I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
A Day
By Gyoulight
Lagu yang dipilih: You
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
Matahari mulai menyapa saat burung-burung mulai bertengger di dekat jendela. Tak lupa bernyanyi riang sambil berdansa dengan korden yang bertiup. Angin pagi kembali menerbangkan kelopak sakura yang gugur. Memberikan aksen merah muda pada rumput hijau di halaman dan sebagiannya lagi berhasil menerobos masuk lewat jendela.
Dari jendela dapur, ketukan panci atau suara air mendidih selalu menjadi alarm pagi si tinggi Chanyeol. Lengan kaos abu-abunya hanya digulung hingga setengah lengan. Masih dengan rambut berantakan khas bangun tidur, serta lilitan apron putih di pinggangnya. Ia baru saja mencuci beberapa sayuran ketika sosok brunette berhasil menarik atensinya.
Si brunette turun ke dapur dengan wajah bantalnya, ia mencoba menemukan gelas-gelas kosong untuk pasangan airnya. Chanyeol yang berdiri di dekatnya hanya bisa tersenyum, sesegera mungkin ia mengeringkan tangannya dari air. Tanpa bicara ia mengusak surai lembut itu sebelum mengambilkannya sebuah gelas lucu─yang tersimpan di dalam rak tinggi. "Good morning, sweety."
Si brunette hanya berkedip, menunggu gelas airnya diisi oleh si tinggi. Pemuda itu menguap beberapa kali, mengusak matanya atau menggaruk tengkuknya yang mungkin saja gatal. Dan ia masih saja tak perduli pada rambutnya yang masih berdiri─berantakan.
"Bagaimana tidurmu?" tanya Chanyeol yang asyik memperhatikan kekasihnya. Menunggunya menghabiskan minum, sambil menyugar rambutnya yang berantakan. "Kau berantakan sekali."
Si brunette meletakkan gelasnya di atas counter. Menyeka air yang meleleh di sudut bibirnya sambil menangkap sosok tinggi di depannya. "Kemarilah," pintanya.
Si tinggi kemudian menoleh padanya. Merasa tak masalah saat melupakan irisan bawang dan sayur yang mungkin harus cepat diselesaikannya. Nyatanya, si brunette diam-diam sudah mendekat padanya. Menarik kerah kaosnya hingga ia sendiri harus sedikit menunduk. Tak segan ia menghirup aroma madu dari si wajah lugu itu. Chanyeol pun penuh senyum kala mata kantuk itu mencoba menggapainya. Sampai pada si brunette yang memberinya sebuah kecupan manis selamat pagi. "Good morning, my sunshine," bisiknya mesra di telinga.
Chanyeol kemudian meraih pinggang mungil si brunette-nya. Ingin memberi kecupan versinya, tapi sebuah tangan lebih dulu menginterupsi. "Aku harus mandi, Okay? Kau pasti tak ingin melihat pasien-pasienku menunggu."
Chanyeol mengangguk mengerti, namun ia berhasil mencuri satu kecupan di pipi kekasihnya. "Kau punya waktu malam ini kan?"
Bola mata si brunette otomatis berputar lucu. Jemari lentiknya ia tempelkan pada dagunya yang sempit. Andaikata hari ini adalah hari liburnya, Chanyeol mungkin sudah nekat memboyong tubuh itu kembali ke kamar.
Pemuda brunette itu kemudian melirik sedikit bahan sarapan yang dibuat kekasihnya. Ia baru saja mencoba menebak menu apa yang akan ia makan pagi ini. "Akan ku usahakan," jawabnya mengangguk ragu.
"Akan kutunggu." Pemuda tinggi itu kemudian melepaskan kekasihnya. Membiarkan punggung sempit itu menaiki tangga untuk mendapatkan mandinya.
Pagi Chanyeol selalu dimulai di atas meja makan. Dengan ia yang menata hasil pertarungannya di dapur. Sampai ia yang menemukan kekasihnya turun dengan pakaian serba putih. Ia lalu dihadiahi senyum menawan oleh si brunette Baekhyun, lengkap dengan pujian panjangnya. Wajah itu bahkan terlihat jauh lebih segar. Cerah sekali. Karena tak ada lagi mata lelah yang sejam lalu menghantuinya. Walaupun sayangnya wajah itu akan sangat kusut saat pulang nanti.
