Hetalia Fan Fiction

Into the New World XIII: Taking Initiative

Hetalia ( c ) Hidekazu Himaruya

Warning: political theme, OC, Fem!Indonesia, Fem!Malaysia,Fem!Israel


"Kau ingin tahu bagaimana proses penyerahan kekuasaan itu berlangsung?"

Pertanyaan spontan America itu terus terngiang dalam benak Malaysia, bahkan 24 jam setelah ia berpisah dengan penculiknya di bandara. America membelikan sebuah tiket pesawat tujuan Iran untuk Malaysia dan bersikeras mengantarkan gadis itu ke bandara. Selama perjalanan, benak Malaysia kembali mengingat adegan saat England secara tiba-tiba datang menemui America. Pria itu datang untuk mencari dirinya dan segera pergi begitu America mengungkit berita tentang hilangnya Israel.

'Dasar gentleman payah! Alasanmu bertemu America, kan, untuk mencariku! Kenapa malah langsung pergi begitu mendengar Israel hilang?! Kenapa dengan santainya kau meneleponku—yang sedang tidak ingin bertemu denganmu—untuk menanyakan Israel dan dengan santainya menyuruhku makan?!' batin Malaysia kesal seraya berjalan menghentakkan kaki, memasuki sebuah gerbang pintu masuk yang dijaga ketat sejumlah petugas berseragam militer.

Saat ini, Malaysia berjalan tanpa ragu meintasi Menara Trinity yang terletak di ujung barat kompleks benteng merah kebanggaan Russia. Benteng merah yang biasa disebut Kremlin tersebut, merupakan kompleks bangunan yang mencakup gedung kongres, katedral, museum, dan kediaman presiden—yang tentu saja menjadi kediaman sang personifikasi negaranya sendiri. Tak heran jika kau melihat banyak pria berseragam militer Rusia berkeliaran di sudut-sudut dan pintu masuk umum Kremlin.

Malaysia menghela napas saat ia berada di depan katedral terkenal yang memiliki kubah keemasan, Cathedral of the Assumption. Kedua kakinya lelah terus berlari dari kepentingan England dan ia belum mengabari Sultan mengenai kepergiannya ke Russia. Ia tidak bisa sembarang membuat kontak dengan Sultan, karena pasti saat ini gentleman itu masih mencarinya.

"Nona, apa kau tersesat, da?" tegur seseorang. Seketika cahaya di sekitar Malaysia menghilang, berganti bayangan postur besar yang menutupi bayangan gadis tersebut. Sepasang bola mata itu melirik dan mendapatkan iris lavender menatapnya penuh rasa ingin tahu.

Malaysia menatap kesekelilingnya—mendapatkan radius lima meter dari tempatnya berdiri tak ada seorang pun kecuali pria besar disampingnya serta beberapa pria berpakaian informal yang menghalangi wisatawan lainnya untuk mendekati mereka—dan tersenyum menatap sepenuhnya personifikasi negara yang tak terlalu dekat dengan gadis Melayu tersebut.

"Aku hanya datang sendiri, kau tahu?" Kedua tangan Malaysia terangkat, bersikap seperti penjahat yang ditodongkan pada senjata polisi. "Aku tidak membawa siapa-siapa bersamaku," tambahnya lagi.

Sepasang alis Russia terangkat seakan tak mengerti.

"Kenapa FSB juga ada di sini?" tanya Malaysia dengan mimik tak senang.

Russia tersenyum sekilas. "Bukan karenamu, da," jawabnya lembut. "Hanya konsekuensi dari keadaanku sekarang, da."

Malaysia hanya menggumam, berusaha tak memedulikan pasukan khusus milik negara komunis itu. "Bisa kita bicara berdua saja? Aku ingin—"

"Aku tahu. Ikuti aku, da." Russia memotong kalimatnya dan berbalik tanpa memedulikan apakah Malaysia akan mengikuti. Malaysia tahu bahwa Russia adalah pria yang arogan, tetapi ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu saat baru bertemu dengannya secara pribadi. Gadis tersebut hanya bisa mengikuti sambil memutar kedua bola matanya. Sepertinya sikap arogan Russia belum sepenuhnya pudar setelah kekalahannya pada Perang Dingin lalu.

