I Chanbaek You 2018 - Songfict Event Present
.
We Call It The Power of Love
By UCHIHA YunaHitssugaya
Lagu yang dipilih: You
Chanyeol x Baekhyun
.
Disclaimer:
Hak cipta fanfic milik author yang sebenarnya. Kami, ICU, selaku penyelenggara hanya menyediakan wadah bagi para author Chanbaek kita untuk mempublish ceritanya!
Happy Reading!
.
.
Sesosok pria bertubuh mungil dengan wajah yang cantik beridiri menatap bangunan tinggi mewah didepannya dengan pancaran kebahgiaan diwajahnya.
Ia harus berterima kasih kepada kekasih sahabatnya karna sudah mereferensikan dirinya. Juga sahabatnya yang telah membantunya mendapat izin dari ayahnya untuk bekerja diperusahaan ini.
Dengan langkah gembira ia pergi menuju ruang personalia untuk menemui pria berkacamata dengan kemeja garis-garis berwarna merah maroon yang ia kenali.
"Pagi Baekhyun,"sapa Jongin.
"Pagi Jongin," jawab Bakehyun.
"Sebelum keruangan Presdir tolong baca surat ini dan tanda tangani ya."
Baekhyun mengangguk dengan pulpen yang sudah siap ditangannya.
"Sudah."
"Kalau begitu ayo," ajak Jongin.
Setelah beres merekapun pergi menuju ruangan pak Presdir yang akan menjadi patner kerja Baekhyun. Entah mengapa hatinya berdebar gembira sampai-sampai senyum manisnya mengembang, membius mata para karyawan yang berpapasan dengannya.
Tok tok
Jongin mengetuk pintu bercat coklat tua dihadapannya.
"Presdir ini saya Kim Jongin,"ujarnya.
"Masuk."
Keningnya mengkerut saat mendengar suara bass itu, rasanya Baekhyun hafal suara ini.
Setelah dipersilahkan masuk ia dan Jonginpun masuk ke ruangan orang nomer satu di Loey Corp. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kursi besar yang membelakanginya.
"Presdir, saya membawa calon sekertaris baru anda"
"Hmm." Gumam sang Presdir sambil mengibaskan tangannya.
Mendapat tanda pengusiran Jonginpun mengerti. Setelah berpamitan dengan Bakehyun iapun pergi.
"Perkenalkan dirimu," titah Presdir. Masih membelakangi Baekhyun.
Baekhyun menghembuskan nafasnya perlahan, mengatur kegugupan yang mulai menguasainya.
"Nama saya Byun Baekhyun umur saya dua puluh lima tahun, saya lulusan Universitas Buncheon ju-"
Tiba-tiba Kursi itu memutar, menampakkan pria tampan dengan bibir tebal sexy yang sedang menyeringai menyebalkan kearahnya.
.
Kyungsoo tertawa terbahak-bahak menertawakan Baekhyun yang kembali dipertemukan dengan mantan terindahnya.
"Semua ini gara-gara kau." Tuduh Baekhyun sambil melempar bantal pada Kyungsoo.
"Kenapa salahku?"tanya Kyungsoo tidak terima seraya melempar kembali bantalnya pada baekhyun.
"Kau seharusnya bertanya dulu pada pacarmu siapa bosnya sebelum aku melamar,kau menyebalkan."Ucapnya ketus.
Kyungsoo hanya menjulurkan lidahnya, meledek bakehyun.
"Aku tidak mengerti, kenapa tuhan seperti mempermainkan ku."
Bekerja pada perusahaan terbesar dikorea ini adalah mimpinya, Ia tak pernah berharap lebih selain dari gaji yang dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Namun tuhan seakan mengujinya dengan menghadirkan sosok masa lalunya yang sialnya menjadi bos nya saat ini.
"Hey jangan begitu, mungkin saja kalian berjodoh."
Helaan nafas terdengar, Baekhyun menahan denyutan pedih pada dadanya.
"Tidak mungkin Kyung,Kau tahu sendiri persoalanku dengannya."
