I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
Missing You
By Kastanyessi
Lagu yang dipilih: Missing You
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
"Permisi tuan, tuan muda Park Baekhyun ingin bertemu dengan anda"
"DADDY…"
Chanyeol menoleh tak lupa dengan senyum yang senantiasa terpatri diparas menawannya. Ia membuka kedua tangan dan menyambut dekapan sang anak yang semangat
"Baekkie merindukan Daddy" cicit si kecil yang memajukan bibirnya, cemberut. Chanyeol terkekeh, ia menyentil hidung mungil mancung itu dan membawa si kecil kepangkuannya. Mengajak menatap kearah jendela besar yang memperlihatkan luas dan gemerlapnya kota Seoul di malam hari.
"Daddy juga sangat merindukanmu"
Chanyeol mendekap erat tubuh si mungil. Baekhyun sedikit terkekeh. Ia mendongak, menatap Chanyeol kemudian "Daddy!" panggilnya. Chanyeol kembali terkekeh "baiklah, baiklah.. kau menang" jawab Chanyeol yang mengerti maksud dari nada panggil anaknya itu. rupanya makhluk mungil itu tidak akan pernah melupakan malam khususnya. ia menagih janji seperti biasa.
"Daddymu itu orang yang sangat baik dan juga cantik…"
"Ya, Baekkie tahu itu" potong Baekhyun yang tidak akan pernah lupa part dimana Chanyeol akan selalu memuji Daddy nya. Ia sampai sudah sangat hafal. Chanyeol tertawa "Baiklah, Daddy lanjutkan"
"Dia orang yang kuat, Bahkan sangat tangguh dariku, yang membuat Daddy sangat mencintainya"
12 Tahun yang lalu
Gyeonggi, Korea Selatan 2007
Kring~~ Kringg~
"Selamat datang~"
"Sayang aku ingin duduk disini"
"Hei, kemari.."
"Selamat datang kembali"
Baekhyun menyeka bulir-bulir keringat diwajahnya seraya membuang napas lelah, pasalnya hari ini tidak seperti biasa, dan Baekhyun mensyukuri sedikit menyesalinya juga. Entalah, tapi seiring dengan nafas lelah yang sesekali lolos begitu saja dari bibir mungilnya ia masih menyempatkan untuk terus tersenyum pada setiap pelanggan yang datang dan pergi.
Bukan! Baekhyun bukanlah pemilik restoran sederhana itu, ia hanya seorang pelayan dan kalian pasti tahu berapa besar anggaran yang Baekhyun dapatkan! masih ada sedikit peluang yang dapat menunjang, meskipun tidak besar setidaknya pekerjaanya itu masih bersifat halal dan Baekhyun kembali bersyukur untuk kedua kalinya. Ia menatap jam dinding yang menunjukan waktu semakin larut. Bekerja keras tanpa mengenal waktu, sudah menjadi makanannya sehari-hari
"Aku mengerti"
kalimat yang menjadi penutup percakapan dengan sang ayah.
Tidak! Ia tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti harus mendapatkan uang darimana. Ini masih minggu ketiga dari jadwal pemberian gaji bulanan dan itu artinya Baekhyun akan mendapatkan gajinya minggu depan. membuang napas, sebelum berpikir untuk kembali menggunakan kalimat tersebut pada atasannya.
"Maaf Baekhyun, tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa memenuhi keinginanmu, aku belum lama mendapat musibah.." terdengar nada prihatin dari wanita berumur didepannya. Sentuhan pada pundak menjadi satu-satunya hal yang membuat Baekhyun menampilkan senyum semanis mungkin.
"Aku pikir kau bisa mengerti Baekhyun-ah"
mengangguk dengan kembali tersenyum menerima fakta malam ini ia harus menerima semua tamparan dan tendangan dari ayahnya. Setelah meminta izin pulang beberapa menit lebih awal dari jam pulang kerja dengan alasan yang masih terbilang logis Baekhyun kembali kearah ruang ganti mengambil semua barangnya dan bersiap kembali kerumah.
e)(o
Di perjalanan Baekhyun selalu menunduk seolah tidak berani menatap kedepan. Ia memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi. berusaha mempercepat langkah mengingat sekarang waktu semakin larut.
