I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present

.

WHITE POENY

By galxy

Lagu yang dipilih: Miss You

Chanyeol x Baekhyun

.

Disclaimer:

Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!

Happy Reading!

.

.

Tetesan air hujan mulai menyentuh bumi, semakin lama hujan makin deras. Orang-orang mulai berlarian menghindari air hujan, seakan itu adalah sesuatu yang akan merusak apa pun yang disentuhnya. Bau hujan yang khas mulai tercium membuat kenangan masa lalu otomatis terlintas. Chanyeol menghirup bau udara yang khas itu, tangan besarnya dia tadahkan untuk menyambut jatuhnya air hujan, dia mendongak ke langit melihat awan yang sudah menjadi abu-abu. Kelam.

Etalase sebuah toko bunga tidak membuatnya jauh dari air. Chanyeol mulai kedinginan, baju dan rambutnya juga basah. Dia meniup kedua telapak tangan dan menggosok-gosokan untuk mencari kehangatan.

'KRING'

Pintu toko terbuka lalu memperlihatkan seorang lelaki yang tiba-tiba menarik lengan Chanyeol masuk ke dalam. Seketika Chanyeol ingin berteriak karena terkejut, tapi hal itu dia urungkan saat melihat toko bunga kecil itu terlihat manis. Berbagai bunga terpajang di sana, bau khas bunga yang wangi juga tercium dimana-mana. Matanya terlalu asyik menelusuri toko tersebut sampai lelaki yang menariknya tadi cemberut.

"Hei! Aku tahu tokoku memang jelek, tapi jangan memandanginya seperti itu" kata lelaki itu sedikit mendongak karena tinggi mereka yang terlampau jauh.

Mata Chanyeol beralih untuk menatap lelaki yang menurutnya mungil, dia terdiam beberapa saat sampai lelaki itu memegang pipinya. Tangan kecil yang hangat itu membuat pipi Chanyeol terasa hangat kembali.

"Jangan mengabaikanku" kata lelaki itu lagi, dia menatap mata Chanyeol dengan tatapan kesal. Lalu dia menarik tangannya dari pipi Chanyeol ketika pipinya mulai terasa panas.

"Pasti kau kedinginan, aku akan membawakan sesuatu untukmu. Kau duduk saja di mana pun yang kau inginkan" si mungil berlari kecil ke belakang bagian tokonya. Chanyeol duduk di sofa coklat disebelah sebuah vas bunga peony berwarna putih. Lelaki mungil itu kembali dengan handuk serta secangkir coklat yang hangat. Dia memberikannya pada Chanyeol.

"Astaga aku lupa mematikan kompor!" teriaknya tiba-tiba lalu melempar handuk itu pada wajah Chanyeol. Dia berlari ke belakang lagi dengan kecepatan yang tidak bisa diremehkan.

Sedangkan Chanyeol tersenyum kecil melihat tingkah si mungil yang sangat menghibur. Chanyeol menikmati coklat panas ditangannya sambil melihat lelaki mungil itu kembali dengan seember bunga mawar. Dia menaruh ember itu dengan kasar.

"Astaga kenapa ember ini berat sekali" keluh si mungil, sedangkan Chanyeol tersenyum melihatnya.

"Siapa namamu?" tanya Chanyeol pada si mungil, "Oh ternyata kau bisa bicara!?" kata si mungil dengan ekspresi yang menyebalkan bagi Chanyeol. Perubahan wajah Chanyeol membuat Baekhyun menyesal mengatakan ucapannya barusan.

"Dari tadi kau hanya diam saja, jadi aku kira kau bisu hehe" kata si mungil sambil menunjukkan dua jarinya dan tersenyum. Lalu dia berjalan mendekat dan duduk disamping Chanyeol. Tangannya dia ulurkan dengan bangga sambil berkata, "Byun Baekhyun, panggil saja Baekhyun"

"Chanyeol" kata Chanyeol sambil menerima uluran tangan Baekhyun. Setelah itu mereka saling menarik tangan masing-masing dengan senyum canggung.

"Terima kasih atas bantuanmu, Baekhyun" kata Chanyeol sambil menatap manik mata milik Baekhyun, si mungil tersenyum lebar atas ucapannya. Senyuman dari Baekhyun membuat Chanyeol ikut tersenyum. Suasana hangat telah menggantikan dinginnya hujan, mereka mulai merasa ada suatu ikatan diantara keduanya. Ikatan yang tertali dengan erat.

.°•○ WHITE ○•°.

