I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
Love Rain
By anisamff
Lagu yang dipilih: Love Rain
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
Karena kau, aku mencintai hujan.
Baekhyun tidak mengerti mengapa Chanyeol bisa menyukai hujan. Yang Baekhyun tahu, Chanyeol sangat menikmati waktu saat terdiam menatap langit, di bawah guyuran hujan.
Lalu setelah puas menatap rintik air, Chanyeol akan menoleh pada Baekhun dengan senyuman menawannya. Dan Baekhyun pun selalu menikmati saat dimana rintik hujan mengisi keheningan lalu menghangatkan hatinya akan senyum menawan milik Chanyeol.
Baekhyun tidak suka hujan.
Baekhyun tidak suka menjadi basah karena air hujan.
Baekhyun tidak suka menjadi kotor ketika terkena cipratan air hujan.
Tapi tidak dengan Chanyeol, membuat Baekhyun terheran oleh kecintaannya.
.
.
Hari itu hujan turun dengan lebatnya setelah musim panas. Hari dimana Baekhyun bertemu dengan Chanyeol untuk pertama kalinya, diawal semester 3 sekolah tingginya, di koridor universitas.
Dengan rasa sebal Baekhyun mengentakan kakinya karena hujan yang turun dengan lebatnya tanpa ia terlebih bersiap akan musim membuahkan hasil duduk di bangku koridor universitas dengan banyak mahasiswa lain yang berteduh.
Dari banyaknya mahasiswa yang berteduh Baekhyun melihat seorang laki-lagi dengan tubuh seperti galah membawa payung di tangan kanannya sedang menengadahkan tangan kirinya untuk menampung rintik hujan yang jatuh sedang mata tertutup.
Bak tersihir, Baekhyun merasakan waktu yang berlalu seakan telah berhenti untuk menikmati siluet indah di depan pandangannya.
Dan ketika pemuda itu menoleh kepadanya, dunia Baekhyun seolah runtuh olehnya.
Telinga perinya, rahang tegasnya, lembab tebal bibirnya, dan kelopak mata angsanya yang menatap Baekhyun dengan teduh, seolah tahu bahwa Baekhyun telah memperhatikannya.
Dengan sebagian rambut dan kaosnya yang basah, ia menghampiri Baekhyun dengan senyuman hangatnya.
Mengulurkan tangannya untuk sebuah perkenalan dengan Baekhyun.
"Hai…" sapanya. "Chanyeol."
"Hai, Baekhyun." balas Baekhyun dengan senyuman yang terselip sebuah keraguan. "Kau membawa payung?"
"Hm, untuk persiapan bila hujan seperti ini."
"Tapi kau tak memakainya untuk pulang, justru kau hanya berdiam. Dan lihatlah kau sekarang basah."
Rentet Baekhyun dipertemuan pertama mereka yang dihadiahi tawa manis sosok bernama Chanyeol.
"Aku menyukai hujan. Aku ingin menikmati sebentar waktuku di guyuran air hujan."
"Lalu mengapa kau tidak hujan-hujanan sekalian dan memberikan payungmu saja pada orang lain?"
"Kalau begitu bagaimana jika kau menemaniku hujan-hujanan dan memberikan payung ini kepada teman yang lain."
"Aku tidak suka hujan. Membuatku demam."
"Baiklah, kalau begitu pakai payung ini dan pulanglah, hari semakin sore dan udara semakin dingin. Aku tidak ingin jika orang secantik dirimu akan sakit." tawar Chanyeol dengan kekehan manis.
"Yak, kau mengejekku?"
"Haha, segeralah pulang. Bibirmu membiru."
Baekhyun menerimanya dengan mencebikan bibir. Berlalu sambil mengucapkan terima kasih. Lalu esok harinya, mengumpati dirinya sendiri yang tidak menanyai lebih lanjut pemuda bernama Chanyeol.
Malaikat payungnya.
Namun, karena ramahnya Baekhyun, ia bisa dengan cepat menemukan Chanyeol.
"Park Chanyeol, ilmu komunikasi." gumam Baekhyun berjalan di lorong gedung Fakultas Ilmu Komunikasi dan dengan segera menemukan tubuh tinggi dengan telinga lebar seorang Park Chanyeol diujung lorong.
"Chanyeol!"
Menoleh dan berbalik dengan senyum, Chanyeol menghampiri Baekhyun.
Memulai pertemanan dan bercengkrama satu sama lain karena hal sederhana.
Mereka berteman dengan baik dan sering terlihat menghabiskan waktu bersama, karena entah karena suatu hal mereka berdua merasa cocok, kecuali hujan.
Dan karena satu hal aneh itu, Chanyeol ingin membuat Baekhyun menyukai hujan. Ingin mengenalkan Baekhyun pada indahnya hujan.
