofa. Baekhyun merasakan pusing yang luar biasa, wajahnya pucat dan pandangannya sayu. Ia terlalu lama berdiri, perut kosong, berjalan tanpa mempedulikan tubuhnya. Baekhyun kembali merasakan kesendirian yang menyesakkan dirinya.
Cup. Sebuah benda basah mengecup lembut keningnya, sesaat kemudian Baekhyun merasakan sebuah tangan menepuk pipinya perlahan.
"Baekhyun-ah kau sudah sembuh? Bangunlah dulu dan makan buburmu agar bisa minum obat.."
Baekhyun menggeliat pelan. "Chanyeol-ah…kepalaku masih pusing, rasanya berat sekali…"
"Siapa suruh kemarin bandel hmm?" tegur Chanyeol. "Kalau tidak seperti ini kau tidak akan kapok.."
"Aku tidak kapok…karena jika aku sakit kau selalu merawatku, bahkan kau semakin perhatian padaku.." ucapnya manja.
Chanyeol tersenyum kemudian merendahkan tubuhnya untuk mengecup bibir menggoda Baekhyun. "Cepatlah sembuh sayang…aku akan merawatmu!" ucapnya kemudian.
Air mata Baekhyun menetes, ini terlalu menyakitkan. Kenangan bersama Chanyeol yang manis hanya sebatas kenangan, tidak akan pernah terulang kembali. "Chanyeol-ah..aku sakit…"
:::
Jika biasanya ia harus menerima penolakan dan pengusiran ketika ingin menemui Chanyeol, hari ini Baekhyun sedikit terbelalak adalah Kyungsoo, sepupu Chanyeol itu mengizinkannya untuk bertemu. Baekhyun seolah tak percaya dengan pendengarannya itu. Ia begitu menantikan saat-saat seperti ini, ia ingin memeluk Chanyeol, ia ingin melepaskan kerinduannya, dan ia ingin selamanya berada di sisi Park Chanyeol
"Chan.."
Tapi binar dimata Baekhyun seakan menghilang, tubuhnya serasa melemas, bahkan ketika Chanyeol menatapnya pun keinginan untuk memeluk lelaki itu menghilang entah kemana. Park Chanyeol…lelaki yang selama ini dirindukannya, lelaki yang sangat ingin ia temui…kini berada tepat di hadapannya dengan….duduk di kursi roda dengan kedua kakinya yang terlihat lemah.
"Chanyeol mengalami kecelakaan saat akan menghadiri pesta kelulusanmu…" ucap Kyungsoo. "Dan dia mengalami kelumpuhan total pada kakinya, yang itu berarti Chanyeol tidak akan bisa berjalan lagi seumur hidupnya…"
Pandangan Chanyeol dan Baekhyun masih bertemu, tidak ada yang sanggup untuk berbicara. Tetapi beberapa saat kemudian, Baekhyun membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana tanpa mengucapkan satu kata pun.
Chanyeol beralih menatap Kyungsoo. "Kau lihat sendiri, Baekhyun tidak akan pernah mau menerima keadaanku yang cacat, dia mencintai Park Chanyeol yang sempurna, bukan Park Chanyeol yang cacat seperti ini…" ucapnya mencoba untuk tetap tenang. "Semua telah berakhir…"
:::
I want all of you
Give me all of your heart
All of your heart
Please be mine, only mine now
Hari ini Chanyeol ingin menghirup udara yang segar, ia sedikit bersusah payah untuk menggerakkan kursi roda-nya ke taman belakang rumahnya. Terhitung sudah 3 hari sejak ia bertemu dengan Baekhyun, dan Baekhyun sama sekali tidak muncul kembali, namja itu juga tidak mencoba menelvonnya seperti yang selama ini lakukan. Tetapi Chanyeol mencoba untuk tidak peduli hal itu, hatinya memang sakit, tetapi Baekhyun berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirinya.
Tapi Chanyeol begitu terkejut begitu lamunannya terganggu dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Byun…Baekhyun… apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya. Ia menatap lelaki itu dari atas hingga bawah. Baekhyun mengenakan jeans hitam dengan kaos berwarna hitam di balut dengan kemeja yang tidak berkancing, jangan lupakan benda yang di bawanya, satu ransel dan satu koper besar.