Di hari berikutnya, Chanyeol kembali ke toko milik Baekhyun, dia ingin berkonsultasi tentang bunga. Sejujurnya itu hanya alasan Chanyeol agar bertemu dengan Baekhyun lagi. Tapi Chanyeol membatalkan niatnya karena dia melihat Baekhyun yang terlihat bertengkar dengan seseorang. Bahkan suara teriakan terdengar dari luar, Chanyeol pergi menjauh dari sana karena tidak ingin mengganggu. Walaupun dia juga penasaran dengan apa yang membuat mereka saling berteriak.

Keesokan harinya Chanyeol pergi kesana lagi, tapi yang didapatinya hanya tulisan close tertempel dipintu. Selama 3 hari Chanyeol selalu datang, dia tidak pernah bosan karena dia sangat ingin bertemu dengan Baekhyun. Bahkan rasa khawatir semakin bertambah setiap waktunya. Penantian Chanyeol akhirnya terbayar saat toko itu kembali buka. Dia segera masuk dan mencari keberadaan Baekhyun. Tapi didalam hanya ada kumpulan bunga yang mungkin makin bertambah.

Chanyeol menghela nafas lalu duduk disofa yang pernah dia duduki 3 hari yang lalu. Dia menutup mata sejenak, tapi mata itu tetap tertutup dengan dengkuran pelan yang mulai terdengar.

Sambil membawa sekeranjang buah, Baekhyun masuk ke tokonya. Dia kaget saat melihat Chanyeol tertidur. Baekhyun memukul kepalanya pelan sambil mengutuk dirinya saat lupa mengunci toko. Lalu dia meletakkan keranjang buahnya dan mendekati Chanyeol dengan mengendap-endap. Dia terkekeh saat melihat wajah polos Chanyeol yang menurutnya sangat tampan. Jarinya tanpa malu menusuk pipi Chanyeol berkali-kali sampai pemiliknya terganggu.

Mata Baekhyun terus menyelusuri tiap pahatan wajah sempurna milik Chanyeol. Dia terkekeh lagi saat melihat Chanyeol terlihat kesal karena Baekhyun tadi meniup wajahnya. Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membuatnya terjatuh karena terkejut. Mata mereka saling menatap saat wajah mereka sangat dekat.

"Apa kabarmu?" Kata pertama Chanyeol setelah mereka terdiam. Baekhyun yang gugup menarik dirinya dari Chanyeol dan menetralkan nafas dan detak jantungnya.

"Aku baik-baik saja, kau?" tanya Baekhyun balik, dia mencoba menyibukkan diri dengan memotong duri bunga mawar.

"Aku juga" jawab Chanyeol sambil menatap punggung mungil Baekhyun. "Chanyeol, apa yang membuatmu kemari?" Pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol berfikir untuk mencari alasan yang terbaik.

"Umm aku ingin membeli beberapa bunga untuk Ibuku" kata Chanyeol, dia menghela nafas lega karena telah mendapat alasan yang masuk akal.

"Apa yang disukai Ibumu?" tanya Baekhyun mulai menatap Chanyeol. "Aku tidak yakin tapi sepertinya bunga mawar" kata Chanyeol asal, dia hanya mengucapkan apa yang ada dipikirannya.

"Baiklah, tunggu disini aku akan mengambilkan bunganya" setelah berkata demkian, Baekhyun mengambil beberapa bunga mawar lalu membungkusnya dengan kertas dengan hiasan yang indah. Chanyeol tersenyum saat melihat Baekhyun terlihat bahagia saat menata bunga untuknya, ah maksutnya ibunya.

Baekhyun memberikan buket bunga itu pada Chanyeol, lalu dia duduk disamping Chanyeol. "Kenapa harus berwarna putih? Sepertinya warna merah terlihat bagus" kata Chanyeol sambil memegang bunga itu dan memperhatikannya.

"Bunga mawar putih memiliki makna cinta yang sejati, kesucian serta kemurnian hati. Cinta seorang ibu kepada anak-anaknya pastilah merupakan cinta sejati yang suci juga murni. Itulah aku memilih warna ini" jelas Baekhyun dengan percaya diri, Chanyeol tersenyum melihat ekspresi Baekhyun yang selalu berubah saat berbicara.

"Baiklah profesor bunga, aku percaya padamu" kata Chanyeol sambil mencubit pipi si mungil, sedangkan korbannya hanya merengek karena kesakitan.

