Warning..
Mature Content here
We Can Start It
.
.
.
.
.
Chapter 5
Dengan langkah yang mungkin tergesa, Sehun berlari ke apartemen Luhan. Entah mengapa ia mengkhawatirkan perempuan itu. Padahal baru saja ia mengenalnya, namun lucu kalau ia mengkhawatirkannya. Apakah ia memiliki penyakit? Ia harus tanyakan itu nanti.
Sementara Luhan yang sangat pucat. Ia hanya kelelahan. Fisiknya tak sekuat orang biasanya, dan mentalnya juga sedang diuji.
Merepotkan? Ya itu yang ada di dalam pikiran Luhan. Ia pasti sudah merepotkan Sehun. Padahal ia sendiri sudah bertekad menjadi perempuan kuat untuk pasangannya kelak.
Sehun tanpa aba aba membuka pintu apartemen Luhan. Mencari keberadaan perempuan itu. Hingga akhirnya matanya menatap seorang yang terduduk lemas di lantai dengan tisu bernoda merah darah tergeletak di lantai. Hidungnya memang beberapa kali berdarah.
Tanpa diperintah Sehun pun mendekati Luhan. Mengecek bagaimana kondisi Luhan. Dan ya, badannya sangat panas. Bibirnya sangat pucat dan ia sangat lemas. Bisa ia tebak Luhan sedang merasakan kepalanya yang berputar sangat kencang.
"Aku tau yang kau pikirkan. Tak perlu, aku hanya akan minum obat dan beristirahat lalu besok aku akan sembuh." Luhan yang melihat Sehun pun berbicara semampunya dengan suara yang sangat pelan.
Luhan telah menebak bahwa Sehun pasti akan membawanya ke rumah sakit. Namun ia tak ingin ke tempat itu lagi. Terakhir ia ke tempat itu, rasanya sangat sakit. Luhan tak ingin lagi.
Sehun yang mendengar perintah Luhan pun langsung menuju dapur dan mengambil segelas air minum untuk Luhan. Luhan memerlukan minum untuk meminum obatnya kan.
Luhan meminum obat itu dan dalam jangka waktu yang tak terlalu lama, keringat bercucuran disemua bagian tubuhnya. Setelah itu rasa kantuk menyertai Luhan.
"Bolehkah aku tidur?" Luhan meminta izin kepada Sehun. Dan secara tidak langsung meminta Sehun untuk pergi.
"Baiklah. Jaga kesehatanmu. Kita akan segera menikah."
Siapapun tolong sadarkan Sehun. Ini seperti bukanlah Oh Sehun. Ini adalah orang yang penuh perhatian. Dan ah apa yang dikatakan Sehun tadi? 'kita akan segera menikah' itu pertanda kalau Sehun mulai memiliki rasa kepada Luhan.
Tak lama kemudian Sehun membalikkan badan keluar dari apartemen Luhan. Kini pikiran, rencana dan hatinya tak sejalan.
Pikiran Sehun yang tak henti hentinya mengiyangkan nama Luhan. Rencana Sehun yang hanya ingin memanfaatkan Luhan dan hati Sehun yang belum tau mengapa ia merasa sesuatu yang aneh saat bersama Luhan.
[We Can Start It]
Beberapa hari terlewati semenjak kejadian itu. Dan beberapa hari juga Sehun dan Luhan tak pernah berkomunikasi. Bukannya mereka saling menghindar, namun Luhan yang ingin menstabilkan pikirannya dengan alasan kesehatan dan Sehun yang sedang gencar gencarnya membentuk pertahanan untuk memulai perang dengan Kris.
Seperti diantara mereka akan terjadi kisah yang saling berkaitan.
Ya, hari ini adalah hari pernikahannya. Hari dimana Luhan mengikat janji dengan seorang pria. Seorang pria dimana pria itu tidaklah ia cintai. Dan pria itu lah yang akan menjadi alasan untuk Luhan melupakan kisah cintanya dengan Kris. Namun apakah itu mungkin sementara Luhan akan lebih sering bertemu Kris nantinya. Luhan berharap kakaknya ada disini. Menemaninya bersama degupan jantung yang tak lagi dapat dikendalikan. Dan tangannya selalu meremas gaun pengantin indahnya.
Luhan ingin kakaknya. Luhan ingin sahabatnya. Kemana mereka sekarang.
