Hetalia Fan Fiction
Into the New World XII: Nonsensical Decision
Hetalia ( c ) Hidekazu Himaruya
Warning: political theme, OC
.
.
"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, setelah perang dingin usai dan Uni Soviet pecah, England mendapatkan instruksi mengenai siapa pemegang hegemoni selanjutnya. Dan nama yang keluar adalah negaramu, Indonesia." America mengucapkan kembali apa yang ia sampaikan beberapa menit yang lalu, kali ini tanpa semangatnya. Pria itu menopangkan dagunya dengan tangan kiri, masih memperhatikan ekspresi Indonesia yang masih mematung.
"Nesia, apa kau tidak ingin menyenangkanku dengan memberitahuku apa yang sekarang kau pikirkan?" tanya America yang terlihat bosan. 'Yah, siapapun pasti tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat diberitahu kalau mereka mendapat sebuah kekuasaan mutlak atas dunia...' ujar America dalam pikirnya.
Perlahan, iris mata cokelat itu terangkat dan bertemu pandang dengan America. Mata gadis itu tak terbaca dan penuh spekulasi tak terucap. "Kau mengatakan bahwa negaraku yang akan menjadi pemegang hegemoni selanjutnya, lalu apa tujuanmu mengatakan hal itu?" tanya Indonesia dengan nada defensif.
Sudut bibir America berkedut mendengar pertanyaan tersebut. Sesuai dugaannya, Indonesia tidak terpaku dengan fakta yang sangat rahasia tersebut. "Hmm… Apa tujuanku? Aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu," ujar America santai.
Indonesia menaikkan satu alisnya. Gadis itu menertawai America dan menjawab dengan nada mengejek, "Sebuah kerja sama lagi? Aku sudah mengenal kebiasaanmu yang satu itu, America."
America tertawa sinis. "Oh, Indonesia! Kau pasti mengenalku lebih baik daripada England bukan?"
Sarkasme lagi.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan berlama-lama dalam situasi seperti ini, America—" Gadis itu memicingkan matanya. "—Apa penawaranmu?" Indonesia membalas dengan nada pedasnya. Ia memang tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sama dengan personifikasi negara tersebut. Sudah berapa lama waktu yang ia habiskan hanya untuk dijadikan hiburan bagi personifikasi negara terkuat itu? Dan kenapa pula ia berdebar hanya karena ditatap begitu intens oleh personifikasi negara yang menyebalkan itu? Gadis itu kesal, menyadari bahwa perlakuan America masih saja mempengaruhi kondisi mentalnya.
Bibir pria itu tertekuk sejenak mendengar nada tak bersahabat itu. "Baiklah, kembali pada bisnis. Tujuan England saat ini adalah menjadikanmu negara yang siap untuk menerima hegemoni. Tetapi, sekalipun kau menerimanya kelak, tindakan dan keputusanmu tidak akan sebebas keadaanmu sekarang ini."
Pria itu membuka kedua tangannya lebar, menunjuk pada sosok mungil gadis Melayu dihadapannya.
'Aah… Kenapa sosokmu terlihat lebih kecil saat ini Indonesia? Apa sebenarnya kau takut dengan takdir tersebut?' batin pria itu—bukan dengan rasa simpati pada umumnya.
"Kebijakanmu, tindakanmu, dan dengan negara mana kau akan berhubungan, itu harus disetujui England terlebih dahulu. Kau tahu kenapa? Agar kekuasaan yang dilimpahkan padamu itu tidak melewati batas dan tidak berbalik menyerang negara-negara tertentu." America menghela napas pelan dan memejamkan mata. Ekspresi America sebelum berbicara lagi membuat Indonesia ingin menghapus apapun yang saat ini terpikir oleh America. America terlihat benar-benar seperti anak kecil yang mainannya direbut secara paksa. Diam-diam Indonesia mengepalkan kedua tangannya erat.
