We Can Start It

.

.

.

.

.

Chapter 7

Dari awal dan dari kecil Luhan memang diajarkan untuk menjadi seorang yang tak berkhianat. Jadi bagaimana bisa ia mengkhianati suaminya untuk mantan kekasihnya sendiri. Akankah itu akan berhasil menutup semua luka yang telah teranyam sempurna di hati Luhan? Melihat yang dulunya sang kekasih membuat janji lebih dulu darinya dan bukan dengannya, apakah ini akan menjadi penawarnya? Ataukah malah justru sebaliknya? Justru malah ini akan memperparah lukanya, menyayat kembali hati yang perlahan mulai ia perbaiki untuk hidupnya. Tak mungkin kan ia akan selalu hidup dalam keterpurukan?

Lalu bagaimana cara Luhan menghadapi pernyataan Kris barusan? Luhan tak akan ingkar janji. Karena Luhan sebenarnya yakin, ia dapat menjadi adik ipar yang baik untuk Kris. Bukankah itu tak terlalu parah? Setidaknya ia masih bisa dekat dengan Kris walaupun mengetahui Kris bukanlah miliknya lagi.

Luhan tak memilih Kris. Ia tetap menjatuhkan pilihannya kepada Oh Sehun. Bukan karena cinta, tapi karena prinsip. Ia tak ingin mengkhianati seseorang, apalagi suaminya. Untuk perasaan sendiri, bukankah perasaan cinta itu akan tumbuh seiring dengan waktu yang berjalan? Semoga saja begitu. Karena jika tidak Luhanlah yang paling menderita disini.

Sekitar dua jam yang lalu tepatnya, Kris dan Luhan kembali bertemu dalam situasi tak mengenakkan –khususnya bagi Luhan- karena Kris yang selalu memaksa dirinya untuk selalu bersama dengan Kris. Namun bukankah itu hal yang wajar? Mereka masih saling mencintai. Mungkin yang Kris bingungkan adalah mengapa sang wanita lebih memilih adiknya. Apakah sesempura itukah adiknya dibandingkan dirinya? Padahal sudah jelas sang wanita hanyalah akan ditipu dan dimanfaatkan adiknya. Ternyata tak semudah itu permainan versi Kris ini. Resiko telah diambil dan apapun itu Kris harus menjalaninya, termasuk melihat sendiri bagaimana rasanya kehilangan Luhan.

Ah jangan lupakan Luhan yang sekarang berperan penting sebagai istri dari Oh Sehun. Tugas Luhan adalah memasakkan sarapan untuk Sehun dan Kris karena biasanya Tao akan berangkat pagi untuk pemotretan dan acara acara lainnya, bahkan Tao lebih sering menghabiskan waktunya diluar kota. Setidaknya Kris bersyukur akan hal itu.

Besok Luhan berniat untuk pergi ke perusahaan yang telah ayahnya berikan kepadanya sekaligus memberi pengumuman bahwa Sehun lah yang kini akan mengambil alih semuanya. Ia yakin Sehun akan memajukan perusahaan itu. Setidaknya ia sekarang bisa fokus untuk mencari kakaknya bukan? Ya, itu yang Luhan harapkan. Kakaknya mungkin bisa membantunya dalam urusan percintaan karena jujur Luhan kini merasa menjadi pihak yang bodoh, atau memang benar benar menjadi pihak yang sangat bodoh.

"Oppa ah gege ah apapun aku harus memanggilmu, aku sangat merindukanmu walaupun aku belum pernah bertemu denganmu. Aku sangat membutuhkanmu Oppa." Gumam Luhan sendiri sambil memejamkan mata.

Tak lama pintu kamar Luhan kembali terbuka, menampilkan sosok Kris yang datang dengan rupa polosnya, atau mungkin pura pura polosnya.