Dan ya, baru saja Luhan membatin semua tentang mereka, pintu itu terbuka. Menampilkan sepasang sahabatnya yang sudah menjadi kekasih dan calon kakak iparnya. Bukan dia yang Luhan harapkan datang untuk ini. Bukan. Luhan hanya ingin orang itu tak muncul dan membuat rasa sakit itu muncul dan terngiang kembali membuatnya jatuh kedalam masa lalu yang menyesakkan. Ya, menyesakkan.
"Yaampun Lu, setelah lama sekali kau meninggalkan kami akhirnya kami bertemu denganmu. Kenapa kau tak beritahu kami jika kau berada disekitar sini? Kami sudah lama mencarimu."
Oh benar saja, Kyungsoo memang sejak kejadian hilangnya Luhan selalu mencari dimana keberadaan sahabatnya itu. Namun tolong ralat perkataan Kyungsoo tadi karena yang dimaksud 'kami' adalah Kyungsoo dan Kai, tidak termasuk Tao apalagi Kris.
Ya, memang awalnya Tao menolak semua yang dikatakan Kris tentang Luhan. Apa yang telah ia lakukan kepada Sehun sehingga Sehun membencinya, itu yang Tao selalu khawatirkan. Bagaimana jika Sehun berniat membalaskan dendamnya kepada Tao?
"Ah Kyung, terimakasih kau telah datang."
Luhan berdiri menyambut Kyungsoo yang sudah menghambur ke dalam pelukan Luhan. Jujur Luhan sangat rindu sahabatnya ini. Karena Luhan sangat menyayangi sahabatnya. Bahkan Luhan akan berusaha memenuhi keinginan sahabatnya. Namun ia harus menelan pil kekecewaan ketika ia tak dapat bersatu dengan Kris. Seperti yang Kyungsoo inginkan.
Mereka saling menangis. Melepaskan rasa rindu yang telah lama bersarang. Kehadiran sahabat memang sangat Luhan butuhkan saat ini.
Pintu Luhan membuka lagi, mengalihkan seluruh pandangan ke arahnya. Dan senangnya Luhan ketika Baekhyun telah datang disana. Kenapa Baekhyun tidak memenuhi janjinya kepada Luhan untuk membawa kekasihnya saat pernikahan Luhan? Bukankah itu perjanjiannya. Luhan mengernyit menampilkan wajah kecewanya kepada Baekhyun.
"Ahh tenanglah dulu Lulu, dia sedang bertemu Sehun. Nanti aku akan ajak dia mengobrol bersama."
Seakan tau apa yang Luhan pikirkan, Baekhyun langsung menjelaskan semua.
"Ah baiklah." Luhan menjawab santai.
Namun bukan Luhan namanya jika ia tak mengerti bahasa perkodean. Karena sesuatu mengganjal dalam perkataan Baekhyun tadi. Perkataan yang berarti Sehun mengenal Chanyeol. Dan itu tidaklah menutup kemungkinan kalau Sehun akan lebih mudah mendapat informasi tentang dirinya melalui Chanyeol. Dan mengingat akhir akhir ini Baekhyun juga sering bercerita kalau ia sering merajuk karena Chanyeol lebih sering menanyakan tentang Luhan. Aneh.
"Kyung kenalkan, dia yang menemaniku selama aku disini." Luhan memperkenalkan Baekhyun kepada Kyungsoo.
"Dan Baek, ini kenalkan sahabatku Kyungsoo, dan iblis jahat disampingnya ini adalah kekasihnya. Mereka sangat kekanakan asal kau tau." Luhan memperkenalkan Kyungsoo kepada Baekhyun.
Mereka bercanda tertawa bersama, bercerita bagaimana kondisi saat Luhan menghilang dan sebagainya. Tak peduli waktu yang akan datang yang akan mengantarkan Luhan ke pintu dimana ia akan menyambut masa depannya
Sementara Sehun.
Sebenarnya ia takut. Karena jantungnya yang tak berhenti berdegup kencang saat bersama gadis polos itu, karena ia tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya kepada perempuan itu. Semua dapat menghancurkan rencananya. Bagaimana jika benar yang dikatakan Chanyeol bahwa ia akan jatuh kepada Luhannya? Ah tak mungkin.
