I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
Serendipity One Hour
By debiyaaa
Lagu yang dipilih: Love Rain
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
Berapa lama lagi aku harus terjaga dan menderita?
Aku takut pada cinta
Mendengar suara hujan, dengan cepat aku menutup pintu
Aku akan menyembunyikan perasaanku
Jadi kamu tak akan tahu
Aku seperti berada di bawah hujan tanpa sebuah payung
Jatuh cinta lagi
Hujan cinta yang tak terhentikan ini
Tanpa aba-aba itu datang padaku
Tanpa mengatakan apa pun, itu jatuh padaku
Aku tak bisa menghindarinya
Meskipun aku berjalan dengan cepat
Beritahu aku
Lihat cintaku di depan matamu
Kapan aku bisa menjadi diriku sendiri?
Tetap sama meskipun waktu sudah berlalu
Jika aku kesakitan dan sesakit ini,
Aku selalu berpikir aku akan baik-baik saja
Aku pikir aku tak bisa mengendalikan cintaku
Cinta tak membosankan meskipun aku sering melakukannya
Aku seperti berada di bawah hujan tanpa sebuah payung
Jatuh cinta lagi
Hujan cinta yang tak terhentikan ini
Tanpa aba-aba itu datang padaku
Tanpa mengatakan apa pun, itu jatuh padaku
Aku tak bisa menghindarinya
Meskipun aku berjalan dengan cepat
Beritahu aku
Lihat cintaku di depan matamu
Kapan aku bisa menjadi diriku sendiri?
Jika aku akan jatuh cinta lagi
Aku ingin memercayainya satu kali lagi
Jatuh cinta secara tiba-tiba
Aku ingin tersenyum sebelum merasakan cinta
Aku tak tahu
Mengapa aku kembali lagi pada cinta seperti ini?
Untuk membuat hatiku bergetar?
Beritahu aku
Lihat cintaku di depan matamu
Bagaimana cara agar aku bisa menjadi diriku sendiri?
.
"Aku gak mau pulang. Aku mau ngabisin waktu aku sama kamu. Hari ini, di sini, dan sekarang juga."
.
- R A I N
.
.
.
"Mas, bunga mawarnya satu, ya." Ujar seorang lelaki berseragam sekolah menengah atas seraya menunjuk salah satu bunga mawar merah yang tersusun rapi di sebuah kotak keranjang.
Sang penjual dengan sigap segera meraih sebuket bunga mawar yang tersusun di dekatnya, kemudian menyerahkan buket bunga tersebut kepada sosok laki-laki berseragam putih abu-abu dengan menyunggingkan seutas senyuman umum yang sering dilemparkan untuk pembeli lainnya.
"Terima kasih sudah berkunjung ke toko kami."
Awan hitam kelabu bergerak pelan menyelimuti seluruh atap di Ibu Kota. Jejak semilir angin terlihat turut ikut menanti datangnya hujan. Tepat saat langkah kaki laki-laki berseragam itu keluar dari toko bunga, setitik air mulai berjatuhan. Satu. Dua. tiga—hingga sampai tak terhitung lagi. Dan dalam sekejap, jalanan pun sudah basah diguyur hujan.
Laki-laki itu gelagapan. Seharusnya dia membawa jaket atau semacam benda lain yang mampu melindungi dirinya dari hujan dadakan seperti ini sebagai bentuk antisipasi. Walau hanya gerimis, tetap saja jika airnya jatuh secara bersamaan dan dalam jumlah yang banyak, tubuhnya akan segera basah diselimuti oleh percikan air hujan yang turun.
Pikirnya, hujan akan turun pada sore hari. Bukan di tengah hari—di mana seharusnya sang tabir surya-lah yang tengah bekerja menghangatkan dunia. Dan seharusnya lagi, dia tidak perlu membuat asumsi tolol tanpa alasan seperti itu. Well, memangnya dia Tuhan yang Maha Mengetahui? Bodoh!
