ch 9 updated! I hope you enjoy this one!
Into the New World IX:
The Possibility from Miscalculation
Hetalia ( c ) Hidekazu Himaruya
Warning: mengandung isu politik, alur cepat, OC, Fem!Indonesia, Fem!Malaysia
dan sekali lagi, cerita ini fiksi!
.
.
Dari laboratorium rahasia di bawah padang pasir, jet kenegaraan milik Indonesia sudah lepas landas dan siap kembali menuju rumahnya. Setelah mengutarakan pendapat dan tujuannya pada kedua personifikasi negara tersebut, gadis itu segera kembali menuju rutinitas kenegaraannya. Untung bagi Indonesia karena Iran dan Turkey mau bekerja sama—kalau tidak, entah apa yang harus ia perbuat lagi untuk membuat rencana ini berjalan sempurna.
Mereka bersedia untuk mengikuti instruksi darinya dan mengajak sekutu masing-masing. Bagi Indonesia, itu sudah lebih dari cukup. Sekarang ia harus menemui orang terakhir yang akan menyempurnakan rencananya ini, yaitu Malaysia.
Memikirkan hal itu, Indonesia menghela napas berat. Ia sadar bahwa Malaysia bisa saja lebih memilih England ketimbang dirinya, dan bisa saja gadis melayu itu akan menceritakan pembicaraan mereka kepada England.
'Kenapa selalu England?' batin Indonesia kesal.
Melihat betapa loyalnya Malaysia pada pria itu membuat Indonesia muak. Dan dengan dijadikannya Malaysia sebagai tangan kanan pria itu, Indonesia ingin sekali menceritakan segala kebobrokan England yang diketahuinya kepada Malaysia.
'Tapi mau bagaimana lagi? Hanya dengan ini Malaysia dapat terjamin keselamatannya,' pikir gadis itu.
Dengan perasaan campur aduk, Indonesia mengerang pelan saat ia tiba di depan rumah Malaysia.
.
.
"Yo, Malaysia! Aku datang lagi!" teriak America—cukup untuk membangunkan Malaysia dari tidur karena bosan.
"Bisakah kau datang nanti saja? Apa kau tidak lihat aku sedang tidur?" gerutu Malaysia yang terpaksa bangun dari posisi tidurnya.
"Sudahlah… Lagipula seharusnya kau senang aku ke sini, Malay! Apa kau tak tahu betapa susahnya mengatur ulang jadwalku hanya untuk bertemu denganmu?"
America menggelengkan kepala dan duduk di luar jeruji sel—tersenyum lebar pada Malaysia. Gadis itu memberikan tatapan terganggu dan beringsut mundur sejauh mungkin dari jeruji yang memisahkan mereka.
"Ah, kejamnya…"
"Hentikan permainanmu, America," ujar suara itu kesal. "Apa yang kau inginkan dariku?"
"Hmm? Yang kuinginkan darimu, ya…" America pura-pura berpikir; ia duduk di lantai sambil mengetukkkan jemarinya ke lantai metal, menghasilkan bunyi beradu yang nyaring.
"Aku hanya ingin menceritakan sesuatu padamu." Pria itu tersenyum lebar—membuat Malaysia harus menahan diri untuk tidak maju dan memukul wajah jenaka itu.
Tapi sepanjang pengamatannya, pria itu memang tidak sedang bercanda. Ia mengangkat bahu dan menghela napas. Dirinya tak peduli lagi dengan menjaga sikap karena sepertinya America membawanya kemari memang bukan untuk diinterogasi.
"Jadi… kau mau mendengarkan ceritaku?" Suara itu terdengar geli. Malaysia menatap mata biru itu kesal.
"Aku tak mau pun, kau pasti akan terus berbicara, America." Malaysia memutar kedua bola matanya gemas.
"Ha ha! Bagus kalau kau mengira begitu, Malay." America mulai membetulkan posisi duduknya, mencari posisi yang enak untuk berbicara.
"Sebelumnya, aku akan katakan padamu bahwa ini hanya sebuah dongeng lucu…"
Alis Malaysia mengernyit, mendengar nada bicara America yang terdengar pahit.
"Beberapa belas tahun yang lalu, ada sebuah negara adidaya yang berpikir bahwa kekuatan adalah kemampuan untuk memegang kendali atas segalanya. Personifikasi negara itu sangat mendukung doktrin yang diyakini sebagian warganya tersebut. Personifikasi negara itu berpikir, 'Jika dengan hal ini aku bisa semakin pantas berdiri di samping orang itu, akan kulakukan tanpa ragu.'"
