We Can Start It

.

.

.

.

.

Chapter 6

Kicauan alarm yang mengamuk saat jarum panjang telah menunjuk ke angka yang telah ditunjuk mau tak mau membuat mata elang itu menyapa dunia. Tatapan pertamanya setelah jauh terhanyut dalam mimpi tetaplah tajam. Beberapa menit ia habiskan sebelum akhirnya memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya. Baru saja beberapa langkah ia dari kamarnya, ia telah menemukan perempuan itu yang sedang sibuk memasak dan menata makanan untuk sarapan –mungkin- untuknya. Namun mengingat kejadian semalam, akankah Luhannya itu memaafkannya. Ah untuk apa ia memikirkannya.

"Ah Sehun, kau sudah bangun. Aku tadi akan membangunkanmu tapi kamarmu terkunci." Luhan yang melihat keberadaan Sehun segera menyapanya, seperti tidak ada kejadian apapun semalam. Namun tidak ia pungkiri sebenarnya ia sangat kecewa.

"Tentu saja. Memang siapa yang membolehkanmu memasuki kamarku." Sehun ketus kepada Luhan namun percayalah semua itu ia lakukan hanya karena perasaan bersalahnya.

"Ah, maafkan aku kalau begitu."

Bukan Lu, harusnya aku yang meminta maaf, Sehun memonolog dalam hati.

"Apa ini?" tanya Sehun singkat.

"Ah ini hanya pancake untuk sarapan. Kau akan mandi atau sarapan dulu?" tanya Luhan lembut memancarakan seberkas harapan bahwa suaminya nanti akan berubah menjadi yang ia harapkan.

"Mandi. Persiapkan dirimu, kita harus cepat berkemas lalu ke mansion." Sehun hanya menjawab seperlunya. Toh, ia juga tak memiliki urusan apapun kecuali balas dendamnya kepada sang kakak –dan perasaan aneh yang sering ia rasakan-

Luhan mengangguk mengerti. Kemudian mempersiapkan diri dan mengemas semua barang termasuk barang Sehun yang tak tau Sehun memperbolehkannya atau tidak untuk menyentuhnya, ah ia tak perduli. Tadi malam Luhan telah berpikir untuk pasrah ke dalam kungkungan suaminya. Tak peduli lagi sesakit apa ia nantinya, seberapa rasa tersiksanya nanti yang jelas ia akan selalu mengikuti perintah suaminya. Karena untuk sekarang hanya suaminyalah pedomannya. Dan sekarang segala pekerjaannya pun telah beralih untuk Sehun, ia tak memiliki apapun lagi kan? Ah ia masih memiliki keluarga dan banyak sahabat.

Tak lama ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ah mungkin sudah lama karena Luhan melamun. Sekitar 30 menit Sehun menghabiskan waktunya dalam kamar mandi. Menampilkan Sehun yang tampak –sangat- tampan dengan kaos putih yang masih memperlihatkan badan kekarnya dengan celana panjang yang menempel sempurna pada kaki Oh Sehun yang panjang.

"Tampan" Luhan menggumam tanpa sadar saat melihat Sehun, dan mau tak mau ucapan Luhan tadi merasuk ke dalam telinga Sehun membuat Sehun ingin sekali tertawa geli saat kemudian melihat rona merah merambar ke pipi Luhan yang kini telah tersadar.

"Apa? Tentu saja aku tampan. Apa kau sudah mempersiapkannya? Kalau sudah kita ke apartemenmu mengambil barang barang berhargamu dan baru kita pergi ke mansion." Sehun mendikte apa Luhan dan mendapat anggukan manis dari jelmaan anak rusa tersebut.

"Jangan lupakan sarapan Sehun." Luhan tersenyum kepada Sehun kemudian berjalan menjauhi Sehun.

Luhan menjatuhkan dirinya di sofa. Memikirkan kembali apa nanti yang akan terjadi di mansion. Apakah Kris akan berpura pura tidak mengenalinya atau bagaimana. Namun ia sangat takut akan hal itu. Sampai akhirnya ia mendapati ponselnya bergetar, menampilkan sebuah nomor yang dulu sangat Luhan tunggu tunggu. Nomor Kris. Tapi untuk apa Kris menelponnya? Apakah ia harus menjawab? Ah Luhan bodoh, bukankah ia harus bersikap biasa saja karena sekarang ia adalah adik ipar Kris? Bukankah tak masalah jika Kris menelponnya? Okay Luhan akan mengangkatnya.