Laki-laki itu bergerak pelan untuk semakin menepi di teras toko. Mengusap permukaan wajahnya yang sudah basah terkena percikan hujan, netra hitam kelamnya mengedar ke segala arah. Mengamati beberapa pasang kaki yang berlari-lari mencari tempat berteduh untuk menghindar dari air hujan. Lalu matanya terkunci pada satu titik. Berhenti tepat di mana motornya terparkir di bawah hujan.
Lari ke sana.
Menyalakan motor.
Pergi menembus hujan.
Lalu datang ke tempat terkasih.
Sepertinya itu merupakan salah satu opsi paling masuk akal yang berjejal di kepalanya sejak lima belas menit ia berdiri di teras toko bunga ini. Dan di detik berikutnya, laki-laki itu ingin merealisasikan idenya sebelum sosok seorang pria berbadan kecil berjalan ke arahnya. Diiringi dengan kabut tipis yang seakan-akan merupakan bayangan sosok pria itu. Laki-laki berseragam putih abu-abu terpekik kaget saat menyadari siapa pria mungil itu.
Dia adalah seseorang yang sudah membuatnya tidak tenang selama lebih dari dua puluh empat jam ini.
"BAEKHYUN!"
Ah, tanpa pikir panjang laki-laki berseragam itu segera meneroboskan tubuhnya pada riuhnya hujan. Menghampiri pria mungil itu dan berniat untuk cepat-cepat menarik lengannya agar menepi di teras toko. Tapi niatnya itu tidak langsung terlaksanakan saat jari-jari lentik Baekhyun terlihat mencekal pegangan erat yang bertengger di lengan kecilnya.
"Kamu ngapain di sini? Kamu di sini sama siapa? Kenapa hujan-hujanan? Bukannya kamu lagi sakit? Seharusnya kamu di rumah sakit, Bi. Istirahat. Jangan—"
"Chanyeol, pergi ke taman, yuk!" Baekhyun menyela ucapan Chanyeol. Seperti tidak menganggap kalimat yang penuh dengan rasa kekhawatiran yang baru saja dilontarkan laki-laki jangkung itu.
Chanyeol—si lelaki berseragam putih abu-abu—mengernyitkan dahinya. Ke taman? Dalam keadaan hujan deras seperti ini? Well, baju mereka berdua memang sudah basah kuyup, omong-omong. "Tapi, kan…—"
Baekhyun kembali menyela perkataan Chanyeol. Namun kali ini tidak dengan ucapan, melainkan dengan tangannya yang tiba-tiba meraih pergelangan tangan Chanyeol. Menarik laki-laki itu untuk segera berjalan ke arah taman kota.
Hujan terus mengguyur kota Seoul dengan derasnya. Tidak memedulikan para pedagang kaki lima yang terseok-seok panik mengangkat barang dagangan dari rintiknya hujan. Angin semakin berhembus dengan membabi buta, membuat sesuatu tak kasat mata itu berubah menjadi sedingin es. Menampar kulit telanjang para manusia yang tengah sibuk menyelamatkan diri.
"BAEKHYUN!" Chanyeol naik pitam. Menghentikan langkahya dari seretan tangan Baekhyun. Tidak seharusnya dia mengikuti ide gila pria cantikini—pergi ke taman dalam kondisi hujan yang sedang turun dengan derasnya. Tidak! Sama sekali tidak!
"AYO, KITA PULANG! KAMU MASIH SAKIT!"
Benar. Ucapan Chanyeol memang benar. Wajah manis pria itu kini terlihat sangat pucat. Bibirnya kering walau air hujan telah membasahinya berulang kali.
Baekhyun terdiam. Bahunya bergetar merasakan atmosfer bentakan Chanyeol yang menyelubungi sel-sel dalam tubuhnya. Lalu pria itu menatap Chanyeol dengan pandangan tidak percaya. Sepasang manik sabit indahnya seketika berubah nanar—siap untuk menjatuhkan kristal beningnya.
Raut wajah tegas yang tadi Chanyeol tunjukan kini berubah menjadi merasa sangat bersalah. Ah, Baekhyun selalu saja seperti ini. Mampu meruntuhkan amarah Chanyeol yang meledak-ledak dalam sekejap hanya melalui tatapan sendunya.