"Yang aku inginkan adalah dengan kekuatanmu nanti, tolong hapuskan sistem kekuasaan tersebut dan bunuh England. Dan setelahnya—"
Mendengar perkataan America selanjutnya, membuat Indonesia terpaku.
'Aah... Anak kecil itu kini benar-benar hilang, England. Apa yang kau lakukan terhadapnya?' batin Indonesia.
.
.
Dalam sebuah kompleks padang pasir yang dijaga ketat oleh orang-orang militer, satu-satunya bangunan yang berada di sana kedatangan sebuah mobil dengan pelat nomor asing. Pria yang tadinya berada dalam mobil tersebut sudah melenggang masuk ke dalam pondok sederhana tanpa dikawal siapa pun. Ia melewati semua sistem keamanan yang telah dipasang, sebelum akhirnya memasuki sebuah ruangan putih yang dingin dengan seorang gadis menunggunya di sana.
"Malam, Iran. Maaf aku datang tanpa melalui prosedur resmi." Pria tersebut melepaskan topi hitam yang sedari tadi ia kenakan, memegangnya ke dada dan membungkuk sedikit pada gadis dengan wajah seperti orang Timur Tengah pada umumnya. Ia tersenyum meminta maaf.
"Kau memang sangat sopan, England—" Gadis itu—yang biasa dipanggil sebagai Iran—mencoba untuk tersenyum dan mempersilakan tamu tak diundangnya itu duduk. "Silakan."
Setelah mengucapkan terima kasih, pria tersebut duduk dan meletakkan topi hitamnya di atas meja bundar yang terbuat dari keramik. Dihadapannya, duduk Iran dengan segenap ketenangan dan pengendalian diri yang luar biasa. Personifikasi negara Inggris itu berdeham sebentar sebelum memulai pembicaraan. "Maksud kedatanganku adalah untuk membawa Malaysia kembali bersamaku. Jika kau berkenan, Iran, bisakah kau pertemukan aku dengannya?"
Gestur tubuh Iran kini lebih santai. Gadis itu tersenyum sejenak, nyaris menyeringai saat England menyelesaikan kalimatnya. England dapat melihat bahwa gadis yang dulunya merupakan salah satu koloni Inggris Raya itu kini sedang dalam suasana hati yang baik. Ya, dulunya Iran merupakan salah satu koloninya sampai konflik perebutan minyak semakin memanas, sehingga Iran memilih untuk melepas keanggotaannya dari British Commonwealth. Bagi England, Iran merupakan seorang gadis kecil yang memiliki banyak hal yang diinginkan olehnya, yaitu sumber minyak.
Iran mengulum senyum—ia sedang memikirkan tentang risiko menyerahkan Malaysia pada England—dan melirik jarum jam di dinding. "Kenapa kau mencari Malaysia ke sini?"
Iran sedang mengulur waktu.
England yang menyadari gelagat itu mengulum senyum—bukan senyuman yang sampai ke mata. "Mencoba mengulur waktu, sepertinya?" pertanyaan itu sarat akan ancaman.
Iran bergidik mendengar kemarahan tersirat yang England ucapkan. Ia memaksakan sebuah senyum singkat. "Baiklah. Mari kita mulai dari—" Iran menopangkan kedua sikunya pada meja, kesepuluh jarinya bertautan. Iris hazel itu menatap kesepuluh jarinya seakan menatap berlian terbesar di dunia. "—dari siapa kau mengetahui tempat ini?"
England balik bertanya tanpa merasa tertekan dengan nada menginerogasi gadis itu. "Kalau kujawab Malaysia apa kau percaya?"
Pandangan Iran terangkat, beralih pada manik mata England yang sedari tadi memperhatikannya. Dalam benaknya, Iran sedang memikirkan apa yang telah diinstruksikan Indonesia padanya dalam komunikasi terakhir mereka. Instruksi yang mengatakan padanya agar mengulur waktu untuk memberikan lebih banyak waktu pada Malaysia untuk kabur dari England. Sesuai dengan perkiraan Indonesia, tetangganya itu akan pergi menemui Iran dan England akan segera mencari Malaysia begitu mengetahui tangan kanannya tersebut menghilang.
