Di Senin pagi yang damai, sang personikasi negara menyalakan televisinya seperti biasa. Seperti sudah menjadi rutinitasnya ditiap minggu, pulang belanja dari pasar, ia selalu sempatkan dirinya memperbarui informasi di awal minggu itu. Hal yang berbeda kali ini, ialah saluran yang biasanya ia tonton seperti berita infotainment, kini berganti menjadi saluran internasional yang menampilkan berita seputar kabar dunia. Tampak di layar kaca, pria paruh baya yang sering ia temui di Istana Merdeka itu, berdiri di dalam salah satu ruangan megah yang ada di Kremlin, bersama beberapa pemimpin negara lainnya.
Di sisi bawah dalam layar kaca tertulis, 'INDONESIA PARTAKE THE UPCOMING WAR' sebagai judul dari isi berita tersebut. Secara garis besar, headline yang tertulis mengartikan Indonesia sebagai salah satu negara yang akan mengambil bagian dalam akhir perang dingin antara Amerika dan Rusia. Kejelasan kalimat itu dipertegas dengan tayangan presiden Indonesia dan para pemimpin negara itu serempak bertepuk tangan begitu presiden Rusia mengakhiri pidato persnya. Pidato pers itu berisi tentang kemungkinan masa perang dingin antara kedua negara yang akan segera berakhir dan akan memasuki babak akhir.
"'Mengambil bagian'? Sepertinya media suka sekali membesar-besarkan…" gumam Indonesia yang tersenyum geli.
Itu… berita beberapa hari yang lalu.
.
.
Hetalia Fan Fiction
Into the New World XV: Preambule
Hetalia © Hidekazu Himaruya
Warning: political theme, Fem!Indonesia, Fem!Malaysia, possibility of OOC, etc.
.
.
Apabila kita merujuk pada seni berpolitik Indonesia dalam dunia internasional yang berlandaskan bebas dan aktif, maka langkahnya kali ini dianggap menyimpang oleh kebanyakan orang. Tentu banyak reaksi mengenai langkah yang diambilnya kali ini. Suara-suara dari dalam negerinya, para pengamat politik dari luar yang diundang dalam acara talkshow berita, sampai para personifikasi negara dalam forum G20 yang saat ini sedang berkumpul dalam ballroom hotel mewah di sebuah kota besar di Hamburg.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirmu, Indonesia…" ujar Australia yang diselingi helaan nafas prihatin. Lawan bicara pria itu hanya tertawa miris mendengar kalimat itu berkali-kali dan menanggapi Australia sambil lalu.
Gadis itu sadar akan risiko yang akan ia terima, ketika beberapa hari yang lalu presidennya membuat kesepakatan dengan aliansi yang salah satu anggotanya merupakan dua negara sayap kiri. Obrolan dengan Australia ini hanya hal kecil, bila dibandingkan dengan suara kontra yang datang dari rakyat Indonesia sendiri. Oleh karena itu, ketika ia baru akan membalas perkataan Australia, seseorang menyela niatnya.
"Tidakkah kau lihat Indonesia sudah cukup lelah dengan berbagai komentar mengenai kondisinya saat ini, non?" ujar pria beraksen kental itu sambil tersenyum iba.
Seketika raut wajah Australia berubah tak senang. Setelah pria itu berbicara sebentar pada Indonesia, ia segera pergi ke seberang ruangan untuk mencari teman mengobrol lain. Indonesia yang melihat itu mengangkat sepasang alisnya, melirik tangan kiri France yang merengkuh bahunya dan ke wajah pria flamboyan itu.
"Sedang mengagumi pesonaku, mon cher?" tanya France dengan nada menggoda, seraya mengedipkan mata kanannya.
Indonesia melengos. "Dalam mimpimu!"
"… tapi terima kasih sudah mengeluarkanku dari percakapan satu arah itu, France." Seringai gadis itu dibalas dengan tepukan halus France dikepalanya. Pria itu ikut menyeringai sejenak, sebelum raut wajahnya menjadi lebih serius.
"Aku bukannya ingin memberimu pertanyaan bodoh atau pernyataan membosankan seperti yang sering kau dengar belakangan ini, tapi aku hanya ingin memastikan." France terdiam sejenak. Tatapan tajam indigo itu tidak dipenuhi prasangka ataupun sikap merendahkan seperti yang diperlihatkan lawan bicaranya tadi. "Hmm… Apakah ini murni untuk mencapai tujuanmu dan bukan demi mereka?"
