Cerita karya sendiri.

Tapi minjem karakter Naruto. Maaf ya MK-sensei.

Maaf kalo ga sesuai selera. Kalo ga suka tinggal dislike aja. Eh salah ya?

.

.

.

Sakura POV.

Ini sudah tiga bulan berlalu. Setelah percakapan mengejutkan antara aku dengan Sasuke. Aku belum menjawabnya. Selama tiga bulan ini aku menghindari topik pembiacaraan yang menjurus perihal lamaran atau pernikahan Tidak... Aku tidak menjauhinya, Sasuke lebih tepatnya. Tapi mungkin sedikit? Entah.

Aku merasa respon ku terlewat jauh dari apa yang diharapkan Sasuke. Sasuke terlalu baik untukku. Terlalu sabar. Terlalu pernyayang. Walaupun dibeberapa momen terkadang ia adalah seorang pemaksa. Tapi anehnya aku tidak bisa menolak paksaannya.

Selama beberapa lama ini Sasuke telah menemani ku. Aku memang tidak meminta apa apa selain kasih sayangnya, karena aku sendiri menyadari jika aku butuh kasih sayang berlebih. Afeksi afeksi itu yang ku suka. Sentuhan lembut penuh kasih sayang yang aku suka. Sasuke dengan segala perbuatannya bagai candu tersendiri untuk ku. Segalanya bagi candu bagiku. Kasih sayang. Perhatiannya.

Aku senang saat Sasuke berkata 'Aku ingin melamarmu.' Tetapi ada satu hal yang tidak bisa membuatku langsung mengiyakan perkataannya. Aku terlalu takut. Entah aku sendiri karena aku adalah seorang yang cuek. Introvert. Dan di beberapa kesempatan menjadi anti sosial.

Termasuk juga bayangan perihal orang tua. Itu sangat amat kental di benak ku.

Di otak ku telah banyak terekam kejadian kurang menyenangkan. Tidak mudah bagi 2 orang yang berbeda karakter menjalani kehidupan bersama dal satu rumah. Melihat sendiri bagaimana Ayah dan Ibu bertengkar, menjadi rasa ketakutan tersendiri untuk ku.

Menikah bagiku seperti sebuah games yang tidak bisa dijalankan sendirian, maka dari itu kau membutuhkan seseorang untuk menyelesaikam games tersebut. Dan kapan games tersebut akan game over? Saat salah satu player mati.

Seharusnya aku tidak begitu terhadap Sasuke. Nyatanya setelah beberapa kali pemikiran aneh aneh berseliweran, akhirnya aku sudah memiliki jawaban.

Sakura POV end.

.

.

.

.

"Minggu bagaimana?" Ino mengecek kalender di smartphone-nya.

Ino adalah sahabat Sakura sejak Playgroup. Dan entah bagaimana caranya hingga sekarang mereka masih berteman. Berkumpul. Padahal Ino dan Sakura hanya satu sekolah saat Playgroup dan saat Junior School. Mereka masih suka bermain. Masih ber-chatting ria lewat Whatsapp.

Walaupun pada dasarnya Ino adalah seorang yang super sibuk karena tugasnya menjadi mahasiswi disalah satu kampus ternama. Dan lebih hebatnya lagi Ino di terima lewat jalur beasiswa.

Ino sendiri telah memiliki kekasih. Sai. Sudah dua tahun berjalan. Sai adalah seorang pemuda tampan menurut Ino, tapi entah kenapa Sakura melihatnya aneh. Selalu tersenyum tidak jelas.

"Aman !"

Sakura tersenyum riang, "Oke, Minggu kita ke taman bunga matahari !"

"Spot nya sangat bagus! Lagi pula kau juga jarang kan di sini?"

"Sekaligus aku ingin bercerita hal."

.

.

.

Ting !

Satu pesan telah masuk ke smartphone seseorang.

"Sasuke, hari ini aku pergi bersama Ino. Jangan hubungi aku seharian ini. Paling tidak hingga sore nanti. Jangan sampai makan terlambat. Dan jangan lupa untuk minum. Kadang banyak orang bertanya 'sudah makan atau belum?' tapi dari mereka tidak bertanya 'sudah minum atau belum?' kan aneh."

Membacanya saja telah membuat Sasuke tersenyum.

Ting !

Pesan lagi.

