I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present

.

First Love

By B with Yeol

Lagu yang dipilih: You

Chanyeol x Baekhyun

.

Disclaimer:

Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!

Happy Reading!

.

.

Jongin selalu yakin ada sesuatu yang disembunyikan Chanyeol darinya. Tapi bukan tentang Chanyeol yang ternyata diam-diam kentut saat mereka makan siang ataupun tentang sahabatnya yang ternyata pernah mencoba makanan anjingnya. Ya walaupun masih banyak kegilaan laiinya, tapi yang ini adalah rahasia yang jauh lebih besar. Maha besar yang akan melahirkan keajaiban dunia kedelapan.

Park Chanyeol dan Cinta.

Mungkin bagi kalian yang lain ini adalah hal yang klise, tapi yang sekarang kita bahas adalah Chanyeol. Park Chanyeol. Pria dengan tinggi seratus delapan puluh lima yang tidak mempedulikan apapun. Mahasiswa tingkat tiga jurusan Musik dan Manajamen yang hanya memakai hodie hitam dan celana training saat pergi ke kampus. Ia bahkan tidak repot-repot memotong rambut keritingnya yang bentuknya sudah seperti sarang burung walet. Walau terkadang ia menutupinya dengan snapback atau kupluk tapi tetap saja, Jongin sebagai satu-satunya teman paling tampan yang pria jakung itu punya sangat risih dengan penampilannya yang hampir mirip gelandangan.

Murid perempuan bahkan mengacuhkannya begitu saja ketika ia melewati koridor. Sedikit menyedihkan memang, tapi begitulah eksistensi Chanyeol dilingkungan kampus. Padahal jika dilihat-lihat dengan sedotan yang sering ia gunakan untuk mengaduk es kopi kesukaannya, Chanyeol itu sebenarnya tampan. Tapi tentu saja dirinya paling tampan. Ia yang sangat fashionable itu tidak sebanding dengan Chanyeol. Hanya jika Chanyeol sedikit melakukan sesuatu pada rambutnya dan membuat gaya hair up, lalu mulai mengganti hodienya dengan jaket kulit yang sedang tren dikalangan anak muda. Dijamin orang-orang akan melongo bodoh begitu ia lewat di koridor kampus. Pun seberapa sering Jongin mengajukan usul untuk melakukan make over pada Chanyeol, sesering itu juga sahabatnya menolak.

Makanya ia sedikit terperangah begitu Baekhyun, senior semester lima jurusan Design interior paling digilai seluruh warga kampus dengan semangat melambaikan jari lentiknya kearah mereka saat mereka berpapasan; atau lebih tepatnya kearah Chanyeol. Lengkap dengan senyum manis yang membuat orang terkena penyakit gula darah dadakan.

"Hai, Chanyeol."

Lalu berlalu. Dan disaat seperti ini bukannya Chanyeol yang melongo, justru Jongin lah yang terlihat seperti orang bodoh dengan mulut menganga. Menjatuhkan tujuh buku referensi yang susah payah ia kumpulkan dari perpustakaan hingga meninggalkan bunyi jatuh yang sedikit keras.

Baekhyun refleks menoleh. Keningnya menyerngit begitu sipitnya menangkap Jongin yang masih setia dengan tampang bodoh sedangkan Chanyeol sebagai sahabat yang baik, mengumpulkan satu persatu buku yang bertumpuk acak dilantai koridor.

"Apa aku yang menjatuhkan bukumu? Tapi sepertinya aku tidak menabrakmu atau apa." Baekhyun nampak kebingungan atas kejadian barusan dan Jongin si pelaku nampaknya belum sadar dari kebodohannya, Chanyeol lagi-lagi harus turun tangan menggantikannya menjawab kebingungan Baekhyun.

"Tidak sunbae, sepertinya penyakit rematik temanku kambuh. Makanya ia menjatuhkan buku-bukunya dan berprilaku sedikit aneh." suara Chanyeol seperti biasa, tetap datar dengan intonasi membosankan tak peduli didepannya sekarang adalah senior kampus mereka yang dikagumi seluruh mahasiswa karna kecantikannya. Tubuhnya ia bawa membungkuk sopan, sebelum menarik tangan Jongin yang masih bergeming dan kembali berjalan.