"Lu, ini kau Lu?" Tanya Kris terburu buru, seperti suara seseorang yang tengah kehilangan kekasihnya, dan memang Kris memang kehilangan Luhan setidaknya untuk sementara.

"I iya, ada apa Oppa?" tanya Luhan ragu karena jujur memanggil Kris dengan julukan Oppa membuat lidahnya kelu.

"Oppa? Apa kau gila? Jangan bilang aku hanya sebatas kakak ipar untukmu." Kris membalas dengan suara sedikit putus asa karena Luhan tak mengerti rencananya.

"Tapi kau adalah kakak suamiku, Sehun. Jadi kau memanglah kakak iparku, Kris." Luhan membalas, sebenarnya ia masih tak rela. Namun sepertinya nyaman jugamenjadi adik Kris.

Luhan tak menyadari Sehun sudah berada di belakangnya untuk meminta maaf atas kejadian semalam. Namun langkahnya memang terhenti saat menyadari Luhan sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Dan terkejut lagi lah Sehun saat namanya juga disebut Luhan. Dan dapat Sehun tebak Kris lah yang menelepon Luhan. Namun entah mengapa perasaan sakit itu menjalar ke dada Oh Sehun membuat tangannya mau tak mau mengepal untuk pelampiasan emosinya. Kenapa? Bukankah harusnya Sehun senang karena rencananya sudah hampir berhasil? Kris sendiri yang memulai permainannya jadi Sehun tak harus repot repot. Jadi untuk apa ia merasa sesuatu aneh, bahkan sakit. Bukankah lebih baik mendengar segala percakapanya.

"Lu, aku adalah kekasihmu dan kita akan selalu menjadi kekasih apapun kondisinya. Bahkan aku telah membuatmu dekat kepadaku. Adikku bodoh telah menyetujui statusnya yang tak lama lagi menjadi duda. Setidaknya tolong untukku, jangan nodai dirimu dengan sperma kotor Sehun."

Kris gila, Luhan sangat terkejut mendengarnya. Disisi lain ia juga senang karena ia memiliki kekasih yang senantiasa menjaganya selalu. Namun apakah mungkin? Semalam saja mereka telah berhubungan walaupun hal tersebut hanyalah terjadi sepihak.

"Maaf Kris, aku tak tau maksudmu." Luhan menjawab dengan sopan karena ia masih sangat berusaha melupakan Kris.

Dan Sehun, tebakannya sangat benar. Luhan baru saja mengucapkan nama Kris. Benar benar Kris. Kini perasaanya yang merasa dilema, apakah harus senang atau sakit. Menyedihkan.

"Sudahlah. Maksudku menelponmu adalah ingin mengetahui kapan kau datang ke istana kita. Aku menunggumu."

Gila. Apa itu tadi? Istana kita? Bukan Luhan menolak kehadiran Kris, namun ia merasa dirinya tak memiliki bakat menjadi seorang pengkhianat. Dan bagaimana ini. Ah terserah Kris saja, dia memang telah gila.

"Kita akan sampai sebentar lagi. Jangan terlalu khawatir, Kris"

Kali ini bukan Luhan yang menjawab tetapi Sehun yang dengan seenaknya merebut ponsel Luhan. Sehun memang sengaja melakukan ini. Karena ia merasa senang ketika Luhan merasa ketakutan karenanya. Dan dengan sengaja ia juga menebalkan kata 'Kris' kepada Kris agar kakaknya itu sempat merasa memiliki seorang adik sebelum adiknya itu menghabisinya. Dengan melakukan permainan perasaannya. Doakan saja Sehun tidak terjebak dalam permainannya sendiri.

PIIP

Suara telepon dimatikan. Dan hal itu membuat sang Oh Sehun mengembangkan senyum smirknya.

"Wah, apa itu. Gadis pemberani, baru sehari kau menikah dan kau berselingkuh secepat ini? Dan kuacungi kau jempol karena kau berhasil menggaet kakakku sendiri yang telah Beristri!" Sehun tertawa mengatakannya. Memainkan jarinya pada surai Luhan diselingi dengan tepukan tangan dan kenaikan nada pada kalimat terakhirnya.

"S sehun tolong jangan salah paham Sehun. Tolong dengarkan aku." Luhan mencoba memohon kepada Sehun dan Sehun hanya akan berpura pura Luhanah disini yang bersalah.

"Apa yang kau jealskan? Oppaku mencintaimu dan kau akan lari bersamanya? Rencanamu memang sangat pasaran, Lu." Sehun memainkan perannya dengan hebat.