Kyungsoo ikut merebahkan tubuhnya disamping Baekhyun, memeluk sayang sahabat gendutnya itu.
"Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan bercerita Baek, berdoalah."
.
Kehidupannya sebagai sekretaris Chanyeolpun dimulai dan ia baru menyadari bahwa Chanyeol dimasa depan itu gila, benar-benar gila. Selain memberikan kerjaan yang menumpuk Baekhyun juga harus mengurus keperluan pribadinya. Pagi-pagi sekali ia harus menyiapkan kopi,sarapan pagi serta menyisir rambutnya sebelum meeting pagi.
Entah berapa ratus kali Bakehyun meminta resent namun seolah tuli Chanyeol tak pernah menggubrisnya.
Kadang ia mengerjai Chanyeol dengan menambahkan cabai pada makanannya atau memakaikan lem pada rambutnya. Hiburan untuknya saat merasa kesal dengan sikap kekanakan Chanyeol.
Hadirnya kembali Chanyeol membuat perasaan cintanya menguap,apalagi ketika Chanyeol manja padanya. Seperti merebahkan kepalanya dipangkuannya lalu bercelotes menceritakan kepenatan dalam hidupnya sampai tertidur memeluk tangannya diatas dada Sembari bergumam-
"Jangan pergi."
Chanyeol beberpa kali menyatakan perasaannya dan beberpa kali juga Baekhyun mengacuhkanya. Ia bingung harus senang atau sedih mengingat konsekuensi yang harus didapat Chanyeol jiak harus bersama dirinya.
.
Chanyeol kembali mengantar pulang Baekhyun dengan alasan ingin berdebat karna sepatu yang dipilihkan Baekhyun untuknya mengalami kerusakan, haknya copot saat ia menuju ruang meeting
"Kau harusnya sadar diri bodoh. Pilih sendiri."
Merasa tidak terima Baekhyunpun memukul Chanyeol dan tanpa sengaja Chanyeol menginjak rem secara mendadak membuat handphone Baekhyun jatuh kebawah.
Sambil mendumel ia meraba-raba bagian bawah mobil, dan tanpa diduga tangannya menemukan sebuah kotak beludru kecil.
Ia menatap kotak beludru itu, dan menyadari bahwa kotak itu miliknya dulu, yang dibeli Chanyeol untuk melamarnya.
Buru-buru Baekhyun menaruh kotak itu pada dashboard mobil,mengalihkan pandangannya dari Chanyeol.
Saat menyadari bahwa ia sudah sampai pada kosannya iapun turun tanpa berpamitan.
Sambil menghela nafas Chanyeol keluar dari mobilnya mengejar Baekhyun.
"Baekhyun tunggu."
Seolah tuli Baekhyun tetap berjalan, Sampai didepan pintu Chanyeol memeluk tubuh mungil yang menegang.
Mata bulan sabitnya membola ketika Chanyeol mengeratkan pelukannya, mengesap harum ceruk lehernya.
"Aku tidak pernah memintamu pergi,tapi kau selalu pergi seenaknya."
"Aku memang harus pergi Chanyeol."
"Tidak."
Chanyeol mengeratkan Pelukannya, seolah takut kehilangan.
Tiga tahun menjalin kasih cukup bagi Chanyeol untuk berani berkunjung kekediaman kekasihnya. Berbekal sekeranjang buah segar ia pergi menuju Buncheon. Dengan percaya diri akan mendapat restu dari kedua orang tua Baekhyun, Chanyeol tak lupa membawa kotak beludru dengan cincin dihiasi permata sapir. Pada saat itu mungkin ia hanya seorang mahasiswa,namun tak banyak yang tahu ia berkerja paruh waktu dengan ikut manggung kecil-kecilan bersama teman band kampusnya. Meski anak orang kaya ia tak pernah memanfaatkan materi keluarganya untuk membahagiakan Baekhyun. Baginya terasa sangat bahagia apabila melihat senyum manis kekasihnya berkat kerja kerasnya.