Dan sejak itu masih banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi diantara mereka; atau lebih tepatnya antara Chanyeol dan Baekhyun. Seperti Baekhyun yang tiba-tiba saja menghampiri mereka dan memberikan sekotak susu pisang dan roti coklat pada Chanyeol atau Baekhyun yang seperti pahlawan karena membawakan tugas kelompok yang ditinggalkan Chanyeol. Dan yang sedikit mengejutkan adalah Baekhyun yang berhenti tepat didepan mereka lalu merapikan rambut keriting sewarna batu bara milik Chanyeol, walaupun Jongin tahu Baekhyun berusaha agak keras melakukannya karna walau bagaimana pun Baekhyun sunbae itu sedikit uhuk pendek.

Jongin selalu yakin ada sesuatu yang disembunyikan Chanyeol darinya. Walaupun Baekhyun memang dikenal karena wajah cantik dan sifatnya friendly nya, tetap saja yang dilakukannya pada Chanyeol itu sedikit kelewatan untuk ukuran tidak saling mengenal. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Chanyeol darinya. Pasti, ia yakin sekali.

"Tidak ada, Jongin. Aku tidak mempunyai hubungan yang kau tuduhkan itu. Dia mengenalku dan aku mengenalnya, hanya itu."

"Mungkin orang lain akan percaya, tapi tidak untukku. Jelas kau memiliki sesuatu yang rumit dengan Baekhyun sunbae. Ayolah katakan saja, aku sahabatmu bukan."

Chanyeol menghela nafasnya lelah, pandangan ia alihkan dari buku partitur kearah wajah penasaran Jongin. Matanya berbinar menanti jawaban yang akan Chanyeol berikan untuknya. Tapi bukannya menjawab, Chanyeol hanya menoyor kepala kosong Jongin dan kembali ke kertas aransemen lagunya.

"Sialan. Awas saja aku mendengar kau menyewa paranormal untuk membuat Baekhyun sunbae tergila-gila padamu."

Chanyeol menggelang kecil kepalanya, sementara Jongin yang lelah mengorek informasi kembali menyumpitkan makan siangnya. Sejenak berhenti memikirkan hubungan apa yang sahabatnya itu punya dengan senior mereka.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, makan siang Jongin sudah habis tak bersisa. Chanyeol masih sibuk dengan tugasnya dan ia tidak mungkin mengganggu jika tidak ingin dapat toyoran lagi. Iseng, Jongin membaca beberapa thread lucu di twitter sembari menunggu Chanyeol menyelesaikan tugasnya. Alhasil lelaki tan itu dibuat tertawa keras seperti orang gila.

Jongin yang malang, andai saja ia tahu bahwa gebetannya; Do Kyungsoo dari jurusan Hukum memperhatikan dengan jijik tingkahnya yang hampir mirip monyet rabies.

"Permisi."

Suara lembut mirip malaikat berdengung ditelinga mereka. Monyet rabies yang baru saja tertawa langsung menghentikan tawanya. Sementara Chanyeol sedikit terkejut untuk sepersekian detik cahaya; terlalu cepat hingga tidak ada siapapun yang sempat melihatnya.

"Baekhyun sunbae." Jongin berseru penuh keterkejutan sedangkan yang tertuju hanya memberikan senyum manis seperti biasa. Makan siang yang tadi ia bawa sudah berpindah tempat ke samping kertas partitur yang berserakan diatas meja. Begitu juga dengan Baekhyun yang mengambil tempat disamping pemiliknya.

"Chanyeol, ayo makan. Kulihat kau sama sekali tidak mengambil makananmu, jadi kuputuskan aku saja yang membawakannya untukmu." entah Chanyeol yang kelewat cuek, tapi pria itu hanya mengabaikannya. Jongin didepannya tampak kesal sendiri dengan sifat sahabatnya yang satu itu. Padahal jika ia diberi kesempatan yang sama, ia akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Mana tahu saja cupid tiba-tiba saja salah menembakan anak panahnya hingga mereka berdua berjodoh.

Oh Jongin, pantas saja Chanyeol selalu mengatakan kepalamu kosong.

Ditempat duduknya, Chanyeol masih bungkam. Tapi Baekhyun tidak hentinya membujuk pria jakung itu untuk memakan makanannya. Dan ketika Chanyeol masih tetap tak bersuara, ia tak punya cara lagi selain memaksa potongan kimbab itu masuk kedalam mulut Chanyeol.