"Aku akan beri kau apapun yang kau inginkan, tapi dengarkan penjelasanku Sehun." Yak ini yang Sehun harapkan. Sayang sekali Luhan terlalu bodoh menggetahui niat jahat Oh Sehun.

"Apa? Apapun? Aku tak yakin." Sehun memberikan smirk terbaiknya dan beranjak menjauh dari Luhan. Namun tangan Luhan kini melengkung sempurnya pada telapak tangan Sehun, dan begitulah cara seorang perempuan menghentikan kekasihnya.

"Aku berjanji karena kau adalah suamiku. Aku percaya apapun yang kau inginkan tak akan mencelakaiku. Aku sangat percaya pada suamiku." Luhan memohon sambil memejamkan matanya. Ia siap merasakan tampikan tangan dari Sehun. Namun bukan itu yang terjadi. Sehun justru berbalik kepadanya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Luhan. Entah dari sekian banyak hal yang dapat ia lakukan, ia memilih bibir Luhan. Karena bibir itu manis dan sangatlah manis dan akan terus manis.

Sebenarnya bukan karena Luhan berjanji padanya, namun karena perkataan Luhan bahwa ia akan sepenuhnya mempercayai Sehunlah yang membuatnya kini terjebak dalam perasaannya kembali. 'Tak boleh jatuh cinta' prinsip Sehun setelah sekian lama akhirnya runtuh meskipun ia masih tak kunjung menyadarinya. Ah jangan sampai terlambah Oh Sehun.

Mereka menghentikan kegiatan mereka setelah nafas mereka mulai terkuras habis. Menurut Sehun tak ada yang lebih memabukkan dari ciumannya dengan Luhan. Namun haruskan Sehun sadar bahwa Luhan hanyalah boneka. Dan harusnya Sehun sadar jika Luhan pasti memiliki sejuta goda karena ia dapat memiliki hati sang kakak yang memang bukan orang main main.

"Jelaskan sekarang." Sehun mengatakannya halus kepada Luhan yang tengah terbuai dengan ciuman yang barusan mereka alami.

"Aku sebenarnya adalah mantan kekasih Kris." Luhan sengaja memutus pembicaraannya, memberi waktu Sehun untuk melampiaskan emosinya.

Sehun memang tengah mengepalkan tangannya tanpa menunjukkan ekspresi. Bukan, bukan karena ia baru mengetahuinya karena jauh sebelum itu Sehun sudah mengetahuinya. Hanya saja bagaimana cara Luhan menjelaskannya yang terlihat jelas bahwa ia masih mencintai Kris. Bagi rencana Sehun, ini memang sangat menguntungkan. Namun bagi hati Sehun, ini adalah saat dimana hatinya terlalu sesak bahkan untuk melihat semuanya.

"Dan Kris tetap menganggapku kekasih. Namun percayalah aku akan tetap menganggapnya kakak iparku karena memang ia tak lebih dari itu. Aku telah memiliki suami. Seiring waktu pasti kau dan aku akan berubah. Kita bisa mencintai. Jadi terimakasih jika kau telah jujur pada perasaanmu yang belum menerimaku sebagai istrimu, karena.." Luhan sengaja memotong kalimatnya.

"Karena aku juga belum mencintaimu." Luhan melanjutkannya lalu mengalihkan pandangannya kepada Sehun yang sekarang hanya menampakkan wajah flatnya.

Yang benar saja, Sehun terjebak perasaannya sendiri. Ia mencintai Luhan. Ia harus menyadarinya sebelum kehilangannya. Dan dada Sehun kini tengah dijalari rasa sesak teramat ketika kalimat terakhir Luhan. Luhan sangat berusaha menjadi yang terbaik bagi Sehun walaupun ia selalu disakiti.

"Sehun, aku telah menjelaskannya. Sesuai janjiku kau boleh meminta apapun setelah kau mendengarkannya." Luhan mengatakan kepada Sehun. Tersenyum tulus dengan mata rusanya. Membuat Sehun sebenarnya tak tega untuk mengatakannya. Namun semua keindahan Luhan harys Sehun tampik demi balas dendamnya.

"Haha, teruskan hubunganmu dengan Kris. Aku akan menyukainya. Karena kau bonekaku, kau harus menjalankan permainanku dengan sempurna." Sehun hanya mengatakan itu. Dan Luhan pasti membutuhkan waktu hingga ia mengalaminya sebelum ia berani menjabarkan itu semua.