"Kamu masih sakit, Sayang. Aku cuma gak mau sakit kamu itu nambah parah. Nanti kalau kamu jadi sakit-sakitan terus, gimana? Emangnya kamu gak mau cepet sembuh? Kamu gak mau jalan-jalan ngelilingin kota Seoul sama aku?" Tangan Chanyeol refleks bergerak untuk mengusap air hujan yang membasahi wajah cantik Baekhyun.
Benarkah itu air hujan?
"Maaf, aku gak ada maksud buat bentak kamu tadi. Aku cuma khawatir. Sekarang, kita pulang, ya?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. "Aku gak mau pulang. Aku mau ngabisin waktu aku sama kamu. Hari ini, di sini, dan sekarang juga."
"Masih ada besok, Bi. Aku janji, kalau nanti kamu udah sembuh, kamu bisa booking aku seharian penuh. Ke mana aja terserah kamu. Gimana? Jadi, sekarang kita pulang dulu, ya? Hujannya deres banget loh, nanti yang ada kamu malah nambah sakit."
"Gak mau. Aku gak mau pulang. Lagi pula, kita juga udah terlanjur basah. Jadi, apa salahnya, sih?"
"Kamu masih sakit, Bi."
"Nggak. Aku baik-baik aja, kok. Udah sembuh." Ekspresi wajah Baekhyun tiba-tiba berubah ceria. Mengembangkan senyum manisnya yang seakan-akan ingin membuktikan pada Chanyeol kalau dirinya benar-benar akan baik-baik saja.
Chanyeol menghela napas pendek. Oke, ia mengaku kalah. Laki-laki jangkung itu menyerah untuk membujuk manis-nya untuk kembali pulang dan beristirahat. Menanggapi kekeraskepalaan pria cantik itu lama-lama membuat kesabarannya terkikis habis.
Baekhyun menyambar pergelangan tangan besar Chanyeol dengan wajah berseri-seri—I'm winner. Lalu kembali menarik laki-laki itu untuk berjalan ke taman kota.
C & B
Hubungan keduanya sudah terjalin sejak di tingkat akhir menengah pertama. Dan sekarang, mereka berdua sudah menginjakkan kaki di tingkat kedua menengah atas. Sudah terhitung hampir tiga tahun mereka bersama-sama mengarungi kisah cinta. Chanyeol mencintai Baekhyun, dan begitu pula dengan Baekhyun yang juga mencintai Chanyeol.
Cinta yang tumbuh di kamar hati mereka saling menepis ego yang tersemat dalam hubungan ini. Tidak jarang mereka bertengkar hanya karena masalah kecilyang sebenarnya tidak perlu diperbesar. Misalkan, Baekhyun akan diam seperti batu selama dua puluh empat jam jika mendengar kabar Chanyeol-nya—yang entah kenapa—saat pembagian kelompok selalu berada di antara para gadis-gadis cantik. Omong-omong, mereka memang tidak sekelas.
Baekhyun akan membisu seperti patung. Tidak mau berbicara. Tidak mau disentuh. Bahkan tidak pernah menganggap keberadaannya yang selalu mengekor di belakang tubuhnya saat pria cantik itu marah.
Tapi anehnya, Chanyeol tidak pernah bertingkah seperti Baekhyun saat mendapati kekasih mungilnya yang dengan terang-terangan selalu berupaya untuk membuat dirinya cemburu. Karena dia tahu dan yakin, kalau Baekhyun mencintainya. Hanya mencintainya. Dan ia memercayakan hatinya pada laki-laki itu.
Tetapi, apa yang dipikirkan Chanyeol belum tentu sama dengan apa yang ada dipikiran Baekhyun. Baekhyun merasa jika Chanyeol tidak mencintainya seperti dirinya yang mencintai pria jangkung itu. Baekhyun merasa jika cintanya-lah yang lebih besar daripada sang dominan. Membuat dirinya sedih dan selalu berpikiran negatif pada Chanyeol.