"Sebentar… apakah itu cerita tentangmu?" tanya Malaysia bingung.
"Jangan menyela ceritaku, Malay. Itu tidak boleh dilakukan saat seorang hero sedang berbicara!" America bersungut. Mau tak mau Malaysia hanya menurut, lagipula ini kesempatan langka melihat America mau terbuka pada dirinya—mengingat hubungan mereka tidaklah sedekat itu dan cenderung tidak akur.
'Apa yang ada di pikiran pria itu?' batin Malaysia bertanya-tanya.
America melanjutkan ceritanya. "Dengan pikiran naïf itu, dia melakukan tiap langkah yang dibisikkan padanya. Dia membantu negara-negara yang belum bahagia. Personifikasi negara itu terus berpikir untuk membantu negara-negara lainnya agar ia memiliki kekuatan yang setara dengan orang yang dikaguminya. Tapi semakin lama bantuan itu diberikan, semakin dalam pula campur tangan personifikasi negara tersebut kepada negara-negara yang ia bantu. Sampai suatu saat, sebuah protes ditujukan padanya oleh pria yang ia kagumi. Pria itu memprotes tindakannya. Kau tahu apa alasannya?"
"Eh? Emm, karena itu sama saja kau menjajah negara-negara dunia ketiga, kan?" ujar Malaysia.
"Salah." Nada bicara America berubah sinis. Mata biru itu menatap Malaysia tepat di manik mata. "Itu semua bukan karena negara-negara itu, melainkan karena sebuah negara kepulauan yang berada di khatulistiwa yang juga dibantu oleh personifikasi negara tersebut—dan kebetulan, yang sangat ironis, negara itu adalah tetanggamu."
"Setelah peristiwa di Manhattan itu, negara-negara yang terlibat perang mulai membenahi diri mereka masing-masing. Kau pasti mendengar kabar tentang menghilangnya England saat itu, bukan?"
Malaysia hanya mengangguk perlahan, memutar kembali memori beberapa belas tahun silam saat dunia gempar atas hilangnya England. Kalau tidak itu terjadi setelah peristiwa di Manhattan berakhir.
"Saat penyerangan besar-besaran ke Manhattan, England menemuiku secara langsung. Kami membicarakan sesuatu—dan di akhir pembicaraan kami, aku menembaknya karena kesal."
'Hah?'
.
.
Di belahan bumi lainnya, sebuah panggilan internasional dilakukan seorang gadis dari rumah Malaysia. Setelah panggilan tersambung, tanpa basa-basi gadis itu berbicara langsung pada gadis Timur Tengah yang baru saja ditemuinya siang tadi.
"Ah, maaf meneleponmu tiba-tiba, Iran. Bisakah kau mulai saja rencananya?"
Suara gadis itu terdengar sangat kesal di ujung sana. Tangannya menggenggam secarik kertas yang ditinggalkan di rumah tanpa penghuni itu. Mata cokelatnya menatap datar ke arah deretan huruf sambung yang tertulis rapi.
Ia menjawab kalimat tanya dari seberang telepon sambil tersenyum. "Tidak masalah. Kau tidak perlu menunggu izin dari siapapun. Kalau kau mau, lakukan saja sekarang dan bertindaklah sesukamu."
"Tentu saja akan kulakukan. Tapi apa yang terjadi Indonesia? Tiba-tiba langsung memutuskan hal ini—dan kedengarannya kau seperti sedang kesal…" ujar Iran.
"Apa yang terjadi? Aah, tidak ada apa-apa. Hanya seorang maniak tiba-tiba datang merebut mainanku—dan aku tidak sedang kesal."
.
'Aku lebih dari sekadar kesal…'
—To Be Continued
A/N:
Oh mein… apa yg terjadi dengan Indonesia? kenapa dia jadi kelihatan keren di mataku~
Ah, maaf. Selamat malam, para pembaca sekalian...
sekadar memberitahu, kalau Anda bingung dengan apa yang diceritakan America di chapter ini, Anda bisa membaca Antonym dan Transition untuk lebih jelasnya (ga jelas-jelas juga sih, itu dua cerita ajaib menurut saya) /promosiii /plak
ya kalau ngga juga gapapa...
Pokoknya, terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini! Terima kasih juga bagi yang sudah me-review dari awal hingga sekarang ini,
thank you!
