"Untuk apa England tahu? Memangnya aku harus melapor tiap kali aku berhubungan dengan negara lain?"
"Jaga bicaramu, Nesia! Kalau England tahu…"
"'Kalau England tahu!' Hah ! Kenapa kau sangat peduli padanya? Memang apa salahnya aku berhubungan dengan negara lain?" mata coklat itu sejajar menatap kesal. Ia memotong ucapan negara yang masih satu rumpun dengannya itu—menyangsikan ucapan Malaysia. "Itu terserah padaku mau bekerjasama dengan siapa. Aku tidak ingin diintervensi saat aku sudah merdeka dan berdaulat, tidak seperti saat aku masih bersama Netherland dan Japan."
Into the New World Chapter IV:
Disclaimer: Hetalia ( c ) Hidekazu Himaruya
Warning: political theme, WW III, OC, Fem!Indonesia, Fem!Malaysia
Malaysia tak habis pikir dengan saudaranya itu. Tidak tahukah Indonesia—apa yang sudah diucapkannya bisa menjadi senjata makan tuan? Mungkin ia bisa aman jika mengatakannya pada Malaysia, tapi tak ada jaminan kalau Malaysia tak akan melaporkan ini pada England. Padahal dulu hubungan mereka buruk, bagaikan kucing dan tikus. Keduanya seringkali terlibat dalam adu mulut saat mereka bertemu. Keadaan semakin memanas saat perebutan hak kepemilikan dua buah pulau yang kemudian dimenangkan oleh Malaysia.
Tak sampai di situ saja, keduanya juga pernah hampir dalam keadaan siaga perang satu sama lain beberapa tahun lalu. Namun ketegangan mereda berkat mediasi dari perwakilan beberapa negara ASEAN. Setelah itu pun keduanya jarang bertatap muka. Kedua personifikasi negara tersebut seakan menyibukkan diri agar tidak bertemu satu sama lain.
Tapi itu beberapa bulan yang lalu bagi Malaysia. Di tengah proyek kerjasamanya dengan Turki, ia mendengar kabar tentang semakin dekatnya hubungan Indonesia dan Inggris. Awalnya, ia meragukan berita tersebut. Karena setahunya, Indonesia bukan negara yang suka bergabung dengan kubu manapun. Sekalipun ia dalam keadaan ekonomi terdesak atau keamanan nasional yang rawan, ia tak pernah menerima ajakan koalisi secara utuh dari siapapun. Dan kali ini ia menyalahi politik luar negerinya sendiri—dengan England pula!
'Apa yang dipikrkan Indonesia, sih?!' teriak Malaysia frustasi dalam hati. Ia tahu negara yang masih satu rumpun dengannya itu memang sulit ditebak. Sewaktu Indonesia masih dijajah Belanda—Netherland, ia adalah seorang nasionalis yang keras kepala. Sampai akhirnya jatuh ke tangan Jepang, ia tetaplah personifikasi negara dengan rakyat yang mempunyai nasionalisme dan keinginan merdeka yang kuat. Dan setelah merdeka—setelah rezim pemerintahan itu silih berganti, kemana nasionalisme yang dulu dielu-elukan rakyatnya? Mana kebanggaan akan ideologi Pancasila dan the founding father mereka yang dulu sangat berpengaruh di dunia internasional?
Sejujurnya dalam hati Indonesia, ia menyadari secara perlahan lubang degradasi ideologi Pancasila itu kian menganga. Sejak zaman orde baru, segalanya seakan diputarbalikkan oleh mereka yang memegang kekuasaan tinggi negara ini. Karena itulah, saat ini ia tak bisa hanya diam melihat mirisnya moral rakyatnya ditengah kemajuan negara yang begitu pesat. Ia tak akan membiarkan dirinya diperalat lagi.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" nada suara Malaysia melunak. Ia tak bisa memaksakan pendapatnya pada Indonesia—kali ini ia mencoba untuk mendengarkan Indonesia. Ia juga merasa tak nyaman acap kali mereka harus bertengkar hanya karena masalah sepele. "Aku tahu pikiranmu tak sependek ini, kan?" ia memicingkan mata pada Indonesia yang tersenyum kecut.
"Kalau kukatakan padamu, apa kau mau merahasiakannya dari England?" kalimat itu keluar dari mulut Indonesia. Bukannya ia tak percaya pada Malaysia, tapi bagaimanapun dekatnya mereka, Indonesia tahu Malaysia adalah salah satu orang kepercayaan England. Salah bicara bisa-bisa apa yang ia ucapkan bisa dilaporkan pada gentleman itu. Dan ia tak mau England mengetahui terlalu banyak tentang pergerakannya.
Kenapa? Karena sekalipun ia tak berada di kubu America, terkadang tindakan England itulah yang membahayakan. Jika diawalnya ia membantu negara yang berperang dengan bantuan senjata, logistik ataupun prajurit, England akan menjadi sangat memperhatikan atau bahkan mengambil-alih setiap tindakan yang diambil negara yang dibantunya. Dengan kata lain, England membantu negara lain dan dengan perlahan ia menjajah negara tersebut secara tak langsung.
Selama England membantunya dalam pembangunan negaranya, perlahan ia mulai menyadari bahaya campur tangan itu dan memutuskan untuk menjaga jarak dengan personifikasi negara pecinta teh tersebut. Dan saat itulah tawaran Russia datang yang langsung ia setujui hari ini sebelum ia pergi ke Monas untuk makan. Kerja sama itu bukanlah kerja sama yang formal. Isi agenda diskusi itu bukan mengenai keuntungan dan kerugian yang akan terjadi bila keduanya mengadakan hubungan kerja sama. Russia berbeda dengan England. Ia tak terlalu peduli dengan keuntungan yang akan didapat negaranya—ia hanya ingin apa yang seharusnya terjadi, ya terjadilah.