Sampai pada akhirnya Baekhyun mendengar suara ringisan, awalnya mencoba untuk tidak peduli. Semua terasa begitu kaku seiring dengan suara rintihan yang semakin intens di indra pendengarannya. Akhirrnya, dengan tekat penuh Baekhyun mencoba mencari tau keberadaan suara itu
"Arghh.. shh" Baekhyun terkejut.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri ia dapat melihat dengan jelas seseorang tengah berusaha berdiri. semua terlihat menyeramkan pasalnya, trotoar yang ia dan pemuda itu pijaki sekarang sudah sangat sunyi ditambah dengan lampu jalan yang tak berfungsih membuat jarak pandang semakin gelap. Setelah terjadi perang batin, Baekhyun memutuskan untuk selangkah lebih dekat seiring jaraknya dengan pemuda tersebut semakin kecil napas Baekhyun semakin tercekat ditambah dengan kondisi fisik pemuda itu.
"ap, a pa kau ba, ba, baik saja?" Baekhyun perlahan berjongkok seraya mencoba meraih pundak pemuda yang tengah meringkuk dengan suara erangan yang semakin keras itu. ia yakin pemuda tersebut korban perampokan karena dilihat dari beberapa benda tumpul yang cukup menjadi barang bukti. terlebih dengan banyak luka lebam diwajah, membuat Baekhyun sulit mengenali korban. Yang dilakukannya berusaha mencari dan menemukan identitas pengenal namun hasilnya nihil. Pemuda itu dirampok habis-habisan
"aishh. Apa yang harus aku lakukan?" akhirnya setelah melewati perang batin untuk kedua kalinya Baekhyun memutuskan untuk membawa pemuda itu kerumahnya. Semua kemungkinan yang akan terjadi nantinya Baekhyun berharab untuk ditunda dulu. ia masih harus menyelamatkan nyawa seseorang meskipun nyawanya menjadi taruhan.
"Yatuhan bantulah aku" Baekhyun melirik jam pergelanggan. waktu menunjukan pukul satu pagi dan sudah terhitung sepuluh menit ia berdiri dihalte sambil susah payah menopang tubuh yang dua kali lipat lebih besar darinya
Tak berapa lama ia dapat melihat sebuah bus, tanpa menunggu lagi Baekhyun perlahan mengiring tubuh keduanya. Baekhyun bersyukur setidaknya namja itu masih bisa melangkahkan kakinya. Sedikit membantu
Perlahan namun pasti Baekhyun membawa namja itu melewati gang sempit yang dihiasi cahaya remang tak lupa dengan bau yang tak sedap.
Terlihat sebuah rumah minimalis yang lebih terlihat seperti rumah kosong pasalnya tempat itu seperti tak berpenghuni karena tak terdapat penerangan satupun.
Saat membuka pintu rumah mereka dihadiahi dengan bau alkohol yang sangat menyengat. Baekhyun harus bersusah payah kembali, ia mencari keberadaan saklar. Setelah lampu menyala tanpa menunggu lagi ia segera membawa namja itu kekamarnya.
Setidaknya kamarnya adalah ruangan yang masih lebih baik dari pada ruangan lain dirumah itu.
Tak berapa lama Baekhyun kembali dengan beberapa alat P3K. ia membersihkan dan mengobati tubuh namja itu seadanya. Setelah selesai Baekhyun memperhatikan wajah namja itu, berusaha mengenalinya tapi apa daya tak membuahkan hasil. Namja itu terlihat asing. Maksudnya ia seperti bukanlah orang didesa itu ia seperti berasal dari kota. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya seperti seorang yang berada
Baekhyun menatap wajah damai yang telah terlelap. Menguap seraya merenggangkan otot tubuhnya Baekhyun berjalan mengitari ranjang. Mengambil bantal dan selimut. Menggelar karpet merah kecil. Dan mulai membaringkan tubuh lelahnya disana. Memejamkan mata kemudian, menyusul pemuda itu menyelami alam mimpi.
e)(o
Chanyeol tersenyum menatap makhluk mungil yang telah terlelap dalam pangkuannya . Baekhyun menggeliat kecil saat Chanyeol berusaha mengangkat tubuhnya. Membawa tubuh mungil itu dan perlahan membaringkannya diranjang.
Chanyeol menyisir rambut Baekhyun dan mendaratkan kecupan kecil didahi sang anak.