Awalnya berjalan lancar, ia disambut hangat oleh kedua orang tua Baekhyun sebelum Byun Hangeng melihat kalung berbandul phonix yang dikenakannya.
"Kau anak Park 'Donghae?"tanya tuan Byun. Nada penekanan pada nama ayahnya sedikit membuat Chanyeol tak nyaman.
Chanyeolpun menganggukan kepalanya untuk menjawab.
Amarah tuan Byun memuncak, seperti kesetanan Chanyeol dipukuli sampai babak belur. Ia tak mengerti mengapa tuan Byun begitu marah saat ia mengakui ayahnya. Pukulannya terus berlanjut sampai ia lupa bagaimana bisa dirinya tiba dirumahnya.
Setelah kejadian mengerikan itu Chanyeol tak pernah melihat Baekhyun lagi, Sosok lelaki yang dicintainya itu seakan tertelan bumi.
Baekhyunpun memutuskan Chanyeol lewat pesan, melihatnya dipukuli habis-habisan serta tatapan kebencian ayahnya membuat ia tak berani menemui Chanyeol bahkan untuk sekedar saling sapa lewat telepon. Jauh dilubuk hatinya ia tersiksa, ingin pergi bersama Chanyeol. Namun Ia juga tidak mau melihat prianya kembali terluka atau bahkan mati ditangan ayahnya.
Tuan Byun menyimpan dendam atas apa yang dilakukan ayah Chanyeol terhadap desanya dimasa lampau, sengketa tanah perusahaan dengan lahan warga menjadi penyebab utamanya. Saat itu pihak dari perusahaan yang dipimpin ayah Chanyeol menggarap lahan melebihi batas, juga limbah pabriknya yang mencemari tanah yang mengakibatkan sebagian warganya terkena penyakit serta mengalami kemiskinan yang parah. Ayah Bakehyun selaku tetua disana pun mengamuk, membenci Park Donghae yang menyebabkan semua kesialan untuk desanya.
Mengenang masa itu membuat hati mereka semakin menyepit.
Mereka masih terdiam didepan pintu sebelum Chanyeol kembali bersuara.
"Bawa aku menemui ayahmu."
Seketika bola mata Bakehyun membulat.
"Kau gila." Bentaknya.
Mati-matian ia menekan perasaannya demi melindungi Chanyeol, tapi Chanyeol dengan gampangnya menyerahkan dirinya.
Baekhyun langsung melepaskan pelukannya berjalan meninggalkan Chanyeol seraya menutup pintu dengan keras.
"Baekhyun percaya padaku Baek-BAEKHYUN."
Kembali Chanyeol diacuhkan oleh Baekhyun.
.
Pagi itu Chanyeol berangkat ke kantornya dengan wajah Kacau juga perasaannya, semua semakin memburuk ketika bell masuk sudah berbunyi namun Baekhyun tidak juga muncul. Chanyeol sedikit menyesali pembahasannya semalam. Dengan malas ia merapikan rambutnya sendiri dan kembali menyuruh OB untuk membuatkannya secangkir kopi.
Baru saja bibir tebalnya menyeruput kopi Jongin datang dengan handphone yang menyala ditangannya.
"Kyungsoo ingin bicara padamu," ujar Jongin to the point sambil memberikan handphonenya dengan suka rela dan Tanpa basa basi Chanyeol langsung menerimanya.
"Hallo."
"CHANYEOL semalam Baekhyun dibawa pulang oleh orang-orang suruhan ayahnya mereka bilang ia akan dijodohkan."
"Kyung-"
"Kumohon Chanyeol bawa Baekhyun pulang, aku tidak mau dia dijodohkan dengan lelaki raksasa itu. Ia sangat mencintaimu," Ujar Kyungsso disela isakannya.
Chanyeol meletakkan handphone Jongin dengan kasar dan sang pemilik hanya menatap nanar handphone barunya. Tanpa memerdulikan Jongin iapun segera keluar dari ruangan.
