Pertama kali ia mendengar rencana pembangunan laboratorium nuklir, Malaysia langsung menyanggupi kontrak yang ditawarkan berhubung ia sangat tertarik dalam bidang tersebut. Awalnya hanya proyek biasa yang digagas Iran dan Turkey, namun akibat dari ketidaksengajaan dalam proyek itu, prosedur normal akhirnya ditiadakan. Sebabnya adalah sesuatu yang ditemukan dalam proyek tersebut. Sebuah partikel asing—yang kami sebut sebagai antimateri—yang menolak segala perlakuan yang kami berikan. Dan seperti halnya wabah kolera, hal ini terdengar ke sejumlah negara. Sejak saat itu, Iran setuju untuk menghentikan penelitian lebih lanjut mengenai partikel asing tersebut, di mata publik. Iran mengumumkan sandiwara itu tahun lalu dan sejak saat itu Indonesia mulai bertingkah aneh.

Baru kemarin ia berbicara dengan Indonesia sejak pertengkaran mereka beberapa bulan lalu. Gadis itu sepertinya sehat-sehat saja, tetap cerewet, tetap suka makan dan berkeliaran seenaknya. Tapi ia dapat merasakan ketenangan aneh yang diperlihatkan Indonesia. Apakah Indonesia masih marah padanya?

Oh, tentu saja. Ia pasti tidak bisa memaafkan apa yang sudah Malaysia katakan pada gadis itu. Hujan turun saat itu dan Indonesia menangis.


Into the New World VIII:

Disclaimer: Hetalia (c) Hidekazu Himaruya

Warning: seperti yang pernah saya tulis di chapter sebelum ini (lagi malas), dan sedikit unsur sci-fi yang menyimpang dari genre. Oh, dan pergantian sudut pandang pada flashback disalah satu segmen cerita yang mungkin membingungkan

Maaf untuk update yang lama dan sedikit ini

I hope you enjoy this one and this one about Malaysia~


'Ah, seharusnya aku meminta maaf padanya', pikir Malaysia.

Kini ia terjebak dalam sebuah bangun kubus yang berlapis metal. Gadis itu sudah tersadar lebih dari satu jam yang lalu, saat America datang membangunkannya. Kedatangan pria arogan itu cukup menjelaskan alasan mengapa ia terbangun di ruangan asing dengan luka di kepalanya.

Walaupun penculiknya itu tidak memberitahu alasan penculikan tersebut, Malaysia bisa menebak kalau ini ada hubungannya dengan England. Lihat saja ekspresi America saat Malaysia menyebut nama itu, gadis itu rasanya ingin sekali tertawa kalau saja bibirnya tidak terluka.

Dan melihat kondisinya yang sangat tidak memungkinkan untuk melarikan diri, Malaysia hanya berbaring menatap langit-langit. Untuk sementara ia harus menempati ruangan ini, kata America. Entah apa alasan sebenarnya ia ditahan di sini. Setidaknya, dia sudah tahu kalau hal ini bisa saja terjadi padanya dan Malaysia sudah siap untuk kemungkinan terburuk.

'Siapa yang menabur, dia yang menuai. Mungkin dengan keadaanku saat ini, peribahasa itu cocok untukku…' batin Malaysia yang tersenyum pahit.

.

(flashback)

.

Beberapa tahun yang lalu, saat itu, America dan England masih bermusuhan. Tepat setelah dikeluarkannya 'suara' America yang menentang kelanjutan penelitian antimateri, Iran menutup laboratoriumnya. Hal itulah yang menyebabkan pengeboman di Manhattan terjadi. Pada semua berita di media massa, kau hanya akan menemukan alasan sekelompok teroris bodoh melancarkan aksi bomnya di Manhattan, tapi kenyataannya jauh dari itu.

Yang merencanakannya adalah Turkey, dibantu oleh Russia, tentunya. Kemudian, beberapa negara ikut bergabung dengan tujuan mereka masing-masing. Aku yang saat itu terlibat dalam penelitian antimateri, tidak bergabung dengan mereka—tentu saja aku hanya mengikuti kemauan England. Dan saat dia membuat keputusan untuk memihak Russia, aku mengikutinya.

Aku terkejut saat tahu bahwa tetangga cerewetku, Indonesia, memutuskan hubungan kerjasamanya dengan America sebelum rencana pengeboman itu dijalankan. Saat itu, aku belum menyadari apapun.

Beberapa tahun berlalu, keadaan dunia mulai normal kembali. Aku pun membantu Iran kembali dalam proyek nuklir rahasianya dan di saat yang sama, tetap melakukan tugas-tugas kenegaraanku. Keseharianku yang tenang itu kemudian hilang karena sebuah kabar dari kolegaku.

Aku memang sudah mendengar desas-desus itu sejak beberapa bulan lalu, tapi berpikir untuk tidak memercayainya. Di mataku, Indonesia akan selalu menjunjung netralitas. Itu alasan yang kukatakan pada diriku sendiri selama ini, dan sekarang aku tidak memercayainya lagi.

Indonesia akan mengadakan kerjasama bilateral dengan Inggris. Itu benar terjadi, tapi bukan itu yang membuatku merasa dikhianati. Kedekatan keduanya kini melebihi hubungan pertemanan pada umumnya. England mulai menjauhiku. Indonesia membiarkan campur tangan England dalam beberapa keputusannya.

Perlahan, aku dapat merasakan bahwa aku bukan lagi tangan kanan pria itu. Perlahan, aku dapat melihat sedalam apa campur tangan England pada urusan Indonesia.

Hal itu membuatku kesal.

Aku berteriak—bertanya tentang netralitas yang selama ini ia banggakan. Aku bertanya, tetapi ia hanya terdiam. Gadis itu menatapku, kesedihan jelas terpancar dari raut wajahnya.

"Apa kau tak punya sesuatu untuk dijelaskan?" tanyaku lirih.

"..."

Indonesia hanya mengamati derasnya hujan di balik jendela.

"Tak ada?"

"..."

Aku menatap pantulan diriku di matanya.

"Aku kecewa padamu, Indonesia."

Ia tidak mengatakan apapun dan menangis dalam diam.

'Aku tidak mengerti, Indonesia,' pikirku saat itu.

.

.

.

To be continued

A/N:

HEEEY! /Icomebackfromthedeath

ah, sekali lagi maaf untuk chapter yang telat ini... -_-

saya menulis ini saat persiapan ujian masuk ptn, jadi maaf kalau berantakan /malesberesin

terima kasih untuk Anda yang sudah membaca dan berkomentar tentang cerita ini dari chapter satu sampai sekarang! ^J^