Di dalam ruangan kedap suara itu, hanya terdiri dari satu meja kayu ukir kuno dan dua kursi dengan ukiran kayu yang sama. Ruangan itu hanya disinari satu buah lampu neon dan sebuah pendingin ruangan di salah satu sudutnya. Terdengar suara langkah kaki di balik pintu besi di luar ruangan tersebut. Sepatu kulit hitam Versace beradu dengan lantai marmer menghasilkan suara ritmis ditengah kesunyian ruangan itu.
Gagang pintu besi itu bergerak dan pintu pun terdorong dan kembali menutup. Langkah ritmis itu terdengar lagi, mendekati meja di tengah ruangan—berlama-lama dalam setiap langkahnya—dan duduk di sebuah kursi yang kosong. Ia tersenyum pada lelaki di depannya.
Laki-laki di hadapannya mengamati dirinya yang tetap tenang, sebelum akhirnya menghela nafas. Tatapan tajam di balik kacamatanya itu menatap lekat iris hazel miliknya. Ia tahu arti dari tatapan itu—sebuah peringatan keras—dan ia tak peduli.
"Sudah berapa kali kukatakan padamu untuk berhati-hati dengan lidahmu. Apa yang keluar dari mulutmu, nantinya akan menjadi sorotan dunia. Apakah waktu yang kuberikan belum cukup untuk membuatmu belajar…"
Wajah yang biasanya ramah itu tertekuk kaku, "… Israel?"
Into the New World Chapter V:
Hetalia ( c) Hidekazu Himaruya-sensei
Warning: OC, WW III, ooc (?)
oh ayolah, kita hanya akan menyaksikan para personifikasi negara itu berbicara mengenai politik, politik, daaaan... politik...
so, prepare yourself and… enjoy reading, reader-sama!
Anak itu tak bergeming, ia tetap duduk dengan mata hazelnya menatap datar. Bahkan dihadapan America, ia mengalihkan pandangannya tak acuh. Kulit putihnya yang halus bak pualam itu tak menunjukkan perubahan emosi sama sekali. Melihat tingkah gadis belia di depannya itu, America berdiri dan melangkah ke hadapan Israel.
Alis tebal gadis itu mengernyit saat America berhenti tepat di sampingnya. Sejurus kemudian, tangan kanan America menampar wajah mulus itu hingga membuatnya terjatuh ke lantai. Mata gadis itu terbelalak kaget, tangan kanannya yang bebas memegang bekas tamparan itu. Dapat ia rasakan darah segar mengalir di sudut bibir kirinya. Bekas tamparan itu meninggalkan lecet di pipinya yang putih. Membuatnya terlihat sangat kontras. Tapi ia tetap tak bergeming dari kebisuannya.
Wajah America tetap datar, menatap rendah Israel. "Aku memberimu kebebasan bukan untuk bersikap seperti ini kepadaku. Kenapa kau memutuskan tanpa memberitahukannya padaku?" suara rendah dan dingin itu terdengar di telinga Israel.
"Percuma. Percuma, America." Suara lirih itu diselimuti kepahitan. Mata hazel itu menatap pintu besi yang tertutup, sengaja menghindar dari tatapan tajam di hadapannya.
America menatap Israel tak mengerti. Ia kini maju dan memegang kerah blazer hitam yang dipakai gadis itu dan mengguncangnya pelan seraya berkata, "Apa maksudmu?"
Kedua mata dengan iris yang berbeda itu bertemu, keduanya dipenuhi pikirannya masing-masing. Perlahan Israel menyeringai kecil. "Aku sudah melancarkan rudalku ke negara itu."
"Apa?" suara America pelan, nyaris berbisik, bersamaan dengan dilepasnya cengkraman dari blazer itu. Israel melanjutkan, "Dan jangan bertingkah seakan kau lebih tinggi dariku. Apa kau ingat siapa yang membantumu hingga kau bisa mencapai posisimu saat ini?" mata hazel itu menatap tajam.
Kemudian Israel menepis tubuh America dari hadapannya dan berdiri tegak. Gadis itu merapikan blazer hitamnya dan berkata pada America yang hanya bisa terdiam, "Aku kemari hanya untuk memberitahu hal ini. Jangan melakukan hal yang tidak perlu. Tentunya kau masih ingin menggenggam hegemoni itu, bukan?"