"Omong-omong kenapa beberapa hari yang lalu tokomu tutup?" pertanyaan Chanyeol sukses membuat Baekhyun tidak sengaja menyenggol vas bunga.

'PRANG'

"Oh tidak" Baekhyun berjongkok dan berusaha membersihkan kekacauan yang dibuatnya, walaupun pikirannya menjalar kemana-mana. Tangan besar milik si tinggi ikut membantu Baekhyun, sedangkan si mungil tetap melakukan kegiatannya yang sepertinya tidak sadar dengan sekitar.

Jari lentik milik si mungil tidak sengaja tergores pecahan kaca vas, refleks membuatnya sadar dan menatap jarinya. Saat tatapan Chanyeol teralih dari pecahan kaca ke jari milik Baekhyun, dia langsung menariknya untuk berdiri dan mendekat ke arahnya.

Basah dan hangat, jari milik si mungil ada didalam mulut Chanyeol. Dia menghisap darah yang keluar, sedangkan Baekhyun terdiam melihat Chanyeol. Air matanya mulai jatuh dan Chanyeol melihat itu, tapi dia masih diam. Tangisan Baekhyun semakin menjadi-jadi, jarinya juga sudah keluar dari mulut Chanyeol.

Dengan satu tarikan Chanyeol menarik Baekhyun untuk masuk dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, kau tidak sendirian. Aku selalu ada bersamamu" kata Chanyeol menenangkan si mungil yang masih menangis. Tangan besar itu terangkat dan membelai rambut halus si mungil dengan hati-hati.

Setelah tangisan Baekhyun mereda dia duduk diam dan menatap Chanyeol yang membersihkan kekacauan yang Baekhyun hasilkan. Bunga peony yang tadinya dilantai sudah ada pada genggaman Baekhyun, dia belai bunga itu dengan lembut. Matanya menerawang ke masa lalu yang sebenarnya ingin dia lupakan.

Pandangan Baekhyun teralih saat tangan besar membelai rambutnya pelan, dia menatap si pemilik tangan itu. Baekhyun bimbang ingin menceritakannya atau tidak, padahal dia dan Chanyeol baru bertemu dua kali ini. Setelah perang batin dan pikiran, Baekhyun akhirnya menceritakannya pada Chanyeol.

"Ibuku sudah meninggal karena sakit kanker 2 tahun yang lalu, dan hanya toko ini yang dia tinggalkan untukku. Sudah 15 tahun Ibu tersiksa hidup bersama ayah tepatnya ayah tiri, semua perlakuan ayah selalu jahat pada Ibu. Bahkan dia berani menggodaku, bahkan dia berbuat lebih. Aku sudah menolak, memukul, melakukan apapun. Tapi a-aku merasa kotor Chanyeol, dia telah menyentuhku" kata Baekhyun yang mulai menangis lagi.

"Beberapa hari yang lalu, ayah tiriku datang. Dia memaksaku untuk menikah dengannya, jika tidak dia akan merusak toko ini. Toko ini menjadi bukti kenanganku bersama ibu. Aku takut dia melakukan hal buruk padaku" kata Baekhyun dengan air mata yang terus mengalir.

Chanyeol memeluk Baekhyun lagi, bahkan entah sadar atau tidak dia mencium pucuk kepalanya, menenangkan. "Kau tidak kotor Baekhyun, kau itu cantik dan suci. Aku bisa merasakannya. Jangan takut dengan ayah tirimu, aku akan selalu disampingmu untuk menjagamu"

Bunga peony dalam genggaman Baekhyun terjatuh, seakan-akan bunga yang telah lama bersama Baekhyun untuk menjaganya telah terganti. Digantikan oleh si tinggi yang berjanji untuk menjaga si mungil dengan sepenuh hati.

.°•○ POENY ○•°.

Setelah kejadian itu, mereka semakin dekat. Mereka selalu bertemu di toko milik Baekhyun, saling memberi keceriaan dan kehangatan. Chanyeol juga sering membantu Baekhyun dalam membuat sebuket bunga. Dia selalu ada untuk Baekhyun, bahkan dia sampai lupa dengan kewajibannya.

Mereka telah menjadi dekat selama setahun, bahkan mereka seperti mengenal masing-masing lebih dari itu. Sampai hari terburuk mereka datang, menyambut kegelapan yang akan hadir dihidup salah satunya.

Senandungan bahagia dari Chanyeol tidak bisa terhentikan untuk menyebarkan aura kebahagiaan. Dia berjalan riang dengan sebuket bunga peony yang dia rangkai sendiri. Chanyeol ingin mengatakan perasaan pada si mungil.