Chanyeol akan menjadi pendengar yang setia saat sosok itu menceritakan rutinitasnya di rumah sakit. Menceritakan kekonyolan pasien-pasiennya atau rekan-rekan dokternya yang bermain peran dalam ceritanya. Chanyeol senang saat Baekhyun punya kekuatan untuk menghidupkan berbagai kisah yang diceritakannya. Kikikan lucunya bahkan mampu membuat pagi Chanyeol menghangat bagai kepulan uap kopi yang dibuatnya sendiri.
"Sehun meletakkan banyak timun di makan siangku kemarin," ceritanya selalu penuh dengan semangat. "Lalu Luhan memukul kepalanya. Aku hanya terkejut ketika Luhan membelaku." Bibir mungilnya masih terus bercerita sambil mengunyah sarapannya.
"Darimana Luhan tahu kalau kau benci timun?" sambung Chanyeol antusias. Ia selalu tertarik dengan cara kekasihnya itu menghidupkan cerita.
"Aku memberitahu Luhan karena tak sengaja semeja dengannya saat makan siang. Aku kira dia orang yang tidak seru," tuturnya menjemput segelas susu. Meminumnya sampai habis lalu mengecek arlojinya. "Oh, aku harus pergi sekarang."
Chanyeol segera meletakkan sumpitnya. Memeriksa sebentar sarapan kekasihnya yang kali ini habis tak tersisa. Tapi tak seperti hari lainnya, kekasihnya itu malah semakin terburu-buru.
Keduanya kemudian beranjak dari sana. Dengan Chanyeol yang membawakan Baekhyun tasnya masuk ke mobil. Tak lupa membukakan kekasihnya pintu hingga pelukan selamat jalan mengalung di pinggangnya. "Kau juga harus segera mandi, Yeol," ceramah Baekhyun sembari menyentil hidungnya. Seperti biasa, kekasihnya itu akan sangat cerewet saat akan berpisah dengannya. "Jangan melirik siapapun di resto, ingat?"
Chanyeol menjadi tak bisa berhenti tersenyum karena kekasihnya. "As you wish baby," bisik Chanyeol tepat di telinga. Dan itu membuat senyum Baekhyun mengembang sempurna.
Chanyeol tak pernah tahu jika menjadi seorang koki adalah takdir besarnya. Ia bahkan tak pernah bercerita pada ibu dan ayahnya jika ia lebih menginginkan jabatan koki di restoran dari pada CEO perusahaan otomotif ayahnya. Alhasil ia dibuang ayahnya tanpa sepeser uang dalam genggaman. Namun berbeda dengan ibunya yang tak tinggal diam akan itu. Ibunya akan diam-diam mengirimkannya uang dan makanan di waktu tertentu. Dan sejak saat itulah, Chanyeol tak ingin menyerah dengan sesuatu yang dikejarnya.
Chanyeol lebih suka bersembunyi di dapur. Bermain dengan bahan-bahan makanan, menciptakan resepnya sendiri atau memuaskan pelanggan restoran dengan hasil masakannya. Meski bukan restorannya, ia cukup mampu mendapatkan banyak apresiasi di dapur. Hal ini membuat ia dipercaya menjadi chef utama untuk yang pertama kalinya.
Dimasa persembunyiannya, makanan yang ia masak justru mempertemukannya dengan Baekhyun. Sosok pemuda mungil berisik yang juga berhasil memporak-porandakan hatinya. Entahlah, bagian mana yang ia sukai dari Baekhyun. Rambut brunette-nya yang indahkah? Matanya yang berbinar bak bintangkah? Atau mungkin wajahnya yang manis bukan kepalang? Chanyeol tak pernah tahu mana yang lebih menonjol dari rasa cintanya. Karena segala hal tentang Baekhyun selalu indah di matanya.
Baekhyun selalu suka masakan yang dibuatnya. Terlebih sup Galbi. Pemuda itu akan selalu memesan sup Galbi jika akhir pekan tiba. Katanya, sup Chanyeol adalah sup terbaik yang pernah dicicipinya. Namun Chanyeol hanya menganggapnya bercanda tentang itu. Karena masih banyak koki yang lebih pandai membuatnya.