'Tapi dia tidak bilang kalau Si Maniak Teh akan kemari! Apalagi dia datang ke tempat yang sudah susah payah kusembunyikan…' pikir Iran jengkel, saat mendapat laporan dari pos pengamanan yang mengatakan sebuah mobil dinas berpelat nomor dari Irak memaksa masuk ke dalam wilayah kompleks laboratorium. Petugas di sana mengatakan bahwa pengendara merupakan diplomat Inggris yang diutus langsung oleh Ratu Inggris, sehingga dengan terpaksa ia meloloskan mobil itu. Iran yang saat itu sedang bersama Malaysia di dalam pondok, segera melarikan Malaysia setelah memarahi petugas jaga beberapa menit.
Jadi apakah Malaysia sudah membocorkan tempat ini pada England? Firasat Iran mengatakan pertanyaan pria itu hanya bermaksud memprovokasinya.
"Kalau memang begitu, seharusnya aku membunuh Malaysia sekarang," ujar Iran santai seakan ia sedang membicarakan cuaca hari ini. Gadis itu tak sepenuhnya membual, karena konsekuensi tersebut memang akan terjadi seandainya Malaysia benar-benar melakukannya.
Sepasang alis tebal milik England terangkat mendengarnya. "Cukup berani, Iran," gestur pria itu kini semakin menunduk maju, menyamakan pandangan matanya dengan gadis dihadapannya. "Namun aku bukanlah anak kemarin sore, jadi berbohong pun percuma."
Iran menyadari bahwa tamunya itu kini sudah kehilangan kesabaran dan tanpa alasan yang jelas ia mulai merasa panik.
England melanjutkan, "Karena kau sudah begitu baik pada Malaysia, aku akan memberikan sedikit informasi padamu." Iran mengerjap dan menatap sepasang iris emerald itu keheranan. "Israel sedang menyiapkan tentaranya untuk menyerang wilayahmu dengan dalih ancaman keselamatan bagi sebagian negara di kawasan Timur Tengah akibat dari proyek nuklirmu itu. Tentunya gadis itu tidak sendiri—dia menggandeng negara anggota NATO untuk ikut membantunya. Kutebak kau pasti sudah menduga hal tersebut. Tapi—"
Memang bukan kabar baru bagi Iran, tetapi mendengarnya dari England membuatnya cukup kaget. Dan lagi bersama dengan militer anggota NATO? Bocah itu pasti punya dendam yang besar terhadapnya. Dalam hati, Iran hanya bisa tertawa sinis.
"—kau menyadari bahwa dengan kekuatanmu sekarang, kau tidak akan bisa melawan gadis itu, bukan?"
England tersenyum senang saat dilihatnya Iran benar-benar memandangnya saat ini. Umpannya termakan.
"Apa kau bermaksud memprovokasiku, England? Jika memang begitu, maka kau salah mengira aku akan berbaik hati padamu setelah—"
"MAKSUDKU—" England segera memotongnya dengan nada suara yang lebih tinggi. Ia berhenti sejenak melihat Iran terdiam kagetdan merendahkan intonasinya. "—Maksudku adalah untuk menawarkan bantuan. Aku menawarkan pasukan Inggris—baik angkatan darat, udara ataupun laut—semuanya padamu, Iran."
Iris emerald itu memandang tepat di manik mata Iran, dengan intensitas yang cukup mengacaukan pikiran gadis dihadapannya. Hanya beberapa detik dan perlahan wajah manis itu mulai merona kemerahan.
'Aah, mudah sekali…' England mengejek dalam pikirnya.
To be continued—
A/N:
Hullo! mayaoreo here...
Well, thank you for coming here! I'm happy if you enjoy this one :)