Jongin entah kenapa tersenyum tipis begitu melihat Baekhyun memaksa Chanyeol menghabiskan makanannya. Ia seperti disuguhkan pertengkaran sepasang kekasih. Yang satu hobi merajuk dan satunya lagi sedang membujuk. Untung saja tempat yang mereka ambil berada disudut ruangan, jadi mereka tak begitu menarik banyak perhatian.

"Pintar." Baekhyun berseru riang saat potongan terakhir sudah berpindah ke perut Chanyeol. Ia tersenyum sembari menyusun piring dan gelas kotor ke atas nampan. Jongin didepan mereka masih memperhatikan. "jangan sampai melupakan makan siangmu lagi! Kalau terus begitu bisa saja penyakit maag mu kambuh." Baekhyun memberikan nasehat yang dimata Jongin terlihat seperti Ibu yang memarahi anaknya. Apalagi ia juga membetulkan sedikit helai Chanyeol yang berantakan. Jongin tertawa geli saat telinga Chanyeol memerah karena perlakuan kekanakan itu.

"Iya iya, aku mengerti. Sudah pergi sana." Chanyeol menyingkirkan tangan Baekhyun dari rambutnya sedikit kasar, tapi Baekhyun nampaknya tidak tersinggung sedikitpun. Terbukti dengan senyumnya yang tidak pudar.

"Ya sudah, aku akan pergi. Sepertinya kau ingin sekali mengusirku. Jongin-ssi, aku permisi duluan." Baekhyun memberi senyumnya pada Jongin lalu berlalu begitu saja. "sampai bertemu nanti, Chanyeol. "

"Kau lihat itu Chanyeol, bukan hanya kau yang dikenal Baekhyun sunbae, tapi aku juga." senyum Jongin sangat sumringah. Matanya kosong seperti mengkhayal sesuatu sambil bergumam sesuatu. Entahlah, Jongin boleh saja memanggilnya gila tapi tidak sadar saja pria hitam itu kalau dia itu lebih konyol.

"Kau tahu Chanyeol, kalau aku jadi kau pasti aku akan langsung jatuh cinta pada Baekhyun sunbae."

Chanyeol tidak mengatakan apapun.

.

.

.

.

.

Kaki Chanyeol melangkah keluar begitu bus yang ditumpanginya berhenti distasiun yang sudah dua bulan belakangan menjadi tempat pemberhentiannya. Walau dari sini jarak yang ditempuh sedikit lebih jauh dari stasiun biasanya, Chanyeol tidak keberatan. Bukan tanpa alasan sebenarnya, ia hanya membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Setelah hari yang panjang tubuhnya duduk kaku mendengar materi kuliahnya, ia ingin sebentar saja menenangkan hatinya. Dengan singgah di seveneleven untuk sekedar membeli sekaleng kopi dingin dan ramyun instan sambil duduk berselonjor di teras yang sudah disediakan.

Hari sudah mulai sore. Payung yang melindunginya dari cahaya matahari tidak begitu berguna lagi. Dari tempat duduknya, ia menghabiskan mie nya sambil memperhatikan mobil-mobil ataupun orang-orang yang sudah mulai pulang kerumah masing-masing, setelah penat mencari nafkah untuk keluarga mereka.

Disaat-saat seperti inilah Chanyeol terkadang merenungkan hari-hari yang baru saja ia lewati. Dan perkataan Jongin tadi terus saja bergema dikepalanya.

Chanyeol mendesah berat. Bohong kalau dia bilang tidak jatuh cinta pada Baekhyun. Walau ia tidak tahu kenapa, tapi setiap melihat senyum itu ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Ia bahkan terkadang berhenti sebentar membaca materi yang dipelajarinya hanya untuk memutar kembali suara tawa seniornya itu. Orang waras menyebutnya cinta, sedangkan orang sepertinya menyebutnya aneh.

Ia bahkan tidak pernah mementingkan hal-hal seperti itu sebelumnya, tapi saat pertemuan pertama mereka musim semi tahun lalu semuanya mendadak menjadi membingungkan. Tanpa disadari Chanyeol mengambil jalan memutar menuju kantin kampus mereka demi melihat Baekhyun yang selalu duduk dibawah pohon ek didepan fakultas teknik. Berpura-pura memperbaiki tali sepatunya agar suara lembut Baekhyun yang menyanyikan lagu random diiringi petikan Jonghyun; teman sejurusannya, terdengar lebih lama dipendengarannya.