Sehun sebenarnya masih tak menyangka, sebegitu besarkah pesona yang ditebarkan oleh Luhan. Ah Sehun haruslah mengelak seberapa indahnya Luhan. Kenapa? Karena ini dapat merusak segala rencana kebahagiaannya, untuk pembalasan dendamnya. Dendam yang sudah lama ia pendam.
"Hey, akhirnya kau menikah juga. Bagaimana? Sudah kau pikirkan matang matang kah semua?" Chanyeol memasuki ruangan dimana hanya terdapat Sehun didalamnya.
"Kau mengagetkanku. Ya, aku sudah merencanakannya dengam baik." Sehun menjawab dengan santai sembari membalas jabatan tangan dari Chanyeol.
"Lalu bagaimana rencanamu?" Tanya Chanyeol.
"Hanya membuat Kris panas dengan mencumbui Luhan didepannya. Itu akan menghancurkan Kris secara perlahan." Sehun menjawab.
"Lalu?" Chanyeol makin penasaran.
"Tunggu saja nanti apa yang terjadi." Sehun menjawab singkat.
"Bagaimana dengan Tao?" Tanya Chanyeol lagi yang membuat senyum smirk terpahat di bibir Sehun.
"Dia masih berhutang banyak padaku." Jawab Sehun, dengan wajah seperti tokoh antagonis.
[We Can Start It]
Pernikahan segera dimulai. Sehun telah berdiri diatas altar. Sedangkan para sahabat Sehun maupun Luhan mengambil posisi didepan sehingga mereka dapat dengan jelas merekam perjanjian sakral Sehun dan Luhan dengan jelas.
Bayangkan seberapa gugupnya Luhan yang kini bersiap menuju altar. Tangannya yang akan digandeng ayahnya nantinya akan mengantarkannya pada calon suaminya.
Dan bayangkan sakitnya ketika Luhan melihat Kris di barisan depan dengan Tao menggenggam erat tangannya. Ingin sekali ia bertukar tempat dengan Tao. Ah namun apa gunanya memikirkan kembali masa lalunya sedangkan masa depan Luhan sedang menunggu tepat didepannya.
Luhan dan tuan Xi telah sampai di altar. Dan seperti pernikahan biasanya, Tuan Xi menyerahkan Luhan sepenuhnya kepada Sehun. Sehun meng iya kan. Walaupun dalam batinnya ia hanya akan menjadikan Luhan boneka dalam permainannya. Dan walaupun Luhan juga tak mendasari pernikahan ini dengan rasa cinta. Namun pernikahan ini tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan janji yang telah mereka lafalkan bersama.
Ya, kini Sehun adalah suami Luhan. Dan Luhan adalah istri Sehun. Mereka telah mengikat suatu hubungan, dengan keadaan mendadak dan sama sekali tak mereka sangka.
Tak lengkap rasanya jika pernikahan ini tak dilengkapi dengan ciuman kedua mempelai. Dan itu pula yang memaksa Sehun dan Luhan saling mendekatkan bibir mereka.
Hal itu diawali oleh Sehun. Sehun mengambil tengkuk Luhan. Mendekatkannya pada Sehun. Sangatlah terasa setiap helaan nafas oleh mereka. Harum, benar benar harum. Sedangkan Luhan hanya dapat memejamkan matanya. Mungkin ini akan menjadi ciuman biasa karena bukan dengan Kris ia melakukannya. Atau dengan kata lain, ia bukan berciuman dengan orang yang dicintainya.
Namun salah. Saat bibir itu mulai menempel pada bibir Sehun. Betapa terkejutnya ia akan perasaannya. Jantungnya yang tak bisa berhenti berdegup kencang seperti kereta api yang tengah kehilangan remnya. Namun yang ia rasakan adalah waktu berhenti disitu saja. Memabukkan.
Sementara Sehun? Bagaimana perasaan Sehun saat ini? Ahh jangan tanyakan lagi karena ia tak dapat berhenti menyesapi manisnya bibir Luhan. Manis. Dan ada sesuatu yang membuatnya menjadi merasa kalah untuk sesaat. Bibir ini, sangat menggodanya. Dan ah Sehun ingat kalau Luhan memang istrinya, jadi ia berhak untuk semua atas istrinya. Dan ya, semua telah terencana dikepala Oh Sehun. Sehun tengah sangat mabuk dengan Luhan namun ada juga saatnya ia berhenti saat mengetahui Luhan kehabisan nafas. Sehun melepaskan sambil tersenyum smirk kepada Luhan.