Kenyataannya, kondisi negara Rusia bisa dibilang tidak lebih baik dari negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya yang stabilitas ekonominya tidak menentu. Negara seperti Moldova, Ukraina, dan Rusia saat ini sedang dalam masa depresi ekonomi, mengingat pengelolaan sistem perbankan ketiga negara tersebut tidak berbeda jauh dengan sistem yang digunakan Yunani dulu. Sistem perbankan yang terkesan santai yang dicetuskan parlemen Yunani tersebut, menjadi bumerang bagi Yunani ketika kesulitan membayar hutang-hutangnya pada IMF. Berdasarkan rapat G8 sebagai respon dari keadaan negara tersebut, diputuskanlah bahwa Japan, China, dan Russia yang akan menanggung sementara hutang tersebut dengan beberapa catatan tertentu. Bagi Greece yang sangat santai, hal tersebut bukanlah masalah besar baginya selama rakyatnya masih bisa hidup diwilayahnya dan ia masih bisa memberi makan kucing-kucing yang datang padanya. Mendengar pernyataan Greece dalam rapat G8 itu, beberapa peserta rapat merasa kesal dan yang lain hanya bisa memaklumi sikap Greece tersebut.

Berdasarkan kondisi dan sikap Greece itulah, Russia kemudian mengangkat tangan kanannya dalam rapat G8 untuk ikut membantu negara yang pernah menjadi pusat peradaban di masa silam. Alasannya sederhana, karena jika Yunani dibiarkan jatuh bangkrut, maka Rusia dipastikan akan menjadi target bulan-bulanan Uni Eropa yang berikutnya. Mengingat harga diri seorang Russia yang tinggi, tentu ia tidak mau hal tersebut terjadi.

"... Apa kau sudah selesai dengan lamunanmu, da?" tanya Russia yang segera membuyarkan lamunan gadis itu. Malaysia mengulaskan senyum terpaksa, ia merasa tidak enak menertawakan personifikasi negara satu itu atas kondisi negaranya. Mengingat negara melayu tersebut tidak sepenuhnya terbebas dari masalah ekonomi yang, meskipun diringankan oleh bantuan negara-negara anggota British Commonwealth, tetapi sejak America menculiknya—Malaysia menjadi waspada jika sewaktu-waktu mantan penjajahnya itu mengeluarkannya dari lingkaran.

'Ah, England…' celos Malaysia dalam hati begitu mengingat tindakannya yang lari dari England.

"Aku memerlukan bantuanmu, Russia," ucap gadis itu mantap saat hanya berdua dalam sebuah ruangan besar di dalam kediaman Russia—pengawal maupun FSB tak lagi bersama mereka—dan Russia menyambutnya dengan seulas senyum arogan. Malaysia merasakan udara dingin mengalir melewati tengkuknya.

"Membantu… da?"

Malaysia mengumpat dalam hati, merasakan bahwa pembicaraan ini tidak akan berjalan lancar. Ia memperhatikan Russia yang berjalan mendekati meja bar di sudut ruangan dan terpaksa mengikuti. Pria besar didepannya hanya menggumam tak jelas—seraya menuangkan vodka pada loci dan menawarkan minuman sambil lalu—kemudian melanjutkan, "Membantu dalam hal apa, kalau kau bisa menjelaskan dengan lebih spesifik, da?"

Russia jelas-jelas sudah tahu apa maksud Malaysia dengan 'membantu', tetapi pria itu tidak tahan untuk tidak menjahili gadis tersebut. Setelah mengumpat pelan, Malaysia menjawab dengan nada tak sabar, "Membantuku untuk mengalahkan England, Russia!"

Gadis melayu itu memutar kedua bola matanya dengan mimik gemas. Russia menyesap vodka, terhibur dengan sikap Malaysia.

Malaysia melanjutkan, "Semua negara juga merasakannya, kan? Hubungan buruk antarnegara saat ini tidak dapat dijadikan bahan lelucon lagi di meja rapat, beberapa di antara mereka bahkan sudah ada yang menyerang satu sama lain di luar ruang rapat."

"Seperti Iran dan Israel? Atau contoh kasus lama seperti Palestine dan Israel, da?"

Malaysia mengangguk. Hal yang menarik dalam dua kasus tersebut adalah, dapat dilihat bahwa pembentukan persekutuan antarnegara bukan soal perbedaan paham agama lagi, melainkan benturan kepentingan masing-masing negara di Timur Tengah. Lihat saja Iran yang kini ikut-ikutan membela Palestina setelah laboratorium nuklir miliknya dihancurkan beberapa waktu lalu atau Kerajaan Saudi yang menyerang pemberontak Yaman dengan mengatasnamakan kedamaian di negara tersebut. Sekilas memang terlihat seperti misi perdamaian, tetapi kalau dilihat baik-baik mereka memiliki motif tersendiri.