.
.
.
Moskwa, Russia.
"Aaargh! Bocah sialan itu ternyata sudah mengambil langkah lebih dulu dari kita…" Indonesia mengacak-acak rambunya, frustasi akan kabar yang baru saja di sampaikan China padanya. Russia hanya tersenyum seperti biasa mendengar kabar itu. China menyesap teh hijaunya dengan tenang.
"Lalu, apa yang akan kalian perbuat?" mata cokelat Indonesia menatap kedua personifikasi negara senior di depannya.
"Tentu saja kita akan memberinya hadiah atas serangan itu. Iya kan, China?" Russia tersenyum senang menatap pemuda di sebelahnya.
"Umm, yaah… begitulah, aru."
"Menurutmu hal seperti apa yang harus kita berikan? Pengeboman secara terang-terangan? Bom nuklir? Serangan rudal seperti yang bocah itu lakukan? Atau menyusup dari dalam dan sebarkan rahasia negaranya? Ah! Atau kita serang saja dari segala arah. Bagaimana?"
Russia mengucapkan semua rencana jahatnya dengan senyum tak berdosa, cukup untuk membuat Indonesia berjengit sejenak. Seperti biasa, fantasi mengerikan Russia memang sangat mengerikan dan berbahaya, beda jauh dengan ekspresi mukanya yang charming.
"Err… Russia, pengeboman secara terang-terangan hanya akan membuat masalah menjadi runyam, menyusup dan menyebarkan rahasia negara lain itu termasuk kejahatan menurut Mahkamah Internasional. Sedangkan pemakaian bom nuklir memang dilarang dalam perang, dan penyerangan secara habis-habisan apalagi… bisa-bisa kita yang dikira otoriter, kan?" kata Indonesia yang langsung mencomot pisang goreng yang terhidang di meja bundar itu.
Sore itu mereka sedang berbincang diselingi kudapan khas masing-masing negara. Hanya sebuah diskusi ringan pada awalnya yang kemudian berkembang membahas masalah-masalah serius. Indonesia sendiri sangat menikmati berkumpul dengan kedua personifikasi negara komunis itu. Keduanya tidak terlalu memikirkan latar belakang atau keadaan negaranya. China dan Russia hanya bersikap seperti biasa.
"Sebenarnya, Indonesia, sah-sah saja kalau kita menyusup dan menyebarkan rahasia negara itu ataupun melakukan aksi propaganda. Asalkan tidak ketahuan sama sekali, aru." China menggigit lagi bakpao isi kacang merah yang ia makan. Mengunyahnya secara perlahan sambil memuji dirinya yang bisa membuat bakpao seenak itu.
"Haha… bagus sekali, China." Nada sarkasme yang mengejek jelas terdengar dari bibir ranum gadis di hadapannya. China hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai pujian. Toh, ia memang iseng mengucapkannya.
"Berbicara soal rahasia, aku punya sebuah informasi berharga untuk dijual, da." Indonesia menatap dengan tanda tanya.
'Tumben-tumbennya Russia memulai percakapan ala ibu-ibu rumah tangga di Indonesia.'
Dalam hati, personifikasi negara berideologi Pancasila itu tersenyum geli membayangkan kebiasaan ibu-ibu rumah tangga di dekat rumahnya yang gemar bergosip saat belanja di gerobak tukang sayur yang tiap jam enam pagi sudah keliling di sekitar komplek perumahannya. Dalam hati ia tertawa dengan deduksi dangkal ibu-ibu itu tiap kali mereka membicarakan soal kasus perceraian artis kondang yang sedang marak muncul di layar televisi atau mengenai kasus perselingkuhan mantan artis yang kini duduk di kursi parlemen.
Rasanya seperti hiburan tersendiri mendengar gagasan lucu dan terkadang kurang masuk akal dari rakyatnya sendiri mengenai berita di acara gosip yang menjamur hampir di tiap stasiun televisi tanah air. Yah, walau kadang-kadang dirinya juga suka ikut menimpali pembicaraan itu, dan jadilah ia suka terlambat hadir di upacara bendera tiap Senin karena ikut-ikutan ngerumpi di gerobak tukang sayur yang empunya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah para pelanggannya itu.
