"Baiklah, Terimakasih telah dapatkan informasi tentangnya. Aku akan sangat senang dapat menikahinya. Karena itulah caraku menghancurkan Kris. Uang untuk kalian sudah aku kirimkan." Sehun sedari tadi berbicara dalam telepon.

"Baik tuan. Jika ada yang dibutuhkan lagi silahkan telepon saya." Laki laki itu mengakhiri telepon mereka.

Setelah telepon ia tutup, Sehun segera bersiap menuju tempat orang tuanya. Ia bermaksud untuk menyegerakan pernikahannya. Ia sangat menginginkan pernikahan itu.

Mobil mewahnya ia lajukan dengan cepat. Di jalan ia hanya tersenyum membayangkan bagaimana Kris menderita. Dan ah perempuan itu juga cantik, ah sangat cantik tepatnya. Cukup indah untuk ia pamerkan kepada teman temannya. Ia sangat menguntungkan.

Sesampainya dirumah orang tuanya, Sehun segera mengatakan maksudnya kepada orang tuanya. Dan tanggapan orang tuanya sangatlah melegakan. Seminggu lagi, janji Sehun dan Luhan akan diikat seminggu lagi.

Selamat bertemu takdirmu, Xi Luhan.

WE CAN START IT

.

.

.

.

.

Chapter 4

Sehun kini berada di sebuah cafe, bersama teriknya matahari yang menyengat kulitnya. Hari belum terlalu siang memang. Namun kulit putih pucat Sehun pastilah tak akan kuat disandingkan sinar matahari. Sehun menunggu orang kepercayaan sekaligus sahabatnya. Mereka sama sama dibuang di Amerika. Namun kedudukan Sehun yang lebih tinggi menyebabkan ia hanya menjadi tangan kanannya.

Park Chanyeol, tangan kanan Oh Sehun. Laki laki bermarga Park itu sebenarnya dibuang oleh keluarganya karena kehadirannya yang tak disukai saudara saudaranya di Korea. Sebenarnya Chanyeol sangat pandai, hanya saja rasa iri kakak dan saudara lainnya membuatnya memiliki kebiasaan yang tak menyenangkan. Sering mabuk dan ke bar membuat Chanyeol dibuang ke Amerika oleh keluarganya. Namun siapa sangka dalam perjalanan menuju Amerika ia dipertemukan dengan bidadari yang membuat segala kebiasaannya berakhir.

Chanyeol kini telah tersugesti dengan Sehun. Dengan ambisinya untuk menguasai perusahaan. Atau setidaknya tetap menjadi asisten untuk Sehun,namun dalam lingkup berbeda.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya Chanyeol menempati kursi depan Sehun. Bukan tanpa alasan Sehun menyuruh Chanyeol jauh jauh datang dari Amerika ke Korea. Namun Sehun ingin mendapat segala informasi tentang Luhan dari mulut Chanyeol langsung.

Ya, malam ini adalah malam dimana Sehun akan 'kencan' dengan Luhan karena seminggu lagi ia akan menjadi bagian dari hidup Luhan. Ah seminggu lagi, ia tak dapat membayangkan seberapa hancurnya Kris nanti. Ia akan tau bagaimana sikap Kris saat melihat Luhan menjadi miliknya. Dan bodohnya Kris yang meminta mereka tinggal di mansion sama, Sehun akan lebih mudah mengalahkan Kris. Kris telah tertusuk pedangnya sendiri.

"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?" Sehun mulai penasaran.

"Gadis itu bernama Luhan, Xi Luhan. Ia berasal dari perusahaan China yang nantinya akan diberi saham oleh kakakmu. Luhan merupakan anak lulusan Seoul International University." Jawab Chanyeol.

"Bukan itu yang aku maksud. Tentang hubungannya dengan Kris." Sehun melirik tajam mata Chanyeol.

"Menurut informasi Luhan merupakan mantan kekasih Kris. Hubungan mereka kandas karena Kris dijodohkan dengan Tao. Dan itu juga berkat kau. Luhan sebenarnya masih mencintai Kris." Chanyeol menjelaskan.

"Apakah hubungan mereka cukup lama?" Tanya Sehun.

"Ya, 4 tahun mereka menjadi kekasih." Jawab Chanyeol.