"Kau juga melihat, kan? Saat ini negara-negara sudah mulai mempertimbangkan pada kubu mana mereka akan berpihak. Aku memang tidak tahu secara tepat kepada pihak mana England akan memihak, tetapi besar kemungkinan ia akan memihak Israel."

Kedua mata Russia menyipit. "Israel, da? Apa kau yakin?"

"Sudah kubilang aku tidak tahu secara tepat!" protes gadis itu. Berhadapan dengan Russia memang tidak pernah menyenangkan.

Russia menggumam aneh. Sepertinya pikiran personifikasi negara komunis itu mengingat sesuatu yang menarik. Malaysia memandang wajah dihadapannya dengan penuh curiga. "Oi, Russia. Apa yang kaupikirkan?"

"Ngomong-ngomong, apa kau mengetahui sesuatu tentang hubungan England, Israel, dan America, da?" tanya Russia perlahan. Benak abstrak pria itu seperti sedang menyusun sebuah teori, meskipun mimiknya sama sekali tidak menunjukkan perubahan.

Malaysia terdiam sejenak.

"Heei, pasti kau menyusup ke sana lagi, ya?" balas Malaysia bertanya sebelum menghela napas. Rambut hitam gadis—yang biasanya dikuncir—tersebut kini dibiarkan tergerai, membuatnya ikut bergerak saat ia menundukkan kepala sejenak.

Russia tersenyum bersalah, walau Malaysia tidak dapat melihatnya dalam posisi menunduk. "Aku hanya memberikan rakyatku pekerjaan. Daripada mereka menyia-nyiakan bakat dan menganggur, lebih baik bekerja untuk memenuhi keinginanku, da?"

'Rasanya itu adalah alasan terarogan yang pernah kudengar…' jawab Malaysia dalam benaknya.

"Oke, mari kita kesampingkan metode kau mencari informasi." Malaysia berdiri menyandar pada meja bar seraya bersedekap dan menoleh pada pria besar disampingnya. Russia yang melihat kerutan tidak senang pada wajah Malaysia, membuka suara, "Beberapa waktu lalu, aku mendapat sebuah informasi yang cukup tinggi kerahasiaannya, da."

Ekspresi Malaysia langsung berubah seketika. "Sumbernya?"

Russia berkata dengan wajah berseri-seri—seakan kau dapat melihat bunga-bunga bermekaran dibelakangnya. "America, da."

Gadis melayu itu tertawa setengah hati. 'Aku bertaruh America pasti tidak memberitahukannya padamu atas kehendaknya sendiri.'

"Jadi, Russia, secara tidak langsung kau mau mengatakan padaku kalau kali ini England tidak akan berpihak pada Israel?" Malaysia tidak memedulikan tindakan Russia. Gadis itu diburu oleh waktu saat ini.

"Sepertinya, da." Pria besar itu mengambil jeda. "Dan kalau memang seperti itu, apa yang akan kau lakukan Malaysia? Apakah kau tetap akan memintaku menghancurkan England, da?"

Sepasang iris cokelat tersebut mengalihkan perhatiannya pada bandul yang bergerak di dalam jam antik yang berdiri angkuh di seberang ruangan.

Gadis itu tidak berpikir tentang hal tersebut, atau lebih tepatnya, tidak pernah kepikiran kalau England akan mengambil langkah untuk menjadi musuh Israel. Selama ini, Malaysia selalu berasumsi bahwa hubungan kedua negara itu akan selalu menjadi sekutu dalam keadaan apapun.

Russia dapat menangkap bayang keraguan dalam wajah tanpa ekspresi tersebut. "Malaysia, bagaimana kau akan bersikap?" tanya Russia lembut, namun dengan aura yang aneh disekelilingnya. Di mata Malaysia, Russia terlihat seperti kucing Cheshire dalam dongeng Alice in Wonderland.

Beberapa detik Russia menunggu dan gadis disampingnya kini menatap tajam kearahnya. "Keinginanku tetap sama, Russia. Aku ingin kau membantuku menghancurkan England, tidak peduli dia berada di pihak mana. Apa aku bisa mempercayaimu soal ini?"

Russia tersenyum seperti biasa. "Kau tidak perlu mempercayaiku, dévushka. Kau hanya perlu memanfaatkanku, seperti aku memanfaatkanmu, da."

.

.

