Tahun lalu merupakan tahun yang penuh kejadian tak terduga bagi gadis melayu itu. Tentu saja. Tidak terpikir olehnya, bahwa seorang personifikasi negara pemegang hegemoni akan berkata, kalau dia—Indonesia—akan menjadi pemegang hegemoni selanjutnya. Pulang dari belahan bumi yang berbeda itu, membuat ia terus kepikiran.
Kalau memang hal itu akan terjadi, apa yang akan terjadi pada America setelahnya?
Hetalia Fan Fiction
Into the New World XIV: At the Beginning of the Year
Hetalia ©Hidekazu Himaruya
This story contains: issue of WW III/ Fem!Indonesia/Fem!Israel/OC/may be OOC
Di akhir tahun lalu, para personifikasi negara dikejutkan dengan serangan rudal Iran ke wilayah Israel dan kabar hilangnya personifikasi negara Israel. Sebagai personifikasi negara yang biasanya melanggar dari hukum internasional, tak heran rasanya kalau ada personifikasi negara lain yang menyerang gadis itu. Kabar burungnya, gadis egois itu diculik oleh bawahan Iran. Namun, ketika Indonesia konfirmasi ke yang bersangkutan, gadis timur tengah itu berkata bahwa ia memang berencana membawa Israel secara paksa untuk konfrontasi satu lawan satu. Akan tetapi, bawahannya yang ditugaskan menculik Israel, diserang oleh sekelompok orang tak dikenal, dan Israel pun berhasil melarikan diri.
Hal yang menjadi pertanyaan Indonesia ialah, kenapa bocah itu membiarkan dirinya diculik—mengingat negara itu memiliki agen intel yang cukup terkenal akan kemampuan mereka—dan mengambil jeda untuk mengumumkan peristiwa itu ke dunia? Akibat dari penyerangan dan percobaan penculikan oleh Iran tersebut, Israel kembali menyerang negara-negara Timur Tengah yang berbeda pandangan dengan personifikasi negara tersebut. Apakah hanya untuk mendapat pembenaran agar bisa kembali menyerang?
Rupanya, 'pertengkaran' antara dua personifikasi negara itu, mulai memicu terbentuknya kubu-kubu tertentu di antara para personifikasi negara. Hal itu bermula dari rapat nations di awal tahun ini. Situasi rapat mulai memanas, ketika Israel membuka pintu ruangan disaat Iran berdiri dari kursinya—baru akan mulai berbicara. Semua mata di ruangan langsung tertuju ke arah pintu, dan berbagai reaksi pun bermunculan.
Sebagian besar personifikasi negara, termasuk Indonesia, hanya menghela nafas pasrah dengan tabiat gadis itu. America tertawa ringan seperti biasa, yang sontak membuat personifikasi negara lainnya mendelik ke pria itu, menyuruhnya berhenti. Turkey sebagai tuan rumah hanya tertawa datar, kemudian melirik ragu pada gadis yang sedang berdiri disampingnya. Apa yang dibayangkan Sang Tuan Rumah itu benar adanya. Iran menatap tajam pada gadis di ambang pintu itu, seraya mengucapkan sumpah serapah yang langsung ditahan ketika Turkey menggenggam erat lengan kanannya.
Gadis di ambang pintu itu, Israel, hanya tersenyum seakan tidak bersalah sama sekali dan tak mendengar Iran.
"Rapat ini belum dimulai, kan?" tanya gadis itu sambil berjalan santai ke satu-satunya kursi yang kosong di ruangan.
"Well, apa jam tangan di tanganmu itu hanya perhiasan atau apa, luv?" tanya England menyindir. Pria itu bersandar pada kursinya, tak menatap Israel yang baru saja duduk manis disebelahnya. Israel hanya menjawab sindiran itu dengan tersenyum semanis mungkin, dengan seklias raut tak suka setelahnya.
Para personifikasi negara lainnya saling berbicara pelan mengomentari Israel. Akibatnya, fokus tidak lagi tertuju pada rapat. Untuk itulah, Turkey sebagai tuan rumah, kemudian menepuk tangannya sekali. Suara tepukan yang nyaring itu langsung menghentikan seluruh aktivitas peserta rapat dan membuat mereka fokus pada Turkey.
"Nah, teman-teman… karena bocah yang terlambat sudah hadir, mari kita mulai lagi rapat hari ini. Lain kali, kuharap kalian selalu melihat jam tangan kalian masing-masing, ya," ujar Turkey seraya tersenyum dingin ke Israel.