"Informasi apa? Tentang dunia entertainment di negaramu?" cerocos Indonesia tanpa tedeng aling-aling. Sepertinya pikirannya mulai diracuni kebiasaan Senin paginya yang tak pernah absen ngerumpi jamaah di gerobak tukang sayur langganannya.
"Jangan samakan informasi ini dengan berita kacangan itu, da. kau kira kami tak tahu kebiasaan rakyatmu yang doyan membicarakan orang-orang tak penting seperti itu hampir tiap harinya, da?" Russia menatap Indonesia telak. Sebenarnya kalau boleh dikoreksi oleh personifikasi negaranya sendiri, rakyatnya memberitakan hal itu tiap harinya di layar kaca.
"Aku hanya bercanda… " Indonesia mencibir.
"Cukup dengan intermezzonya, aru. Lalu apa maksudmu dengan informasi yang sepertinya sangat off the record itu, aru?" China menengahi pembicaraan kedua personifikasi di depannya yang mulai ngawur.
Ayolah, daritadi dia sudah menahan dirinya untuk tidak bertanya-tanya pada Indonesia mengenai David Beckham yang kabarnya sedang berkunjung ke negara di belahan khatulistiwa itu. Diam-diam ia adalah penggemar berat mantan pemain di salah satu klub sepakbola di Amerika itu. Dan baru-baru ini dia sangat menyetujui rencana kedatangan pensiunan pesepakbola ganteng itu untuk berkunjung ke negaranya. Tentu saja ia sangat kelewat senang mendengarnya dan ia tengah memikirkan cara untuk bisa mendapat waktu bebas bersama idolanya dibalik padatnya jadwal kunjungan itu.
(Oke, cukup. Jangan biarkan siapapun itu membuat cerita ini menjadi ngawur!)
"Ehm… Jadi, apa maksud ucapan awalmu tadi, aru?" ia menyembunyikan wajah excitednya begitu diingatnya kabar menggembirakan itu. Walau pada akhirnya Indonesia dan Russia melihatnya serempak dengan tatapan agak aneh.
Russia yang tak mau pembicaraan absurd ini mengarah ke hal yang lebih ngawur lalu memulai penjelasannya. "Aku secara sangat rahasia menempatkan beberapa agen kepercayaanku untuk menyusup ke beberapa organisasi pemerintah yang vital di Amerika. Tujuanku bukan hendak merencanakan aksi teroris atau apapun itu, tapi untuk mencari sesuatu yang mereka sembunyikan. Entah itu beberapa kejadian yang sengaja ditutupi pemerintah kapitalis-liberal itu dari publik atau apapun yang bisa kujadikan sebagai senjata, da."
Ia memberi jeda sebentar dan kembali melanjutkan, melihat kedua personifikasi negara di depannya itu hanya mendengarkan dengan khidmat.
"Awalnya kukira aku akan mendapatkan sesuatu seperti letak penyimpanan plutonium yang sengaja mereka sembunyikan untuk kepentingan militer mereka, tapi apa yang kudapat ini lebih berharga dari itu. Dengan 'ini' memang bukan lokasi bahan pembuat senjata nuklir yang kudapat, tapi 'ini' bisa mengguncang dunia tanpa aku harus bersusah payah mengerahkan militerku, da."
Dari pendahuluan yang dikatakan tuan rumah dimana kali ini mereka berkumpul, Indonesia menangkap maksud tersirat dari ucapan Russia. "Maksudmu sebuah konspirasi? Dengan informasi yang kau katakan sangat rahasia itu, kau ingin membeberkannya pada dunia dan membuat konspirasi besar-besaran?" kesimpulan analisa Indonesia mengundang senyum di wajah pria besar yang hendak menenggak vodkanya.
"Dan ini sangat berkaitan dengan America, aru?"
Oh, tentu saja! Kalau tidak begitu ia tak akan repot-repot mengusut informasi bertaruhkan nyawa agen kepercayaannyadari White House langsung jika bukan untuk menjatuhkan musuh bebuyutannya.
"Lalu, apa kau hanya akan membiarkan pembicaraan ini menggantung sampai disitu dan tak memberitahu kami apa yang kau dapat, atau kau akan menceritakannya pada kami?" Indonesia kembali bertanya dengan nada dibuat sekaan tak tertarik, padahal gestur tubuhnya menegak karena penasaran.