Dalam kegelapan khas padang pasir, seberkas cahaya terlihat mempercepat kelajuannya menuju utara. Sang pengemudi tanpa kesulitan mengendalikan mobil kenegaraan tersebut yang melaju nyaris mendekati angka 160 km/jam. Sesekali ia melirik pada kaca spion dan mendapatkan seorang personifikasi negara yang berpengaruh duduk santai seraya berbicara dengan seseorang di ujung sambungan komunikasi.

Pertemuan England dan Iran berjalan mudah sesuai perkiraan gentleman tersebut. Ia sudah mengira bahwa Malaysia akan pergi menemui Iran dengan maksud memberinya perlindungan walau sejenak. Ia juga mengira bahwa untuk sementara ini Malaysia akan menghindari pertemuan dengannya. Dan setelah semua perkiraannya benar, England dapat menerka apa yang terjadi selama Malaysia dibawa pergi oleh America.

'Si Maniak Burger itu pasti membicarakan hal-hal yang tidak perlu dengan Malaysia,' batin England tak senang.

"Sepertinya salah satu anggota dilingkaranmu mulai berkhianat?" tanya seorang gadis di ujung sambungan komunikasi.

England tertawa hambar. "Sepertinya kau menebak lebih baik dariku, luv," pria itu terdiam sejenak. "Entah apa yang dia bicarakan dengan America…"

"Kau lihat, kan, sekarang? America sudah mulai bergerak semaunya!" ujar gadis itu dengan urgensi yang nyata.

"Aku bisa melihatnya, Israel…" intonasi England tetap tenang. "Karena hal itulah, aku sudah berbicara dengan Iran tadi."

England bisa mendengar perubahan emosi dalam gumaman gadis itu.

"Jadi, apakah kita bisa memulainya?" pria itu bertanya seraya melihat kegelapan di luar kaca, sebuah siluet pondok kecil di tengah padang pasir.

Suara gadis memberikan konfirmasi positif. "Buat seakan itu adalah pembunuhan atau ulah teroris. Dan pastikan kau melakukan tugasmu dengan benar, karena aku akan selalu mengawasi…"

Mendengar kalimat terakhir Israel, England menggenggam ponselnya lebih erat.

"Aku paham, Almah," balas England lelah sebelum memutuskan komunikasi dua arah tersebut. Ponselnya ia biarkan tergeletak, dan kepala England bersandar pada kaca jendela mobil yang gelap. Benak personifikasi negara tersebut tidak sedang mengagumi indahnya bulan kemerahan yang muncul di langit Iran, tetapi ia sibuk memikirkan perkataan terakhir Israel dan langkah yang selanjutnya harus ia lakukan.

Mengenai kabar hilangnya Israel yang disampaikan America, tentu saja itu hanya kebohongan Israel sendiri untuk membuat negara-negara yang lainnya percaya. Hal itu harus dilakukan untuk mengambinghitamkan seseorang dan membuat target mereka turut berpartisipasi, yang nantinya akan berujung pada sebuah permulaan...

Permulaan perang dan dunia yang baru.


—To be continued

A/N:

Hullo! Long time no see all!

Akhirnya chapter ini pun keluar dengan aman… Haha

Walaupun sedang dalam musim liburan, tetap saja ga bisa update dengan cepat. Apalagi ditambah puasa kemarin yang mengharuskan diri ini berpisah dengan laptop :""

Seperti yang bisa dilihat, beberapa informasi dalam chapter 13 ada yang saya ambil dari berita akhir-akhir ini, tapi dengan sedikit perubahan dan improvisasi. Apa kalian bisa menebak yang manakah itu? Fufufu~

Apakah pembaca bingung dengan pembicaraan gaje antara Malay dan Rusia? Apakah kalian menemukan kata-kata aneh di dalam cerita? Go google it! /author ingin tidur setelah chapter ini selesai /plak

Terima kasih untuk google dan website-website berita nasional maupun internasional yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu karena keterbatasan tempat.

Terima kasih untuk para pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir.

Terima kasih untuk kalian yang sudah memberikan review, masukan, dan saran pada cerita ini.

Dan karena author hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan dosa, maka mohon dimaklumi jika terjadi salah ketik dalam cerita.

(haha bahasanyaaa… keracunan kata pengantar beginilah akibatnya…)

Semoga kita bisa bertemu di-chapter berikutnya! See you!

Sekadar informasi,

Devushka (Russian) dan Almah (Hebrew) itu memilki arti yang sama, yaitu young woman or girl. FSB merupakan akronim dari Federal Security Service of Russian Federation dalam bahasa rusia. Kalau masih ingin tahu, silakan berselancar di dunia maya… /plak