"Aku rasa kau membutuhkan sediit hiburan Lu. Tak tau mengapa aku kembali tertarik ke ruangan ini lagi, seperti ada gaya gravitasi yang menuntunku kesini. Apa kau sedang memikirkanku? Tebak Kris dengan santai dan percaya diri. Ah padahal Luhan sendiri sedang memikirkan kakaknya, dasar Kris memanglah tak berubah. Sangat percaya diri.

"Sebenarnya tidak perlu, tapi karena kau sudah duduk disini mau apa lagi? Bisakah kau menemaniku? Sedikit cerita tentang suamiku mungkin." Luhan tak mengelak kehadiran Kris, namun ia juga harus mencari alasan agar Kris tidak terus mendekatinya seperti ini.

"Sehun? Dia anak yang tak pernah dimanjakan. Sehun membenciku dan sepertinya aku mulai membencinya karena dia akan memilikimu, benar bukan?" Kris tertawa kecil, seperti mencemooh dirinya.

"Maksudmu? Jangan katakan aku hanya merusak tali persaudaraan kalian. Aku bukanlah wanita seperti itu Kris." Luhan tak terima dengan perkataan Kris yang menyudutkan dirinya.

"Setidaknya belum, Lu. Maka dari itu sebelum semuanya terjadi turutilah permintaanku. Jadilah milikku, biarkan Sehun memiliki impiannya sendiri. Dia hanya ingin perusahaan tak sedikitpun ada niatnya untuk menikah." Kris kembali meminta. Bukan, Kris hanya tak tau bahwa Luhan tengah mati matian menahan dirinya untuk tidak menerima tawaran itu.

"Kris, sebenarnya apa alasanmu kesini? Aku istri adikmu jika kau ingat." Luhan menjawab seadanya kemudia melangkah menuju jendelanya, mengedarkan pandangan ke langit luas yang rasanya akan indah sekali jika akan berguling gulng kesana.

"Ya, aku ingat. Dan sekarang aku juga tau, kau tak lagi menginginkanku. Maafkan aku, aku hanya merasa seseorang sedang membutuhkanku, jadi aku pergi kesini." Kris meminta maaf dan segera beranjak pergi meninggalkan ruangan peribadi Luhan dan Sehun itu.

"Tunggu." Sebelum Kris benar benar meninggalkan ruangan itu terdengar Luhan yang menahannya.

"Aku tadi memang membutuhkan seseorang, Kris. Tapi bukan kau. Aku membutuhkan seseorang, aku membutuhkan kakakku. Kakak yang selama ini tak pernah ku lihat. Kakak yang selama ini tak pernah aku ketahui dimanakah dia. Kakak yang selama ini kuyakini jika dia masih bernafas. Dan kakak yang kupercaya dapat menyelamatkan kisahku dan berusaha selalu membuat adiknya tertawa." Luhan berbicara panjang lebar, meraungkan kesepiannya, kekosongannya, kehampaannya.

Luhan bukan malaikat, bahkan jika punggungnya diamati seribu satu tahun tak akan pernah ada sayap yang melintang indah. Luhan hanyalah manusia dengan rasa sabar dan lelah yang berada di puncak. Semua telah final. Kekasihnya menikah dan ia sendiri menikah dengan adik kekasihnya. Bisakah kalian perhatikan? Semua snyumannya enuh kehampaan. Semua tawanya pnuh penderitaan. Dan saat tak ada lagi yang memihaknya, antara perasaan menginginkan dan perasaan menghargai. Ia tak lagi percaya cinta, karena dengan cinta pun ia tak bisa bersatu dengan kekasihnya, kan?

"Lu, jangan menangis. Aku bisa membantumu mencari kakakmu. Sungguh aku akan membantumu jika kau kembali padaku." Kris tak jadi melangkah keluar, kaki jenjangnya kembali ia balikkan menuju Luhan. Ia paling tak suka jika Luhan menangis. Melihat punggungnya bergetar saja Luhan sangat tak ingin, jujur itu sangat menyayat hati.