Tanpa gadis itu sadari, ia tersenyum—hanya sebatas mulutnya. France bukanlah sosok personifikasi negara yang sering ia ajak berdiskusi mengenai topik yang berat. Pria itu juga tidak berhubungan lebih dekat dengannya seperti England, tapi baru kali ini ia menyadari kalau pria itu ternyata cukup jeli melihat dirinya.
Senyuman yang terkesan jauh itu masih menghiasi wajah gadis itu ketika ia mulai membuka suaranya. "Sepertinya kau perhatian sekali padaku, France. Tapi sayang sekali… mungkin aku berada 'di sini' karena ingin sesekali benar-benar menghajarmu."
Kedua personifikasi negara itu tertawa. Tawa yang dipaksakan menurut France.
"Aku tidak bermaksud menceramahimu atau bahkan memarahimu. Bukan kapasitasku mengatakan hal itu—"
France tampak menimbang-nimbang kalimat yang akan diucapkannya. Pria yang biasanya sangat luwes ketika berinteraksi dengan wanita itu, kini terlihat lebih serius dari biasanya. Indonesia sendiri sepertinya bisa menebak arah percakapan pria itu. Sampai saat ini, hanya topik itu yang terus mereka tanyakan.
"Jadi kalau kau bukan mau menyayangkan sikapku saat ini, apa yang mau katakan?" tanya Indonesia santai.
France bergumam cepat dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Sepertinya sebuah serapahan.
"Ugh… Indonesia, ma Cherie… kita sama-sama tahu kalau dunia sedang tidak baik-baik saja hari ini. Dan kau tahu, dengan bergabung dengan kubu manapun hanya akan membuat situasi makin memanas. Dan ini memang berlawanan dengan sikapmu selama ini…" France mengambil jeda nafas sejenak. Sorot matanya menekankan emosi yang ada dalam perkataannya. "Apa kau siap membahayakan posisimu? Mengorbankan mereka?"
Mulut Indonesia membuka dan menutup lagi. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari France. Apakah pria itu teringat masa lalu?
"Emmm… France, kau terlihat lebih emosional saat ini…" ujar gadis itu kaku. Sebenarnya ia bingung harus memulai darimana, sehingga France berusaha memulai duluan.
"Ya. Sebenarnya kalau bisa, aku juga tidak ingin terlalu tahu mengenai hal ini. Hanya saja tindakan England terasa lebih menyebalkan akhir-akhir ini. Apa kau tidak lihat? Ekspresinya saat acara pembukaan tadi benar-benar menjijikkan! Kau harus tahu berapa kali dia tersenyum seperti playboy ke Iran! Dua puluh kali! Belum yang luput dari pengamatanku tadi…" France berbicara panjang lebar, sedangkan Indonesia hanya tertawa datar. "Dan sikapnya! Kau pasti tahu, kan!? Apa-apaan dia itu! Sok bersikap gentleman pada Iran… pasti mereka ada apa-apanya!" France mengakhiri kalimatnya dengan semangat. Ya, semangat untuk menjatuhkan musuh abadinya itu.
"Kau bersemangat sekali France… Haha…" Gadis itu tak tahu harus berkomentar seperti apa—ia merasa kewalahan. Baru pertama kali France bebicara sebegitu menggebu-gebu dihadapannya dan terlihat seperti ibu-ibu yang suka menggosip di dekat rumahnya.
"Maksudku…" ujar France lagi dengan penekanan, mengembalikan fokus pembicaraan yang melenceng. "Si Maniak Teh itu pasti sedang merencanakan sesuatu! Bukankah hubungan kedua negara itu agak renggang setelah Iran memutuskan keluar dari British Commonwealth? Dan yang mengejutkanku juga, kenapa England mau berada di satu kubu dengan Russia? Mereka berdua kan punya pandangan yang berbeda."