"Katakan saja, lah, Indonesia…" logat Melayu itu membuyarkan lamunannya—mendorongnya untuk mengungkapkan secara garis besar apa yang ingin ia lakukan. Tapi sebelum itu, mereka harus pergi dari Monas, karena si penjual bakso nampaknya mulai memperhatikan pembicaraan mereka walaupun gesturnya berlagak tidak mendengar. Rakyatnya bisa heboh kalau tahu ia adalah personifikasi negara yang selama ini mereka tempati. Bisa-bisa mereka heboh karena paras personifikasi negara mereka yang sangat cantik ini.
.
.
.
"Hah?! Jadi, kamu memang tidak memihak siapapun?" Malaysia menatap tak percaya gadis berkemeja batik itu. Yang ditanya hanya mengangguk bosan sambil menjatuhkan diri di kasurnya—menatap Malaysia yang duduk di kursi rias di depannya. Sudah tigapuluh menit berlalu sejak ia menegaskan kalau ia memang tak memihak siapapun, Amerika ataupun Inggris, di kamarnya.
Ia hanya menerima kerjasama dari Russia karena ia berpikir itu akan menguntungkan dirinya. Setidaknya motif sebenarnya akan tertutupi karena asumsi negara lain yang kebanyakan menganggap ia terlalu pro pada Russia. England sendiri mengatakan kalau ia tak masalah dengan hal ini—itu karena ia tak tahu tujuan sebenarnya Indonesia. Sebagai negara dengan prinsip politik luar negeri yang bebas aktif, ia memang tidak memihak dalam pertentangan antarblok. Aktif dalam artian mengharuskan menghapuskan penjajahan, aktif memperjuangkan perdamaian dan aktif memperjuangkan keadilan dalam suasana internasional. Itulah tujuan yang hendak ia capai.
Lagipula di samping tujuan utamanya tertutupi, ia juga mendapat dukungan penuh dari China, Russia, dan Iran. Dukungan itu ditujukan terang-terangan padanya saat mereka sedang menggelar teleconference tertutup di Kantor Kedutaan Besar Russia di sekitar kawasan Menteng, pagi ini. Hasil dari diskusi itu sengaja tidak disebarluaskan, karena ini menyangkut Amerika, Inggris dan negara boneka yang dibuat keduanya. Jika kebanyakan personifikasi negara resah akan pergerakan America yang agresif, itu memang wajar. Tapi England bukan negara yang terang-terangan menunjukkan maksudnya. Personifikasi negara itu lebih memilih jalur belakang daripada konfrontasi dari depan. Dan itu terbukti lebih menguntungkan. Namun membuat Indonesia harus berpikir keras untuk merencanakan siasatnya.
"Dan ini artinya kau akan ikut dalam perang Iran-Israel atau tidak?"
"Karena Iran sudah memutuskan untuk membantuku, aku tak bisa mengatakan 'tidak', bukan?" Indonesia menjawab malas sambil memeluk bantal. Ia kemudian berkata setelah memperhatikan gadis yang mirip dengannya itu, "Malaysia, aku tahu sejak malam kemarin kau belum sama sekali tidur, kan?"
Mata coklat itu menyipit, memaksa Malaysia untuk mengangguk setengah hati sambil bertanya-tanya dalam hati tentang sikap personifikasi negara di hadapannya. Indonesia lalu tersenyum. "Kalau begitu lebih baik kau tidur di sini—bersamaku. Lagipula sudah lama sekali bukan kita tak pernah menghabiskan waktu seperti ini, kan?"
Indonesia menggeser tubuhnya untuk memberi ruang kepada Malaysia. Ditatapnya Malaysia yang masih ragu yang akhirnya menyerah juga karena kantuk tiba-tiba menyerangnya. Sejak kemarin ia memang belum tidur sama sekali, karena harus pergi menemui England dan ke Indonesia mencari gadis itu. Karenanya, perlahan ia beringsut dari kursi dan berbaring menghadap Indonesia yang tersenyum lebar. Alis tipisnya berkerut walau ia tak mampu menahan senyumnya juga, "Ini menyeramkan, tahu. Darimana kau tahu aku tidak tidur sejak kemarin?"
Setelah memberi bantal pada Malaysia, Indonesia menutup matanya dan tersenyum penuh rahasia. "Insting. Kau kan, tahu kalau instingku itu kuat."
"Kau memang aneh, Indon..."
Dan mereka pun terlelap. Keduanya mengistirahatkan diri selagi ada waktu, karena mereka sadar sebentar lagi keadaan akan berubah. Dan hanya saat inilah mereka bisa menikmatinya berdua, di mana tak ada seorang pun yang mengganggu.
To Be Continued—
A/N:
Hullo! mayaoreo here!
Hiks… aku baru tahu ternyata Indon dan Malay bisa se so sweet ini… Q_Q #plak
Oh yeah… I am not going to baw and throw a bitch fit for you expressing your opinion. I like to know what people thinks of my writing or ideas. And yes, I do enjoy lovely positive comments, just like everyone else. they make me feel fuzzy and happy inside but that does not mean that's all I want to hear.
So, don't forget to tell me what you feel or think after read this story, 'kay? :3
Thank you and… bubye!