Namun semuanya terjawab dan terbukti salah ketika kemarin Baekhyun pingsan karena kelelahan saat menjalani latihan hapkido dan juga menjadi trainee di salah satu agensi besar yang berada di kota Seoul. Laki-laki itu benar-benar terlihat kalut dan panik saat telinganya menangkap kabar tersebut.
Chanyeol sebenarnya memang sudah melarang Baekhyun agar mengikuti satu kegiatan saja. Karena bagaimanapun juga, Baekhyun itu sangat mudah letih. Berbanding terbalik dengan semangatnya yang luar biasa berapi-api.
Ini gila! Chanyeol tersadar dari lamunan singkatnya dan segera beranjak untuk berdiri dari kursi taman yang sudah ia duduki selama kurang lebih setengah jam yang lalu. Walaupun kursi taman yang mereka duduki ini bersarang di bawah pohon besar dengan daunnya yang tumbuh lebat, tetap saja tetesan rintiknya hujan masih bisa menerobos melalui cela-cela ranting dan daun.
Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang sudah semakin memucat. Wajah manis kesukaannya kini sudah berubah seperti boneka porselen yang tengah diguyur hujan. "Bi, kita pulang, ya? Wajah kamu udah pucet banget."
"Se..seteng..ah… jam… la..lagi… Chan..yeol…" Gigi-gigi Baekhyun saling bergemelatukan hebat. Membuat suaranya terdengar bergetar di setiap kata yang diucapkannya.
Chanyeol meringis melihat kondisi Baekhyun. "Tapi kamu udah kedinginan, Sayang." Suara Chanyeol terdengar lembut namun penuh dengan penekanan.
"Sini." Baekhyun menepuk sisi kursi di sebelahnya, kembali menyuruh Chanyeol untuk duduk di sampingnya lagi.
Chanyeol menggeleng pelan. Berusaha menolak untuk kembali menuruti keinginan gila Baekhyun. "Kita pulang."
"Aku sayang sama kamu."
Deg
Jantung Chanyeol seperti berhenti bekerja secara mendadak. Dia memang sering mendengar kalimat itu meluncur dari celah bibir tipis Baekhyun. Tapi, untuk kali ini, entah mengapa Chanyeol seperti merasa ada yang berbeda. Seperti ada sensasi aneh saat kalimat lirih itu terucap dari bibir pucat Baekhyun yang sangat mengalun lembut di gendang telinganya.
Chanyeol kembali mendudukkan tubuhnya pada kursi taman. Baekhyun bergerak cepat untuk mendekati Chanyeol, merengkuh lengan laki-laki itu untuk masuk ke dalam pelukannya. "Kamu belum jawab."
Baekhyun memang tidak sedang bertanya, tapi Chanyeol cukup paham apa maksud dari perkataannya itu. "Aku juga sayang kok sama kamu. Sayang banget."
Direngkuhnya kepala Baekhyun dalam-dalam. Dikecupnya lamat-lamat puncak kepala tercintanya. Saling memperdengarkan suara detak jantung yang terdengar selaras bagaikan lagu pengantar tidur. Chanyeol tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi saat ini. Yang ada di otak dan pikirannya, hanya meraih tubuh kedinginan Baekhyun untuk masuk ke dalam rengkuhan eratnya seperti sekarang ini.
Semoga saja tindakannya ini mampu mengusir hawa dingin yang mencoba untuk menusuk kulit—walau hanya barang sedikit.
"Kamu udah kedinginan. Kita pulang, ya?"
Baekhyun menggeleng. "Aku masih kangen sama kamu. Ngerti?"
"Aku cuma takut kamu makin sakit. Ngerti?"
Baekhyun menggeliat kecil dalam pelukan Chanyeol. Dia sedang berusaha untuk mencari posisi senyaman mungkin. "Kamu selalu bisa buat ngabisin waktu lama banget sama temen cewek kamu. Masa sama aku gak bisa, sih?"
"Beda urusan, Sayang. Itu buat kepentingan sekolah. Dan juga, saat ini posisinya kamu itu lagi sakit. Aku cuma khawatir sama keadaan kamu. Oke?" Chanyeol menjawab dengan tangan yang semakin merengkuh tubuh mungil Baekhyun agar lebih masuk lagi ke dalam pelukan hangatnya.