Mendadak perasaan Luhan tak enak. Apakah arti senyum Sehun barusan.
[We Can Start It]
Hari telah malam. Malam ini Sehun dan Luhan memutuskan untuk tidur di apartemen Sehun. Dan besok barulah mereka berkemas menuju mansion.
Hal ini sebenarnya membuat Kris khawatir. Akan ada apakah diantara Sehun dan Luhan jika mereka berada dalam satu kamar selama satu malam? Apakah Luhannya akan menjadi sepenuhnya milik Sehun?
Tao mengetahui hal itu. Tao tau kalau suaminya sedang mengkhawatirkan Luhan. Meski telah berkali kali berjanji untuk menghindari Luhan, namun Tao tetap yakin kalau Kris masih mengharapkan Luhan. Tak ada pilihan lain, Tao hanya kurang berusaha mendapat perhatian Kris.
"Kris." Tao dengan pelan memanggil Kris yang dari tadi berdiri menghadap jendela.
"Tak ada apa apa. Pemandangannya indah." Kris menjawab singkat pertanyaan Tao. Kris memang tak pandai berbohong. Raut wajah khawatir masih tersisa jelas.
"Kau mengkhawatirkannya, aku tau." Tao menjawab sehalus mungkin.
"Tak, untuk apalagi aku mengkhawatirkannya." Kris menyangkal perkataan Tao.
Hal ini membuat Tao mendekatkan diri kepada Kris. Memeluk dari belakang laki laki yang memang telah memilikinya. Dan dengan suara yang sengaja ia buat seperti itu, Tao berkata.
"Berjanjilah kau milikku selamanya. I'm always yours"
Hal itu membuat Kris kewalahan. Ia ingin sekali menyentuh istrinya itu.
"Yes, you're mine tonight" Kris melepas pelukan Tao, membalikkan tubuhnya untuk menghadap Kris. Mungkin malam ini akan menjadi malam panjang untuk mereka.
Kris mendekatkan bibirnya ke bibir Tao, mengabsen semua yang ada dalam mulut Tao. Membuat Tao kewalahan dan tak berhenti mendesah. Tak hanya ciuman diantara mulut mereka yang memabukkan.
Karena kini Bibir Kris beralih pada leher Tao. Menyesap, menggigit dan pastinya menyisakan bekas pertanda Tao telah menjadi miliknya. Dan ya apakah yang Tao rasakan? Nikmat. Tao hanya dapat mendesah dan mendesah. Ia hanya mematung di tempatnya tanpa dapat bergerak karena seluruh permukaan tubuhnya, kini telah terhipnotis kepada setiap tindakan yang dilakukan Kris.
Setelah puas, Kris membawa Tao ke dalam gendongan ala bridalnya. Membawanya ke ranjang berukuran Queen Size. Dan dengan lincahnya tangannya melepaskan helai demi helai busana yang Tao kenakan tanpa menyisakannya sama sekali.
Dan itu membuat Kris sejenak kehilangan kendalinya. Ingin sekali ia menyerbu Tao dalam sekali hentakan, namun ah ia harus bermain dengan semuanya dulu. Ayolah ini adalah pertama kalinya untuk Kris dan Tao.
Namun kenikmatan yang Tao alami hanya berhenti sampai disini. Karena Kris yang tiba tiba menghentikan seluruh pergerakannya dan langsung memakai kembali memakai seluruh pakaiannya sebelum kemudian pergi meninggalkan Tao.
Mungkin jika Kris tak kembali teringat Luhan semuanya akan berjalan seperti yang diharapkan Tao.
Kris tetap harus untuk Luhan. Begitupun Luhan. Maka dari itu Kris lebih memilih untuk menghabiskan malam ini di apartemennya. Meninggalkan Tao yang sendirian di mansionnya.
[We Can Start It]
Sementara Sehun dan Luhan. Mereka sebenarnya tengah mencoba menghilangkan rasa canggung mereka. Ah ralat, sebenarnya Luhanlah yang paling canggung. Karena Sehun sedari tadi lebih memilih untuk melamun.