Tapi hari ini Chanyeol nekat memasak sup Galbi di dapurnya. Berusaha yang terbaik, hingga lupa bahwa jam telah berjalan begitu cepat. Namun ia merasa beruntung saat Baekhyun belum juga muncul di rumahnya. Sehingga ia cukup lega ketika sup itu berhasil ia pindahkan ke dalam mangkuk. Tak lupa menghias meja dengan lilin dan bunga. Ditambah dengan hadiah spesial yang hanya diperuntukkan untuk pujaan hatinya.
Chanyeol tersenyum memandangi hasil karyanya. Tak lupa berlari naik ke kamarnya untuk bersiap. Mengganti bajunya yang berbau api, atau mencuci wajahnya yang terkena polesan bumbu. Oh, ia sungguh tak sabaran menunggu Baekhyun-nya pulang.
Setelah lama menanti, pintu rumah pun segera berbunyi. Ia bisa melihat sosok Baekhyun yang masuk dengan wajah lelahnya. Kaki mungilnya akan menjejak ketika Chanyeol akan menyambutnya. Membawakannya tas atau menyambut pelukannya seperti biasa. Namun nampaknya tidak untuk hari ini. Baekhyun terlalu lelah untuk melakukan kebiasaan kecilnya.
Chanyeol berusaha paham saat Baekhyun kembali dengan kondisi menyedihkan. Hening dari kekasihnya itu membuatnya menunggu. Memposisikan dirinya untuk siap dengan permohonan apapun jika Baekhyun membutuhkannya. Tapi yang membuatnya murung adalah Baekhyun terkadang akan lupa pada janji makan malam yang mereka buat.
Pemuda mungil itu hanya menyapanya tanpa melirik sedikit pun ke arah meja makan penuh lilin. Menaiki anak tangga sambil melepas jas putihnya. Terlebih tak peduli pada Chanyeol yang terus mengekor di belakangnya.
"Harimu pasti melelahkan," gumam Chanyeol yang meletakkan tas kekasihnya. Sedangkan kekasihnya sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia kemudian memilih membelai sayang rambut Baekhyun. "tapi kau belum makan malam."
"Aku tidak lapar," lirih Baekhyun yang semakin terpejam. Tangannya lalu mencoba menggapai jemari Chanyeol yang masih menyisir rambutnya.
Si tinggi tersenyum gemas lalu berbisik di telinga kekasihnya. "Setidaknya kau harus mengganti bajumu, hm?" Baekhyun masih terpejam, tak bergerak ia dari posisinya. "Kau juga harus makan─oh, kau juga harus mandi dan menggosok gigimu," kekeh Chanyeol sambil mencubit pipi kekasihnya yang sedikit berminyak.
Chanyeol masih berusaha membuat Baekhyun terjaga. Hal ini tentu tak terjadi sekali atau dua kali dalam hidupnya. Ia sangat paham Baekhyun yang seperti ini. Dan ia akan tahu, kapan Baekhyun akan terbuai dalam tidurnya. Karena setahunya, Baekhyun tak akan langsung tertidur saat lelah. Ia hanya ingin menyandarkan kepalanya yang berat sebentar. "Kau mendengarku?"
"Chanyeol aku lelah sekali," keluh Baekhyun bergerak tak nyaman di sampingnya. Ia bahkan berkali-kali membuang lengan Chanyeol yang mencoba memeluknya. Ia seperti tengah memohon untuk diberi waktu sendiri, namun ia berubah kesal karena Chanyeol tak pernah menyadari kerisihannya.
"Aku lelah Chanyeol! Mengertilah sedikit," pekik Baekhyun yang demi Tuhan mengejutkan Chanyeol hingga tulang. "Kenapa kau tak pernah mengerti?"
Chanyeol menyernyit heran. Ia tentu tak pernah menemukan Baekhyun yang berteriak seperti itu padanya. "Hei, apa yang membuatmu begini?" tanya Chanyeol sabar. Ia meraih jemari kekasih mungilnya. Memohon untuk tidak menuruti emosinya. "Apa sesuatu terjadi?"
Baekhyun menghempas tangan kekasihnya. "Pergilah Chanyeol, aku lelah. Kau seharusnya mengerti posisiku."
Chanyeol mendudukkan dirinya. Hanya bisa menatap kekasihnya yang kini berbalik memunggunginya. "Justru karena aku mengerti posisimu─"
"Kau tak pernah mengerti apa yang terjadi padaku, Chanyeol."
