A/N: Good Afternoon, everyone!
Before you guys read this chapter, I just want to thank you all who still read this story and give their opinion. Thank you and enjoy reading!
.
.
Into the New World XI:
Hetalia (c) Hidekazu Himaruya
Warning: political theme, OC, fast paced
.
.
Ruangan itu tetap sama, tak berubah sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di bangunan kebanggaan America itu. Perasaan asing itu kembali mengusiknya, rasa rindu akan atmosfer hangat tiap kali ia berkunjung ke rumah kebanggaan America ini.
"Hari ini... Apa kau ingat tanggal berapa hari ini?"
Hanya sesaat, bola mata biru itu memperlihatkan kilatan kesedihan, mendengar Indonesia bertanya. Mungkin personifikasi pemegang hegemoni itu sama sepertinya, tak bisa melupakan apa yang terjadi hari ini, tanggal yang sama dengan apa yang terjadi di masa lalu. Mungkin waktu bagi mereka terhenti di sana, dalam ruang paralel yang melebihi kecepatan cahaya yang tak tertembus.
"Bagaimana mungkin aku lupa? Hari itu—di tanggal yg sama—kau pergi dari sini tanpa mengucapkan apa-apa padaku." ucap America sambil mengayunkan tangan kanannya ke ruang kosong. Semua ia lakukan dengan getir walaupun sepertinya Indonesia sama sekali tidak merasa tersinggung. Gadis itu justru tertawa pelan. "Apa kau masih marah padaku?"
"Aku tidak marah. Tidak padamu, Indonesia." America berhenti sejenak, kemudian sepasang mata di balik lensa itu menyipit tak senang. "Tidak. Tidak sama sekali tidak mungkin aku marah padamu. Apalagi setelah melihat sikap England terhadapmu."
"Hmph!" Gadis itu menahan tawanya. "Tetap 'America yang posesif', heh?"
"Tunggu, bukan itu yang harusnya kita bicarakan!" Raut lelaki itu kecut. Ya, bukan soal hubungan lain antara ia, Indonesia dan England yang seharusnya mereka bicarakan!
Sepasang pipi gemuk itu memerah, namun sorot matanya berusaha tetap tenang. America bergerak gelisah di kursinya, mengingat kejadian tak menyenangkan yang pernah terjadi di antara mereka.
"Jadi, Indonesia," sialnya gadis itu masih menatap dengan senyum tertahan. "Aku tahu kau tidak bodoh. Lihat saja sejarah orang-orang hebat dari negaramu. Kau memutuskan sepihak kerja sama kita saat aku sedikit lagi berhasil mempengaruhi rakyatmu. Kau menjadi negara yang patut diperhitungkan, anggap saja kuda hitam di antara persaingan yang akan segera tiba. Dan anehnya, kau malah mengikat dirimu dengan England disaat negara yang lain mungkin menginginkan kemerdekaan mutlak?" Pria itu mempertanyakan dengan nada tak percaya. "Apalagi, hubungan kalian bukanlah hubungan profesional seperti antara kau dan para komunis, atau bersahabat seperti dengan Iran dan negara Timur Tengah lainnya. Aku bisa melihatnya, Indonesia."
America mengakhiri kalimatnya dengan nada peringatan yang jelas. Seketika, senyuman geli di wajah gadis itu berganti dengan segaris tipis bibirnya yang kaku. Informan Amerika memang seperti dugaannya. Gadis itu merasa tergelitik dengan fakta yang America bicarakan. America benar-benar merasa dirinya, Indonesia, setara dengan negara adidaya itu. Yang dengan kata lain, lelaki dihadapannya itu merasa terancam dengan keberadaan negara kepulauan terbesar itu, Indonesia.
"Mau dengarkan hipotesisku sebelum kujawab pertanyaanmu?"
Sepasang alis lelaki tersebut terangkat menantang. "Kenapa tidak?"
Personifikasi negara adidaya itu mengakui, semua yang terjadi saat ini merupakan akibat dari apa yang mereka lakukan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin kebanyakan berpikir ini dimulai sejak hubungan diplomatik itu...
Hubungan kerja sama di antara negara Amerika dan Indonesia terbentuk bukan karena inisiatif keduanya. Itu merupakan sebuah pilihan sepihak tanpa melibatkan Indonesia didalamnya, pilihan satu-satunya yang diberikan Inggris saat Indonesia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Gadis itu menegakkan postur tubuhnya. Dan dengan nada bicara seakan jaksa penuntut di pengadilan, ia berkata, "Mari kita mulai dari, 'kenapa kalian mencampuri urusanku dengan Netherland saat itu?'"