Sehun berniat untuk pergi namun ia berbalik sejenak melihat wajah Luhan yang kebingungan dan mengatakan "Setelah permainanku selesai, kau boleh pergi."

Butuh waktu lama bagi Luhan untuk mengetahui maksudnya. Dan sekarang Luhan telah menemukannya. Luhan hanyalah alat untuk Sehun, entah alat untuk apa namun ia harus patuh kepada Sehun. Ya, sebenarnya tanpa diminta, Luhan sudah bertekad untuk mengikuti semua permintaan Sehun. Tak apa, perasaannya terlanjur mati. Ia berpikir ia telah kebal untuk dipermainkan.

Jarum jam telah nyaman pada posisinya. Menempatkan dirinya yang memberitahukan kepada setiap orang bahwa hari telah siang. Dan dapat ditebak sekarang apalagi yang sedang dilakukan medua pasangan baru ini.

Berdua dalam perjalanan yang terhitung tak terlalu jauh ini seharusnya tak begitu membosankan jika terdapat sepatah saja kata dari masing masing mulut mereka. Namun yang terjadi adalah bungkam. Tak ada masing masing bibir yang ingin bergerak. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing masing.

Luhan tak dapat ditampik, ia sedikit tertohok dengan pernyataan Sehun yang akan membiarkannya pergi setelah Sehun menyelesaikan permainannya. Lantas apakah permainan yang Sehun maksud? Apakah itu akan berhubungan jauh dengan perasaannya? Jangan. Luhan sudah mati.

Sedangkan suaminya, Oh Sehun. Sebenarnya tak ada yang perlu dicemaskan dari semuanya. Tak ada dan benar benar tak ada karena rencananya memang berjalan sangat lancar. Bahkan Kris sendiri yang memulai permainannya. Kini Sehun hanya harus melanjutkannya dan memenangkannya. Bahkan Sehun juga dapat memiliki perusahaan Kris dengan ancaman Luhan. Sangat mengesankan. Dan untuk Tao, bukankah sangat mudah untuk mengancamnya agar ia mau berpisah dengan Kris. Ingatkan Tao lagi tentang semua hutang hutang omongannya kepada keparat seperti Sehun.

Namun bukan itu masalahnya. Sehun sendiri kini tengah merasa dilema. Entah perasaan apa namanya yang jelas jantungnya tak pernah berdetak normal jika berada di dekat Luhan. Dan ia berani bersumpah demi apapun ia tak dapat menghindar lagi dari sosok Luhan. Pikirannya kini malah dipenuhi Luhan. Oh Tuhan jangan sampai Sehun membawa perasaannya. Karena semua rencananya akan hancur.

Mereka terlalu kalut dalam pikiran masing masing dari mereka. Hingga tanpa sadar Sehun telah mengarahkan stir mobilnya hingga sampai pada mansion dimana permainan akan dimulai. Namun mengapa emosinya kembali saat melihat Kris yang tengah menunggu mereka di taman depan? Oh tidak Sehun kendalikan dirimu. Luhan adalah perempuan berbahaya yang dapat menarik pikat laki laki manapun kan?

"Ikuti segala omonganku dan permainanku. Ikuti saja keadaannya semua. Jangan pernah menolak atau apapun. Karena memang untuk itu aku menikahimu. Aku tak suka memberi toleransi kepada seseorang, jadi hukuman akan menyertai setiap tolakanmu."

Sehun mengancam dengan penuh penekanan. Tak pedulikan Luhan yang kini sedang menahan perasaan kecewanya. Bagaimana tidak? Ia adalah perempuan. Dan perempuan mana yang ingin dinikahi hanya untuk menyelesaikan sebuah permainan?

"Kau dapat percayakan kepadaku." Jawab Luhan singkat sambil mengembangkan senyuman yang menurut Sehun itu manis bahkan sangat manis.

Oh jangan, jangan jatuh kembali dalam sihirnya Oh Sehun.

Sehun turun dari mobilnya dan membukakan pintu yang berada di sebelahnya. Menampilkan perempuan yang sangat sangat cantik walaupun dengan penampilan seadanya. Luhan memang hanya mengenakan dress selutut berwarna pink dan sepatu berwarna putih yang membuatnya seperti gadis muda berusia sembilan belas tahun.

Tak lupa Sehun merangkul pinggang sang istri saat memasuki mansion dalam. Hal itu sepertinya cukup berhasil melihat bagaimana ekspresi Kris saat menyambut mereka.