"Mereka lebih istimewa, ya?"
Chanyeol terkekeh pelan. "Yang paling istimewa itu kamu, Bi. Karena kamu cuma ada satu kali dalam hidup aku."
"Tapi aku cemburu. Cemburu sama kegiatan-kegiatan kamu. Itu ngebuat aku jadi jarang ketemu sama kamu. Setiap hari kerjaan kamu cuma ngebuat aku kangen terus. Itu hobi kamu, ya?"
"Jangan mulai. Kita udah pernah ngebahas ini sebelumnya, Baekhyun."
"Kamu gak pernah ngerti perasaan aku! Kamu selingkuh, kan?! Ayo, ngaku!"
Chanyeol ingin tertawa saat ini sebenarnya. Sikap cemburu Baekhyun yang tiba-tiba meledak tanpa alasan, mendadak seperti mereka ini adalah sepasang pengantin baru yang tengah bertengkar. Chanyeol menggeleng ambigu. Wajahnya tiba-tiba terasa panas karena membayangkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dibayangkannya.
Kemudian ia merasakan pergerakan kecil Baekhyun yang tengah berusaha untuk merenggangkan rengkuhan pada tubuh mungilnya. Jari lentiknya merayap pada sela-sela jari besar Chanyeol, menarik laki-laki itu sampai keduanya beranjak dari kursi tersebut.
"Jangan hujan-hujanan, Bi." Chanyeol berucap khawatir. Tangannya bergerak untuk mengusap wajahnya yang sudah basah terkena tetesan air hujan.
Hujan sudah tidak lagi gerimis, melainkan turun semakin deras dan disertai dengan angin kencang yang bertiup—yang mampu menerbangkan daun-daun rapuh yang singgah di dahan pohon. Baekhyun membawa Chanyeol untuk berada di tengah taman yang sepi. Jelas saja sepi, orang tolol mana yang ingin berada di taman dalam keadaan hujan deras seperti ini? Mungkin hanya mereka berdua.
Kabut tipis membuat keduanya sering kehilangan arah—ditambah pula dengan hujan deras yang semakin menghalangi penglihatan mereka dalam berjalan ke arah jantung taman. Baekhyun mempercepat langkahnya yang bahkan sudah terkesan sedikit berlari. Tangannya terus menggenggam erat tangan besar Chanyeol, seperti takut kehilangan pria itu.
Tepat setelah sampai di jantung taman, Baekhyun berhenti. Dengan sekali gerakan, pria cantik itu berbalik untuk memeluk erat tubuh tegap Chanyeol. Aksi dadakannya itu mampu membuat Chanyeol sedikit terhuyung ke belakang.
Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung. Sifat Baekhyun mendadak aneh beberapa menit belakangan ini. Berubah-ubah seperti bunglon yang sulit ditebak. Kadang dia marah tanpa alasan, namun dalam sekejap akan tersenyum secerah matahari—yang mampu menularkan kebahagiaan yang terpancar dari manik sabitnya itu. Lalu, tak berapa lama kemudian, akan manja seperti anak anjing. Dan sekarang, Chanyeol merasa seperti sedang memeluk batu.
Baekhyun, laki-laki itu diam. Sediam-diamnya tanpa ada pergerakan yang berarti.
"Baekhyun?" Panggil Chanyeol pelan.
Baekhyun menengadahkan wajahnya sambil berusaha untuk memamerkan senyum dari bibir pucat pasinya. Senyum manis pria cantik itu benar-benar terlihat sangat mengerikan untuk saat ini.
"Kita pulang, ya?" Entah sudah keberapa kalinya dalam satu jam ini, Chanyeol mengucapkan kalimat itu. Tapi tetap saja, ajakannya selalu berakhir dengan mendapatkan gelengan pelan dari Baekhyun.