Ya, Baekhyun telah sukses membuat hati Chanyeol menghangat kembali. Langkah bahagia Chanyeol berubah menjadi lebih cepat dan tergesa-gesa dengan penuh kegelisahan. Dia masuk dan mendapati keadaan toko yang rusak dan berantakan. Pikirannya terganti oleh Baekhyun, si mungilnya.

Langkah demi langkah Chanyeol lakukan dengan pikiran yang selalu memikirkan Baekhyun. Mimik muka Chanyeol berubah saat melihat Baekhyun tergeletak diantara bunga yang terjatuh. Dia masih terlihat begitu indah dengan bunga disekitarnya layaknya menunjukkan bahwa Baekhyun adalah bunga terindah.

Chanyeol mendekat dengan cepat, menggenggam tangan si mungil berusaha menghangatkan tangan itu lagi. Tapi semuanya sia-sia, mata Baekhyun masih tertutup dan bibir pucat itu masih diam. Chanyeol berharap bahwa ini kebohongan, keusilan Baekhyun seperti biasanya. Tidak. Inilah kenyataan.

Bau bunga peony menyeruak ke seluruh ruangan, bahkan dihidung si tinggi. Dia menatap Baekhyun penuh kasih sayang, bibirnya tergerak untuk mencium bibir mungil Baekhyun. Air mata telah menetes dan Chanyeol berbisik dengan pelan.

"Aku mencintaimu"

.°•○ I CHANBAEK U ○•°.

Mata bulat milik lelaki berbaju garis-garis itu terbuka secara tiba-tiba. Dia merasa tidur sangat lama, bahkan badannya sampai susah digerakkan. Seketika dia menangis saat mengingat apa yang telah terjadi dimasa itu. Dia menyalahkan dirinya atas kematian si mungil. Kebahagiaannya telah mati bersama seorang terkasihnya.

Chanyeol lelah dengan hidupnya, dia lemah dan tidak berdaya. Dia sangat rapuh. Keluarga Chanyeol selalu ada untuknya, dia bahagia untuk itu tapi tidak bertahan lama. Kesedihan lainnya datang untuk Chanyeol atau bahkan kebahagiaan yang sebenarnya.

"Takdirku, aku memanggilmu.." bisikan kecil itu terdengar, pelan dan menyejukkan.

Hari ulang tahunnya, dia masih menutup mata. Dia benar-benar lelah dengan semuanya, tanpa ada semangat hidup. Tapi akhirnya dia bertemu dengan miliknya lagi, Baekhyunnya. Dengan kain putih yang menutupi tubuhnya, Baekhyun masih terlihat cantik dan manis. Secara tidak sabaran Chanyeol memeluk orang yang sangat dia rindukan.

"Aku mencintaimu" kata Chanyeol menatap mata indah Baekhyun, sedangkan si mungil terkekeh dan memegang pipi si tinggi.

"Aku juga mencintaimu"

Chanyeol menatap Baekhyun penuh kasih sayang, seakan-akan dia akan berpisah dengannya lagi. Chanyeol tidak akan meninggalkan Baekhyun sendirian lagi sekalipun itu dialam mimpinya.

Senyuman kecil si mungil membuat Chanyeol mendekat, sampai kedua bibir anak adam itu bersentuhan. Menyalurkan sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan lagi. Seperti sebuah kata rindu yang mereka ucapkan. Tangan mereka saling bertautan, menggenggam untuk menjaga masing-masing tetap bersama.

Inilah jalan yang Chanyeol pilih.

Bau bunga peony selalu semerbak di kamar Chanyeol, menenangkan keluarga Chanyeol yang sedang bersedih. Bau itu seakan-akan mengatakan bahwa Chanyeol telah ada di dunia yang lebih baik. Senyuman terukir dibibir yang mulai pucat itu, menandakan dia telah bahagia. Walaupun tangisan terus ada tapi aura bahagia Chanyeol selalu ada untuk mereka.

"You are my delight of all" kata Chanyeol menatap Baekhyun, "And you are the one my love" balas Baekhyun tersenyum manis.

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, dia berjalan dengan senyuman di masing-masing wajah mereka. Bunga peony dalam genggaman Baekhyun selalu membawa kebahagiaan. Langkah mereka selalu diikuti oleh bau wangi bunga peony, serta kebahagiaan yang akan selalu bersama mereka.

.

.

.

The End

Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^

Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!