Indonesia sudah memikirkannya. Rakyatnya sudah. Mereka menuntut saat ini. Memang benar apa yang dikatakan America, rakyatnya tidaklah bodoh. Selama ini mereka hanya tidak tahu, kalau Amerika dengan segala bantuan yang diberikan secara percuma itu merupakan siasat untuk menghancurkan bangsanya. Kalau kemudian datanglah tahun-tahun saat kebanyakan orang termakan racun bernama 'globalisasi', itu adalah buah dari apa yang Amerika tanam di sana, dan itu selangkah menuju tujuan America.
"Pertama-tama, England datang dengan alasan ingin membantu menyelesaikan konflik antara aku dan Netherland. Itu bisa kuterima. Namun anehnya, ia malah membebaskan tawanan prajurit Belanda dan berusaha melakukan perubahan hukum ditanahku tanpa izin. Saat keinginannya tak terpenuhi alias rakyatku melawan, ia datangkan sekian banyak pleton tentara dengan cara yang sangat tidak gentleman." Gadis itu menghela napas keras, menyingkirkan sejumput nada emosi yang meluap saat mengingat potongan sejarah tersebut. "Kita berdua tahu apa pilihan yang ia tawarkan kepadaku. Pertama, aku bisa tetap bertahan dan England akan menyerangku habis-habisan dengan tentaranya. Kalau yang itu, aku bisa mengerti."
Indonesia memicingkan matanya, rasa gemas dan penasaran membuat posisi duduknya condong ke depan. "Tapi kenapa namamu muncul dalam pilihan England ini? Ia menyuruhku untuk membuat kontrak kerja denganmu dalam beberapa bidang strategis yang memang menjadi tujuannya saat itu. Karena tahu aku tidak akan bisa menolak, ia berikan lagi padaku pilihan terakhir. Alternatif lain yang sebenarnya bukanlah solusi dan sama sekali tidak elegan, dengan menyeret nama lain dalam masalah itu. Dan kita tahu siapa yang terbawa hingga sekarang, yang tadinya berada dirumahmu ini dan entah ke mana kau bawa dia pergi."
Lagi-lagi sebuah sindiran.
"Apa kau tahu kenapa England ada di sana?" America bertanya seolah tidak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Indonesia. Personifikasi negara adidaya itu menghiraukan sepasang alis tebal yang bertaut tidak senang dihadapannya.
"Waktu itu, kau baru saja sekali lagi membuktikan kekuatan absolutmu setelah Russia menyerah dalam adu kekuatan kalian yang konyol itu. Aku yang saat itu menjadi salah satu negara yang tak kau pertimbangkan, membuat sebuah gerakan inisiatif untuk meredam terjadinya 'perang sebenarnya' yang mungkin akan terjadi tidak lama lagi. Sesuai dugaanku, gerakan ini mendapat respon positif dari negara dunia ketiga yang tidak menginginkan komunis ataupun kapitalis seperti kalian." Raut wajah melayu itu mengejek, membuat America hanya bisa tersenyum masam mengingatnya.
"Kemudian Netherland menggandeng England untuk menyerangku hanya demi sebuah perjanjian kerjasama denganmu. Maka hipotesisku adalah bahwa England berada di sana atas perintahmu. Kalian berdua saat itu bekerjasama untuk membuatku kehilangan pengaruh. Apa benar begitu?"
Gadis itu terdiam menunggu respon Sang Pemegang Hegemoni. Ada yang tidak benar di sana. Indonesia tahu itu walaupun hipotesisnya lebih masuk akal daripada yang selama ini ia pikirkan. Tapi sekalipun benar, rasanya terlalu kekanakan bagi America sampai harus menggunakan cara berbelit-belit untuk menjatuhkannya. Jika yang lelaki itu inginkan adalah pencitraan baik untuknya dan kejatuhan untuk Indonesia, kenapa ia tak membiarkan Netherland mengalahkannya dan muncul di saat terakhir bak seorang malaikat?
America menyadari raut ketidakpuasan Indonesia terhadap hipotesisnya sendiri. Seolah dapat mendengar apa yang sedang ia pikirkan, Sang Tuan Rumah memberikan komentarnya dengan nada ramah dibuat-buat. "Sebagian analisismu benar, Nesia. Sayangnya ada satu hal yang tidak kaupikirkan—satu tokoh yang hilang, tentang kemungkinan yang tidak terpikir olehmu sebelumnya."
Gadis itu menautkan alisnya mendengar America berbicara tentang satu petunjuk yang hilang itu dengan intonasi yang jelas mengejek. 'Masih ada lagi yang ada dibalik America dan England? Siapa?' usik Indonesia dalam hati, mengabaikan America yang menatapnya penuh teka-teki.
