Into the New World X: Two Pair

Hetalia (c) Hidekazu Himaruya

Warning: political theme, OC

.

.

Beberapa puluh tahun yang lalu, Indonesia.

Nasionalisme. Kata ini kerap bergaung dengan indahnya di akhir masa Perang Dunia II. Siapa pun yang mengalihkan wajah mereka dari kata ini, dipastikan akan bernasib sama seperti pengkhianat bangsa mereka terdahulu.

Nasionalisme. Kata ini yang menjadi pemicu semangat pahlawan bangsa ini, yang darah mereka terbayarkan dengan kemerdekaan. Yang dengan kata ini pula, hari itu diperingati sebagai hari pahlawan. Yang dengan kata ini, dirinya duduk berhadapan dengan kedua makhluk penguasa yang sangat ia benci sementara rakyatnya bermandikan darah di luar sana.

Oh, siapakah ia ini? Hanya seorang kelas rendah, istimewa karena keadaan, diperebutkan bagai mainan di lapak yang diserbu anak-anak tiap kali tukang dagang lewat. Kedua dihadapannya pun sama saja, hanya sedikit lebih baik karena pengalaman.

Dirinya bertanya kepada kedua tamu tak diundang tersebut, yang dengan seenaknya menginjakkan kaki di wilayah konflik ini. "Bukankah dengan begini sama saja kalian memojokkanku?" ia berhati-hati, berputar-putar dalam akhir yang sudah pasti.

Pria Inggris berwajah kaku itu mengerang. "Tentu tidak ada maksud demikian. Seperti yang America jelaskan tadi, ini hanya rekonsiliasi hubungan kerja sama."

"Hmph! Seperti aku akan percaya saja." Ucap gadis di ruangan itu asal.

" Atau kau ingin menolak? Itu pilihanmu, tapi biar kubuat ini mudah," England mengambil jeda. "Ada yang akan menderita jika kau tidak menerimanya. Sebut saja salah satu anak buahku..." Kalimat itu ia biarkan menggantung, sarat akan ancaman.

"Memang sudah sifatmu seperti ini, kah? Menggunakan kelemahan lawanmu?" sindir Indonesia.

Wajah kaku itu berubah, tersenyum menyeringai sekilas. "Kau tak bisa membayangkannya, luv." Ucapan pelan itu memang nyata, dan America yang sedari tadi diam, tertawa pelan. "Tapi aku masih lebih baik dalam menyembunyikan motifku ketimbang Si Maniak Burger satu ini." Ia cepat-cepat menambahkan.

Tertawa pelan, gadis itu kini duduk rileks di kursinya. Ia membalas ringan. "Aaah... Tapi itulah yang menakutkan dari dirimu, England. Kemurnian yang tidak murni, membuat yang lain mudah untuk digunakan. Seperti air; adhesi namun tidak pada dasarnya."

"Kau semakin bijak sepertinya, luv." Komentar England pendek.

.

.

.

Amerika Serikat, Gedung Putih.

Kedua insan terdiam, yang satu menarik napas tenang tanda berakhirnya percakapan satu arah tersebut. Di sisi lain, yang satu tetap dalam posisi terbaringnya tanpa gairah untuk bergerak barang satu meter dari tempatnya. Ia tahu, jeruji itu tidak terkunci dan pria di seberang tidak memedulikan kemungkinan yang paling mungkin tersebut.

"Hmm... Boleh aku bertanya?" ujar gadis itu memecah keheningan yang mendadak. Ia ingin sekali bertemu Indonesia saat ini dan menghajarnya.

America hanya mengangguk sambil lalu.

"Kau memberiku informasi secara cuma-cuma. Apa rencanamu?" Dari semua tindakan yang dilakukan America, ia hanya ingin bertanya satu hal tersebut.

America membuka mulutnya dan menutup lagi. Ia mencari kalimat yang tepat. "Anggap saja... Ini hadiah kecilku untukmu. Dan maafku Karena sudah memukul wanita." Ia mengedipkan mata, dengan sorot nakal yang membuat Malaysia berjengit. "Aaah.. Seperti bukan diriku saja. Seorang hero seharusnya bisa membawamu ke sini tanpa melukaimu."

America meringis mengingat kejadian kemarin siang. Pria itu membuka jeruji tersebut, melangkah masuk dan mengulurkan tangan.

"Ayo, kuantar kau pulang."

Malaysia mendesah,"Kau memang tidak tahu caranya berinteraksi dengan orang, ya?" Ia menerima uluran tangan besar itu.

"Hahahaha! Kau tahu siapa aku. Aku America. Apapun yang ingin kulakukan, akan kulakukan dengan caraku sendiri."

Setitik nada getir tertangkap di sana.

"America..."

"Sst!" Pria itu mengacungkan telunjuk, menekan agak kasar kebibirnya. Sikap pria itu berubah waspada setelah berbicara dengan salah satu anak buahnya yang lari terburu-buru.

Jelas sudah apa yang terjadi, saat Malaysia ditarik menuju sebuah kamar dan diinstruksikan untuk jangan membuat suara sekecil apapun oleh America. Sedangkan Sang Tuan Rumah sendiri pergi ke ruangan sebelah, menemui Si Tamu Tak Terduganya.

"Memangnya siapa yang datang?" Malaysia bertanya pelan sambil berjingkat pelan mendekati pintu sebelah yang tak tertutup rapat. Ia mengintip.

'Tak apa, kan, sesekali ini...'

.

.

.

"Hey, England! Apa yang kau lakukan di sini? Malam-malam begini..." sapa America seperti tidak terjadi apa-apa. Ia bisa melihat alis tebal England bertaut lebih dekat.