"Permainan ini akan seru. Darimana kau dapatkan informasi ini?"

"Apakah kau perlu tau?"

"Ya, bisa saja informasi ini hanya karangan" Sehun memasang wajah tak percaya.

"Ah tidak seperti itu. Aku dapat semua dari kekasihku Baekhyun. Baekhyun adalah sahabat Luhan. Namun Baekhyun tak tau maksudku saat menanyakan segalanya tentang Luhan." Jelas Chanyeol

"Akurat. Cukup sudah kita menjadi serius hari ini. Ngomong ngomong apa Baekhyun masih di Korea?" Sehun sudah lega atas jawaban Chanyeol kini mengubah Chanyeol dari Tangan Kanan menjadi sahabat.

"Ah ya, seperti biasanya. Semalam Baekhyun agak marah karena aku menanyakan tentang Luhan. Sampai akhirnya aku harus tidur di sofa lagi" Chanyeol mengeluhkan kekasihnya yang tingkat kecemburuannya selalu melebihi manusia normal.

"Dia terlihat posesif. Kenapa kau masih bertahan dengannya hingga sekarang?" Tanya Sehun.

"Hey! Kau belum pernah merasakan rasanya mencintai dan dicintai. Jika kau merasakannya,kau tak akan melepas gadismu."

"Aku tak akan ditakhlukan oleh wanita." Sehun menjawab yakin.

"Lihat saja nanti saat kau telah menikah." Chanyeol menyinggung pernikahan Sehun.

"Aku yang akan menakhlukkannya,didepan Kris." Sehun menyeringai lalu bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Chanyeol begitu saja.

"Baek, aku sudah sampai di Korea. Aku tadi memutuskan untuk ke apartemen dulu lalu bertemu denganmu. Tapi mungkin waktuku tak cukup, karena aku harus bersiap." Luhan dengan repotnya merapikan barang barangnya menelepon sahabatnya itu.

"Apa kau sudah di apartemen? Aku sangat bosan sementara kekasihku sedang pergi. Bolehkah aku ke apartemenmu?" Baekhyun meng'aegyo'kan suaranya.

"Baiklah, aku tunggu. Sudah ya, bye." Sepertinya Luhan telah kewalahan. Memberesi barang barangnya di apartemen sekaligus menelepon membuat konsentrasinya buyar.

"Tenanglah Xi Luhan, sebentar lagi kau akan memiliki pendamping yang akan membantumu dalam segala keadaan. Seperti Baekhyun dan Chanyeol. Seperti Kai dan Kyungsoo." Luhan melakukan monolog yang berisi harapan tentang calon suaminya.

Baru dua jam yang lalu Luhan sampai di Korea. Orang tuanya menyuruhnya untuk ke Korea dengan alasan menemui Sehun. Dan parahnya ternyata hari inilah ia dan Sehun bertemu. Kenapa orang tuanya sangat senang dengan istilah 'mendadak'. Kemarin ibunya juga mengatakan bahwa pernikahannya akan dilakukan seminggu lagi.

Luhan sebenarnya sangat kewalahan. Masalah perusahaan yang tak kunjung selesai dan masalah statusnya yang sebentar lagi akan berubah marga.

Sekali lagi terlintas dipikiran Luhan, jika saja kakaknya ada disini. Luhan yakin kakaknya pasti akan membuatnya bahagia. Namun apakah Luhan sadar yang terjadi adalah sebaliknya? Pastilah tidak.

Sebenarnya ini yang Luhan kecewa kan dari orang tuanya. Luhan tau kalau orang tuanya tau jika kakaknya masih hidup dan tinggal di Korea. Bahkan mereka sebenarnya tau nama dari kakaknya. Tapi bagaimana ia bisa menemukan kakaknya yang ia sendiri tidak tau siapa.

"Oppa sebenarnya dimana kau." Lirih Luhan.

Tak menyadari ia sudah lama melamun, hingga akhirnya pintu rumahnya berbunyi. Ah Baekhyun telah datang rupanya. Setidaknya Luhan dapat berkeluh kesah kepada Baekhyun sekarang. Ah jika saja Luhan tau, semua itu hanya akan membuatnya kian menderita. Sebenarnya menyalahkan Baekhyun juga tak ada gunanya. Karna Baekhyun tak tau kalau kekasihnya menjadikannya mata mata untuk Luhan.