Ya, sepertinya Luhan telah mengerti permainan apa yang dimaksud Sehun. Sehun menginginkan dirinya mempermainkan pria yang dicintainya. Bodoh. Kemana perasaannya lagi akan dibakar.

"Hai Kris, aku sudah merindukanmu. Padahal baru kemarin kita bertemu ya?" Sapa Sehun penuh senyum smirk.

"Ah ya benar. Silahkan masuk." Kris menjawabnya berpura pura baik baik saja diantara mereka. Oh sadarlah Kris, Sehun telah mengambil alih rencana permainanmu.

"Ya benar, sepertinya istriku sedang sangat lelah juga. Mengingat seberapa panas malam kita kemarin." Sehun berbicara seolah ia menjadi pihak yang polos. Padahal pernyataannya barusan mau tak mau membuat kedua orang disana tertohok mendengarnya.

"Ah hyung, aku harus mengantar istriku kekamar dulu. Dan setelah itu aku akan menemuimu. Bukankah banyak hal yang ingin kau bicarakan?" Sehun kemudian meninggalkan Kris yang kini bagaikan tak percaya apa yang telah dilakukannya. Luhan telah benar benar menjadi milik Sehun. Itu menyakitinya.

Sehun mengantarkan Luhan layaknya seorang suami yang benar benar tulus mengantar istrinya ke kamar. Senyum mengembang dari bibir tipis Sehun. Seperti ini ternyata permainan Sehun. Baiklah Luhan akan mengikutinya. Toh, ia juga segera menginginkan permainan ini berakhir dan Luhan dapat pergi. Atau mungkin kembali kepada Kris.

Mereka sampai dikamar. Dan terkejutnya Luhan saat Sehun mendorong tubuhnya hingga menabrak tembok. Kemudian mencium Luhan. Membuat Luhan mabuk dan mengikuti irama ciuman mereka. Tak menyadari ada sepasang mata yang memanas melihat mereka yang bercumbu seperri itu. Sepertinya mata Sehun sangat jeli saat melihat Kris rengah mengikutinya dan Luhan. Dan ya, tak mungkin Sehun menyia nyiakan kesempatan ini.

Setelah selesai, Sehun dengan seenaknya meninggalkan Luhan yang masih bingung dengan perlakuan manis sekejap dari sang suami. Ahh ia tak boleh terdorong untuk ingin memiliki Sehun bukan? Semanis apapun Sehun, ia tetaplah hanya boneka bagi Sehun.

Sehun telah menapaki tangga menuju bawah. Memang kamarnya terletak diatas dan ia kini akan berbicara kepada Kris di bawah.

"Ah hyung. Apa aku terlalu lama diatas?" Sehun sengaja mengungkit ciumannya tadi dengan Sehun untuk memancing Kris.

"Mungkin. Jadi, apa rencanamu dengan Luhan? Apa kalian ingin segera memiliki keturunan? Kulihat kalian pasangan yang manis." Wah Kris sekarang sedang membual. Memaksakan batinnya yang tetap ingin mengatakan bahwa Luhan hanyalah miliknya seorang. Namun jika ia tak berpura pura manis didepan Sehun, rencananya akan mudah terbongkar.

"Ah? Maksudmu anak? Yahh mungkin kami akan menikmati masa masa kami. Terlebih kami dijodohkan dan tidak terlalu saling mengenal." Kris dapat bernafas lega saat Sehun mengatakan hal itu.

"Namun itu tidak menutup kemungkinan bahwa kami akan lama memiliki keturunan. Mengingat bagaimana tubuh Luhan yang sangat menggoda hyung. Aku sangat menggilainya." Sehun melanjutkannya membuat Kris kini diterpa rasa sesak. Apakah nantinya yang akan terjadi jika Luhannya nanti hamil anak dari Sehun? Ia tak akan rela. Walaupun yang diucapkan Sehun tadi tidak sepenuhnya bohong.

"Aku saja belum mendapat apa apa dari Tao." Kris mencoba mengembalikan suasana dengan menjadikan hubungannya sebagai pembicaraannya.

"Ah, dimana Tao ngomong ngomong. Daritadi aku belum melihatnya." Sehun baru menyadari ia belum menemui Tao. Padahal batinnya mengatakan akan lebih seru jika ia juga membuat Tao panas.

"Dia sedang mendapat job. Mungkin besok dia baru pulang." Jawab Kris santai.