"Hmm…" Mengingat pembicaraannya dengan America beberapa waktu lalu, kemungkinan besar tujuan England saat ini ialah menjatuhkan America. Dan perubahan sikap England mungkin juga disebabkan tujuan itu, meskipun Indonesia tidak tahu pastinya…
"Entahlah. Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain, France." Gadis itu bersandar pada tembok dibelakangnya. "Yang bisa kukatakan padamu hanyalah bahwa dunia saat ini sedang mengalami perubahan. Perubahan pada sesuatu yang sudah direncanakan oleh pria itu jauh sebelum semua orang memikirkan hal ini." Indonesia menunjuk England yang berada jauh dari mereka dengan dagunya. France mengikuti arah pandangan Indonesia, pada pria yang sedari tadi berada di samping Iran itu. "Jadi kalau kau benar-benar jijik sampai-sampai ingin menghajarnya, jangan ragu-ragu ketika nanti kita bertemu, okay?" ucap Indonesia sambil menyeringai.
Jelas sekali gadis itu tidak akan memberikan informasi lebih jauh pada France. Akan tetapi pria itu mengerti, tidak mungkin kau memberitahu kondisimu yang sebenarnya pada musuhmu, kan?
.
.
Topik mengenai keberpihakan Indonesia menjadi yang paling sering dibicarakan oleh peserta G20 selama minggu pertama acara tersebut digelar. Seminggu setelahnya, tepat sebelum dimulai pertemuan personifikasi dan kepala negara yang akan membahas masalah krisis energi, keributan terjadi dalam ruang konferensi. Keributan kali ini bukan disebabkan oleh Indonesia dan Malaysia, atau Iran dan Israel, atau bahkan England dan France, melainkan dua negara timur tengah yang sebelumnya kalem-kalem saja—Saudi Arabia dan Qatar.
"Bukankah sudah jelas kalau kau membantu dia? Kalau tidak, kenapa hanya kau satu-satunya di antara kita yang masih belum memutuskan sikap politikmu?" ujar Saudi dengan tajam.
"Sebaiknya kau tahan dulu prasangkamu terhadapku, karena kau sendiri tidak punya bukti yang jelas, bukan?" tukas Qatar dengan tenang. Pria yang mengenakan gutra putih itu duduk di samping Iran dengan anggun sambil memainkan cangkir teh miliknya yang sudah kosong. Forum bahkan belum dimulai tapi ia sudah merasa sangat haus.
Lawan bicaranya terbungkam dan duduk di kursi sebelah kiri Iran yang kosong. Pria itu mengenakan baju yang sama dengan Qatar, dengan jubah hitam yang membedakan keduanya. Saudi, begitu para personifikasi negara lain memanggilnya, mendengus dan mengarahkan pandangannya pada layar tablet ditangannya. Iran yang merasa tidak nyaman, bergerak gelisah di tempat duduknya, sesekali mencari-cari sosok Turkey yang sedari tadi belum kelihatan juga batang hidungnya. Turkey menyuruhnya untuk datang satu jam lebih awal dari acara hari ini karena ada hal penting yang pria itu ingin sampaikan, tapi ini sudah setengah jam berlalu.
Diam-diam, Iran memaki tetangganya itu dan merencanakan apa yang akan dilakukannya untuk membalas keisengan Turkey.
"Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" bisik Indonesia pada Malaysia yang daritadi sudah berada di ruangan dan menyaksikan adu mulut keduanya. Gadis yang ditanya hanya melengos, menatap Indonesia dengan sorot 'apa kau tidak bisa membaca situasi?'.
"Aku, kan, baru datang, Malay!" seru Indonesia, yang tanpa disadari memancing delapan belas pasang mata di ruangan itu untuk menoleh. Indonesia hanya meringis dan perlahan beringsut kekursinya.
"Makanya jangan datang telat!" ucap Malaysia dengan suara rendah disebelahnya.
Kedua mata Indonesia menyipit, menelan kedongkolannya pada tetangganya itu. Mau bagaimana lagi, semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan perubahan yang akan terjadi seselesainya rangkaian G20 ini. Sebagai contoh, ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang semakin meningkat pasca uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara bulan lalu. Hal itu tidak hanya memicu protes musuhnya saja, tetapi juga negara di Asia Timur lainnya seperti Jepang, Taiwan, dan Cina.
Uji coba nuklir Korea Utara tersebut ditanggapi oleh America sebagai bentuk provokasi dan ancaman serius, sehingga negara adidaya itu semakin meningkatkan frekuensi latihan militer gabungannya dengan Korea Selatan. America bahkan mengajak Japan yang merupakan korban bom nuklir untuk ikut secara aktif menentang upaya Korea Utara dalam sidang PBB. Ajakan Amerika tersebut ternyata mampu memegaruhi suara dalam sidang PBB menjadi lebih keras, yang menghasilkan pemutusan hubungan diplomatik beberapa negara dengan Korea Utara dan ancaman isolasi negara tersebut. Jepang dan beberapa negara lain ikut membantu keputusan America dan situasi pun semakin memanas.