Beberapa detik berlalu Chanyeol kembali memasuki ruangannya, menghampiri jongin yang sedang mengusap-usap benda segi empat itu.
"Jongin ini kunci berangkasku semua berkas-berkas penting perusahan ada didalamnya tolong kau pegang. Jika aku tak kembali semuanya milikmu."
Jongin semakin dibuat tidak sadar.
.
Setelah diseret paksa untuk pulang kegiatan Bakehyun hanya termenung dibawah jendela bahkan dihari pertungannya.
Ini begitu dadakan ia tidak tahu kalau dirinya sudah dijodohkan dengan Seunghyun oleh ayahnya. Diantara banyaknya pria kenapa harus Pria seram bertubuh raksasa itu. Ya tuhan malang sekali nasibnya.
Diambang pintu Heechul menatap anaknya iba, ia tak tega melihat anaknya yang seakan tak bernyawa. Dirinya ingin menolong putra kecilnya namun baru saja membuka mulut Hangeng sudah memelototinya serasa Mengibas-ngibaskan pedangnya.
"Sudah waktunya berias sayang," ucapnya sambil mengusap lembut surai anaknya.
Baekhyun yang sudah lelah memberontak hanya beranjak dari jendela untuk memenuhi keinginan ibunya.
.
Hangen berdiri dengan gagah dengan hanbook kebesarannya, senyum bahagia terpancar menyambut tamu-tamu yang hadir diacaranya. Seunghyun pun ikut menemaninya sebagai pasangan serasi menantu dan mertua. disela-sela nikmatnya menyantap hidangan pesta suara gerungan mesin mobil terdengar.
Wajah Hangen mengeras seketika saat melihat siapa manusia dibalik mobil tersebut.
Chanyeolpun turun dari mobilnya,berjalan gagah dengan tangan kemeja yang ia lipat.
Melihat itu Hangeng langsung mengambil pedangnya menyelipkan pada pinggangnya.
"Mau apa kau kemari?" Tanyanya ketus.
"Menjemput calon suamiku," jawab Chanyeol tegas. Matanya tajam menatap Hangeng.
"Beraninya kau."
Tanoa disuruh Seunghyun maju dengan pot bunga yang dilemparkan pada Chanyeol,beruntung Chanyeol dapat menghindarinya.
Baekhyun yang mendengar keributanpun segera keluar dari kamarnya, ia melotot melihat sosok Chanyeol ada dihadapnnya.
"Chanyeol," panggilnya.
Tangannya langsung dicegat oleh ayahnya saat ia akan berlari menghampiri Chanyeol.
Seketika mata Chanyeol meneduh melihat pujaan hatinya begitu cantik dengan balutan hanbook berwarna biru langit.
Duaghh
Sebuah balok kayu menghamtam kepalanya membuatnya terhuyung beberapa langkah,penglihatannya ikut memburam dengan kucuran darah merembes dari kepalanya.
Dengan bengis seunghyun memukuli Chanyeol namun kini Chanyeol tidak tinggal diam ia menangkis serta memukul dibeberapa kesempatan. Sayang badan besar milik Seunghyun seakan tidak pernah goyah oleh pukulannya.
Bakehyun menjerit melihat seunghyun mengambil sebuah pedang yang dilemparkan seseorang padanya. Mereka mulai membantu Seunghyun saat tahu bahwa Cahnyeol adalah putra dari Donghae.
Airmatanya mulai mengucur menyakasikan tangan kosong Chanyeol mulai berdarah terkena goresan pedang seunghyun.
"Cukup, kumohon hentikan ayah."
Tatapan ibanya seolah tidak diperdulikan Hangeng. Pria paruh baya tersebut terus menyaksikan pertarungan dua pria dihadapannya tanpa berkedip.
Chanyeol mulai kewalahan matanya semakin sulit melihat, yang ia dengar hanyalah tangisan serta jeritan Baekhyun memanggil namanya atau menyuruhnya berhenti.
Seunghyun kembali menghampiri, mengibaskan pedangnya pada Chanyeol.
