A Hetalia Fan Fiction
Into the New World Chapter 3:
Warning: political theme, WW III (?), OC, slight UKxNes and UKxMalay
Hetalia ( c ) Hidekazu Himaruya
"Jadi, bagaimana tidurmu, England?"
"Cukup nyenyak, kalau bisa dibilang. Justru aku kaget saat bangun dan mendapatimu di rumahku, Malaysia."
Gadis itu tersenyum ceria seakan keberadaannya di rumah itu adalah hal yang wajar. England mengamati wajah gadis yang dulu merupakan mantan koloninya—ia memutari meja pantry dan sampai di hadapan Malaysia. Alis tebalnya mengerut, menatap personifikasi negara yang entah kenapa mirip dengan Indonesia itu.
"Aku serius, Malaysia. Sejak kapan kau ada di sini ?" suara itu terdengar kaku dan sedikit panik sekarang. Melihat sikap mantan penjajahnya itu, Malaysia hanya nyengir layaknya anak polos yang tak tahu apa-apa. Masih diikuti tatapan England, Malaysia melangkah menuju meja makan besar di ruang utama. Ia tak duduk di antara deretan kursi kayu ukir mahal itu, tapi hanya bersandar di salah satu kursinya sambil memperhatikan England yang masih kebingungan.
"Aku di sini karena kemarin kau mabuk dan seenaknya membuat kekacauan di rumahku. Kukira orangtua sepertimu bisa menahan diri dari minuman beralkohol itu, ternyata sama saja… haah…"
"Hah!? Aku mabuk…?" mata itu menatap tak percaya.
"Ya, dan kau membuat kekacauan di sana. Oh… dan jangan salahkan aku kalau fotomu dengan pose yang tak diinginkan beredar luas, ya!" seketika sudut bibir Malaysia tertarik ke atas, membentuk sebuah seringai saat ia mengingat beberapa foto yang ditujukkan Japan dan Hungary sebelum ia ke rumah England. Di salah satu fotonya, England terlihat ingin 'menyerang' America yang kaget begitu dilihatnya England duduk di pahanya dan hendak membuka kancing kerah atasnya. Sayangnya foto itu diambil dengan posisi England membelakangi kamera, sehingga wajah keduanya tak terlihat. Namun itu saja cukup menghidupkan fantasi liar Hungary dan Japan yang bersemangat menceritakan kejadian itu saat sedang memperlihatkan jepretan foto yang mereka dapatkan kemarin. Bahkan dapat ia bayangkan sendiri tatapan emerald itu menatap dengan penuh gairah dan seringai licik itu mengarah pada America. Lalu dengan cekatan, tangan-tangan terampil itu memojokkan America yang tengah duduk menikmati minumannya dan perlahan membuka kancing kerah atas America dengan satu tangan. Sementara tangannya yang lain melepas kacamata itu dari wajah America yang memerah dan gelagapan. Lalu perlahan wajah gentleman itu mendekat dan...
"Aaargh! Kalau kau ingin membuatku kesal dengan seringaimu itu, lebih baik kau pulang, Malaysia." Raut muka gentleman itu semakin kesal dan memerah—entah apa England sudah mengingat kejadian kemarin atau bukan. Kini ia duduk persis di seberang Malaysia dan menatap kesal pada kekosongan sambil sesekali bersungut.
Setelah tertawa kecil, raut santai di wajah Asia itu berubah serius. "Baiklah, England. Aku punya sesuatu yang harus kaudengarkan—sampai saat ini berita ini masih off the record, tapi aku tak tahu apakah ini akan disebarluaskan atau tidak. Kau tahu kabar terkini mengenai konflik di Timur Tengah, bukan?" England mengangguk dan kembali mendengarkan nada suara Malaysia yang terkesan sangat buru-buru.
"Kabarnya Amerika membentuk koalisi baru oposisi Suriah. Yang berarti…"
"Maniak hamburger itu jelas-jelas menantang kita, bukan? Itu maksudmu?" Pria itu mengambil kesimpulan yang segera dibalas gelengan oleh wanita di depannya. "Bukan hanya mengenai Suriah, situasi di negara Timur Tengah saat ini semakin memanas."
"Apa maksudmu?" Alis tebal itu mengerut, tak percaya dengan perkataan salah satu anggota British Commonwealth tersebut. "Sederhananya, Amerika seperti membatasi hubungan kerjasama negara Timur Tengah dengan kita. Salah satu penyebabnya mungkin Russia yang pertama kali memanas-manasi keadaan dengan mendukung pendapat Kepala Negara Suriah itu."
"Bukankah dia juga mendukung keputusan Amerika? Kalau tak salah, hampir semua anggota Uni Eropa mengakui koalisi baru oposisi Suriah. Negara Teluk saat ini mulai mengambil sikap serius dengan kelompok 'pemberontak' itu. Dan Prancis yang pertama kali mengintervensi masalah ini mengakui koalisi tersebut sebagai 'wakil sah' rakyat Suriah."