'Benar-benar konyol. Bagaimana mungkin kau bisa memercayai kata-kata musuh lama?' Indonesia tertawa getir memikirkan perkembangan yang terjadi beberapa bulan ke belakang itu. Malaysia yang duduk disebelahnya hanya menatapnya aneh. Mungkin dia berpikir tetangganya itu akhirnya akan memasuki tahap kegilaan yang baru.
'Tidak hanya Korea Utara dan Korea Selatan, Palestina dan Israel, Iran dan Israel, Turki dan Amerika, Saudi dan Qatar… yah, tidak ada hubungan yang benar-benar baik-baik saja, sih…' Mata Indonesia menatap para personifikasi negara yang telah duduk di kursinya masing-masing secara perlahan. Germany sebagai tuan rumah, tidak hanya mengundang keduapuluh anggota G20, tetapi juga negara-negara yang memiliki pengaruh tertentu dalam beberapa isu dunia saat ini. Tamu-tamu dalam G20 tahun ini, diantaranya Iran, Israel, Qatar, Malaysia, Kuba dan Vietnam. Negara-negara yang memiliki hubungan dengan kata perang dan negara adidaya. Sebenarnya Korea Utara juga masuk dalam daftar undangan untuk G20 tahun ini, tapi karena sanksi yang dikeluarkan dewan keamanan PBB, bahkan perwakilan dari presidennya pun tidak datang.
'Apa? America ingin menggiring opini negara-negara dalam forum ini?'
Indonesia tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Ia tidak memperhatikan bahwa hampir seluruh peserta forum sudah duduk dikursinya masing-masing dan Germany sebagai moderator telah memulai forum. Iran masih berusaha tetap tenang duduk di antara dua personifikasi negara yang tidak hentinya saling melempar tatapan tajam. Rusia hanya tersenyum seperti biasa, senyum yang seakan tak menunjukkan arti apapun. England menyimak pembukaan Germany sambil sesekali melihat jarum jam di jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kirinya. Sementara peserta forum yang lain berusaha menyimak Germany, tetapi tak bisa melepas rasa penasaran karena tiga anggota forum yang belum juga datang. Ketiga personifikasi tersebut memiliki peran yang penting dalam setiap forum-forum seperti ini, seperti memecah ketegangan dikala adanya debat kusir, perang bola kertas ala anak SD, atau adu mulut yang mulai mengarah ke adu fisik.
Di sela-sela pembahasan topik pertama yang masih dipegang oleh Germany, tiba-tiba Iran mengangkat tangannya. Peserta forum yang lain terdiam dan menunggu pertanyaan yang keluar dari mulut gadis itu.
"Eeh… Apa tidak ada yang tahu di mana Turkey… America, dan Japan?" tanya Iran dengan urgensi didalamnya. Sebagian peserta forum tersenyum seperti orang tua pada anaknya, berpikir bahwa dua nama di belakang itu sebenarnya hanya pengalihan saja.
Germany berdeham. "Japan sudah izin padaku kalau dia ada pertemuan penting dengan orang-orangnya pagi ini. Sementara untuk America dan Turkey…"
"Sementara Turkey?"
Indonesia tertawa kecil melihat sikap Iran. Malaysia menyikutnya, tetapi setengah tertawa.
"Tidak ada kabar. Memang aneh, karena biasanya Turkey pasti memberi pemberitahuan terlebih dahulu. Kalau America, yah…" Wajah kaku Germany menatap layar laptopnya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran sang tuan rumah forum.
"Apa kau tidak mengirim orang untuk menjemput mereka?" England yang sedari tadi tidak berbicara kini ikut membuka suara.
Ada yang aneh dalam pertemuan hari ini...
—To be continued
A/N:
Long time no see! ^^
Well, seharusnya chapter ini di-upload tahun lalu, biar masih ada rasa-rasa insiden pas G20 yg di Jerman (lol), tapi karena harus pergi ke tempat berantah jadi cerita ini terbengkalai untuk waktu yang lama lagi.
Kalau ada hal-hal yang kurang tepat atau mengganjal, tolong diberitahu ya.
Semoga masih bisa menikmati. Thank you for reading!