"Luluu." Baekhyun menghambur ke pelukan Luhan.

"Berhentilah kekanakan Baek." Luhan menepis Baekhyun.

"Luluku kenapa seperti sedang sedih?" Tanya Baekhyun.

"Tak apa, hanya saja badanku sedang agak tak enak. Dan nanti malam aku juga masih 'kencan' dengannya." Luhan lirih saat mengatakan kencan.

"Harusnya kau senang Lu. Aku saja sudah lama menjadi kekasihnya. Bahkan kami selalu tidur bersama di apartemen. Namun sampai sekarang ia tak kunjung menyematkan cincin dijariku." Baekhyun malah bercerita tentang kekasihnya.

"Ah bisalah kau lupakannya sehari saja, aku bosan asal kau tau." Luhan mengatakannya membuat Baekhyun terkikik.

"Lalu? Kau tak bersiap? Hari sudah hampir malam. Oh aku bisa siapkan segala sesuatu untuk kencan pertamamu. Mandilah dan aku akan pilihkan segalanya." Baekhyun dengan semangat mendorong Luhan ke kamar mandi.

"Aku bahkan belum sempat bercerita tentang kakakku kepadamu, baek." Luhan mengatakannya pelan sambil menutup pintu kamar mandi.

Luhan selesai mandi dan disambut oleh Baekhyun yang sedang menyiapkan segala persiapan Luhan.

"Baju biru ini sangat cocok untukmu." Baekhyun memilihkan Luhan dress selutut berwarna soft blue yang sangat menyatu dengan warna kulit Luhan.

"Pakailah baju ini. Setelah itu aku yang akan memoleskan make up ke wajahmu." Lanjut Baekhyun.

"Baek, kenapa jadi kau yang sangat bersemangat? Kenapa tak kau saja yang berkencan?" Luhan mengatakan hal yang lagi lagi membuat Baekhyun terkikik.

Setelah selesai berdandan dengan make up natural yang dibantu oleh Baekhyun. Luhan kini bak bidadari yang baru saja turun ke bumi untuk menemui malaikatnya. Senyum Baekhyun yang manis pun tak henti hentinya mengiringi Luhan yang kali ini terasa rendah diri. Ia merasa tak pantas mengenakan pakaian yang disiapkan Baekhyun.

Ah daripada membahas pakaian, lebih baik kini membahas Sehun yang telah sampai di basement. Sehun akan menjemput Luhan dan mengajaknya kencan ke reataurant yang sudah ia booking sebelumnya.

Jantung Sehun berdegup. Bagaimanapun ini adalah kencan pertamanya. Dengan orang yang akan dinikahinya.

Jantungnya seiringan dengan langkah cepat Sehun. Dengan cepat Sehun memasuki lift dan beralih ke lantai tiga dimana Luhan tinggal. Dan ya, ini benar apartemen Luhan. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Bahkan belum bertemu pun Sehun telah terlihat bodoh oleh tingkahnya sendiri.

Sampai sudah. Didepan pintu apartemen Luhan. Sehun menekan bel itu. Mempersiapkan dirinya yang akan bertemu kemenangannya. Betapa tak dapat diekspresikannya perasaannya saat ini, senang dan gugup menjadi satu.

Pintu itu terbuka, namun bukan Luhan yang membukanya melainkan Baekhyun. Baekhyun yang melihat rupa Sehun yang sangat tampan itu pun tanpa pikir panjang mempersilahkan Sehun masuk menunggu Luhan yang sedang bersiap.

"Lu, kau harus keluar sekarang. Dia sangat tampan. Aku berani bersumpah dia lebih tampan dari siapapun bahkan dari kau memiliki calon suami yang kaya sekaligus tampan."

"Baiklah, aku sangat gugup asal kau tau Baek."

Luhan lalu melangkahkan kakinya menuju tempat tamu nya biasanya.

Sepasang mata menatapnya. Mata yang sangat tajam. Dan ya memang benar.

Tampan.

