Into The New World Chapter VI:
Hetalia ( c ) Hidekazu Himaruya-sensei
Warning: political theme, OC, Fem!Israel, Fem!Indonesia, dan sedikit UKxIsrael
Enjoy yourself and get the hint! ;-) /sorry for a long update…
America.
Satu nama itu tak luput dari benaknya tiap kali ia mengingat peristiwa pagi hari tadi, membuat raut wajah pualamnya berubah masam. Langkahnya menghentak sehingga menimbulkan gema yang terdengar nyaring dan perlahan memelan begitu mendekati ruang kerjanya.
Ia berhenti tepat di depan pintu ukir itu dan menarik napas keras, dirinya perlu menjernihkan pikirannya sebelum kembali pada kerjaannya. Beberapa detik berlalu, mata bulat itu terbuka, memancarkan aura kekuasaan yang nyata dibalik iris hazel nya.
Ia membuka pintu dan tak terkejut melihat England berdiri—bersandar pada meja kerjanya—menghadap pintu agar bisa melihat dirinya secara utuh. Mata hijau itu memandanginya dengan sorot menimbang-nimbang, bibir penuh itu sedikit tertekuk ke bawah.
Gadis itu menaikkan alisnya dan bersandar pada pintu yang telah tertutup. Ia menanti England berbicara, namun pria itu hanya memandanginya lekat-lekat.
"Apa kau akan memarahiku seperti yang dilakukan America atau berdiri di situ sampai siang?" ujar Israel yang jengah karena ditatap terlalu lama.
Mulut England berkedut. "Tidak, aku hanya sedang memperhatikanmu. Cantik seperti biasa, Israel."
"Terima kasih, gentleman. Tapi sayangnya aku sudah kebal dengan kata-kata manismu itu." Israel melemparkan senyum menantang ke arah England. Ia berjalan mendekati personifikasi negara itu—yang kini menegakkan gestur tubuhnya.
Sekarang gadis itu hanya berjarak tiga puluh sentimeter dari England. Tatapan menantang England dapat dirasakannya sebelum ia bertanya, "Jadi, permainan apa yang sedang kau mainkan sekarang, hmm?"
Perlahan, tangan kiri England merengkuh pipi kirinya yang masih sedikit memerah. Diusapnya pelan sudut bibir Israel yang terluka dengan jemarinya sebelum gadis itu meringis pelan. England menaikkan alis tebalnya melihat reaksi itu.
"America memukulku. Kau tahu sendiri seperti apa dia..." ujar gadis berambut panjang yang terkuncir cepol itu—ia mengangkat bahunya.
Sesuatu berkilat di mata hijau England. "Itu salahmu, karena tidak memberitahu America. Kita tahu seperti apa dia kalau sedang marah."
Jemari England kembali menelusuri wajah bak pualam itu. Ia menyibakkan poni di wajah Israel, sementara tangan kanannya melepas kunciran Israel dengan mudah—seakan ia sudah terbiasa melakukan hal itu pada banyak wanita. Rambut hitam tembaga itu kini terjuntai hingga pinggangnya.
Tangan kokoh itu kini mengelus punggungnya, cukup untuk membuat suhu tubuh Israel meningkat. Mengetahui hal itu, sudut bibir England mengembang, memperlihatkan senyum arogan yang jarang ia perlihatkan pada siapapun.
"Aku ingin menghukummu karena tak mendengarkan instruksi America." ujar England. Suara itu tajam dan serak di telinga Israel—cukup membuatnya terengah.
Mata England berkilat. "Tentu saja dengan caraku sendiri."
.
.
.
"Indonesia, selamat datang di Iran. Kutebak kau ke sini bukan sekedar melihat-lihat, kan?" suara itu terdengar bersemangat—menyambutnya dengan tiba-tiba saat ia keluar dari jet garuda kebanggaannya. Laki-laki itu berdiri dengan percaya dirinya, membuat Indonesia meringis secara tak sadar.
"Aah… kau tak usah menjemputku, Turkey. Ke mana Iran? Bukankah seharusnya dia di sini?" Indonesia mengedarkan pandangannya, namun ia hanya melihat padang pasir di mana-mana.
Sedikit cemberut, ia mulai berpikir bahwa ia tidak mendarat di bandara militer yang biasa, karena ia tak melihat apa pun di sini selain sebuah pondok kayu, sinar matahari yang berlebih dan padang pasir sejauh mata memandang.
Ia berjalan beriringan dengan Turkey, membiarkan pria besar bertopeng itu menunjukkan jalan. Saat mereka semakin dekat dengan satu-satunya bangunan di tengah padang pasir itu, gadis berbaju batik itu bertanya ragu, "Jadi, ini rumah baru Iran?"
Keengganan terdengar jelas dalam suaranya yang semakin meninggi. Turkey hanya tertawa renyah saat pintu pondok itu terbuka.
Perempuan berwajah timur tengah itu memakai celana beige ala timur tengah dan kemeja putih—menatap kami seperti tuan rumah yang terganggu dengan kedatangan dua orang tak dikenal. Perempuan itu mendelik pada Turkey yang masih tertawa, sehingga mampu membuat pria besar itu diam.