"Saat aku melihatmu, aku selalu mengingat wajah kakakku saat masih kecil. Wajahnya sangat mirip denganmu. Mungkin aku salah tentang perasaanku. Mungkin aku selama ini menganggapmu adalah kakakku sehingga aku sangat nyaman dengan peran itu. Maafkan aku. Tapi jika Tuhan benar benar melahirkanku kembali dalam suatu keluarga, aku berharap kau adalah kakakku." Luhan menatap mata Kris. Entah mengapa ia seperti mengeluarkan semacam bom atom yang bersarang dalam hatinya beribu ribu tahun, sangatlah melegakan.

"Apakah sudah cukup bicaranya? Ayolah aku lelah dan ingin beristirahat. Ah apakah sebentar lagi kalian akan berciuman? Baiklah kutunggu lima menit dan aku harap aku dapat beristirahat dengan tenang tanpa rengekan sok tegar dari kalian." Suara itu terdengar dari pintu, menampilkan sang iblis jahat Oh Sehun.

"Sehun!" seru Kris dan Luhan hampir bersamaan. Disatu sisi Kris merasa Sehun telah memergokinya berdua dengan Luhan dan itu termasuk hal fatal dalam rencananya. Di sisi lain Luhan yang menginginkan Sehun menjadi suami yang baik untuknya tetap saja merasa hal iji tak akan memperbaiki hubungannya dengan Sehun.

"Wah, mantan kekasihpun tetap menyukai permainan di belakang ya. Sayangnya aku tak suka cara kalian. Silahkan keluar atau aku yang akan keluar, Hyung." Sehun kembali menekankan kata 'Hyung' yang mau tak mau dibalas langkahan kaki Kris keluar dari kamar Sehun dan Luhan itu.

We Can Start It

Ah Tuhan apakah boleh Luhan memimpikan malam indah bersama Sehun? Bukan malam seperti itu tapi malam yang penuh dengan tawa yang akan menghapus semua kenangan kenangan Luhan. Luhan ingin jatuh cinta kepada Sehun, atau bahkan mungkin perlahan ia mulai menyukai Sehun. Luhan ingin Sehun menjadi hidupnya. Bahkan saat ia merasa hidupnya tak miliki arti.

Terlalu tinggi seseorang berharap pasti akan terlalu sakit saat ia terjatuh. Itu yang dialami Luhan. Malam ini ia dapat tidur satu ranjang dengan Sehun. Namun tak ada satu pun hal yang diucapkan dari masing masing mulut. Bahkan untuk sedikit membuka saja mereka enggan.

Harusnya Sehun sekarang sedang menjelaskan kepada Luhan apa yang harus Luhan lakukan. Toh, Luhan juga akan senang jika Sehun menyuruhnya untuk berselingkuh dengan Kris. Tapi mengapa semuanya berat? Asal kalian semua tau, seperti ada api panas yang dibakarkan ke hati Sehun saat melihat bagaimana hangatnya Kris memeluk Luhan, menenangkan Luhan dengan karena entah masalah apa yang Luhan bayangkan. Ia yakin Luhan memiliki banyak masalah. Oh tolonglah, mengapa Sehun kini memikirkan Luhan. Sedari tadi ia juga tak dapat memejamkan mata hanya karena wanitanya itu.

"Lu, aku tau kau belum tidur." Sehun yang memang merasakan pergerakan disampingnya juga merasa risih dengan hal itu. Jujur dari dalam hatinya terdapat gejolak saat bersama dengan Luhan. Ia ingin menanyakan itu kepada Luhan.

"Ah S – Sehun, k – kau belum tidur ya?" Luhan menjawab dengan kaku, jujur ia merasa takut dengan sikap Sehun selanjutnya karena ia kembali ketahuan bersama dengan Kris.

"Tolong jangan marah kepadaku hun, aku menolaknya berkali kali." Lanjut Luhan karena tak kunjung mendapat jawaban dari Sehun.

