edited: 2013/01/24
A Hetalia Fan Fiction
Into the New World Chapter 2:
Warning: political theme, OC, Fem!Indonesia, slight UKxIndo and USUK, and Fem!Malaysia
Hetalia (c)Hidekazu Himaruya
Hari itu Jakarta kembali diguyur hujan—membuat hampir seluruh aktivitas di Ibukota itu lumpuh karena kemacetan parah hampir di tiap jalannya. Di antara seluruh masalah di Ibukota, hanya macetlah yang entah kenapa sampai sekarang belum dapat diatasi dengan baik oleh pemerintahnya. Entah karena lampu lalu lintas yang mati, angkutan umum yang kadang seenaknya berhenti di tengah jalan, atau karena banjir jika musim hujan tiba. Terkadang ia suka bingung melihat fenomena tersebut. Dirinya sekarang adalah negara maju, tapi masalah seperti ini memang belum pernah bisa ia atasi dengan baik.
Dengan hanya memakai payung sebagai pelindungnya dari air hujan, Indonesia berlari di sepanjang trotoar menuju jembatan penyebrangan lima meter di depannya. Tujuannya adalah Istana Merdeka yang berada dekat dengan Monas. Dengan gerutuan yang biasa ia keluarkan jika sedang kesal, gadis itu berlari sepanjang halaman Istana Merdeka dan sampai tepat di depan bangunan bergaya Belanda yang segera disambut oleh Paspampres yang sedang bertugas. Indonesia yang ditemani oleh salah satu petugas berjalan menuju Ruang Pertemuan dimana seseorang telah menunggunya di sana. Ia terperanjat begitu melihat pemuda Inggris itu tengah duduk di salah satu sofa kesayangannya.
"England?! Apa yang kau lakukan di sini?" Pria itu tersenyum seraya berdiri menyambut tuan rumah yang baru tiba sore itu. "Maaf kalau aku berkunjung tanpa memberitahumu. Tapi aku punya sesuatu yang penting untuk disampaikan."
Indonesia menatap mata itu penuh tanya dan mempersilakan tamunya untuk kembali duduk. England meraba saku dalam jasnya dan mengeluarkan sesuatu—sebuah amplop yang terbuat dari kertas perkamen khusus dan diberi cap segel resmi yang sudah terlepas. Diraihnya amplop tersebut dari tangan England dan dilihatnya nama pengirim yang tertera di sudut kiri bawah amplop tersebut.
"America?"
Alis tipis itu mengernyit melihat nama tersebut dan memandang England untuk memastikan. Pria gentleman di depannya hanya mengangguk dan menyuruhnya untuk membaca isi surat tersebut. Selembar kertas dengan lambang negara Amerika Serikat tertera di background kertas tersebut. Tulisan itu diketik dengan komputer—terlihat dari susunan huruf Calibri yang kaku dan rapi.
'Salam hangat, Indonesia. Dengan surat ini aku mengundangmu untuk hadir dalam acara jamuan makan malam yang akan diadakan di Ballroom Menara Petronas—Malaysia, malam ini. Anggap saja ini kompensasi atas tidak dilaksanakannya rapat Nations minggu lalu dariku. Bye!
—America.'
England hanya memperhatikan sosok gadis di depannya tanpa emosi tergambar di wajahnya. Tiba-tiba Indonesia menatapnya dan membuka suara, "Apa kau juga mendapat undangan ini?" Ia hanya mengangguk dan memperlihatkan amplop yang sama kepada Indonesia. "Dengan isi surat yang sama?"
Sekali lagi England mengangguk dan memandang gadis di hadapannya itu—yang sekarang bersandar pada kursinya dan melipat kedua tangannya di dada—kesal dengan sikap pria yang sudah seperti kakak baginya. Entah sejak kapan pertemuan itu berubah menjadi kontes adu tatap-menatap paling lama. Keduanya hanya diam menatap lawannya tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Dan semuanya berakhir ketika Indonesia menghela napas dan berkata, "lalu kau akan pergi? Ke undangan makan malam itu?"
