I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
My Days Without You
By Logichanbaek
Lagu yang dipilih: Please Say Something Even Its A Lie
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
"KAU SUDAH BERJANJI BAHWA KAU TIDAK AKAN PERNAH PERGI, CHANYEOL!" Baekhyun berteriak parau, tubuhnya mendadak bergetar hebat hingga rasanya ia ingin menjatuhkan lututnya di lantai.
"Kapan aku pernah menjajikan omong kosong itu?" Chanyeol bertanya dengan dingin, memandangi sosok kekasih mungilnya yang telah menjadi mantan dalam hitungan 5 menit yang lalu.
"K-kau menjanjikan ini lima tahun yang lalu, Chanyeol." Baekhyun terisak, hatinya terasa sakit. Bahkan rasanya untuk mengais oksigen pun rasanya sangat sulit.
Chanyeol menatap malas lelaki manis yang berada di hadapannya ini, "kau tahu apa alasan aku ingin mengakhiri hubungan kita?" Baekhyun mengernyitkan dahinya seolah menuntut jawaban dari sang mantan kekasih,
Chanyeol menjilat bibirnya yang terasa kering, menatap tepat diantara mata Baekhyun seolah-olah ingin melenyapkan nyawanya dalam hitungan detik, "karena kau hanya merepotkanku-
-kau terlalu berisik, manja, cengeng,-
-dan kau, hanya menjadi parasit di dalam hidupku, Byun Baekhyun." Chanyeol tetap pada pandangan meremehkannya, dan Baekhyun sangat terkejut mendengarnya.
Tentu saja Baekhyun merasa sakit hati, merepotkan katanya? Cih, bahkan si brengsek ini pernah berkata bahwa bebannya adalah beban Chanyeol juga. Jika begitu, untuk apa Chanyeol terlihat begitu peduli sementara sebenarnya ia merasa direpotkan? Baekhyun menarik nafasnya yang tersendat, sudah cukup emosi yang menguras kesabarannya. Kini ia sadar dengan perkataan teman-temannya, Chanyeol tidak benar-benar mencintainya.
"Baiklah jika kau menganggapku parasit, aku menerima perpisahan ini. Namun, jangan pernah kau datang ke dalam kehidupanku lagi," Baekhyun terisak kembali. Ia ingin berusaha tegar, namun sudah terlalu dalam untuk mencintai Yodanya, terlalu sulit untuk melupakannya yang selama ini mengisi seluruh hidup dan jiwanya, terlalu sakit untuk menghapus seluruh memori yang selama ini dibangun dengan landasan cinta; yang ternyata semua ini hanyalah kepalsuan belaka.
Tapi apa gunanya jika kau mempertahankan seseorang yang bahkan hanya menganggapmu sebagai parasit?
"Aku juga tidak berminat untuk kembali lagi." Chanyeol memunggungi Baekhyun. Sungguh, dalam hatinya ia sangat murka pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membiarkan Baekhyun dengan mudahnya menerima semua ini? Semua rasa sakit ini? Dan juga semua celaan yang ia berikan?
"Baguslah, dan berjanjilah untuk itu. Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, Chanyeollie." Hanya itu kata-kata terakhir yang keluar dari mulut si manis. Sebelum semua ruangan ini benar-benar senyap, Baekhyun kembali bersuara lagi dibelakang punggung Chanyeol, "semoga hari-harimu menyenangkan." Ia berucap dengan nada riang, seakan-akan peristiwa yang baru saja terjadi hanyalah prank. Baekhyunpun berharap begitu, namun terlalu mustahil sepertinya. Chanyeol bukan tipikal pemuda romantis yang suka memberikan prank ataupun kejutan-kejutan manis.
e)(o
Setelah 1 tahun semenjak Chanyeol pergi dari hidupnya, sifat Baekhyun benar-benar berubah total. Ia memang tidak pernah berprinsip 'Aku tidak bisa hidup tanpamu', namun itulah rasanya, Baekhyun tidak bisa menikmati hidupnya barang sedetikpun. Tugasnya hanya menangis, menyesal, dan selalu menunggu Chanyeol untuk pulang, walaupun ia pernah meminta pria itu untuk jangan pernah datang kembali dan berjanji untuk hal itu.