"Bagaimana aku bisa mengerti jika kau tak mau menceritakannya padaku?" Chanyeol kembali menyentuh lengan kekasihnya. Menepuknya pelan ketika dilihatnya tubuh itu bergetar. "Ceritakan padaku, hm?"
Chanyeol ikut hancur ketika tahu Baekhyun sekacau ini. Ia pun tak bodoh, ia sungguh menyadari kekasihnya itu sangat berusaha untuk terlihat kuat di matanya. Baekhyun ingin ia tak melihatnya menangis seperti anak kecil. "Katakan, siapa yang berani membuat babyku ini murung?"
Baekhyun masih diam menenggelamkan wajahnya. Tak berani menunjukkan wajahnya yang kini diguyur air mata.
Chanyeol berubah iba pada Baekhyun. Ia pun tak mengerti mengapa kekasihnya itu masih saja nekat menyimpan masalahnya sendiri. "Baek, aku disini. Aku selalu di sisimu. Kau masih ingat perkataanku minggu lalu? Apapun yang terjadi, datanglah padaku. Katakan padaku apapun yang ingin kau ceritakan. Apapun."
Baekhyun akhirnya mendudukkan dirinya. Menunduk ia menyembunyikan wajahnya. "Mereka merendahkanku, Chanyeol." lirih Baekhyun bergetar.
Chanyeol segera meraih Baekhyun ke dalam pelukannya. Menyembunyikan isakan kekasihnya yang mulai semakin menjadi. "Siapa yang merendahkanmu?"
Baekhyun balas memeluknya erat. Menenggelamkan kepalanya semakin kuat pada dada bidang kekasihnya. "Mereka bilang aku tak bisa melakukannya. Mereka bilang operasi yang timku tangani tak berjalan dengan baik karenaku."
"Tidak. Mereka pasti salah," bisik Chanyeol selembut mungkin. Ia ingin Baekhyun segera membuang segala pikiran buruknya.
"Mereka mengatakannya, Chanyeol. Semua orang mengatakannya."
Chanyeol menyugar surai lembut kekasihnya. "Semua pasti pernah melakukan kesalahan, sayang. Aku juga pernah melakukannya."
Baekhyun kemudian melepaskan pelukan Chanyeol padanya. Sedikit mendongak ia mencari sebuah kebohongan pada wajah kekasihnya. Karena ia yakin Chanyeol pasti akan membelanya. Mendukung apapun yang ia pikirkan. "Jadi kau mau bilang ini juga salahku?"
Chanyeol berusaha menahan tawanya saat melihat wajah sembab Baekhyun. Ia merasa gemas sendiri saat mata bulan sabit itu berkedip lucu menatapnya. Terlebih bibir mungil itu kini mencebik karena kesal. "Maksudku, kau sudah berusaha semampumu. Kalaupun tidak berjalan dengan baik, itu hanyalah jalan takdir. Sebenarnya kau sudah berhasil, hanya saja Tuhan tidak mau keberhasilanmu terlihat hari ini."
Baekhyun berkedip sebentar sebelum menggaruk hidungnya. Ia sesungguhnya sangat bahagia karena Chanyeol selalu ada untuk menghiburnya. "Kau pasti sedang mencoba menghiburku."
"Kau bisa mencobanya lagi lain kali. Kau pasti bisa membuktikan pada mereka suatu hari nanti." Chanyeol beralih membenarkan kemeja kusut dan merapus sisa air mata Baekhyun. Tersenyum ia menatap sepasang manik hitam itu. "Sekarang kita makan, okay? Kau pasti lupa dengan janji kita."
"Janji?" Baekhyun berubah bingung.
Chanyeol menyentuh hidung mungil itu. "Makan malam untuk anniversary kita."
Si brunette mengulum bibir tipisnya. Ia rasa, ia ingin menangis haru sekarang. Bagaimana mungkin ia merusak hasil kerja keras Chanyeol untuk anniversary-nya? "Ya Tuhan, Chanyeol. Maafkan aku."
"Ayo," ajak Chanyeol menarik lengan kekasihnya.
"Kau tak marah padaku?" Chanyeol menggeleng dalam senyumnya. Dan Baekhyun segera memeluknya penuh sesal. "Maafkan aku, Chanyeol. Kau pasti tahu kan? Aku selalu mencintaimu."
Chanyeol pun menyambut pelukan itu dengan penuh suka cita. "And I love you too, baby."
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