"Tak usah kita pedulikan pria masokis itu, Indonesia. Ayo, masuk," ujar perempuan itu yang sudah menghilang ke dalam pondok.
"Kenapa dia marah-marah padamu?" pertanyaan Indonesia bukan bermaksud mencemaskan hubungan keduanya, tapi ia hanya merasa sepertinya sebentar lagi akan ada gosip baru mengenai keduanya.
Turkey hanya mengedikkan bahu dan melangkah santai ke dalam sambil berpikir. "Entah, setelah aku berbicara dengan Malaysia beberapa hari yang lalu dia jadi begitu," jawab Turkey santai.
"Hah? Malaysia? Apa yang dia lakukan di sini?" alis Indonesia mengernyit mendengar nama itu.
"Mereka membicarakan aku dan bocah egois itu." Suara Iran terdengar kesal saat ia muncul lagi entah dari mana.
"Israel maksudmu?" gadis berbaju batik itu bertanya.
"Siapa lagi di wilayah ini yang biasa dijuluki seperti itu, Indonesia?" pertanyaan sarkas itu membuatnya tersenyum geli. Sikap Iran kali ini benar-benar buruk.
Ulah Israel beberapa hari yang lalu memang sangat menggemparkan dunia. Terang saja, personifikasi negara itu—gadis yang terlihat sepantaran dengan Indonesia—memutuskan untuk menyerang Iran hanya karena proyek nuklir mereka yang berkembang pesat.
Dengan berdalih bahwa membolehkan kelanjutan proyek itu sama dengan membawa masalah di kemudian hari, Israel kemudian mengancam Iran secara terang-terangan saat pertemuan antarpersonifikasi negara anggota Liga Arab dan beberapa negara di wilayah tersebut.
Setidaknya begitulah yang diceritakan Russia padanya beberapa jam yang lalu. Saat China sudah pulang lebih dulu, mereka masih melanjutkan obrolan tak jelas itu sebelum Indonesia terbang ke Iran atas saran Russia dan undangan dari Iran sendiri.
(Beberapa jam yang lalu di Moskwa, Rusia)
"Jadi kau mau ikut mengambil bagian dalam perang itu, da?" tanya Russia saat itu. Raut mukanya tersenyum seperti biasa.
"Entah. Akhir-akhir ini aku bingung mengenai hal itu," Indonesia tersenyum sekilas sambil memandang kota Moskwa yang dipenuhi gedung pencakar langit yang menawan. "Bukan berarti prinsipku goyah, hanya saja saat ini, kalau aku ingin mewujudkan cita-citaku, aku harus mengambil bagian di dalamnya. Apakah menurutmu dengan aku ikut mengambil bagian dalam perang, berarti aku sudah melanggar prinsipku sendiri?"
Keduanya terdiam cukup lama sampai akhirnya Russia berbicara, "Entahlah, da. Aku tidak sepertimu, aku seorang komunis. Tapi kalau menurutmu tak ada lagi kesempatan yang sebagus ini untuk mewujudkan cita-citamu, ambil saja, da," pria besar itu kini menatap lurus pada Indonesia. "Lagipula, untuk membuat sesuatu menjadi kenyataan, kita memang harus mengorbankan sesuatu—rela menjatuhkan diri ke dalam lumpur, da."
"Kau serius? Kata-katamu terlalu bijak, Russia. Buku apa yang baru kau baca? Anna Karenina?" mata Indonesia membulat mendengar jawaban Russia. Gadis itu seakan tak percaya Russia dapat mengucapkan kalimat itu.
Senyum di wajah Russia mengembang—bukan pertanda baik, pastinya. "Salah. Aku baru menyelesaikan Kitab Pararatonmu, da."
"Hah?"
"Aku bercanda, da." Perkataan Russia membuat gadis itu kembali bernapas normal setelah sempat terhenti karena jawaban tak terduga Russia. "Tapi, kalau kau memang masih ragu, kusarankan untuk pergi ke menengok Iran. Aku bisa mengaturnya kalau kau mau, da."
Jawaban itu tak diduga oleh Indonesia. "Kenapa kau mau berbaik hati seperti ini padaku, Russia?" gadis Asia itu tertegun sejenak, menatap iris lavender itu lekat.
"Aku tidak berbaik hati padamu. Aku hanya sekedar menjawab pertanyaanmu, itu saja, da."
"Demi kepentinganmu juga, hmm?" gadis belia itu tersenyum tipis.
"Mungkin. Untuk di masa yang akan datang, da," kemudian ia menambahkan. "Tapi aku tidak selicik England, da." Russia menyeringai—Indonesia tersenyum dibuatnya.
Mungkin benar apa kata Russia, jika ia memang ingin tetap memperjuangkan cita-citanya—sekali ini saja—ia harus jatuh ke lumpur. Toh, kalau gadis itu jatuh, ia masih bisa membersihkan dirinya lagi, bukan?
To Be Continued
A/N:
Uhm, We know England is a gentleman, right? But it doesn't mean he treat every woman equally and politely. I don't want to make you think, this is usuk in a romantic way, their relationship is deeper than just a lover—in my view—so, don't get upset or shock when you find out England doing something with someone—woman or maybe man. Hey, there is a probability right? Wahaha!
Finally I can update this story! Thank you for reading :D
