"Di mana ini!?" Gadis dengan kuncir kuda itu bertanya nyaris tak percaya. Di hadapannya, Turkey dan Iran tersenyum menyeringai.
"Selamat datang, Indonesia. Kau wanita pertama yang menginjakkan kaki di sini," Iran mengangkat kedua tangannya, menunjuk pada keseluruhan isi ruangan yang ratusan kali lebih besar daripada sebuah pondok kecil yang tadi mereka masuki. Dinding ruangan itu berlapiskan besi agar tak mudah dihancurkan—dan sebuah sekat ruangan terbuat dari kaca tebal yang memisahkan mereka dengan dua buah tabung raksasa berlapis campuran logam yang terlihat kokoh.
Indonesia mulai meragukan keberadaan pondok itu saat mereka memasuki sebuah tangga bawah tanah yang memilik kode kombinasi yang canggih. Siapa sangka di bawah pondok kecil di tengah padang pasir ini terdapat laboratorium reaktor nuklir raksasa?
.
Into The New World VII:
Disclaimer: Hetalia ( c ) Hidekazu Himaruya
Warning: OC, (maybe) OOC, sisanya seperti yang saya tuliskan di warning sebelumnya~
.
"Ya Tuhan! Apa saja yang kau lakukan selama ini, Iran? Kukira kau hanya bermain-main dengan bijih-bijih uranium itu," pekik Indonesia. Mata gadis itu membulat saat mereka melangkah lebih dekat menuju sekat kaca dengan ketebalan dua sentimeter yang memperlihatkan pemandangan tak biasa itu.
Tabung baja itu menjulang dari langit-langit ruangan hingga jauh ke bawah dan di tahan dengan pilar-pilar besi horizontal di kedua ujungnya. Tak terdengar bunyi apa pun kecuali dengungan halus yang berasal dari mesin-mesin reaktor. Gadis itu melihat orang-orang berjubah putih khas laboratorium sedang mengutak-atik sebuah panel kontrol yang tak jauh dari dua tabung raksasa itu—dan diperhatikannya banyak papan instruksi keselamatan yang ditulis dengan huruf latin dipasang di titik tertentu. Sepertinya ruangan itu menghabiskan dua lantai sekaligus yang digabung menjadi satu.
"Apa mereka orang-orangmu?" Indonesia berbalik menatap Iran.
"Tidak semua. Kau tahu, kan, kalau mereka yang ahli dalam bidang ini tidak banyak, jadi aku bekerja sama dengan beberapa negara."
"Termasuk aku," timpal Turkey yang terdengar bangga. Ia menekan telapak tangan kirinya pada alat detektor sidik jari yang baru Indonesia sadari keberadaaannya. Kemudian dinding yang berada di pojok ruangan bergeser, memperlihatkan sebuah koridor kecil di baliknya.
"Keamanan di sini sangat diutamakan, Indonesia. Untuk dapat masuk ke bawah sana, tidak diperlukan sandi atau semacamnya, alat itu hanya perlu sidik jari atau retinamu." Turkey membawa kedua gadis itu ke dalam pintu rahasia.
"Cukup pintar. Siapa yang merancang pembangunan laboratorium ini?" mata Indonesia tak henti-hentinya memandangi koridor dengan penerangan minim itu sambil bertanya.
"Aku merancangnya dengan bantuan orang ini, dan beberapa orang yang kau kenal juga ikut terlibat." Iran menunjuk Turkey di depan kami—menjawab sambil lalu.
Indonesia memutar bola matanya kesal. "Sebagai seorang personifikasi negara, hanya ada berapa orang yang kukenal di Bumi ini, hmm?"
"Hahaha! Dia hanya tak suka berbicara terlalu banyak." Turkey merangkul punggung Iran dan melanjutkan, "Jangan kaget, Indonesia. Salah satu negara yang bekerja sama dengan kami adalah teman berantemmu itu, Malaysia."
"Hah? Malaysia?"
"Begitulah," Turkey menimpali dan koridor itupun berakhir pada sebuah ruangan putih yang dingin. Iran mengikuti apa yang dilakukan Turkey, ia memakai jubah laboratorium yang memang sudah disediakan—kemudian Indonesia mengikuti keduanya.
"Apa itu artinya England juga terlibat di sini?" alis Indonesia mengernyit—ia tak bisa melupakan fakta bahwa Malaysia adalah anggota dari British Commonwealth.
"Tidak, bahkan Si Maniak Teh itu tidak tahu tentang tempat ini," jawab Turkey dengan nada mencemooh.
"Tapi bagaimana kalau Malaysia memberitahukan hal ini pada England?" gadis itu masih ragu.
"Kalau memang begitu, aku tak akan ragu membunuhnya." Turkey menjawabnya dengan santai, namun Indonesia tahu kalau ada kesungguhan di balik nada suara itu, cukup untuk membuatnya berjengit sesaat.
Pria itu kemudian membuka sebuah pintu besi yang terlihat berat dan mempersilakan Iran dan Indonesia masuk terlebih dahulu. Sesaat setelah mereka masuk ke ruang utama reaktor itu, Indonesia hanya bisa berdiri melongo.
.
.
.
Di negara kawasan Asia Barat lainnya, siang itu agak berbeda bagi England. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkari pinggangnya. Pria itu tak terkejut dengan keberadaan Israel yang kini duduk di tempat tidur berukuran king size di kamar itu. Mata hazel itu melihatnya sekilas dan ia mengambil tempat di samping gadis itu.