"Kau pikir, kenapa England memaksaku untuk menjadi bagian dari koloninya sampai ia mati-matian melawanku dan kemudian kalah?" Sejarah itu America ucapkan dengan pahit, mengingat kenyataan dibalik kejadian di mana America mendapatkan hak sepenuhnya menjadi negara. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dan Indonesia masih menunggunya—berusaha menyusun benang kusut dalam otaknya. "Kau tahu kan, kalau dulunya England menguasai banyak negara di dunia? Ia dikatakan sebagai Sang Pengatur."
"Sang Pengatur? Bukan disebut sebagai penguasa?" Indonesia menyipitkan matanya, bingung dengan pemilihan kata tersebut. Gadis itu dapat melihat sudut bibir America tertarik sesaat sebelum berubah menjadi kerutan masam. Sorot di balik kacamata itu hangat, namun penuh dengan peringatan untuk diam bagi Indonesia yang segera menutup mulutnya.
"Kau tahu? Ekspresimu itu benar-benar lucu, Nesia. Dan kita tidak sedang membahas ekspresimu, tetapi aku juga sependapat denganmu saat pertama kali mendengar julukannya yang berlaku di kalangan tertentu. Kemudian setelah ia menunjukkan padaku bagaimana sistem kekuasaan di dunia ini berputar, aku mengerti." Lelaki itu menyeringai sebelum mengakhiri kalimatnya. Iris biru itu berbeda kini—lebih gelap tanpa kehangatannya yang baru beberapa detik lalu terpancar—dan Indonesia merasakan dirinya ditatap dengan intensitas yang melebihi batas kesopanan.
'Oh, tidak...'
Panik, Indonesia merasakan tubuhnya memanas karena alasan yang sudah sangat jelas itu.
.
.
Baghdad, Irak.
Lelaki itu menjejakkan kakinya ke tanah setelah tiga jam yang melelahkan dalam jet pribadinya, saat sekelompok orang menyambut kedatangannya dengan gerakan hormat ala militer. Mata hijaunya yang seperti emerald menatap manusia-manusia militer berpangkat tinggi tanpa emosi dan langsung berjalan menuju pintu mobil yang berada di ujung karpet merah tempat ia berjalan. Dirinya tidak ada urusan dengan manusia rendahan seperti mereka. Melirik sejenak ke arah mereka, pria yang dianggap penting tersebut segera menghilang dengan deruman halus mobil merek ternama yang nyaris tak terdengar.
"Israel?"
Pria itu akhirnya berbicara—dengan speaker wireless yang terpasang ditelinganya—sambil melirik sekilas ke arah pengemudi yang fokus memegang kendali. Setelah memastikan pembicaraannya tidak dicuri dengar, pria itu membuang tatapannya—menatap deretan rumah yang seakan bergerak mundur dengan cepat. Sesekali dirinya menggumam, menanggapi suara di ujung saluran komunikasi tersebut.
"Bagaimana dengan kabar penelitian Iran?" Nada bicaranya nyaris tanpa perubahan intonasi. Ia melihat sejenak jarum jam tangan yang melingkar pas di tangan kirinya.
"Aku sedang menuju tempatnya. Kira-kira dua jam lagi. Pastikan saja Israel tetap berada di sana." Aksen Inggrisnya kental dan tenang seperti biasa. Namun pengemudi di depan melirik kearahnya dengan tatapan tak percaya—dalam hati mengumpat mendengar Perkataan tuannya—lewat kaca spion dan langsung menambah kecepatan mobil keluaran terbaru itu. Jarum speedometer nyaris menyentuh angka 200 km/jam.
England tersenyum jahil melihat bawahannya yang berkonsentrasi penuh membuat mobil itu tetap dalam kendali—berusaha membuat mobil ini tiba di tempat yang ditentukan dalam waktu kurang dari dua jam. Untung saja mobil ini milik Irak yang dipinjamkan dengan sukarela, jadi polisi jalanan pun tak akan berani memberhentikan mereka.
"Ah, dan satu hal lagi." England menekan seklias speaker yang terpasang ditelinganya. "Pastikan kau sudah makan saat aku sampai, Malaysia. Aku tak ingin melihat seorang gadis yang baru saja diculik dalam kondisi kelaparan."
Suaranya memerintah—penuh dengan dominasi tak terbantahkan. Dengan kesal, Malaysia mengiyakan sebelum memutuskan saluran komunikasi mereka.
'Tanpa Israel bilang pun, aku tahu kalau kau memang tidak akan sepenuhnya mematuhiku, Malaysia,' pikir England-yang teringat dengan pembicaraan terakhirnya dengan Israel. Dengan perasaan damai, ia menyandarkan tubuhnya, menutup mata-mencoba untuk tertidur.
Mungkin tidur untuk yang terakhir kalinya.
.
.
—Tbc