"Kau benar-benar mirip seperti Daddymu. Aku bersyukur memilikimu" Chanyeol kembali mengecup dahi si kecil. cukup lama sampai tak sadar telah meneteskan sebuah Liquid kecil yang membasahi pipi Baekhyun. Chanyeol menangis dalam diam. Ia mengitari ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Baekhyun. Membawa yang lebih kecil kedalam dekapan hangat sebelum kembali berbicara "aku akan terus mencari tahu keberadaanya. Aku janji"
e)(o
Chanyeol berusaha membiaskan cahaya yang masuk melalui sela-sela jendela kamar. Ia menatap sekeliling dan meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Shh…kepalaku sakit sekali" Chanyeol berusaha untuk duduk
"eoh, sebentar tuan. Biar aku bantu" Baekhyun terkejut. dengan segera ia membantu Chanyeol untuk bersandar ke kepala ranjang setelah sebelumnya menaruh makanan dan obat-obatan diatas nakas. Chanyeol menatap namja didepan yang juga balik menatapnya
"Kkau.. kau siapa" tanya Chanyeol dengan suara yang terlampau kecil nyaris berbisik
"aku Byun Baek…"
"BAEKHYUN!" Baekhyun tersentak. Ia menatap Chanyeol kemudian "ak..aku akan segera kembali tuan. Anda jangan kemana-mana. Tunggu disini" tanpa berucap atau menunggu balasan Chanyeol, namja mungil itu segera berlari keluar kamar tak lupa untuk mengunci pintunya. Chanyeol menatap kepergian Baekhyun, ingin sekali ia mengejar namja itu namun apa daya kepalanya masih terasa sangat sakit. Sehingga Chanyeol hanya membaringkan tubuhnya seraya berusaha mengenali tempat itu.
"Aku butuh uang"
Baekhyun tak memberikan uang atau respon apapun. Membuat lawan bicara didepannya berjalan dan mencengkram kuat rahangnya. "Aku butuh uang sekarang" ulang pria paruh baya itu. Baekhyun menatap kedalam manik mata sang ayah "Aku tidak punya uang"
PLAKK
Baekhyun tersungkur kelantai dengan bercak darah di sudut bibirnya.
"Apa kau perlu dipukul, baru mau bicara? Dimana uangnya"
"Aku benar-benar tidak punya uang sekarang" jujur Baekhyun yang membuat Tuan Byun menarik kerah bajunya dan menghempaskan tubuh Baekhyun kelantai, ia lalu menutupi Baekhyun dengan selimut dan menendang Baekhyun seperti orang kesetanan. Ia semakin dibuat kesal saat tak mendengar suara apapun dari Baekhyun. Baekhyun hanya diam, menerima semua pukulan dan tendangan dari ayahnya
"Akan lebih baik kalau kau tidak disini, bukan?"
e)(o
Baekhyun mengobati semua luka-lukanya, ia menoleh kearah Chanyeol yang sudah kembali terlelap. Baekhyun sedikit mengulas senyum saat melihat bubur yang disediakannya telah habis dan Baekhyun yakin, Chanyeol juga pasti sudah mengobati lukanya. Namja mungil itu kembali meneteskan cairan merah disudut bibirnya. Dan banyak berharap Chanyeol tidak akan terbangun dan mendengar semua suara sahut-menyaut sang ayah dengan wanita yang entah didapatnya dari mana.
e)(o
"Daddy, Daddy bangun.." entah sudah keberapa kalinya Baekhyun terus membangunkan Chanyeol. ia dibuat jengah dengan sang Daddy yang tak kunjung membuka matanya, padahal Baekhyun mengingat betul Daddynya itu selalu menyuruhnya untuk bangun pagi, biar tidak seperti seorang pemalas. Tapi nyatanya Chanyeol telah mencontohkan hal yang sebaliknya.
Cukup lama dan intens guncangan Baekhyun, Chanyeol akhirnya membuka matanya dan tersenyum seperti seorang idiot yang membuat Baekhyun menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Lengkap dengan piyama soft pink Baekhyun terlihat jauh lebih menggemaskan terlebih dengan wajah marah yang terlihat imut itu. Chanyeol terkekeh kecil seraya mendudukkan tubuhnya dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang
"Ada apa hmm?" Baekhyun membalikan badannya dan menatap Chanyeol yang juga menatapnya sambil memasang senyum menawan.
"Baekkie ingin jalan-jalan"
e)(o
"Pertama, Baekkie ingin ke tokoh ice cream, lalu ke tokoh mainan, setelah itu…" Namja mungil itu membuat gesture berpikir yang terlihat amat sangat menggemaskan. Chanyeol hanya bisa tertawa sambil sesekali mencubit gemes pipi mochi Baekhyun.