"Dengan sangat menyesal, aku tak bisa melakukannya Indonesia." pria itu mengulaskan senyum permintaan maaf, "aku sudah berjanji dengan seseorang di malam itu."
.
.
.
Sabtu sore itu, Indonesia segera menuju Bandara Halim Perdanakusuma, tempat pesawat jet sudah disiapkan. Dengan diiringi beberapa petugas berseragam militer lengkap, Indonesia memasuki pesawat jet dengan lambang Garuda di sisi badan pesawat jet tersebut. Bukan berarti ia sering berpergian memakai fasilitas yang diberikan Presiden padanya, hanya saja kali ini ia merasa tak sabar untuk segera sampai ke negara tetangganya itu. Sekitar duapuluh menit kemudian, pesawat milik militer Indonesia tersebut sudah mendarat di landasan khusus Bandara Internasional Abdul Razak. Indonesia yang tak ingin membuang waktu dengan melihat-lihat tata ruang Ibukota Malaysia, segera menuju Menara Petronas.
Saat ia sampai di Ballroom yang dimaksud oleh America, dilihatnya beberapa personifikasi Negara Asia dan Eropa telah berada di sini sebelum ia datang. Sebut saja Italia dan Germany yang sedang mengobrol dengan Russia dan China. Di dekat jendela kaca transparan di seberang ruangan, dilihatnya Thailand, Laos dan Vietnam yang berjalan menghampirinya.
"Indonesia! Kukira kau tak akan datang! Oh ya, bagaimana dengan Malaysia? Apa kalian sudah berbaikan? Apa kau hadir di sini atas undangan dia juga?" sudah seperti santapan sehari-harinya, Indonesia hanya diam ditanyai macam-macam oleh Laos—tepatnya personifikasi negara tersebut. Sementara Thailand dan Vietnam yang tadinya ada di sebelah Laos, setelah menyapa Indonesia kini menghilang entah kemana.
Baru setelah negara yang lebih muda darinya itu selesai berceloteh, Indonesia menjawab agak kesal, "Ugh! Bisakah kau tidak berbicara tanpa jeda seperti tadi? Kalau maumu aku menjawab semua perkataanmu, ya, aku datang ke sini! Bagaimana dengan Malaysia? Aku saja sudah tak bertemu dengannya sejak satu bulan yang lalu! Apa kami sudah berbaikan? Tidak. Tepatnya, aku sendiri tidak tahu apakah kami kembali berdamai atau tidak. Apa aku di sini karena undangan Malaysia? Sekali lagi tidak. Aku di sini karena America mengundangku! Puas ?"
Kedua negara itu beradu pandang. Laos terdiam, keningnya berkerut, "Lalu bagaimana dengan England? Apa dia juga datang?"
"Kurasa tidak…" Katanya sambil memalingkan muka. Dalam hatinya, ia mencari sosok pemuda itu di antara para personifikasi negara yang memenuhi ruangan tersebut. Tapi tetap saja, mantan bajak laut itu tak kelihatan batang hidungnya di sini. Dilihatnya langit malam yang terbelah oleh gedung menara kembar Petronas di depannya. Beberapa lampu di ruangan dalam gedung tersebut menyala. Dengan sebuah lift yang dikhususkan berlapis kaca transparan, pengunjung dapat menikmati pemandangan gemerlap Kota Kuala Lumpur di malam hari. Terlihat walaupun hari itu adalah hari Sabtu, Menara Kembar ini tetap ramai seperti biasa—dengan berbagai orang datang ke tempat ini untuk urusan mereka masing-masing.
Mata Indonesia menelusuri struktur bangunan gedung di depannya dan terpaku pada sebuah figur yang familiar baginya. Ia tak memedulikan suasana di sekitarnya. Kali ini Indonesia melangkah lebih dekat ke jendela—berusaha melihat seseorang yang terlihat sedang berada di dalam lift yang melintasi lantai Ballroom tempatnya berdiri. Dan sosok itu pastilah England.
.
.
.