"Oiya, aku menyayangimu!"

Pesan terakhir benar benar membuat Sasuke menjadi orang paling bahagia dibumi.

.

.

.

.

"Kau itu monster atau bagaimana? Aku melihat porsi makan mu saja sudah membuatku kenyang." Sasuke tidak mengeluh jika dompetnya menipis, itu karena hari ini gajinya sudah cair.

Dan dia tidak merasa keberatan dengan itu. Seperti ada perjanjian tidak tertulis antara ia dengan Sakura. Setiap gajian, mereka akan saling traktir satu sama lain.

"Anggaplah quality time. Lagi pula kita berdua memang suka makan bukan? Kita juga coffe-addict. Dari pada menonton film, aku lebih suka makan atau ke caffe baru mencoba kopinya."

Sasuke tiba tiba teringat perkataan Sakura kala itu.

"Aku lapar, Sasuke. Seharian ini aku dikerjai dosen ku. Sepertinya ia dendam terhadapku atau entahlah. Dan sebagai pelampiasannya aku ingin makan enak, makan banyak."

McDonalds selalu jadi tempat tersendiri bagi Sakura.

Dilanjutkan dengan Burger King, lalu KFC. Mereka pasangan yang suka dengan makanan. Minuman. Hal hal yang memanjakan perut dan lidah mereka. Tapi mereka lebih sering restoran fast food. Memesan junk food.

Berfikir jika itu tidak sehat untuk tubuh? Itu pasti. Tapi mereka juga penikmat sayuran. Buah buahan pun tak luput. Mereka omnivora. Pemakan segala.

"Dan ku pastikan semua pesanan ku habis tak tersisa." Sakura sedikit tidak terima ketika Sauke menyebutnya monster. Walaupun sebenarnya Sasuke sudah sering mengucapkan kata tersebut.

Sasuke hanya diam mendengarkan ocehan Sakura. Sembari matanya melirik mencari meja kosong. Sasuke tersenyum tipis. Hari ini Sakura banyak bicara dan Sasuke senang akan getaran getaran suara yang dihasilkan oleh Sakura.

"Sasuke, disana !"

Sasuke mengangguk.

Tempat yang Sasuke sekali. Dekat jendela.

"Oke, kita makan. Aku juga lapar. Ingat, bulan depan aku akan mentraktir mu!"

Entah bagaimana pula disetiap momen makan bersama ini, Sakura menjadi dirinya sendiri. Banyak yang diceritakan. Dan Sasuke selalu menjadi pendengar yang baik. Selalu ada ocehan ocehan yang diucapkan Sakura seperti saat ini. Bahagia ketika Sakura banyak menceritakan segala kegiatannya hari itu. Segala keluh kesah nya.

Quality time, huh?

.

.

.

Sasuke POV.

Aku masih mendengarkan segala cerita yang keluar dari mulut manis kekasih ku. Sesekali ia meminum Iced Coffee-nya. Dan juga.. Makanannya telah habis tak tersisa. Sial. Dia memesan sebegitu banyaknya makanan dan sekua telah diperutnya.

Tersisa sampah. Dan itupun pun langsung aku buang. Di meja tinggal minuman saja.

"Oiya, aku belum menjawab pertanyaan mu waktu itu kan? Jika aku menjawab aku menerima lamaran mu bagaimana?"

Shit. Apa maksudnya? Tiba tiba aku merasa seperti kaset rusak. Aku terdiam mencerna omongan kekasih ku.

Tiba tiba Sakura berdiri, membawa Iced Coffee-nya dan mencium pipi ku.

"Jadi intinya, aku ingin kau hari Sabtu nanti datang kerumah ku dengan pakaian rapih! Jangan lupa ajak paman Fugaku dan bibi Mikoto ya!"

"Jika kau tidak keberatan ajak Kak Itachi juga !"

Sebentar...

"Aku menerima lamaran mu, Uchiha Sasuke!" Sakura berbisik lirih ditelinga ku.

Aku melihatnya.

Sakura tersenyum kemudian berlari.

Shit. Ini terlalu cepat untuk ku cerna.

.

.

.

End.

.

Kelar.

Rampung.

Ya maap kalo ga puas.

Oiya ada juga akun wattpad. Tapi disana jadi reader (semoga).

Karena diwattpad banyam banget author kesayangan nya. Hmm...