Luhan mematung di tempatnya beberapa detik, rasa lelahnya seperti hilang begitu saja. Begitu pula Sehun, ia tak menyangka jika secantik ini pasangannya kelak. Sampai akhirnya lamunan mereka terbuyarkan dan Sehun pergi bersama Luhan sedangkan Baekhyun ia meminta Chanyeol untuk menjemputnya.

Ini merupakan kencan pertama bagi Sehun namun tidak untuk Luhan. Namun entah mengapa ini adalah kencan yang membuatnya sangatlah gugup.

"Kita sudah sampai." Sehun berhenti seraya memarkirkan mobilnya di depan restaurant yang terkenal.

"Ah ya. Tapi kenapa sepi sekali disini." Luhan merasa berbeda. Restaurant ini tak pernah sepi.

"Tak setiap saat orang ingin pergi ke restaurant. Sekarang ayo masuk." Sehun mengatakannya sambil membukakan pintu mobil untuk Luhan dan menggandeng Luhan masuk ke dalam restaurant itu.

Tak banyak yang Luhan dan Sehun bicarakan. Hanya saja mereka membahas bagaimana pernikahan mereka nanti. Tak banyak mengungkit hal hal pribadi juga. Karena bagaimanapun Luhan dan Sehun memang baru saja mengenal. Namun jangan salahkan salah satu dari mereka yang mulai mencair karena kehangatan yang dirasakannya saat bersama dengan pasangannya itu.

Selesai dari restaurant, Luhan mengajak Sehun ke sebuah taman. Bukan taman sembarangan memang, ini adalah taman dimana ia dan Kris biasanya bertemu. Maksudnya disini adalah ingin mengatakan semua keluh kesahnya bersama dengan Sehun. Namun semua hanyalah keinginan Luhan karena titik titik air itu datang tanpa diundang disaat yang tak tepat sama sekali. Luhan benci itu.

Namun apa salahnya bermain dengan 'air' sebentar saja. Luhan sudah sangat merindukan tempat ini.

"Bisakah kita turun? Aku sangat ingin ke tempat itu." Luhan memulai meminta kepada Sehun untuk turun dari mobil dan beralih ke taman.

"Tak bisa. Hujan sedang deras." Jawab Sehun singkat. Bagaimanapun Sehun belum belajar untuk sedikit saja lebih memanjangkan kata katanya karena dari dulu ia sangat hemat dalam menggunakan kata katanya.

"Baiklah, tunggu sebentar saja. Aku ingin ke tempat itu." Luhan membuka pintu mobil dan bersiap melangkahkan kakinya.

Namun belum sempat ia benar benar melangkahkan kakinya, ia melihat seorang laki laki. Laki laki yang selama ini dia cintai namun kini sudah berpemilik. Dia Kris. Mengapa ia disini malam malam begini. Apakah ia masih sering mendatangi tempat ini demi dirinya? Luhan berfikir dengan keras lalu tanpa pikir panjang lagi ia mencoba berlari menuju pria yang kini sedang berjalan menjauh itu. Ya, Luhan sangat yakin itu adalah Kris.

Belum sempat Luhan sepenuhnya berdiri, Luhan sudah kehilangan seluruh tenaganya. Kakinya melemas dan matanya seperti tak ingin terbuka. Sementara itu darah segar keluar dari hidungnya dan dalam hitungan ketiga semuanya menjadi gelap. Benar benar gelap pertanda Luhan sedang tak sadarkan diri.

Sehun panik. Ia tak menyangka Luhan akan seperti ini. Secepat mungkin Sehun membawa Luhan ke rumah sakit. Entah mengapa pria ini yang semula berniat hanya menjadikan Luhan sebagai boneka, kini khawatir setengah mati pada keadaan Luhan.

Hingga dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Sehun langsung membanjiri pertanyaan pada sang dokter.

"Dok, bagaimana keadaannya? Bagaimana ia bisa pingsan? Apakah dia harus rawat inap dok?" Mau tak mau pertanyaan Sehun ini membuat sang dokter terkekeh karena kepanikan Sehun yang tak dapat diredam lagi.

"Tak apa, dia hanya terlalu capek. Dan apa dia sering seperti ini? Tolong jaga baik baik dia." Dokter ini sepertinya mengira bahwa Sehun sudah mengetahui apa yang sedang dialami Luhan.