Chanyeol bingung memberi nama apa perasaanya ini. Bertanya pada Jongin pun tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali ia ingin orang satu kampus tahu tahu permasalahan hatinya. Jongin itu ember, asal kalian tahu. Jadi lebih baik sahabatnya itu tidak tahu sama sekali.

Baginya butuh waktu satu tahun untuk yakin bahwa ia mencintai Baekhyun. Dan hanya butuh sehari saja untuknya mengerti bahwa tidak ada satu kesempatan pun yang Tuhan berikan untuknya berusaha agar Baekhyun mempunyai perasaan yang sama padanya.

Padahal sekarang Baekhyun sudah begitu dekat, juga begitu tak tersentuh.

Chanyeol menjadi ragu untuk masuk kerumahnya sendiri. Tapi beginilah takdir yang harus ia hadapi. Menarik pegangan pintu, Chanyeol berteriak 'aku pulang' sambil melepas sepatunya.

Di meja makan, Kris sudah duduk membaca koran sambil menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas. Tidak ada jas cokelat yang ia gunakan tadi pagi saat ke kantor, pakaiannya pun sudah santai dengan kaos putih biasa dan celana hitam selutut. Tidak biasanya kakak kandungnya itu sudah ada dirumah di jam seperti ini, tapi bisa jadi saja ia tidak lembur hari ini. Dan ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarganya. Kris tersenyum begitu melihatnya berjalan menuju tangga.

"Jika tidak ada tugas lagi turunlah untuk makan malam. Sudah lama rasanya kita tidak makan malam bersama, bukan kah begitu Baekhyun?"

Sosok yang ditanya keluar dari dapur dengan celemek pink ditubuhnya. Ditangannya masih ada sendok penggoreng dan senyumnya tidak berubah. Masih semanis tadi siang.

"Benar, aku juga memasak makanan kesukaanmu, lho. Yakin masih tidak mau." ada nada jahil dalam kalimat Baekhyun dan Kris menanggapinya terkekeh.

"Biarkan saja. Chanyeol sudah besar, jika memang lapar, ia akan turun sendiri." Kris tiba-tiba saja menarik pinggang Baekhyun kearahnya. "jika tidak, itu berarti kesempatan kita untuk berduaan." ada seringaian disana dan Baekhyun terkikik senang saat Kris menggigit main-main perutnya.

Dan Chanyeol?

Ia sudah menaiki tangga secepat yang kakinya bisa lakukan. Ia ingin segara ke kamar dan melampiaskan kemarahannya. Pada dirinya dan juga pada orang-orang yang mengatakan omong kosong tentang cinta pertama yang tidak akan pernah berhasil. Ia kecewa dengan semuanya, terutama dirinya sendiri. Andai saja ia otaknya tidak menyangkal cinta yang jelas-jelas dikatakan hatinya, mungkin akhir seperti ini akan bisa dicegah. Mungkin cinta pertamanya tidak akan jatuh ke tangan kakaknya.

Sekarang apa yang bisa Chanyeol lakukan? Merebut pun tidak mungkin karena Baekhyun bagi Kris, sama beharganya seperti ia memandang lelaki mungil itu. Kris sudah seperti Ayahnya. Ia yang bersusah payah membangun ekonomi keluarga mereka saat orangtuanya meninggal. Ia yang mementingkan kebahagiaan Chanyeol daripada segalanya. Tegakah ia?

Tapi sekali lagi, Chanyeol bukanlah seseorang yang egois. Ia bahkan begitu tersiksa ketika Baekhyun yang bukan siapa-siapanya bermesraan dengan orang lain. Lalu bagaimana dengan Kris ketika ia tahu adiknua sendiri mengkhianatinya.

Cinta pertama tidak akan pernah berhasil.

Dan begitulah cinta pertama Park Chanyeol. Mungkin Tuhan tidak menakdirkannya dengan Baekhyun karena Ia ingin Chanyeol mendapatkan seseorang yang lebih daripada itu. Walaupun Baekhyun tidak akan tergantikan, dan selalu punya tempat tersendiri dihatinya.

Kutukan cinta pertama.

.

.

.

.

.

"Jongin, Baekhyun sunbae adalah kakak iparku. Juga cinta pertamaku yang gagal."

.

.

.

The End

Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^

Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!