Para peserta rapat itu pun kini memulai untuk serius kembali. Turkey menatap Iran dan menangguk—mempersilakan gadis yang masih berdiri itu untuk berbicara kembali. Tepat saat Iran akan bersuara, Israel mencibir ke arah gadis itu.
Dan babak pertama perang adu mulut pun dimulai.
.
.
Setelah mengingat lagi apa yang terjadi selama rapat, Indonesia pun menjadi lebih kalem. Gadis itu jadi teringat dengan kebiasaan berantemnya dengan Malaysia. Namun, sesering apapun mereka berantem, rasa-rasanya tak pernah sampai mengganggu jalannya rapat—seperti yang terjadi hari ini. Indonesia dan Malaysia biasanya berantem ketika di luar acara-acara penting seperti saat ini. Yah, setidaknya dua tetangga itu tahu diri, untuk tidak berantem—apalagi berbuat kericuhan—di rapat-rapat penting. Diam-diam, Indonesia pun mengakui rapat hari ini ada hikmahnya juga. Dirinya bisa introspeksi diri dari kejadian tadi.
Rapat yang berlangsung ricuh itu pun, akhirnya berujung pada aksi saling lempar bola kertas antara kubu Israel dan Iran. Sampai-sampai, England dan America harus menyeret sang provokator—Israel—secara paksa keluar ruangan, diiringi tatapan lega para peserta rapat yang lain.
Dibantu Japan, Germany, Italy, dan Indonesia, Turkey pun memungut bola-bola kertas yang bertebaran di ruang rapat. Tepat sebelum Iran melarikan diri dari ruangan itu, Turkey pun menahannya dan menyuruh Iran memungut sampah-sampah kertas yang tersisa.
"Aah… untuk sisanya, biarkan Iran yang melakukannya. Kalian terlalu baik sudah membantu gadis itu," ujar Turkey ringan. Iran yang sudah mendekati pintu, membalikkan badannya, melihat Turkey.
"Haa!? Kan, yang jadi korbannya aku! Kau menyuruhku untuk membereskan kekacauan ini?!" teriak Iran frustrasi. Kedua tangan Iran seakan menunjukkan seisi ruangan—penuh robekan-robekan dan bola-bola kertas dilantainya.
Ketiga relawan pemungut kertas itu hanya bisa menatap iba. Ya, tiga. Karena Germany malah menmarahi gadis itu yang sudah meneriaki Turkey, padahal pria itu sudah banyak membantunya tadi. Alhasil, keempat personifikasi negara itu pun pergi dan tinggallah Iran dan Turkey di dalam ruangan.
.
.
"Hiiiiiih! Apa-apaan sikap bocah itu tadi?! Dasar tukang telat!"
Iran melampiaskan kekesalanya dengan membanting trash bag berisi kertas ke lantai. Sayangnya suara yang keluar tidak sekeras piring dibanting.
Sepasang mata itu menatap ke pria disebelahnya, seakan menumpahkan rasa kesalnya pada Turkey. Sang Tuan Rumah hanya bisa tersenyum—menenangkan seadanya, bersandar pada dinding, dan dengan pasrah mendengarkan semua yang tertahan itu dikeluarkan.
Untungnya, tidak ada personifikasi negara lain di ruangan itu selain mereka, sehingga tidak ada yang tahu betapa manisnya gadis itu ketika marah selain dirinya.
"Hei! Kenapa melamun saja! Setidaknya tanggapi kata-kataku, dong!" ujar Iran sambil menghentakkan tangan kanannya ke dinding, tepat di samping wajah Turkey. Pupil pria itu membesar—kaget dengan sikap Iran.
Sepasang alis tebal itu nyaris bertaut. Bibir merahnya membentuk garis tegas yang tertekuk ke bawah. Semburat merah yang sering mewarnai pipi itu ketika sedang kesal. Dan yang paling membuat Turkey suka, ialah sorot tajam gadis itu yang menatap seakan minta diberi perhatian.
Turkey hanya menghela nafas.
'Kalau Japan ada di sini, aku yakin dia pasti sudah bersiap dengan kameranya,' pikirnya tertawa datar dalam hati. 'Huff, andaikan dia bisa lebih tenang… Lebih baik pikirkan nasib dinding di belakang…' batinnya sambil meringis.