"Setelah itu apa hmm?" Chanyeol mengacak kecil surai magenta lembut Baekhyun sebelum merogoh sakunya dan menaruh benda persegi itu ditelinga. Menyapa penelfon diseberang
"Kau tidak sedang membohongiku kan?" Baekhyun mengalihkan tatapan—yang sebelumnya menatap jalanan dengan memikirkan banyak tempat yang ingin dikunjungi— menatap Chanyeol dengan wajah bertanya.
"Baiklah, aku akan segera kesana" sesekali menoleh kearah Baekhyun dan juga jalanan, Chanyeol berusaha menjawab tatapan si mungil
"Kau akan segera bertemu dengan Daddymu"
e)(o
Chanyeol dengan segera memegang kepalanya, terasa sangat sakit. Tapi setelah ia berhasil berdiri rasa sakit itu perlahan menghilang. Chanyeol mengenal tempat ini. Ini kamar Byun Baekhyun namja yang sudah menolongnya. Dengan tertatih ia perlahan membawa langkah menyusuri kamar minimalis itu. Sampai Chanyeol melihat sebuah bubur dan juga beberapa obat untuk luka dalam maupun luar diatas nakas samping ranjang. Chanyeol mengulas senyum tanpa sadar. Ia dengan segera memakan bubur itu perlahan dan meminum semua obat yang telah Baekhyun sediakan—menurut Chanyeol— tak lupa Chanyeol mengobati memar disekitar wajahnya.
Chanyeol ingin sekali bertemu dengan Baekhyun namun apa daya pintu kamar itu terkunci. Yang hanya bisa dilakukan Chanyeol adalah duduk diatas ranjang sembari menunggu kedatangan Baekhyun. Namun semua tak seperti dugaan Chanyeol. ia ingat, sesaat setelah makan dan meminum obat Chanyeol tertidur cukup lama. Sampai pagi menjelang Baekhyun tak kunjung menampakkan dirinya. Chanyeol rasanya ingin menangis. Tidak seharusnya ia bersikap lemah dan bodoh seperti ini. Membiarkan orang yang telah menolongnya dan juga orang yang telah mengisi hatinya dengan perasaan hangat saat hari dimana mereka berdua saling memandang cukup lama sampai Baekhyun pergi meninggalkannya tanpa menempati janji untuk orang yang telah menunggu dengan hati yang telah kosong dan sakit kembali.
Chanyeol tak pernah berhenti untuk memikirkan Baekhyun. Ia telah berjanji akan menemukan Baekhyun. Hari itu Chanyeol akan di jodohkan. Walau telah menolak dengan beribu alasan tapi kedua orang tuanya memiliki lima ribu alasan untuk membantah. Chanyeol bukanlah anak yang pembangkang tapi untuk yang satu ini ia tidak terima. Akhirnya dengan membawa kekecewaan Chanyeol pada jam dua pagi meninggalkan rumah keluarga Park. Persetan dengan bisnis, yang ia inginkan hanya Byun Baekhyun.
Tok Tok Tok
Chanyeol membuka kaca mobilnya. Rupanya ia tertidur dimobil semalam. Chanyeol tertegun
"Permisi, Baekkie dan teman-teman ingin menyebrangi jalan ini. Tapi mobil paman menghalanginya. Apa paman bisa memberikan kami jalan?"
Chanyeol tersadar dari lamunannya saat seseorang memanggil anak didepan kaca mobilnya itu.
"Baekkie, bagaimana?"
"Tunggu sebentar Kyungie" kedua anak mungil itu menatap Chanyeol kemudian.
"Aa, aa. Maafkan aku. Kalian boleh menyebrang sekarang"
Chanyeol menyentuh jantungnya yang berdegub kencang. Bagaimana bisa wajah anak itu begitu mirip dengan Baekhyun-nya.
Panti Asuhan Seung Ga-Won batin Chanyeol
e)(o
Chanyeol dengan perlahan membuka pintu bercat cokelat tua itu. ia dapat melihat seorang lelaki lengkap dengan pakaian pasien tengah menatap indahnya kota seoul pada malam hari. Chanyeol berdehem sebentar. Lelaki itu menoleh yang mana membuat Baekkie bersembunyi dibalik tubuh Chanyeol.
Chanyeol tak kuasa menahan Liquid nya yang membuat ia berlari dan langsung membawa tubuh Baekhyun dalam pelukannya. Mendekap Baekhyun dengan begitu erat.
"Aku sangat merindukanmu"
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