Kali ini ia tahu kenapa hari itu ia dipanggil ke Moskwa di pagi hari Senin waktu negaranya, sampai-sampai ia terpaksa absen belanja di tukang sayur langganannya sekaligus melewatkan jadwal rutinnya dengan ibu-ibu kompleknya. Sesaat pikirannya mengawang, menebak-nebak apa yang dibicarakan ibu-ibu komplek tadi pagi. Apakah kasus perselingkuhan mantan artis dangdut yang kini duduk di bangku DPR? Atau isu masalah kenaikan harga BBM yang kata berita akan diumumkan kepastiannya malam ini?
Ah, sudahlah. Toh, ia bisa bertanya pada si Mbok, pengurus rumah yang ia beri tanggung jawab untuk menggantikannya berbelanja pagi tadi.
.
(Aaah ! Sudah cukup intermezzonya, atau chapter ini hanya akan jadi chapter yang mengulas kebiasaan gosip di Indonesia !)
.
"Kalian berdua tentu tahu jika sebuah negara maju hendak meluaskan pengaruhnya, ia biasa menggunakan berbagai macam cara, da? Misalnya memperluas pengaruh paham ideologi yang dianut oleh negara itu atau bisa juga dengan intervensi yang kemudian pelan-pelan membentuk negara sasarannya itu sebagai negara boneka. Tentunya kalian sudah mengerti akan hal ini, bukan?" pertanyaan itu disusul dengan anggukan kecil refleks dari keduanya.
"Hmm… Indonesia, menurutmu seperti apa hubungan antara America dan England saat ini?" Russia tiba-tiba bertanya blak-blakan tanpa Indonesia sempat mempersiapkan diri untuk menjawabnya. Dalam hati ia sedikit bingung dengan pertanyaan Russia. Karena kalau mau dijelaskan, semua personifikasi negara yang tergabung dalam rapat rutin para Nations tentunya tahu sendiri seperti apa keduanya.
"Eeeh… kalau mau dibilang seperti apa keduanya, tentu kita sudah tahu, bukan? Tapi jika yang kau tanyakan terkait dengan kepentingan negara keduanya, kurasa mereka pun jelas sedang merencanakan sesuatu yang berlawanan. Lihat saja dalam beberapa pertemuan rapat Nations terakhir kita, keduanya sering terlibat adu mulut yang berbeda dari biasanya. Entah mereka berdua sudah mulai kehilangan kepercayaan satu sama lain atau apa, tetapi itu yang kulihat seperti apa yang pada umumnya teman-teman kita melihat."
China tersenyum tipis mendengar kalimat terakhir gadis belia itu. Kemampuannya dalam berkelit memang tak diragukan, atau tepatnya kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu secara diplomatis yang dipelajarinya dari orang-orang hebat negara itu di awal mereka menghirup atmosfer bernama merdeka. Bersilat lidah adalah salah satu kelebihan gadis manis di hadapannya yang kerap mengundang decak kagum peserta rapat Nations termasuk China sendiri.
Walau sebenarnya Indonesia senang-senang saja dengan pujian itu, dalam hati ia merasa bersyukur juga—entah karena memang pada dasarnya atau ini salah satu dampak dijajah Belanda pada waktu itu, yang menyebabkan ia gampang bersilat lidah alias ngeles. Sehingga kebiasaan itu terbawa sampai sekarang dan berkembang, menyebabkan hal itu berakar dalam masyarakatnya sedari dulu.
"Haha… seperti biasa, heh? Kau mencoba mengelak dari pertanyaan itu, Nesia. Kalau tadi itu 'pendapat pada umumnya', lalu bagaimana dengan 'pendapatmu', aru ?"
Indonesia tersenyum kecut mendengar China yang sepertinya sudah terbiasa meladeninya berbicara, apalagi pria itu memanggilnya dengan nama singkatnya yang dibuat oleh Malaysia. Sambil menimbang-nimbang apa yang kira-kira akan ia katakan, jari lentik milik personifikasi Ibu Pertiwi itu kini mencomot klepon yang tinggal tersisa satu di meja bundar itu. Diluar dugaan ternyata orang yang memakan habis lima dari enam buah jajanan khas Indonesia, alias klepon itu adalah Russia.