Sebenarnya Sehun bukan sekedar melamun, namun ia memikirkan bagaimana cara memperingatkan Luhan tentang statusnya yang hanya sebagai boneka. Sehun hanya takut ia menjadi tiba tiba bodoh saat berhadapan dengan Luhan.
Namun ahh mungkin nanti saja ia memikirkan hal hal itu. Bukankah ia sekarang telah berhak atas istrinya? Sehun sadar sedari tadi ia membiarkan Luhan hidup dalam diam. Bukankah harusnya ia menemani istrinya itu? Ahh Sehun salah.
Sehun mendekatkan dirinya kepada Luhan yang tengah duduk di depan televisi. Namun bukan melihat televisi Luhan sekarang, melainkan memikirkan Kris. Luhan merindukan Kris. Seandainya saja sekarang ia berada disini bersama Kris, ia tak akan seperti ini. Luhan bosan diam seperti ini.
Memikirkan memori masa lalu membuat Luhan meneteskan titik demi titik air mata. Membuat luka lama itu muncul kembali. Namun percayalah itu lebih asyik jika dibandingkan dengan harus diam seperti ini saja.
Namun tepat saat ia menangis dalam diam. Tiba tiba saja pundaknya disentuh oleh seseorang. Membuatnya secara refleks berbalik menghadap orang itu. Dan benar saja, ia adalah Sehun. Namun pandangan Sehun telah berubah. Luhan tak tau mengapa.
Sedangkan Sehun, alasan dimana matanya menjadi tajam adalah Luhan yang kini sedang menangis. Sehun tau kalau Luhan sedang memikirkan Kris. Ia merasa Luhan tak adil karena menikah dengannya namun tetap memikirkan laki laki lain. Hal itu yang telah menyulut emosi dalam jiwa Sehun.
"S-sehun." Luhan dengan gugup melihat mata Sehun sambul menyeka air matanya.
"Apa yang kau lakukan." Tanya Sehun dengan bahasa yang sangat dingin.
"Aku hanya. Hanya sedang menonton tv, ah itu sangatlah sedih sehingga aku meneteskan air mata." Luhan mencoba berbohong namun itu sangatlah gagal karena acara tv yang sedang menyala adalah acara komedi.
"Mengapa kau memikirkan orang lain?" Sehun menaikkan nadanya membiarkan Luhan terduduk penuh ketakutan.
"A-apa maksudmu?" Tanya Luhan dengan tubuh bergetar.
"Kau hanya butuh kasih sayang, baby. Tapi sayang kau tak akan dapatkan dariku. Aku perlu boneka dan kau lah bonekaku. Kau bisa kumainkan sesuka hatiku tanpa memikirkan sedikitpun perasaanmu." Jelas Sehun dengan suara halus namun terkesan sangat memancing kemarahan.
"Apa? Kenapa harus aku? Kenapa?" Luhan frustasi. Mengapa hidupnya selalu penuh cobaan. Kenapa Tuhan tak adil kepadanya. Luhan ingin lari dari semua ini. Namun saat kakinya hendak melangkah, seseorang memeluknya seerat mungkin. Ialah Sehun.
"Namun kau akan takhluk kepadaku malam ini, Lu." Bisik Sehun seseduktif mungkin di telinga Luhan yang kemudian dilanjutkan dengan jilatan disekitarnya.
Luhan ingin sekali mengelak namun yang ada ia malah mendesah. Tak peduli mengapa ia merasa nikmat.
"Ini yang kau inginkah eoh?" Tanya Sehun dengan nada tinggi sambil mencengkeram kedua pipi Luhan.
Kemudian Sehun beralih pada bibir Luhan. Menciumnya sekasar mungkin membuat si pemilik bibir tak dapat berbuat apapun lagi. Bau anyir yang menyertai ciuman itu pun ikut memeriahkan. Luhan ingin saja lolos dari semua itu. Namun percuma, tenaganya berbanding terbalik dengan Sehun yang sangat kuat.
Saat Sehun melepaskan ciuman itu, dengan noda darah dibibir Luhan membuat Luhan memejamkan matanya pertanda ia kesakitan. Luhan sebenarnya berusaha lari dari Sehun sebelum Sehun menarik baju Luhan membuat rangkaian benang benang itu hancur, tak menyisakan satupun menempel di tubuh Luhan.