Ketika hujan turun, Chanyeol akan mengajak Baekhyun duduk di balkon sambil menengadahkan tangan. Menampung titik air dikedua telapak tangan mereka.
Atau menyesap coklat panas di dekat jendela sambil menatap rintik hujan yang menerpa mengetuk jendela. Baekhyun mulai menyukai hujan, hanya itu.
Hingga suatu kalimat terucap dari bibir tebal sosok yang telah Baekhyun anggap sebagai sahabat disaksikan rintikan hujan bak bah.
"Bi, aku menyukaimu. Aku mencintaimu."
Dan entah karena apa Baekhyun, menatapnya tak percaya.
Berlari di tengah derasnya hujan sambil menangis.
Pulang dengan badan badan kuyup dan lelehan air mata, Baekhyun tanpa sadar terlelap. Memupuk demam yang menyerang dirinya di esok hari.
Dengan rasa khawatir Chanyeol mendatangi apartemen milik Baekhyun dan menemukan Baekhyun dengan bibir pucat dan suhu yang menyengat di kulitnya.
Dengan segera Chanyeol mengganti baju Baekhyun yang dirasa lembab dan menggompres kening Baekhyun dengan air hangat.
Dengan telaten merawat Baekhyun hingga Baekhyun tersadar dari tidurnya.
Dengan rasa lemah dan pusing, Baekhyun mengusir Chanyeol dan seakan menolak kehadiran Chanyeol.
"Pergilah Chan. Aku tak ingin melihatmu sungguh."
"Kumohon, Baek. Aku tak mungkin meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini."
…
"Baiklah. Makan bubur mu selagi masih hangat dan segera minum obatmu, okay?"
"Pergilah, terimakasih."
Dengan berat hati Chanyeol meninggalkan Baekhyun. Keduanya sama-sama meneteskan air mata tanpa diketahui satu sama lainnya juga.
.
.
Entah apa yang terjadi, setahun telah berlalu tanpa tawa mereka berdua menghiasi sisi dunia.
Chanyeol yang hilang entah kemana bak ditelan bumi.
Baekhyun yang mulai menutup diri dan seolah acuh pada apa yang pernah terjadi.
Hari terus berlalu, hingga pada saat yang dulu ia benci datang kembali.
"Hujan."
"Chanyeol."
Dengan cepat Baekhyun menggelengkan kepalanya dan seakan tidak ingin memikirkan apapun tentang Chanyeol.
Hari segera berlalu digantikan oleh malam.
Dengan hembusan angin yang menusuk kulit serta gerimis hujan yang menapak tanah dan memukul jendela kamar Baekhyun. Seakan menyadarkan Baekhyun bahwa semua tak lagi sama.
Bagaimana dia dulu tidak menyukai hujan dan beralih mengagumi hujan, ditemani coklat panas dan senyum menawan milik sahabatnya yang tanpa diduganya menyatakan cinta padanya.
Mengingatkannya bagaimana ia menembus hujan yang deras untuk meluruhkan rasa yang mulai tumbuh di hatinya pada saat itu.
"Berapa banyak malam dengan rintikan hujan terus berlalu dengan bayanganmu? Berapa malam lagi harus kuhabiskan akan penyesalan dan sakit, Chanyeol." lirih bibirnya disertai sungai yang perlahan terbentuk di pipinya.
Memukul dadanya atas sesak yang perlahan menghampirinya.
"Chanyeol." panggilnya lagi dengan lirih di tengah dinginnya malam.
.
.
"Huh…" Baekhyun menghembuskan nafasnya letih ketika mengetahui malam ini hujan turun lagi. "Untung saja aku membawa payung." eluhnya masih menatap jalan basah dari dalam café tempatnya bekerja part-time.
Ting tong!
"Selamat ma…lam." sambut Baekhyun dengan lirih kepada pelanggan yang baru saja datang dengan basah kuyup.
"Baekhyun." raut kaget Chanyeol tunjukan pada Baekhyun.
Dengan segera Chanyeol melangkahkan kakinya untuk keluar namun segera dihalangi oleh sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Menggeleng dengan banyak dan mengucapkan rindu.
"Maafkan aku, Chanyeol. Maafkan aku. Aku merindukanmu, sungguh." ucap Baekhyun dengan diiringi isakan kecil dari bibir peachnya.
Dengan perlahan, Chanyeol menurunkan tangan yang bertengger di pinggangnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Baekhyun. Memegang bahu yang lebih kecil dan mengangkat dagunya.
"Hei." sapa Chanyeol dengan bergetar.
"Chanyeol. Tunggu sebentar oke? Sebentar lagi café akan ditutup. Kau mau kan pulang bersamaku?" ucap Baekhyun dengan kalut entah karena apa.