" Jangan banyak bergerak, argh aku tak dapat tidur. Urusan ituterserah kau mengurusi hidupmu sendiri. Sudah diamlah." Lagi, bibir Sehun kelu tak dapat mengatakan tentang perasaan aneh yang selalu hinggap di hatinya. Awalnya memang ia menginginkan berdamai dengan Luhan satu malam ini. Setidaknya membiarkan Luhan menceritakan segala kesedihannya dan menangis di bahunya, seperti saat Luhan menangis dengan Kris. Namun entah mengapa Sehun tak dapat mengatakannya. Tenggorokannya seperti tercekat sesuatu yang mengganjal.

Ah apa sekarang yang dipikirkan Sehun? Bukankah tak seharusnya perasan itu jatuh kepadanya? Apalagi jika memang benar perasaan itu bernama 'jatuh cinta'. Ah persetan.

Luhan diam. Memang benar jika Sehun pasti belum menerimanya, namun kenyataan bahwa Sehun tidak akan dapat ia miliki membuat hatinya sedikit dirundugi perasaan tak biasa.

Bagaimana Luhan akan than dengan keadaannya ini? Bagaimana Luhan akan mempertahankan semuanya jika Sehun saja tak ingin? Apakah memang benar ia harus bergantung pada Kris? Kembali menjadi milik Kris?

We Can Start It

Matahari malu malu menyapa Luhan melalui jendelanya. Memang semalam ia tak dapat tidur dengan nyenyak. Pikirannya kacau tak tau harus memilih mana. Apakah Kris masih seperti dulu? Mungkin benar jika Tuhan menggariskan Kris sebagai miliknya. Namun semuanya ini salah. Bagaimana bisa? Bukankah ini terlalu lucu bahkan sampai sampai terlalu lucu.

Tapi bicara soal Sehun, kemana ia? Ya, sisi ranjang Luhan telah kosong. Kemanakah sang pemilik? Ah mungkin Sehun sedang mandi.

Luhan berjalan menuju lantai bawah. Tujuannya adalah dapur, ia sebenarnya berencana membuat sarapan pagi ini. Namun tak sampai dia di dapur, ia melhat seorang laki laki yang sedang memasak berbagai makanan yang dapat dilihat dari baunya seperti enak.

Luhan tak terlalu yakin dengan laki laki itu. Karena tak mungkin ada seorang pelayan yang dari belakang saja tubuhnya tampak sangat menawan, apalagi dari depan. Meskipun Luhan menebak itu adalah Sehun, tapi tak mungkin juga kan Sehun ada di dapur? Untuk apa ia ada disini?

"Sehun, itu kamu?" Sapa Luhan yang memang setengah mati penasaran terhadap orang di dapur itu.

"Emm, bisa kau bantu aku?" Bukannya menjawab, Sehun malah meminta tolong kepada Luhan yang hanya ditanggapi oleh anggukannya. Diam diam Luhan bersyukur karena jujur ia menyukai Sehun yang seperti ini. Ah apa? Menyukai? Ya, mungkin hanya sebatas itu karena ia tau mereka tak akan pernah bisa saling mencintai.

"Tolong cicipi masakan yang telah aku sisakan sedikit itu Lu, jika rasanya buruk kau dapat jujur." Sehun seperti kemasukan setan sekarang. Luhan benar benar belum pernah bertemu Luhan yang seperti ini.

"Baiklah." Tanpa pikir panjang Luhan langsung menyergap makanan yang telah Sehun sisakan sedikit.

"Bagaimana Lu?" Tanya Sehun sejenak melirik Luhan.

"Tidak buruk. Ini enak." Jawab Luhan mendekat lagi kepada Luhan.

"Sepertinya ini tidak, aku sudah lama tidak memasak. Aku sedikit lupa bumbunya." Sehun sedari tadi seperti bukan dirinya. Entah jin apa yang memasuki Sehun yang jelas Luhan sangat sangat bersyukur.