"Memangnya rakyat Suriah setuju?" pertanyaan retoris itu Malaysia lontarkan seraya menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ukiran kayu mewah di hadapan England. Tampaknya ia sedang berusaha keras berpikir tanpa menyadari England yang memperhatikannya.
"Yaah… dilihat secara keseluruhan, itu tak mungkin, Malaysia. Yang menarik perhatianku saat ini adalah, keputusan apa yang akan diambil Liga Arab mengenai Suriah dan Iran?" mata emerald itu menatap Malaysia—ia tersenyum seperti biasa.
"Uji coba nuklir itu, maksudmu?" alis tipis Malaysia sedikit mengerut—terlihat bahwa ia sedang memikirkan perkataan England namun tak ia hiraukan arti tersembunyi di baliknya. Sebelum England sempat menjawab, Malaysia kembali berbicara—kali ini dengan nada yang lebih serius. "Mengenai proyek itu, Amerika memutuskan untuk mengambil langkah diplomatik untuk membujuk Iran menghentikan proyek nuklirnya—seperti apa yang disarankan PBB."
"Berarti mereka memutuskan untuk menarik garis merah terhadap Iran?" tatapan England penuh selidik. Kali ini tak ada ekspresi main-main di sana. Tanpa mereka sadari, jam antik di ruangan tersebut berdentang, menunjukkan pukul tujuh pagi. Waktu di mana seharusnya England sudah sarapan dan bersiap pergi menuju Istana Westminster—rutinitas yang biasanya tak pernah tertunda.
Namun kali ini situasinya berbeda, keduanya tak bergeming dari tempat duduk masing-masing. Malaysia menegakkan sikap duduknya, kesepuluh jarinya ia tautkan di atas meja. Mata coklat gelapnya menatap tautan jarinya dengan intens sebelum ia angkat bicara, "Bagusnya mungkin itu, tapi ada satu masalah muncul, yaitu Israel. Mereka tidak puas dengan keputusan Amerika yang dianggapnya dapat membahayakan Israel kalau proyek itu tak segera dihentikan. Ini masih rencana—dari apa yang kuperoleh, mereka akan mengambil tindakan intervensi militer untuk menghentikan proyek nuklir tersebut."
Selesai sudah apa yang ingin disampaikan negara Melayu tersebut. Ia kini memperhatikan England yang sedang melihat kekosongan di hadapannya. Pandangan mata itu kemudian beralih ke Malaysia, "Dasar bocah egois… Siapa saja yang mengetahui rencana itu?"
"Baru aku, kau, dan Turki. Jadi, apa langkahmu selanjutnya?" diamatinya wajah pemuda British itu. Ketenangan masih ada di sana, tanda bahwa England sudah memikirkan apa yang selanjutnya harus mereka lakukan. Dan dalam satu tarikan nafas, ia berkata, "Beritahu Indonesia. Negara itu akan berperan banyak dalam pengambilan keputusan sikap Iran. Entah apakah Israel sudah memberitahukan hal ini pada America, aku akan bicara dengan maniak hamburger itu."
"Dan…" England menatap dengan keseriusan. "… perkiraanku jika intervensi militer itu benar-benar terjadi, maka saat itulah Perang Dunia III akan terjadi."
.
.
.
Di belahan dunia lain—dengan perbedaan waktu tujuh jam lebih lama dari Inggris, pagi itu ia lewatkan dengan ritual paginya seperti biasa. Bangun tidur jam enam pagi, diam sebentar di tempat tidur lima menit dan segera mencuci muka. Satu bagian yang wajib dilakukan dan tak boleh terlewatkan adalah secangkir kopi panas dan donat yang masih hangat. Dengan lahap ia habiskan dua potong donat dan disesapnya kopi sambil melihat acara pagi di televisi. Lima belas menit berlalu, barulah ia bersiap-siap menuju Gedung Putih.
Namun ritual paginya itu tidak selesai dengan sempurna saat handphone-nya berdering. Dengan sedikit cemberut, dilihatnya caller ID yang terpampang di layar ponselnya, England. Tak langsung diangkat, America merenung sebentar dan dengan ragu dijawabnya telepon itu.
"… England?"
"Lama! Apa yang sedang kau lakukan, huh!?" suara di seberang terdengar kesal dan terburu-buru. America tertawa dan menjawab, "Haha! Kau ingin tahu apa yang dilakukan hero pagi ini, England?"
"Hah?! Siapa yang… America, aku sedang tidak berselera untuk meladeni sikapmu itu. Jadi berikan respon yang benar tanpa bercanda. Mengerti?"
Mendengar nada serius England, America segera menghabiskan kopinya dan fokus sepenuhnya ia berikan pada England. "Baiklah… Ada apa?"