Saat ini Baekhyun menjalani hidupnya yang begitu monoton; bekerja, pulang, menangis. Ia tidak pernah menyangka jika Chanyeol benar-benar membenci dirinya. Tidakkah Chanyeol juga merasakan rindu seperti yang setiap hari Baekhyun rasakan? Bahkan ini hampir seperti membunuhnya secara perlahan. Rindu itu tetap datang dan selalu menimbulkan penyesalan terdalam bagi Baekhyun.
Saat ini Baekhyun berjalan menelusuri trotoar dari sepulang kerjanya. Ketika sedang asik berjalan, kepingan memori teracak bersama Chanyeol mulai tersusun random di otaknya.
"Chanyeol, aku ingin pergi jalan-jalan." Baekhyun menggumam pelan, Chanyeol hanya menjawabnya dengan deheman atau alasan klasik lainnya, seperti; aku sibuk, aku lelah, ataupun -nanti saja.
Baekhyun hanya memakluminya. Kekasihnya memang pria workaholic, sudah sepantasnya ia sibuk dan tidak ada waktu untuk sekedar jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama.
Namun terlalu janggal baginya, jika 1 tahun belakangan ini tidak ada waktu senggang sama sekali. Apakah itu wajar?
Bahkan hanya untuk sekedar refreshing, tidakkah cuti satu hari saja bukan merupakan masalah besar?
Akan tetapi, wajah Chanyeol yang semakin pucat setiap harinya membuat Baekhyun merasa iba. Mungkin saja memang Chanyeol benar-benar lelah? Pikirnya. Toh Chanyeol bekerja juga untuk dirinya nanti, menunjukkan seberapa pantas Chanyeol untuk meminang Baekhyun dan menjadikan suaminya kelak-
Lamunannya terhenti ketika bahunya menabrak sosok tinggi berkulit pucat di hadapannya. Dengan terburu-buru Baekhyun menunduk untuk mengucapkan permohonan maaf secara berulang, melafalkan sifatnya yang ceroboh dan tidak melihat situasi disekitarnya.
"Sekali lagi maafkan aku," Baekhyun bangkit dari tundukannya dan memperhatikan wajah seksama si korban yang tadi Baekhyun tabrak. "Baekhyun-ssi?"
"Kau mengenalku?" Tanya Baekhyun sambil menunjuk wajahnya sendiri. Pemuda itu mengangguk sambil mengulurkan tangannya, "Oh Sehun, teman Chanyeol." Baekhyun menunjukan rasa terkejutnya ketika pemuda yang bernama Oh Sehun ini merupakan teman Chanyeol. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Sehun mengenalnya.
"Bisakah kita mengobrol sebentar, Baekhyun-ssi?" Tawar Sehun, Baekhyun mengangguk pelan sebagai jawaban atas persetujuannya.
Dan disinilah mereka, duduk bersebelahan di bangku taman perkomplekan. Tidak ada satupun suara yang memecahkan keheningan, bahkan satu sama lainpun merasakan atmosfer kecanggungan yang sedaritadi mereka ciptakan sendiri.
Sehunlah orang pertama yang berdehem dan mengalihkan atensi Baekhyun dari segerombolan anak laki-laki yang sedang bermain. "Baekhyun-ssi, beruntunglah aku menemukanmu yang masih ada di wilayah ini. Jujur saja, aku lelah mencarimu sampai ke sudut kota. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan amanat yang Chanyeol berikan kepadaku, tolong terima ini." Sehun memberikan alat recorder berstiker pokemon dan menyodorkannya pada Baekhyun.
Baekhyun terbelalak kaget, dari Chanyeol katanya? Ingin rasanya Baekhyun memaki si pria bodoh itu. Bisa-bisanya ia merasa bahwa dirinya masih dipikirkan, walaupun memang begitu kenyataannya. Dan dimana dirinya sekarang? Apakah sudah tidak ada nyali untuk menunjukan wajahnya di hadapan Baekhyun?
"Aku pergi," Sehun beranjak meninggalkan Baekhyun yang sedang bergerumul dengan pemikirannya.
Baekhyun memasang headset dan mulai menekan tombol play pada alat recorder tersebut. Suara berat yang Baekhyun kenali mulai menyapa indra telinga si manis,
'Hai, Baekhyun. Maaf jika aku pergi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan di dalam benakmu. Jujur saja, aku tidak rela meninggalkanmu seperti itu. Aku takut tidak bisa menjagamu lagi ketika aku pergi. Bagaimana kabarmu? Pasti lebih baik kan tanpaku?-
"Bodoh," Baekhyun mendesis panjang. Lebih baik? Dari mananya?