"AAARGHH."
Chanyeol menahan pedang Seunghyun dengan tangannya hingga pedang yang terbuat dari besi itu patah menjadi dua. Tangan Seunghyun ia tekuk, badannya ikut condong untuk merubuhkan badan raksasa milik Seunghyun. Ia melayangkan berkali-kali kepalan tangannya pada wajah Seunghyun. Sedikitnya seunghyun mulai mengeluarkan darah dipelipis serta bibirnya.
Tak lama Seunghyun kembali membalik keadaan ia mencekik leher Chanyeol.
Tidak habis akal Chanyeolpun menendang kesejatian Seunghyun hingga ia menggelepar. Iapun mencabut sebuah pedang yang menancap ditanah.
Wajahnya sudah merah karna darah begitu pula dengan tangannya yang sudah robek oleh pedang. Chanyeol menatap tajam Seunghyun yang ada dibawah kakinya. Tangannya mulai mengayunkan pedang siap mematikan Seunghyun.
Slubb
"AAAA." semua orang berteriak sambil menutup mata.
Chanyeol menancapkan pedangnya pada sisi kepala Seunghyun. Meninggalkan pria besar itu dengan perasaan terkejutnya.
Dengan langkah gontai Chanyeol mengahampiri Hangeng berdiri tiga meter dihadapan Tetua Byun itu.
"Terlepas dari masalah Tuan dengan ayahku aku hanya ingin meminta putra tuan menjadi pendamping hidupku." Nafasnya sudah sangat berat namun suara Chanyeol masih sangat jelas.
"Aku tahu, sangat tidak berhak meminang putra Tuan atas apa yang telah ayahku lakukan. Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku untuk tidak mencintainya. Aku berjanji akan mengganti semuanya dan bersumpah tidak akan mengulanginya. Jika itu terjadi penggal saja kepalaku."
Setelah mengatakan itu tubuh Chanyeol ambruk.
Bukan hanya Baekhyun yang menangis saat itu, Heechul juga sebagian wanita yang menyaksikan perjuangan Chanyeol ikut menangis.
"Chanyeol," lirih Baekhyun.
Hangeng melepaskan pegangan tangannya pada Baekhyun, merasa diberi kesempatan Baekhyunpun segera berlari menerjang tubuh Chanyeol.
Beraimpuh Memeluk erat tubuh prianya.
Chanyeol hanya tersenyum ditengah kesadarannya yang hampir lenyap.
Baekhyun Mengusap wajah babak belur Chanyeol, membersihkannya dari noda tanah dan darah yang menempel.
Hangeng yang menatap itu hanya menghela nafas, kesungguhan Chanyeol bertarung untuk mendapatkan putranya ternyata meluluhkan hatinya.
"Bawa dia kedalam dan obati lukanya."
Bakehyun mengucap syukur tiada henti. Atas kemurahan hati ayahnya.
.
Setelah usai mengobati Chanyeol, Baekhyun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol yang berbaring dikasurnya.
"Aku tidak pernah tahu kau sekuat itu,ototmukan kecil."
Jemarinya bergerak nakal pada dada Chanyeol.
"Kekuatan manusia bukan pada ototnya tapi pada tekadnya," ujar Chanyeol percaya diri sambil mengusap lembut pipi chubby Baekhyun.
Baekhyunpun menangkup tangan Chanyeol yang mengusap pipinya.
Saling menatap hingga jarak keduanya menipis.
"Berbuat macam-macam pada putraku, habis kau Park Chanyeol."
Chanyeol mendengus sebal mendengar suar tuan Byun.
"Dia selalu saja galak."
"Dan dia adalah mertuamu."
Gelak tawa keduanyapun memenuhi kamar Baekhyun.
.
.
.
The End
Hello good people! Ayo support author kita dengan dukungan-dukungan kalian lewat kolom review! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review sesuai dengan chapter yang ingin kalian apresiasi ^^
Thankyou! Salam Chanbaek Is Real!