"Huum, aku akan menunggumu. Segeralah, bajumu basah karenaku. Aku tidak ingin jika orang secantik dirimu akan sakit."
Dan segera senyum merekah tercipta di belahan bibir keduanya.
"Baek," panggil Chanyeol ketika Baekhyun akan berlalu, "apakah aku masih bisa memesan 2 americano?"
"Tentu saja!"
Baekhyun keluar dari counter dengan baju gantinya yang lebih santai, menjinjing tas, dan membawa dua gelas americano di kedua tangannya.
"Satu untukmu!"
"Tapi aku kan memesan 2, Baek?"
"Aku tahu yang satu untukku." ucap Baekhyun dengan ceria dan penuh percaya diri.
Balas Chanyeol dengan senyum yang entah mengapa di mata Baekhyun terlihat kaku. "Ayo, Baek."
Setelah Baekhyun menutup pintu dan jendela café, Baekhyun dan Chanyeol berlari kecil di tengah hujan, melupakan payung yang tersedia di dalam café.
"Bi." panggil Chanyeol di dalam keheningan mobil.
"Ke apart ku dulu, Chan." jawab Baekhyun seolah tahu apa yang ingin Chanyeol katakan dan dibalas dengan senyum menawan milik Chanyeol yang pernah membuat waktu berhenti sejenak dan berpihak pada dirinya.
Sesampainya di apartemen Baekhyun, mereka berdua berganti baju kering. Chanyeol telah berganti baju miliknya dulu yang masih tertinggal di apartemen Baekhyun yang membuat Chanyeol semakin merindukan Baekhyun.
Terduduk di meja makan kecil sambil ditemani americano yang mulai mendingin dan suara rintikan hujan yang tiada lelah memukul jendela apartemen Baekhyun menemani tangisan tanpa suara milik Baekhyun.
"Baek? Ada apa? Apa yang terjadi? Hey?" cemas Chanyeol ketika bertanya.
Tangis yang ditahan Baekhyun pun pecah dan Chanyeol dengan sigap meraih kepala Baekhyun untuk ditariknya dalam pelukannya.
Menenangkan Baekhyun dan mendengarkan tiap untaian cerita yang Baekhyun kisahkan.
Dimulai dari berantakan hubungan orang tua nya hingga ia takut untuk jatuh cinta. Kerasnya sosok ayah dalam hidupnya, membuatnya takut mengenal cinta yang membutakan.
Bagaimana ia menjalani harinya sebelum Chanyeol hadir dan membawa keceriaan dalam dirinya. Banyaknya malam yang Baekhyun habiskan dengan rasa sakit untuk menekan perasaannya pada Chanyeol karena ketakutan-ketakutannya pada masa lalu buruk yang disebabkan orang tuanya.
Hingga hari dimana hujan mengguyur dengan deras Chanyeol mengunggapkan perasaannya, yang Baekhyun ingin lakukakn ialah lari dan menghentikan rasanya. Namun, hingga detik ini pun apa yang ia harapkan tak terwujud, justru semakin membesar dan tak terhenti.
"Kau pergi selama satu tahun tanpa kabar apa pun, lalu kau muncul begitu saja seperti hujan. Dan aku tak akan melewatkanmu lagi, aku tidak bisa menghindarimu lagi. Aku menyukai senyummu, aku menyukai bibir tebalmu, aku menyukai telinga perimu, aku merindu semua darimu, dan aku mencintaimu, Park Chanyeol."
Chanyeol tersenyum dan mengangkat dagu Baekhyun untuk mendongang, "Bi, kau tahu alasanku menyukai hujan? Karena ketika aku merasa sedih, resah, gelisah, dan kecewa, hujan akan datang meluhkan semua sedihku. Dan kau harus meluruhkan sedihmu sekarang di tengah rintikan hujan. Tutup matamu, dengarlah rintikan hujan diluar sana."
Baekhyun yang seakan terhipnotis oleh Chanyeol melakukan apa yang diminta Chanyeol dan merasakan ketenangan mendengar rintik hujan yang mengenai jendela apartemennya.
Merasaakan ciuman penuh damba di kening lalu matanya.
Merasakan hembusan nafas hangat di bibirnya, dan mendengar alunan indah dari Chanyeol, "Aku mencintaimu, dengan sangat, Bi. My loneny Baekhyun."
"Aku juga, Chan. Aku mencintaimu."
.
.
Baekhyun menyukai hujan, sama dengan cara Chanyeol yang sederhana untuk menyukai hujan. Baekhyun menyukai rekah senyum Chanyeol ketika hujan, dan Chanyeol menyukai sederhana Baekhyun memaknai hujan. Baekhyun jatuh cinta pada hujan, seperti bagaimana ia jatuh cinta pada Chanyeol.
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