Baginya, menyia-menyiakan waktu adalah hal yang fatal. Bukan kebiasaannya berlama-lama dalam sebuah aktivitas bila ia masih memiliki segudang pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya. Itulah sebabnya ia benci menggunakan lift. Tak sampai lima belas detik ia berada di dalam kotak besi itu, sesekali matanya melirik ke arah jam tangan perak yang melingkar pas di pergelangan tangan kirinya. Terlihat jelas dari gelagatnya bahwa pria ini sedang buru-buru. Bukan berarti ia membenci lift, hanya saja berdiri selama kurang lebih dua menit untuk sampai ke lantai paling atas Menara Petronas sangatlah menyebalkan. Bukannya ia tidak suka memakai lift, ia hanya tak suka berdiri dan menunggu tanpa melakukan gerakan yang akan membuatnya semakin dekat pada tujuannya.
Begitu dentingan lift terdengar dan pintu segera bergeser, England tanpa ragu langsung menyerbu keluar dan mencari orang yang sudah mengirimkan surat undangan padanya. Tak memakan waktu satu menit, pria yang dicarinya kini sedang menatap keluar jendela dengan sebuah teropong kecil yang sedang ia gunakan.
"America? Apa yang kau lakukan?" England menegur personifikasi negara adidaya di depannya. Teropong itu kemudian America masukkan ke dalam kantong celananya dan ia memberikan perhatian sepenuhnya untuk seseorang yang ia undang secara pribadi. Senyum itu mengembang. Sekilas tampak kekejaman yang tersembunyi di balik senyum yang biasa ia perlihatkan tersebut.
"Kukira kau tak akan datang ke sini, England. Hahaha!" suara tawa itu tetap sama, sangat menonjolkan kepercayaan dirinya sebagai negara maju. England bersandar pada kaca tebal di depan America—bersikap seakan tak peduli dan berkata, "Aku tak datang, pun, kau pasti akan tetap memaksa untuk bertemu denganku, kan?"
Pertanyaan retoris itu disambut tawa pelan America yang mundur beberapa langkah dari England. Wajahnya terllihat puas—entah apa karena orang yang benar-benar ingin ia temui ada di sini atau karena hal lain. "Tepat sekali, England! Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu mengenai hubunganmu dengan Negara-negara tertentu." Mata America melirik ke arah Ballroom yang berada di gedung seberang yang berjarak beberapa lantai dari tempatnya berada.
"Tentang Indonesia?"
"Itu salah satunya. Ngomong-ngomong bagaimana dengan Negara Komodo itu sekarang?" nada suaranya terdengar bersemangat seperti biasa, seakan ia sudah melupakan saat-saat bersama negara tersebut beberapa puluh tahun yang lalu. England tersenyum formal, "Ia baik-baik saja—tetap bersemangat seperti biasanya. Saat ini kami sedang membuat proyek kerjasama bilateral antara Inggris dan Indonesia."
"Dalam bidang apa, kalau boleh aku tahu?" tatapan menyelidik yang sekilas itu tertangkap oleh England. Senyum kemenangan samar ia perlihatkan pada America yang berdiri dengan gaya kasual di depannya. "Hampir dalam semua bidang. Sebut saja pendidikan, kebudayaan, pertahanan dan militer."
England membicarakan hal tersebut seakan itu bukanlah sesuatu yang penting. Karena memang itulah yang sedang ia lakukan sekarang, bersikap tenang seperti biasa di depan Negara yang sedang berusaha mengorek informasi pergerakan negaranya secara samar. "Hmm… Apa kau sudah mendengar pesanku?"
"Tentu saja aku mendengarnya. Bahkan aku juga melihatmu di televisi, dengan senyum menyebalkanmu yang tetap tersungging di wajah chubby-mu itu. Sungguh sebuah pesan manis yang bahkan ingin membuatku muntah begitu mendengarnya." America hanya nyengir mendengar kalimat ironi tersebut. Ia melangkah ke samping England dan memandang ke luar gedung. Matanya berubah sendu saat England tak sedang memandangnya. Ia hanya memandang kosong pada keindahan yang disuguhkan kota itu di malam hari.