"Aku masih mau di sini. Sama kamu." Ujarnya. Baekhyun kembali membenamkan wajahnya dalam dada bidang Chanyeol. Sejenak hanya ada hening berkepanjangan yang mengitari kedua makhuk adam yang tengah memangku kasih tersebut. Hening. Hening. Dan hening. Sampai akhirnya suara isak tangis memecah kesunyian yang telah tercipta.
"Maafin aku, Chanyeol. Aku sering bertingkah aneh sama kamu. Sering cemburu gak jelas. Aku juga sering nyusahin kamu. Sikap aku kayak gitu karena aku selalu pengen dapet perhatian dari kamu. Aku pengen denger dari mulut kamu kalau kamu cemburu saat aku deket sama cowok lain…"
"Ya ampun, Bi. Asal kamu tau, sikap aku yang seakan gak peduli sama tingkah laku kamu itu karena aku gak mau hubungan kita hancur cuma gara-gara masalah sepele kayak gitu…" Ujar Chanyeol.
Ada jeda sejenak sebelum melanjutkan, "Udah, jangan nangis, Sayang. Aku cemburu kok waktu ngeliat kamu pergi ke sekolah bareng sama Sehun." Chanyeol mengaku dengan suara pelan. Sedikit merenggangkan pelukan untuk menatap wajah cantik Baekhyun. Tangan besarnya terangkat untuk mengusap air mata sang terkasih. Namun, percuma. Air mata itu sudah bercampur dengan air hujan.
"Beneran? Tapi, kok kamu gak pernah kangen sama aku? Padahal kan yang selalu sibuk itu aku, bukan kamu!"
"Aku kangen kok sama kamu. Kangen banget. Dan itu sering. Tapi, aku cuma gak mau ganggu kegiatan kamu. Kayak yang selalu kamu bilang ke aku, kalau aku kangen sama kamu, aku cuma perlu sebut nama kamu tiga kali. Baekhyun… Baekhyun… Baekhyun… Dan, tring! Dalam sekejap, rasa kangen aku langsung hilang. Karena aku tau, kamu langsung muncul di hati aku."
"Oh, gitu… Hehehe…"
Chanyeol diam sejenak. Dia teringat akan sesuatu yang ia beli tadi. Sesuatu yang seharusnya ia antar ke rumah sakit dan memberikannya pada Baekhyun yang tengah berbaring di atas ranjang. Tapi, mumpung si penghuni kamar sedang berada di hadapannya, memberikan hadiahnya sekarang juga tak ada salahnya, kan?
"Aku ada sesuatu buat kamu," ucap Chanyeol sambil memandang Baekhyun dengan senyuman manis yang amat sangat menawan. "Kamu tunggu sebentar di sini. Jangan ke mana-mana, oke?" Tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun, Chanyeol lekas menghambur pergi menuju kursi yang sempat mereka duduki tadi.
Di sana ada sebuket bunga mawar merah yang sedang terduduk santai seorang diri. Tapi, bukan itu perihal hadiah yang sebenarnya. Bunga mawar itu hanyalah sebagai sebuah pelengkap dari hadiah utama yang telah Chanyeol siapkan untuk Baekhyun. Chanyeol meraih sebuah kotak kecil dalam saku celananya. Kalau melihat benda ini, Chanyeol jadi teringat tentang kejadian tiga hari yang lalu.
Chanyeol tersenyum geli. Diraihnya buket bunga yang sudah basah itu, kemudian melangkahkan kakinya untuk kembali ke jantung taman—menemui sang pujaan hati. Tapi niatnya itu segera diurungkan saat ia merasakan getaran teratur dari dalam saku celana jeans-nya.
Jongin is calling
"Hal—"
Helaan napas Jongin terdengar begitu berat dari seberang sana. Dia berkata dengan suara yang bergetar dan juga sedikit parau. "Baekhyun udah gak ada…"
Chanyeol terpekik. Luar biasa terkejut dengan kabar yang ia dengar sekarang. "Lo bercanda, ya? Dia lagi ada sama gue!" Suara Chanyeol bergetar dan ada nada tidak terima di dalamnya. Dia ingin tertawa mengolok-olok Jongin. Baekhyun? Tidak ada? Kekasihnya sudah tidak ada? Konyol!