-aku sangat ingin kembali menyapamu lagi, namun aku teringat akan janji itu, bahwa aku tidak akan menemuimu lagi. Aku cukup menyesal akan hal itu. Dan akupun juga tahu diri, mungkin saja selama aku pergi, kau memiliki penggantiku' kan?-
Baekhyun mulai terisak kecil, mana mungkin ia bisa mendapatkan pengganti Chanyeol sedangkan seluruh otaknya hanya beratensi kepada pria bertelinga besar itu.
-Baekhyun, jaga dirimu baik-baik. Maaf jika aku menyerah dengan hubungan ini. Jika kau rindu aku, datanglah untuk menjengukku ke bukit belakang rumah sakit, disana tempat tinggal baruku, di dekat pohon kenangan kita dulu. Aku selalu menunggumu disini. Aku rasa hanya itu, semoga kita bertemu lagi, Byun Baekhyun. Aku mencintaimu."
Pip
Tak terasa pipi Baekhyun mulai mengalir dengan deras, ia begitu merindukan pria besarnya itu. Maka tanpa berpikir dua kali, Baekhyun bergegas menuju bukit belakang rumah sakit bertransportasi bus umum.
Sebelum menanjak ke bukit, Baekhyun sempat membelikan setangkai mawar putih untuk Chanyeol. Berharap dengan permohonan maafnya Chanyeol akan kembali dan memulai semuanya dari awal bersama Baekhyun.
Sampai ketika ia berada di puncaknya, ia mencari-cari pemukiman ataupun sekedar gubuk yang mungkin akan Chanyeol tinggali. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda kediaman seorangpun disini.
Jelas saja Baekhyun marah, ia merasa seperti dibodohi. Lagipula jika dipikirkan secara logika, siapa juga yang ingin membangun rumah di bukit yang jauh dari pemukiman penduduk? Terasa sulit untuk dipercaya.
Baekhyun terisak, mungkin memang Chanyeol sangat membencinya, sampai ia rela membohonginya dan meminta bantuan temannya -Sehun- untuk bersekongkol dengannya. Namun isakkannya terhenti tatkala matanya menatap lurus kearah wajah Chanyeol yang sedang tersenyum, berjarak 5 meter dari arahnya berdiri.
Baekhyun menggeleng pelan, ia tidak senang, sangat tidak senang-
-karena yang ia dapati adalah senyum Chanyeol di dalam bingkai foto; yang bersandar pada batu nisan bertuliskan Park Chanyeol yang menancap di gundukan pusara.
Baekhyun berjalan menghampiri pusara tersebut, tubuhnya ambruk tepat di gundukan yang berada di hadapannya. Ia meraung dan menangis sejadi-jadinya, berharap bahwa ini hanyalah lelucon.
Namun ini bukan lelucon karena surat di dalam botol yang berada tak jauh dari pusara menjelaskan segalanya, botol yang berlabel 'Jika kau Baekhyun, buka botol ini.' Berisi tentang segala hal yang selama ini Baekhyun pertanyakan.
Baekhyun semakin menangis, menggeleng dengan keras. Kenyataan ini begitu menamparnya. Rasa sesak mulai menggulung-gulung memenuhi rongga dada. Sampai dimana kegelapan menjemput, ia kehilangan kesadarannya.
"Teruntuk: Kekasih tercintaku, Byun Baekhyun
Maafkan aku jika selama ini membuatmu bersedih, membuatmu menangis, dan juga tidak bisa membahagiakanmu. Aku meninggalkanmu bukan tanpa alasan, itu sebuah keharusan, Baekhyun.
Aku tidak ingin kau hidup bersama seseorang yang bahkan mautnya sudah di depan mata. Maaf jika selama ini aku menyembunyikan penyakitku darimu, aku tidak ingin membuatmu bersedih. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi kepergianku.
Maaf jika aku mencampakanmu dihari terakhir kita berpisah untuk selamanya. Aku tidak ingin kau semakin mengharapkanku untuk kembali. Karena pada nyatanya, aku tidak akan pernah kembali seperti permintaanmu, karena waktu untukku hidup tidaklah banyak.
Jaga dirimu, jangan bersedih lagi. Bersenang-senanglah! Cari kekasih baru dan lupakan aku. Semoga kita masih bisa bertemu di surga nanti. Aku selalu menunggumu, Baekhyun. Aku sangat mencintaimu.
-Park Chanyeol
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