"Padahal aku tak ingin kau ikut campur, England. Kalau begini, kan, aku terpaksa…"
Raut muka England mengeras, "ini bukan tentang kita, America. Ini tentang dunia yang mulai bergerak kembali ke tempatnya semula. Aku menginginkan perubahan, America."
"Kau tetap berpikiran seperti itu, heh?" tukas America tajam. "Jangan katakan hanya karena hal ini hubungan antara negara kita merenggang, England." Ia menatap dalam bola mata emerald yang seakan bercahaya karena kilau lampu di malam hari. Sekilas raut kesedihan menggelayuti wajah pucat di depannya. Personifikasi negara anggota Dewan Keamanan PBB itu hanya terdiam memandang America tanpa ekspresi.
"Hubungan antara Amerika dan Inggris sederhana saja, hubungan itu kuat karena saling menguntungkan. Aliansi itu tidak didukung oleh ikatan sejarah atau kesetiaan buta. Jangan lupakan kata-kata Perdana Menterimu, England..."
Dan America tersenyum, kali ini dengan tulus. Ia mengajak England ke tempat dimana para personifikasi negara yang lain berada.
.
.
.
Sinar matahari pagi menerobos tirai putih yang membaurkan cahaya itu ke dalam ruangan sehingga menimbulkan efek soft yang hangat dan khas. Dalam kamar tersebut, England terbangun dari tidurnya dan mengerang begitu dilihatnya ruangan tempat ia tidur menjadi begitu terang karena tirai tebal telah disibakkan. Sedikit malas untuk meninggalkan kesenangan pribadinya di tempat tidur, ia melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
Sedikit melamun, ia kembali mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Mengenai pertemuannya dengan America, dan akhirnya mereka pergi ke Ballroom tempat acara makan malam diadakan. Saat ia memasuki ruangan, beberapa pasang mata penasaran tertuju pada mereka yang datang pada saat yang bersamaan. Namun America memutuskan untuk bersikap seolah pertemuan mereka kemarin tak pernah ada, jadi ia memutuskan untuk bersikap normal. Sedikit kesal juga ia dengan kelakuan tak jelas America, tapi hal itu segera terhenti saat England bertemu Indonesia—yang memandangnya aneh.
Dengan handuk kecil di pundaknya, ia keluar kamar mandi dan mulai mengobservasi kamar tidurnya. Ada yang aneh dengan kamarnya. Bukan karena kemunculan pixie-pixie begitu ia memulai beraktivitas, tapi ada seseorang yang masuk ke sini tak lama sebelum ia bangun. England melangkah keluar dari kamar tidurnya, menuruni tangga dan tak melihat siapapun di ruangan itu. Kemudian ia menuju dapur dan terhenti saat dilihatnya seorang gadis yang sedang membelakanginya di meja pantry.
Sekilas ia mungkin berkata bahwa itu Indonesia, tapi ia ingat bahwa gadis satu itu terbiasa mengikat rambutnya dan yang ini membiarkan rambut hitamnya tergerai. Gadis asing itu kemudian sadar bahwa ia tak lagi sendirian dan berbalik menghadap England. Sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya yang dibalas sempurna oleh England. "Bagaimana tidurmu, England?" logat Melayu dalam bahasa Inggris itu terdengar khas saat ia bertanya pada mantan penjajahnya.
"Cukup nyenyak, kalau bisa dibilang. Justru aku kaget saat bangun dan mendapatimu di rumahku, Malaysia."
—TBC.
A/N : mayaoreo here ^J^
Jadi, kenapa Malaysia ada di rumah Englaaaaaaand ?! /author labil
btw, maaf kalau chapter ini mungkin sedikit datar... karena ini masih permulaan cerita, jadi saya masih agak males nulisnya /plak
oh ya, sedikit pemberitahuan... for pairing, it will be USUK, so i'm really sorry untuk anda yang mengharapkan ini UKxNes or anything else... hontou ni gomenasai
Oke, akhirnya saya bisa update juga… so, thank you for reading and don't forget to review!
bubye!