"Mengenai keputusanmu untuk berdiplomasi dengan Iran, apakah kau sudah mempertimbangkan mengenai kemungkinan yang akan terjadi?" America terdiam sebentar dan berpikir kemana arah pembicaraan ini. "Apa maksudmu?"
"Mengenai Israel—apa kau sudah mengetahui keputusan Israel?" suara itu terdengar sangat mendesak. America hanya bertanya, "England, darimana kau tahu masalah ini?"
"Kalau kuberitahu siapa yang membocorkan, apa yang akan kau lakukan?"
"… menurutmu?"
.
.
.
Aneh, kalau ia pikir sekali lagi. Perkembangan teknologi zaman sekarang memang mengejutkan. Dini hari tadi, ia masih berada di Turki—membahas situasi di Timur Tengah yang sedang memanas. Dari Turki, ia mendapat banyak alasan mengapa area Timur Tengah sangat rawan terjadi konflik . Maklum, daerah itu memang memiliki banyak potensi sumber daya alam yang menjanjikan. Jadi, sekalipun Amerika memutuskan untuk memboikot Iran dari negaranya, itu tak akan bertahan lama. Karena Iran merupakan negara terbesar pemasok minyak bumi. Dan lagi-lagi ini karena masalah sumber energi tak terbarukan itu dunia menjadi gila.
Dilihatnya lagi jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang. Seharusnya Indonesia sedang berada di Istana Merdeka atau berjalan-jalan di sekitar kawasan Monas. Dan benar saja, begitu ia memasuki pelataran Monas, Malaysia langsung menemukan gadis itu tengah memakan baksonya dengan lahap.
"Malaysia!?" terlihat raut Indonesia yang kaget namun menyiratkan kegembiraan yang samar. Malaysia menarik nafas dan segera duduk di samping Indonesia. "Dengar, jangan katakan apapun sampai aku selesai memberitahukan hal ini padamu, oke?"
Sebenarnya ia sedikit malas bertemu dengan Indonesia mengingat terakhir kali mereka bertemu, itu berakhir dengan pertengkaran yang berbeda dengan biasanya. Hal itu membuat Malaysia agak menarik diri dan menghindar bertemu dengan Indonesia. Dilihatnya personifkasi negara yang fisiknya mirip dengan dirinya itu mengangguk bingung.
"Kau tentunya tahu dengan proyek nuklir Iran bukan?" Malaysia kembali menceritakan informasi yang didapatkannya dari Turki. Selama kurang lebih sepuluh menit ia bercerita, Indonesia hanya duduk tenang sambil menyantap baksonya. Ia terlihat begitu tenang, tak seperti yang Malaysia harapkan. Maka ia pun bertanya, "lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku? Kau masih menanyakan kepada siapa aku akan berpihak?" Ia menatap seakan pertanyaan pertanyaan Malaysia adalah hal yang tak perlu diungkit lagi. Personifikasi negara Melayu tersenyum miris, "Oh, ya… aku lupa. Jadi apa tindakanmu?"
"Entah. Russia menawarkan kerja sama padaku." Kata Indonesia setelah menyeruput habis kuah baksonya dan dikembalikannya mangkok itu pada sang penjual yang kebingungan mendengar percakapan kedua gadis belia di tampatnya mangkal.
"Dan kau menerimanya?" dengan nada menyangsikan Malaysia menatap bola mata coklat kehitaman di sampingnya. Ia tak memedulikan tatapan si penjual bakso yang sesekali melirik dan mencuri dengar percakapan mereka. Apa yang dimengerti penjual bakso tentang konflik di Timur Tengah atau konflik antar kedua negara yang masih bersaing sejak Cold War? Raut muka Malaysia berubah menjadi sedikit tertekuk—ia tak pernah suka berhubungan dengan Russia, entah kenapa.
"Kenapa tidak? Selama itu tidak merugikan untukku—negara ini—aku tak akan menolaknya." Alis itu mengernyit mendengar jawaban Indonesia, menyiratkan ketidaksetujuannya akan alasan Indonesia. "Apa England tahu soal itu?"
Sosok itu kini membelakangi Malaysia, menghadap Monas yang masih berdiri tegak hingga hari ini. Sebuah jawaban yang tak terduga keluar dari mulut mungil gadis berpenampilan 17 tahun tersebut.
"Kenapa England harus tahu?"
To Be Continued—
A/N: mayaoreo here~ Akhirnyaaa... jadi, apakah chapter ini memuaskan? menghibur anda sekalian? tampung saran anda di kotak review sekarang! /eh?
sekali lagi, karena ini bertema politik yg gaje, tolong dimaklumi isinya yg mungkin akan menyinggung beberapa negara ya. saya senang jika anda senang membaca ini. terima kasih. ^^
p.s. jika anda tidak mengerti apa yang dibicarakan para nation dalam cerita, anda bisa tanyakan pada mbah google atau tante yahoo!