"Humm… Menurut 'pendapatku', ya? Aku tak begitu mengerti apa yang melatarbelakangi konflik emosi yang kadang timbul dalam diri England tiap kali kami membicarakan hal-hal mengenai America, tapi sepertinya keduanya mungkin pernah terlibat dalam sebuah hubungan yang lebih dalam dari yang mereka tunjukkan selama ini. Dan entah apa maksud ucapanku tadi, aku bahkan tak begitu mengerti." Kalimat terakhir Indonesia tadi tentu saja hanya sebatas omong kosong bagi kedua aliansi komunis yang mendengarkan.
"Haha… oke, coret kata-kataku yang terakhir tadi. Mengenai hubungan dalam yang kumaksud, tentu kita bisa melihat dari gestur tubuh keduanya—itu jika kalian benar-benar memperhatikan. Tapi dalam bentuk seperti apa dan dan alasan keduanya bersikap dingin akhir-akhir ini, aku tak tahu." Indonesia mengakhiri kalimat penjelasan itu dengan mengedikkan kedua pundak nya. Ia tak tahu. Tapi ia bisa menebak bahwa keduanya mungkin sedang memainkan peran masing-masing untuk satu tujuan yang sama, atau memang terjadi perpecahan di antara keduanya, Indonesia tak tahu.
"Pemikiran yang menarik, da. Nah, kenapa aku bertanya pada Indonesia mengenai hal itu, tentu ada kaitannya dengan kedua negara ini, da." Russia kembali memamerkan senyum yang membuat Indonesia kembali berjengit, walau sebenarnya ia mulai terbiasa dengan tingkah menyeramkan pria besar itu.
"Tentunya kalian tahu mengenai peristiwa pemboman Manhattan beberapa waktu yang lalu, kan?" Tentu keduanya tahu, karena pemboman Manhattan itu sendiri didalangi oleh pria besar di hadapan China dan Indonesia.
"Aku menangkap gelagat aneh England saat pasukanku menggempur Manhattan dari udara. Ia sama sekali tidak keberatan dengan rencanaku, da. Bukankah itu aneh, da?" pria besar itu kemudian menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi empuk yang didudukinya, membiarkan kedua personifikasi yang diam-diam dianggapnya sebagai teman itu berpikir.
"Maksudmu itu keputusanmu melakukan pengebomamn saat itu sudah direncanakan oleh England, begitu? Apakah itu dilakukan untuk mengalihkan perhatian kita semua?" Indonesia mencoba berspekulasi dan terdiam memikirkan kalimatnya sendiri.
'Tapi untuk apa ia melakukan hal itu? Sampai-sampai ia membiarkan mantan koloni tersayangnya di bom oleh Russia… Apakah ada sesuatu yang menyebabkan ia harus mengambil sikap seakan tak peduli pada America?' dalam hatinya, Indonesia merasakan hatinya resah tanpa sebab.
'Apakah ini berarti England memiliki tujuan yang lain dari apa yang sudah ia ceritakan padanya?'
Prasangka itu merasukinya, tanpa ia sempat menyadarinya.
To be continued
A/N:mayaoreo here! hullo~
pertama saya mau minta maaf kalau update chapter ini lamaa sekali... benar-benar minta maaf, karena beberapa minggu ini saya disibukkan dengan ujian yang hanya bisa membuat saya pasrah melihat hasilnya. untungnya saya masih bisa menghirup udara libur singkat menjelang event olahraga barbar di sekolah saya yang sebentar lagi akan dilaksanakan (hey, kau terlalu mendramatisir keadaan!)
oh ya, sekedar referensi untuk perkataan Russia soal 'peristiwa pengeboman Manhattan', itu terjadi di cerita saya yang berjudul Antonym (promosi /plak), silakan dicek, walaupun dicerita itu tidak dijelaskan sama sekali apa yg sebenarnya terjadi... yah, silakan mengambil kesimpulan sendiri... #apadah
oke, tanpa mengurangi rasa terima kasih saya pada anda yang sudah mau mengikuti cerita ini, saya mohon kesabarannya untuk tetap mengikuti cerita bertema politik nan gaje ini... saya berterima kasih kepada reader-sama sekalian yang sudah membaca dan mereview, baik masukan pujian ataupun kometar netral kalian semua, really thank you very much, muach muach!
(oke, si author sepertinya mulai ngaco...)
okay, so, thank you very much (again) and please give me review for this chappie~
see you!
