Besok pagi..
Yuya terbangun dari tidurnya. Badannya sakit tapi sakit itu kalah dengan kenikmatan yang dirasakannya kemarin. Yuya tidak pernah menyangka dia akan bercinta dengan Kyo. Yuya ingin memutar kembali waktu dan berhenti di sana. Di waktu Kyo dan dirinya bercinta, berpelukan. Yuya tahu dia tidak bisa menahan Kyo pergi kalau itu bukan kemauan Kyo, tetapi menunggu dan merindukan Kyo adalah sesuatu yang berat. Entah kenapa Kyo seperti bisa menebak pikiran Yuya, Kyo yang masih berbaring memeluk erat Yuya. "dogface.. kamu jangan memakai makeup atau mennyanyi di depan orang kalau tidak ada aku." Yuya kaget mendengar pernyataan Kyo. "kenapa?" "Karena kamu bodoh." Kyo menjawabnya dengan asal. Tetapi Kyo sadar, karena penampilan Yuya kemarin, banyak lelaki (orang lain yang tidak tahu hubungan Yuya dan Kyo) yang sadar pesona dia dan berusaha mendekati dia. Tanpa sadar Kyo melihat para lelaki dengan tatapan membunuh. Para lelaki yang sadar aura itu akhirnya mundur. Kalau Kyo tidak bisa mengontrol dirinya seperti dulu, dia pasti sudah membunuh bahkan membantai mereka semua.
"Aku mau sarapan." Yuya marah karena jawaban Kyo yang mengatakan dia bodoh dan mulai turun dari kasurnya. "Dasar iblis jadi-jadian." Yuya mengatai Kyo dalam pikirannya, sambil merengut. Kyo menarik Yuya sambil mengatakan "Aku ikut denganmu." sejak mereka keluar dari kamar Yuya, Kyo memeluk pinggang Yuya dengan protektif. Yuya yang merasakan pelukan itu sudah lupa dengan kemarahannya. Dia tersenyum ke Kyo. Sampai di tempat makan pagi, bersama teman-teman mereka, Kyo juga tidak mengizinkan Yuya menjauh dari dia sama sekali. Kyo tetap memeluk Yuya sambil duduk. Kyo menyuruh yang lain untuk mengambilkan makanan dan sake. Yuki yang melihat perubahan itu " Apa kalian akhirnya melakukannya?" Yuki mengatakan itu sambil menunjukkan jari kelingikingnya dan menyerigai (artinya hubungan seksual - ch.214).
Pertanyaan Yuki yang mendadak mengejutkan semua orang di sana. Semua orang langsung berhenti makan dan menoleh ke mereka berdua. Benitora sampai tersedak, Akira dan Tokito yang mendengar pertanyaan itu mukanya merah, Bon bersiul, Akari dan Okuni menatap Yuya dan Kyo untuk mendapat jawabannya. Semua menunggu respon Kyo dan Yuya, tetapi Yuya tidak bisa menjawab. Dia hanya menunduk dengan muka merah. Kyo seperti biasa poker face hanya melirik mereka dan akhirmya hanya tersenyum tipis. Semua yang melihat reaksi Kyo langsung heboh, berteriak, menyoraki mereka. Yuya yang sudah tidak tahan ingin "melarikan diri" tetapi ditahan sama Kyo. Kyo malah menarik Yuya "Kita melakukan bersama, perempuan." Dan dia menyeringai. Yuya yang melihat Kyo ingin berteriak, tetapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia hanya duduk diam di samping Kyo
Setelah kehebohan pagi selesai, mereka sudah siap berpisah dan kembali ke aktivitas masing-masing. Yuya menarik baju lengan Kyo dan bertanya "setelah ini, kamu pergi ke mana?" Yuya selalu berharap kalau Kyo bisa menetap bersama dia. Yuya tidak ingin mengengkang Kyo pergi, dia ingin Kyo tidak pergi terlalu lama. Seolah-olah Kyo tidak memiliki rumah. "Pulang ke rumah, perempuan. Aku belum puas. Aku mau melakukannya lagi setelah kita sampai rumah" Yuya yang mendengar jawaban Kyo, langsung menganga. "dogface.. kamu pikir kemarin itu hanya semalam? Ternyata kamu memang idiot." Kyo berpura-pura menghembuskan nafas. Dia mengintip Yuya sebelah mata untuk melihat reaksinya. "Kyo.. aku mencintaimu. Dan aku ingin merasakan Kyo lagi." Yuya memeluk Kyo sambil mengeluarkan air mata. Harapannya terkabul. "Bodoh.." Kyo mencium singkat "Ayo, pulang dogface." Kyo dan Yuya akhirnya tinggal bersama. Kyo sekarang punya tempat untuk pulang. Dia tidak perlu ragu-ragu lagi. Tidak peduli kemana dia pergi atau apa yang telah dia lakukan, Yuya akan tetap dan selalu bersamanya. Yuya membuat Kyo memiliki rumah sesungguhnya.