"Tidak, ini benar benar enak. Tapi untuk apa kau memasak ini?" Luhan melupakan hal itu. Mengapa Sehun memasak semua ini. Apakah ini untuk dirinya? Bukankah ini sangat romantis. Apa ini Sehun yang sebenarnya?

Tak kunjung mendapat jawaban Luhan lalu sadar ini bukanlah pertanyaan bagus. Sial, Sehun bisa saja kehilangan setan yang tengah merasuki dirinya hingga seperti ini.

"Maaf jika pertanyaanku salah." Luhan menyesal. Melihat perubahan dari raut wajah Sehun yang semula tampak sedikit ceria kembali berubah menjadi Sehun yang dingin lagi.

Asal kalian tau saja, hati kecil Sehun yang membawa dirinya kemari dan memasakkan makanan makanan ini untuk sang istri. Tak tau kenapa ia sangat ingin melakuka hal ini. Bahkan sebelum ia berpikir alasan apa yang akan ia gunakan untuk membohongi Luhan karena perasaan ini, tak boleh ada orang yang tau. Karena jika ada orang tau diam diam Sehun memiliki perasaan ini, semua rencananya akan gagal.

"Ini untuk orang yang spesial." Jawab Sehun. Luhan terkejut mendengar jawaban Sehun, bahkan Sehun sendiri pun terkejut. Bodoh, rutuknya.

Bolehkah Luhan berharap? Bolehkah Luhan berharap jika ialah orang spesial itu?

Setengah jam berlalu. Ah itu berarti cukup lama, mereka disana dalam diam. Sama sama duduk di meja makan, namun tak ada satu pun yang mau membuka mulutnya. Mngkin setan yang merasuki Sehun telah keluar sehingga ia menjadi seperti biasanya.

Bukan, bukan seperti itu. Sehun hanya takut Luhan akan berasumsi Sehun menyukainya padahal Sehun sendiri belum tau faktanya.

Tak lama bel berbunyi, yang kemudian disambut oleh suara high heels menggema diseuruh ruangan. Posisi dapur yang memang ada dibawah mengharuskan pasangan itu menoleh kepada seseorang yang baru datang. Bukan orang lain memang. Tapi cukup membuat suatu kesalah pahaman.

"Ah dia telah datang rupanya." Sehun mengawali untuk membuka mulut, disusul dengan ia menghampiri perempuan itu, Tao.

"Aku telah menunggumu asal kau tau. Jangan kecewakan aku lagi dan ayo makanlah makanan buatanku." Ucapnya lagi pada Tao.

"Sehun" Tao hanya dapat mengucap kata itu.

"Ah iya Luhan, jika kau ingin kau dapat mengambil sebagian makanan ini, makanlah dengan Kris jika kau ingin." Sehun kemudian beralih kepada Luhan. Untuk kali ini Sehun pasti berterimakasih kepada Tao. Berbeda dengan Luhan yang berusaha menyatukan puing puing hatinya yang kembali diuji.

"Tidak, terimakasih Sehun. Aku akan membuat makanan sendiri saja nanti." Ucap Luhan sambil meninggalkan Sehun dan Tao. Ia tau Tao adalah kakak iparnya, namun ia juga tau betul bahwa Sehun adalah laki laki yang tak terduga.

Apalagi ini Sehun? Apakah ini permainanmu? Kalau begitu apakah aku boleh mendirikan permainanku sendiri ditas permainanmu? Kapan aku bisa keluar dari permainanmu?

.

.

.

.

.

.

TBC

Maafkan baru sempet apdet dan berantakan, maaf bangettt hiksss.

HunhanKristao be like : "Author mah minta maaf terus tapi diulang terus. Tampol bego, ntar kebiasaan."

Saran Kritik Pertanyaan saya persilahkan wq *efekkebanyakanpresentasi

Dan sekali lagi maafkan saya yang belum bisa bagi waktu ini okk

Makasiihh *tebar kemenyan* eh jangan *tebar kolor Sehun* eh jangan juga *tebar cium cantik dari bunda sama ayah* wqwq