"Jadi, ada yang ingin kau bicarakan?" England membuka suara. Gadis di sampingnya tersenyum tipis, sorot matanya menatap pantulan diri mereka berdua di cermin sambil menerawang.
"Aku punya berita tentang anak-anakmu."
Belaian tangan England di punggung gadis itu terhenti—alis tebal itu mengernyit. "Berita tentang siapa?"
"Gadis melayu itu. Ada sesuatu yang kau lewatkan darinya," ujar Israel santai. Raut wajahnya datar—kecantikan mendekati sempurna yang membuat banyak pria patuh padanya.
"Lanjutkan, Luv," Nada suara itu tenang namun tajam.
'Apa yang sudah ia lewatkan? Apakah Malaysia melewatkan sebuah informasi untuk disampaikan kepadanya? Jika itu benar, apakah pengkhianat itu adalah Malaysia? Gadis yang sudah ia bela dan ia percayai selama ini?' pikir England.
"Gadis kepercayaanmu itu berkhianat. Dia diam-diam membantu Turkey mengumpulkan informasi dan…" Gestur England kaku dan rahangnya terkatup.
"Sepertinya ia juga membantu Iran dalam proyek pengembangan reaktor nuklir, walau aku belum tahu pastinya, tapi dari informasi yang kudapat—"
"Cukup," sela England dengan emosi yang terkontrol. "Terima kasih atas informasinya, Luv. Tapi biarkan aku mengetahui kenyataannya langsung dari gadis itu."
England tersenyum—tanpa kehangatan di wajahnya, ia menarik tubuh itu dekat dan mencium pipi Israel. Ia bangkit dari duduknya dan segera berpakaian. Israel hanya diam memperhatikan.
Kadang ia bingung darimana ketenangan England itu muncul saat dirinya dihadapkan dalam posisi seperti ini. Pembawaan pria itu tetap tenang, namun ketenangan itu membuat Israel merasa takut. Dirinya sudah sering berhadapan degan America yang temperamen—tapi dengan England, segalanya menjadi tak tentu. Ia tak bisa mengerti sepenuhnya jalan pikiran mantan pemegang hegemoni itu. Di satu sisi pria itu bisa menjadi sangat arogan dan sadis, namun di sisi lain, dia bisa berubah menjadi sangat hangat dan manusiawi.
Apakah sikap tenangnya itu karena pengalamannya selama ini? Apa karena ia sudah terbiasa dengan apa yang dinamakan pengkhianatan?
Diam-diam Israel menghela napas setelah England menciumnya ringan untuk terakhir kali. Mata hijau teduh itu dingin, namun ia tersenyum. "Sampai jumpa lagi, Israel."
Dan pria itu, yang beberapa tahun ini tak pernah muncul di hadapannya—yang sangat ia nanti keberadaannya—kini pergi.
Keheningan mengisi kamar itu sesaat. Sejenak tatapan gadis itu kosong, namun tiba-tiba ia tertawa. Sebuah tawa yang makin lama makin keras, membuat bahu gadis itu berguncang sampai-sampai ia bergulingan di kasur—tawa melengking yang nyaris tak terkontrol. Dan beberapa detik kemudian tawa itu menghilang, wajah cantik bak boneka itu tersenyum.
"Aku hanya berbohong, England~"
.
.
.
"America? Apa yang membuatmu datang kemari?" respon pertama yang ia berikan, gadis itu jelas keheranan. Situasi ini sangat jarang terjadi dalam hidupnya—melihat America di depan rumahnya, di tengah siang bolong tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Hey, Malaysia! Apa yang sedang kau lakukan?" pria besar itu masuk seenaknya sebelum Malaysia memberi izin. Ia menatap wajah itu kesal sekaligus heran.
"Tak perlu berbasa-basi denganku, America. Kau tahu aku tidak menyukaimu," gadis dengan postur lebih kecil itu berjalan mendahului America, menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan.
Wajah pria itu bahkan tak merasa terganggu sedikit pun, mata birunya tersenyum hangat. "Padahal aku sedang berbaik-baik padamu, Malaysia. Tapi kalau kau ingin aku segera pergi, kumohon jangan menghajarku, ya."
Nada suara itu cerah seperti biasa, tapi isi konteksnya membuat Malaysia berhenti—bermaksud menatap America di belakangnya. Namun sebelum ia menatap mata biru itu, sesuatu menghantam kepalanya dengan cepat—cukup membuatnya merasa buta sesaat—tubuhnya oleng ke kiri, ia merasakan sesuatu berdenging di telinganya. Malaysia berusaha untuk tetap berdiri sambil mengumpat pelan. Namun gerakannya kalah cepat sehingga pukulan kedua itu ia rasakan menghantam tengkuk lehernya, membuatnya jatuh ke alam bawah sadarnya secara paksa.
Di hadapan Malaysia yang tak sadarkan diri, America bersikap seakan tak terjadi apa-apa. Ia meninggalkan secarik kertas berisikan pesan yang hanya akan dipahami seseorang yang ia kenal.
"Aku selangkah lebih cepat darimu, England," gumam America yang tak pernah melepaskan senyumnya.
Dengan langkah ringan, dibawanya Malaysia pergi. Di negara itu saat ini matahari masih berada di puncaknya, orang-orang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Rumah itu sunyi.
Tak akan ada yang tahu kalau seseorang hilang.
.
.
To be continued—
A/N:
Here again! This story finally updated…
Well, no need to waste your time, I just want to thank you for you, who read this story and give a respond to me.
Haha cukup dengan bahasa universal itu, akhirnya cerita ini menjadi lebih serius dari yang sebelumnyaa… /plak
Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa!