"Iya, aku tahu kau pasti kesal, Iran. Tapi setidaknya tahan dulu kekesalanmu, ya?"
Tangan kanan Iran yang berada tepat di samping wajah Turkey, digenggamnya—diturunkannya. Dipeluknya gadis itu,dan diusapnya kepala gadis itu dengan tangan kirinya yang bebas. Gadis itu, Iran, mendengus dan masih menggerutu dengan nada suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
"Dia tidak hanya mengabaikan aku, tapi juga menghinaku secara terang-terangan tadi!" ujarnya sambil menengadah. Kedua tangannya meremas kerah jas yang dipakai Turkey.
"Aku paham." Tangan pria itu menggenggam tangan Iran yang mencengkeram kerah jasnya. "Tapi tidak ada gunanya kau marah-marah seperti ini, Iran. Energimu hanya akan terbuang percuma." Pria itu seakan sedang berbicara dengan anak kecil. "Lebih baik kau mulai pikirkan, apa yang akan kau lakukan setelah ini. Sebagian besar anggota NATO sudah sepakat untuk berpihak pada Israel, kau tahu?"
Mendengar hal itu, Iran mengalihkan tatapannya dari Turkey. Raut wajahnya menjadi dingin. Turkey yang melihatnya, heran.
"Apa? Jangan bilang nyalimu ciut hanya karena sekutu dia bertambah…"
Pria itu hanya bergurau, tapi reaksi Iran yang tetapi diam itu malah membuatnya semakin heran. Biasanya Iran akan langsung membalasnya kalau ia meremehkan gadis itu.
"England bilang, dia akan membantuku, Turkey." Gadis itu menghela nafas dan menatap kembali tepat di manik mata. "Aku menjadikan dia sebagai sekutuku."
.
.
Waktu terasa berjalan begitu cepat, bagi gadis yang saat ini sedang berjalan menuju tukang sayur langganannya. Gadis itu berjalan sambil sesekali menghirup dalam-dalam udara pagi yang sejuk. Ia meregangkan tangannya lebar-lebar dan tiba-tiba dering alarm ponselnya berbunyi. Ia berhenti sejenak—mengambil ponsel di dalam kantong jaketnya, dan tertegun melihat tulisan di layar ponselnya. Lebih tepatnya, bingung.
"'Pergi'? Apa maksudnya ini? Memangnya aku mau ke mana?" tanya Indonesia pada dirinya sendiri.
Ia mendengar deruman mobil dibelakangnya yang semakin mendekat. Indonesia baru akan berjalan lagi, dan tiba-tiba dirinya dihadang mobil dinas milik pemerintah. Masih terkejut dengan kemunculan mobil didepannya, Indonesia baru sadar ketika staf presiden yang ia kenal, langsung menariknya ke dalam mobil.
"Aduh… ada apa ini? Kenapa tiba-tiba menjemputku?" tanya gadis itu sambil membetulkan posisi duduknya. Gadis itu sepertinya agak kesal karena harus absen dari acara rumpi dengan ibu-ibu komplek di tukang sayur langganannya.
"Maaf kalau kesannya terlalu terburu-buru. Tapi anda tidak lupa, kan? Kalau hari ini anda harus pergi dengan rombongan presiden ke Jerman?" tanya salah satu staf presiden yang seakan sudah tahu kalau Indonesia sebenarnya lupa.
Kedua bola mata itu membulat. "Oh iya! G20 dimulai besok, ya!?" seru Indonesia yang baru ingat jadwalnya pagi ini. Staf presiden disampingnya hanya bisa menghela nafas pasrah-membenarkan.
Mobil mewah keluaran terbaru itu pun berdecit, sebelum akhirnya melaju dengan kecepatan tinggi. Untungnya, saat itu jalanan masih sepi, sehingga mengebut dengan kecepatan 100 km/jam di jalan raya masih bisa dilakukan. Tanpa disadari, Indonesia mengencangkan sabuk pengamannya, seperti yang dilakukan staf presiden disampingnya. Ia bisa membayangkan rombongan presiden sedang menunggunya di bandara dan serentetan teguran yang menantinya.
To be continued-
A/N: Hullo! Mayaoreo is back~
Akhirnya setelah setahun lebih... sobs
Jadi, semoga di tahun ini Indonesia ga telat sampe di bandara… wkwkwk /plak
and... thank you for reading! (_ _)