Kenapa sebenarnya Sehun ini. Bukannya dia hanya ingin memanfaatkan Luhan saja lalu membuangnya? Namun kenapa sekarang ini? Kenapa jantungnya berdegup kencang setiap ada Luhan? Tuhan tolong kembalikan semuanya menjadi normal. Sehun hanya ingin membalaskan dendamnya pada Kris. Hanya itu.

Tak apa, Sehun hanya jatuh cinta sebentar saja pada gadis ini pikirnya. Namun siapa yang akan tau kedepannya?

Kembali kepada Luhan. Setelah Luhan sadar dan diperbolehkan kembali oleh dokternya, Sehun langsung mengantar Luhan pulang. Sehun juga mengatakan bahwa lusa ia akan mengajak Luhan untuk fitting gaun baju pernikahan mereka. Jadi Sehun meminta Luhan untuk beristirahat saja di apartemen.

Entah sejak kapan Sehun menjadi sesosok yang sangat peduli kepada seseorang, apa lagi orang itu adalah wanita. Sosok dingin yang bisa menjadi hangat setelah bertemu Luhan. Sangat seperti ketidakmungkinan yang tersemogakan. Semua benar benar tak terduga.

.…

Hari sudah berganti dan Sehun tak memiliki rencana apapun untuk hari ini. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengunjungi orang tuanya. Orang tua yang tak tau menganggapnya ada atau tidak. Yang jelas Sehun ingin berada dalam pelukan mereka sebentar saja.

Banyak yang tak tau bagaimana yang dirasakan Sehun ketika orang tuanya lebih memilih untuk memeluk saudara tirinya daripada dirinya yang merupakan anak kandung. Dari kecil ia sering dicemooh oleh teman temannya. Sehun sebenarnya adalah anak baik baik dulu. Sangat dekat dengan Kris dan sangat pintar dan unggul disekolahnya.

Namun semuanya berubah ketika ia beranjak ke bangku high school dan Kris diberi kepercayaan untuk memegang perusahaan sementara dirinya tidak. Semua dirasanya tidak adil. Mulai saat itu ia sangatlah membenci Kris. Tak peduli Kris yang sebenarnya tak memiliki kesalahan apapun kepadanya, ia akan membuat segala masalah dengan Kris yang akan menjadi tersangkanya. Namun Kris akan selalu terselamatkan oleh ayah dan ibunya. Itulah yang Sehun muakkan.

Semua ingatan memuakan masuk ke hati Sehun membuatnya ingin muntah seketika ditempat itu setelah melihat berbagai lukisan keluarganya. Bagaimana keluarga ini terlihat tetap harmonis padahal kenyataannya berbanding terbalik.

Setidaknya Sehun kini memiliki harapan menang. Titik kelemahan dari kakaknya kini berada pada dirinya. Kakaknya memang bodoh. Sehun tersenyum menang menatap foto Kris yang terpampang disana.

Drrrt drrrt

Ponsel Sehun berbunyi. Tertera tulisan nama Luhan disana. Mereka memang telah bertukar nomor telepon mereka kemarin. Namun mengapa Luhan meneleponnya? Bukannya hari ini ia tak ada rencana untuk pergi dengannya?

"Halo." Dengan suara beratnya Sehun mengangkat telepon Luhan.

"Sehun, bisakah aku meminta tolong." Luhan dengan suaranya yang hampir tak terdengar ternyata meminta tolong kepadanya.

"T-tapi. Ah baiklah apa yang kau butuhkan?" Tanya Sehun.

"Tolong belikan aku obat, gambarnya akan aku kirim segera." Luhan mengatakan hal itu sebelum kemudian terbatuk dan menutup teleponnya.

Memang sedari tadi kondisi Luhan tak kunjung membaik. Darah segar tak henti hentinya keluar dari hidungnya. Dan wajah pucatnya. Luhan pasti akan mengalami hal seperti ini jika ia banyak memiliki pikiran atau tubuhnya terlalu lelah.

Berharap semuanya tak akan menjadi sesuatu yang akan membunuhnya perlahan nanti. Hanya itu yang ia inginkan. Namun bagaimana lagi. Dari fisik maupun mental, Luhan memang akan selalu terjebak.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Maafin Hunhan yang kurang Sweet sama ceritanya yang tambah gaje. Ini ide lagi buntu banget heuu:(