Sebegitu terkejutnya Luhan saat Sehun dengan tatapan tajamnya yang tak memberi ruang untuk Luhan bahkan untuk Luhan menutupi tubuhnya. Luhan hanya bisa pasrah sambil terus meneteskan air mata. Luhan butuh seseorang.
Sampai Sehun menerjunkan tubuh Luhan di sembarang tempat. Membuka tempat dimana adik kecilnya itu bersarang. Tanpa membiarkan satu pun pergerakan dari Luhan, dan tanpa satupun aba aba dari Luhan, Sehun menghempaskan dengan sekali hentakan juniornya itu kedalam Luhan. Membuat Luhan tak kuasa menahan sakitnya seluruh selangkangannya yang berdenyut tak karuan.
Tangisnya tak kuasa lagi ia bendung saat ia melihat bagaimana ekspresi Sehun yang tengah tersenyum menantang ketika sudah berhasil memenuhi dirinya.
"Ini, jika kau butuhkan kasih sayang. Kau akan dapatkan ini. Desahkanlah namaku baby. Jadilah boneka yang patuh." Sehun berbicara sambil menghentakkan kembali juniornya kedalam Luhan membuat Luhan mau tak mau mendesah.
Tak juga puas, Sehun melakukannya sambil memainkan tubuh atas Luhan dengan tangannya. Dan bibirnya yang masih setia menyesap ah tepatnya mengunyah kasar bibir Luhan. Ia menaik turunkan juniornya yang masih bersarang itu dengan kasar.
Luhan yang tak kuasa merasakan kenikmatan sekaligus kesakitan baik fisik maupun hatinya itu hanya dapat pasrah. Ya, ia merasa ia tak lebih baik dari sampah yang dimanfaatkan suaminya sendiri. Menyedihkan.
Inikah puncak Luhan? Semua area nya basah. Sedangkah Sehun? Apakah ia tak kunjung puas dengan perlakuannya kepada Luhan? Ah belum. Sehun masih menikmatinya. Denyutan demi denyutan yang ia rasakan. Ia merasa senang sekali menyiksa seperti ini. Meneteskan segala keringatnya ketubuh Luhan.
Luhan tak sanggup lagi. Ini sakit, tapi ini nikmat. Bisakah ini dilakukan dengan halus? Bisakah ia benar benar menikmati suatu malam dengan suaminya sebagaimana mestinya? Luhan ingin.
Ini saatnya, Sehun berada di puncaknya. Ia melepas ciumannya sebelum melepas segala cairan putih miliknya itu kedalam Luhan. Ya, ia melepaskannya didalam. Entahlah ia sadar atau tidak. Tapi bisa saja, Luhan dengan cepat mengandung anak Sehun yang akan menghancurkan segala rencana Sehun.
Semuanya telah berakhir. Sehun yang telah puas pun berdiri memakai kembali rumah juniornya itu. Dan berbalik menuju kamar, menguncinya dan menghilang begitu saja. Meninggalkan Luhan yang sama sekali tanpa busana dan tak memiliki busana karena satu satunya baju miliknya telah dirobek oleh suaminya.
Namun bukannya senang, Sehun kini merasakan hal aneh. Perasaannya gundah, ia merasa khawatir kalau Luhan akan kedinginan tanpa ia berikan baju. Hal itulah yang memeksa Sehun untuk memberikan Luhan salah satu sweaternya.
Melemparnya ke sofa tempat mereka melakukan semua tadi dan kembali lagi kedalam kamar. Menguncinya dalam kesendirian. Tanpa ingin seseorangpun menerobos kedalamnya. Karena Sehun sendiri sedang memikirkan perasaanya. Yang sama sekali tak dapat ia mengerti. Selamat tidur Oh Sehun, Oh Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Aaaaa akhirnya Hunhan naena. Agak ngeh sih buatnya karna jujur aku sebelumnya masih anak polos *plakk* yang nggak ngerti gitu gituan. Jadi ya so sorry kalau itu agak kurang wah.
Kurang ajar emang si Sehun. Sebel deh akunya juga. Tapi yaudahlah, happy reading.
Maafin kalo agak lama updatenya:( karna baru sering nggak mood:(((
Maafin juga cuma sedikit:((
*ahelah gitu aja terus minta maaf tapi gitu gitu terus*