England memulai dengan nada kasarnya. "Sebaiknya kau punya penjelasan yang masuk akal, kenapa kau menculik seseorang, America."

"Menculik seseorang? Apa kau tidak punya sangkaan yang lebih baik terhadapku?" tanya America seraya tertawa hambar. Dalam otaknya, America berpikir keras bagaimana membuat personifikasi dihadapannya ini pergi. Jujur saja, ia sedang tidak bisa berbaik hati dengan England.

"Lalu kenapa?" tukas England. "Kau membawanya tanpa mengatakan apa-apa padaku." England mengingatkan dengan nada ancaman didalamnya. Alis tebalnya bertaut.

"Hmm..." America menggumam sinis. "Sebelum kuberikan alasanku, bagaimana kalau kita mulai dari 'kenapa kau mengambil alih Indonesia seperti itu'?"

"'Seperti itu', itu seperti apa?" Pria yang lebih berpengalaman darinya itu tersenyum melecehkan.

'Lagi-lagi jawaban menyebalkan. Kau benar-benar memainkan peranmu dengan baik, England.'

"Katakan saja... kenapa kau yang dulu mendesak dia untuk bekerja sama denganku kini malah memonopolinya, huh?"

Waktunya tidak lama, America tahu itu. Kertas yang ia tinggalkan di rumah Malaysia bukanlah untuk pria dihadapannya, melainkan Indonesia. Entah butuh berapa lama sampai Indonesia menyadari hilangnya Malaysia dan pesan itu, tapi menurut perkiraannya, tidak akan lama lagi sampai Indonesia tiba di sini. Dan ia masih harus membawa Malaysia pergi dari tempatnya. Dan ia juga harus menindaklanjuti berita yang disampaikan anak buahnya tadi.

'Benar-benar merepotkan!' rutuk America dalam hati.

"Aku sedang tidak ingin bernostalgia denganmu, git. Bagaimana kalau kau-"

"Cukup dengan pembicaraan yang bertele-tele ini, England! Jujur saja saat ini aku tidak menyangka kau akan datang. Dan sebelum berpikir untuk berkonfrontasi denganku bagaimana kalau kau khawatirkan saja Israel?" potong America. Ia hampir kehabisan waktu.

"Hahaha!Jadi kau masih belum tahu? Informanku mengatakan bahwa wilayahnya diserang. Entah oleh siapa. Dan kabarnya, Israel, gadis itu, menghilang."

Entah negara mana yang berani, tapi hal itu membuatnya harus mengubah hampir semua rencananya karena ada yang harus ia pastikan dari penyerangan itu.

.

.

.

Suasana ruangan dengan meja oval didalamnya sepi. Hanya terdengar suara jarum jam yang terus bergerak statis. Di ujung meja oval itu, duduk seorang personifikasi negara yang terkenal ambisius dan berkuasa. Sayangnya, kekuasaan yang berada ditangannya kini tidak akan bertahan lama dan personifikasi negara itu menyadarinya. Ia sudah menyusun rencana untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi jika tak mungkin lagi mendapatkan kekuasaan tertinggi.

Katakan saja, rencana bunuh diri karena ia sudah terlalu lelah dengan cerita ini. Dan pertunjukan terakhir ini tidak akan sempurna tanpa lawan mainnya.

Personifikasi negara itu, America, menatap pintu yang tertutup di seberang ruangan. Menghitung langkah pantovel yang bergema, semakin keras saat sebelum pintu dihadapannya terbuka.

Ini dia. Lawan main terakhirnya, yang kini langsung mengambil tempat disatu-satunya kursi yang kosong dalam ruangan ini.

"Biar kupastikan dulu. Berdasarkan tulisan aneh yang hampir tak bisa kubaca itu, kau ingin melakukan apa denganku?"

Sontak America tertawa lebar mendengar kalimat pertama gadis itu; gadis yang kini duduk tenang di seberang meja ovalnya, menatapnya kebingungan.

"Ah, maaf. Habisnya kau selalu dikelilingi mereka, jadi aku tak tahu bagaimana harus menemuimu." America melempar tatapan bersalahnya. "Jadi, apa yang ingin kubicarakan denganmu? Bagaimana kalau kita bernostalgia sejenak? Menghabiskan waktu yang tinggal sedikit ini?"

Indonesia menyandarkan tubuhnya pada kursi, sambil mengingat instruksi yang ia berikan kemarin. Instruksinya pada Iran yang sudah jelas, tinggal menunggu waktu melihat reaksi seluruh dunia. Apa yang ia lakukan kini tak lebih dari sekadar taruhan roulette di Casino, yang mungkin sama dengan apa yang America lakukan.

"Jika itu maumu." Gadis itu mengedikkan bahunya. "Lagipula sudah lama sekali, bukan, kita tidak berbicara santai seperti ini?"

Pertanyaannya jelas-jelas mengejek takdir.


To be continued.

A/N: Sore semua! mayaoreo here!

Aah... Lately, I've been keeping myself busy with college matter and all.

Cukup dengan bahasa universal itu. Jadi dari chapter ini, sepertinya beberapa hal mulai terlihat lebih jelas dalam hal kaitannya dengan cerita saya yang berjudul Antonym. Ngga jelas juga sepertinya, karena ceritanya baru akan ada di chapter selanjutnya. XD

Tapi, melihat saya tidak bisa menulis bebas saat ini, saya tidak bisa menjanjikan update dalam waktu dekat.

Terakhir, terima kasih untuk Anda yang sudah membaca cerita ini dan Anda yang sudah mereview! ^^

See you!