"Ah begitu. Sepertinya aku harus mengurus perusahaan Luhan yang akan dilimpahkan kepadaku hyung. Aku akan ke kantor dulu hyung." Sehun telah bosan berbicara dengan Kris. Toh ini juga tak terlalu penting dibandingkan dengan urusan peruaahaannya.

"Baiklah. Hati hati Sehun." Kris menepuk bahu Sehun dan kemudian Sehun beralih keluar mengambil mobilnya dan menghilang.

Ini kesempatan bagi Kris. Kesempatan untuk menjelaskan apa yang ia inginkan dari Luhan. Kris harus mendapatkan Luhan.

Tanpa aba aba, setelah Sehun beranjak pergi dari mansion, Kris segera berlari menuju kamar Luhan. Mungkin benar Luhan sedang kelelahan. Namun ada banyak hal yang ia akan tanyakan dan juga jelaskan kepada Luhan. Mengganggu istirahat Luhan sebentar saja bukan masalah kan?

"Lu, ini aku Kris." Kris mengetuk pintu kamar Luhan. Mencoba menemui Luhan disaat pertama mereka bertemu. Bagaimana sepasang mantan kekasih ditinggalkan dalam satu atap sementara mereka masih saling mencintai? Itu konyol.

Luhan tak tuli. Ia dapat mendengar ada seseorang mengetuk pintunya. Sebenarnya Luhan tak tidur. Ia sedang menikmati angin dimana itu dapat membuat hatinya kembali sejuk. Namun saat Kris datang kesini, mungkin perasaan sejuk itu akan hilang lagi.

"Masuklah Kris." Sambut Luhan yang telah membukakan pintu untuk Kris.

"Jadi, bagaimana kabarmu?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut Kris, konyol memang.

"Jujur setelah kehilanganmu aku tak baik. Namun kini aku seperti yang kau lihat." Luhan memilih jujur.

"Tak jauh berbeda Lu, aku tau sebenarnya kita masih saling mencintai." Kris mengatakannya. Seolah ia tau segalanya yang ada dalam pikiran Luhan.

"Ya, kau tak salah. Aku memang masih mencintaimu. Tapi kita telah berbeda dari yang dulu." Luhan menjawabnya dengan senyuman miris.

"Dan aku membawamu kesini untuk mempersatukan kembali cinta kita." Kris mencoba membujuk Luhan perlahan.

"Mungkin aku akan buruk dalam bersandiwara." Luhan masih belum menerima maksud daru Kris karena ia masih memiliki etika untuk menghormati suaminya. Namun ia kembali mengingat perkataan Sehun untuk mengikuti permainannya. Dan mungkim, apa ini permainan yang dimaksud Sehun?

"Apa kau tau? Aku telah benar benar dimiliki Sehun, semalam." Ya, kata itu membuat tubuh Kris kaku, dan dadanya terasa sangat sesak.

"Kita akan bertemu saat Sehun tidak ada disini. Bisakah?" Kris meminta, tak peduli dengan status Luhan. Dan Luhan ingin sekali menjerit menjawab 'ya' karena demi dewi neptunus Luhan masih mengharapkan Kris.

"Tak tau bagaimana akhirnya nanti. Ngomong ngomong apa Sehun telah pergi?" Luhan tak sepenunya menolak, ia hanya ragu. Apakah ia harus masuk kedalam permainan Kris,atau ia harus mengikuti permainan Sehun.

"Sehun kekantor. Dia akan benar benar mengurus perusahaanmu dengan baik Lu, percayalah." Kris tak memungkiri kepandaian Sehun.

"Ya, dan dia akan merebutnya kemudian membuangku." Luhan menjawab datar. Apa yang ia lakukan. Ia membuat suaminya terlihat kotor dihadapan Kris.

"Maka dari itu kembalilah padaku." Final. Jawaban dari Kris berhasil membuat Luhan mematung. Akankah ia memilih untuk berpihak pada Kris? Namun bukankah orang tua nya telah mengajarkan etika untuk menghormati suaminya? Dilema kini menyandang kedalam Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Haii.. maaf lama ga apdet. Aku baru sadar kalo udah lama nggak apdet wkwk sorry. Betewe tambah gaje ya ni ff.

Tuh Luhan bingung mau ngikut siapa. Ngikut Sehun aja Bun, nanti Krisnya buat aku wkwk

Btw lagi, Happy New Year 2k17, semoga tahun ini makin banyak moment moment manis hunhan yang buat klepek klepek sendiri:v

Dan semoga ff aku gatambah gaje:3

Aku nyadar sepenuhnya kalo ff ini semakin ngeh jadi maaf kalo gimana gitu.