"Baekhyun punya riwayat penyakit jantung, Yeol… Ternyata ini alesan di balik kenapa kita gak boleh kasih tau Ayah sama Bundanya kalau dia ikut ekskul hapkido, dan juga ngejalanin trainee—"
Ponsel Chanyeol terjatuh. Suara Jongin perlahan-lahan mulai mengecil dan akhirnya tidak terdengar lagi. Chanyeol berlari sekencang mungkin menuju jantung taman, menuju kekasih mungilnya yang tengah menunggu dirinya di sana. Menunggu untuk diberikan hadiah olehnya. Dia ingin membuktikan pada Jongin kalau Baekhyun baik-baik saja.
Pria cantik itu baik-baik saja dan sedang bersama dengannya. Pria cantik itu baik-baik saja dan sedang menunggu hadiah darinya. Bahwa beberapa menit yang lalu, Baekhyun sedang merajuk karena cemburu padanya. Mengatakan padanya kalau lelaki manis itu menyayanginya dengan suara lirih yang menggemaskan. Tidak! Tidak mungkin! Kekasihnya tidak mungkin sudah pergi, iya, kan?
Chanyeol tiba di jantung taman. Sambil berteriak seperti orang yang tengah kehilangan akal, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari-cari keberadaan Baekhyun. Baekhyun ada di sini. Baekhyun benar-benar ada di sini—tadi. Baru saja. Kekasihnya baru saja memeluknya. Menangisinya karena pria itu cemburu dengan kegiatan sekolahnya.
Suara tangisan Chanyeol tersamarkan oleh suara hujan yang semakin deras. Pria itu tidak ada. Kekasih mungilnya tidak ada. Si cantik dengan sifatnya yang pencemburu itu benar-benar tidak ada di sini. Sosok seorang terkasih yang selalu menginginkan perhatian darinya benar-benar sudah tidak ada.
"Baekhyun…" Chanyeol menatap bunga mawar merah yang sedari tadi ia genggam. Lalu tatapannya teralih pada kotak kecil yang di dalamnya terdapat sebuah kalung berliontin hati yang dapat dibuka.
'Kamu tuh gak pernah kangen sama aku, selalu aja aku yang nge-line kamu duluan! Kamu gak tau ya, kalau aku nungguin line dari kamu setiap hari?'
'Aku kangen sama kamu, kamu gak kangen sama aku?'
'Jangan sibuk-sibuk. Aku kan jadi jarang ketemu kamu. Bikin aku cepet bosen dan ujung-ujungnya malah jadi aku yang kangen sama kamu.'
Tadinya, Chanyeol ingin menyerahkan buket bunga ini sekalian memakaikan kalung berliontin hati tersebut kepada Baekhyun. Ia ingin mengatakan, 'Kalau kamu kangen sama aku, kamu bisa liat kalung ini. Di sini, ada foto aku sama kamu. Aku ngambil fotonya diem-diem, loh…'
Chanyeol membuka bandul kalung yang berbentuk hati itu. Di sana, terdapat sebuah gambar. Di mana Baekhyun yang tengah tertidur saat sedang berpesta semalaman suntuk dalam rangka merayakan hari lahirnya. Chanyeol mengecup bibirnya dengan mata terpejam. Mencuri ciuman pertama Baekhyun secara diam-diam. Dan kalung ini… akan sangat berarti baginya. Sekarang. Dan selamanya.
Perlahan tubuh Chanyeol mulai merosot. Dia terduduk di permukaan rumput yang basah. Duduk diam merenungi segala hal yang terjadi dalam satu jam ini dengan mata kosongnya. Dia seperti sedang berada di sudut lorong gelap yang sepi. Sepi, sendirian, dan kesepian. Tidak ada lagi sosok pria mungil itu. Tidak akan pernah ada lagi sosok tercintanya. Tidak. Tidak akan pernah. Pria cantik itu… sudah terkubur. Jauh di dalam benaknya. Hanya di sana. Di hatinya. Untuk di kenang.
Selamat jalan, cintaku. —Park Chanyeol.
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