Chanyeol kembali menatap mata bening itu. "Kau akan pergi jauh?" tanyanya entah kenapa merasa sangat sakit. Tetapi Chanyeol melihat senyuman dari namja itu, senyuman yang begitu lama tidak ia lihat, Baekhyun tersenyum manis padanya.
"Aku akan tinggal bersama mu!" ucapnya yang tentu saja membuat Chanyeol terkejut.
"Apa maksudmu Byun?"
Baekhyun belum menjawab, ia kemudian mendekat ke arah Chanyeol kemudian berlutut di depannya. Ia meraih tangan Chanyeol untuk di genggam. "Mulai sekarang aku akan merawatmu, aku akan menjaga dan menemanimu, sama seperti yang kau lakukan saat aku sedang sakit, aku tidak ingin jauh darimu lagi…"
"Apa?" Chanyeol benar-benar terkejut. "Kau bercanda Byun, kau paling tidak suka melihat seseorang merepotkanmu, aku cacat, aku bukan Park Chanyeol yang dulu, aku tidak bisa melindungimu lagi, aku cacat Byun, aku cacat!"
"Lalu kenapa jika kau cacat Park? Kau pikir rasa cintaku padamu menghilang?" Baekhyun balik bertanya, dan lagi-lagi membuat Chanyeol terkejut. Ia tidak bisa berkata-kata. Baekhyun kemudian menggenggam tangannya.
"Kau tetap park Chanyeol-ku, tidak ada yang berubah, aku mencintaimu Chan, apakah kau masih meragukan cintaku? Kau diam selama ini karena kau takut aku akan meninggalkanmu karena keadaanmu? Tidak, aku cukup menderita kehilanganmu…aku tidak mau kau jauh lagi…aku ingin hidup bersamamu…."
Chanyeol merasakan dadanya menghangat, ada jutaan perasaan yang sulit untuk dijelaskan yang menguasai hatinya. Baekhyun benar-benar berkata dengan tulus, dia tidak pernah menyangka semua ini, Baekhyun yang mencintai kesempurnaan bisa menerima dirinya yang tak sempurna.
"Byun Baekhyun…seperti biasa, kau selalu mengejutkan…" tutur Chanyeol.
Baekhyun tersenyum. "Aku juga mencintaimu Chan…" sambungnya membuat Chanyeol mau tak mau pun menyunggingkan senyumannya.
"Lihatlah betapa kurusnya dirimu, wajahmu juga pucat…" Chanyeol menangkupkan wajah Baekhyun. "Apakah selama ini kau makan dengan baik hmm?"
Baekhyun tidak menjawab, perasaannya begitu sesak, ia merindukan Chanyeol, sangat. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja, ia begitu cengeng, cengeng karena Park Chanyeol.
Dengan lembut Chanyeol mengusap air mata itu. "Maafkan aku Baekhyun-ah, maafkan aku membuatmu seperti ini…" ucapnya penuh penyesalan, hal yang paling tidak bisa ia lihat adalah air mata Baekhyun.
"Aku merindukanmu Chanyeol…hiks…" satu isakan berhasil lolos, Baekhyun tidak bisa menahannya. "Sudah lama aku ingin kembali bertemu denganmu, aku merindukanmu….benar-benar rindu…"
"Maafkan aku…"
Chanyeol kemudian mengecup pucuk kepala Baekhyun kemudian menarik lelaki kurus itu ke dalam pelukannya. Ia pun merasakan rindu yang luar biasa terhadap kekasihnya, dan ia berjanji tidak akan pergi jauh dari belahan hati nya ini. Chanyeol benar-benar berjanji.
"Meskipun tubuhku tidak sempurna…aku akan menjaga dan mencintaimu sepenuh hati…Byun Baekhyun..aku mencintaimu!" ucap Chanyeol mendekap Baekhyun erat. Seolah ia tidak ingin berpisah lagi dengannya.
Baekhyun tersenyum dan membalas pelukan itu. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan. Yang ia inginkan hanyalah Park Chanyeol, yang ia cintai.
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
