Dan entah gimana, nafas Baekhyun menyentuh leher belakang nya membuat Chanyeol harus berusaha lebih fokus.

Dan saat menjauhi kamar mama, ia berkata "nafasmu tolong Baek. Jangan sampai kau malah menyulut nafsuku karena nafasmu menerpa tengkuk ku" ucap Chanyeol dengan suara rendah nya.

"maaf" cicit Baekhyun.

Chanyeol hanya menghela nafas.

Sesampai di teras, ia menurunkan Baekhyun untuk mengunci pintu lalu berjalan ke mobil dan mereka pun berangkat ke rumah Baekhyun.

Janji Kita

"Aku adalah orang yg sama dari masa lalu dan masa depan. Aku ingin mengubahnya semuanya dari masa kini karena aku tak ingin memulai dari masa lalu karena suatu alasan"

- Park Chanyeol

"mama" ucap Baekhyun bingung saat mamanya malah memberskan barang barang

"kau dari mana Baekhyun?" tanya mama nya dengan suara sedikit meninggi.

"rumah Chanyeol ma" ucap Baekhyun sedikit takut.

"kita harus pindah" ucap mama Baekhyun membuat Baekhyun terkejut.

"kenapa dan ke mana ma?" tanya Baekhyun bingung.

"rumah ini sudah di jual papa mu. Pria berengsek itu kalah judi dan menjadikan jaminan rumah ini. Jadi mama takut, kau malah menjadi jaminannya selanjutnya makanya kita harus pergi dari sini" ucap mama Baekhyun lalu ia masuk ke rumah memberskan barang barang.

"Chanyeol" cicit Baekhyun sedikit takut. Ia mulai merasa nyaman dengan Chanyeol dan tak ingin berpisah.

"aku akan bicara pada mama mu. Kau tunggu di sini ya?" ucap Chanyeol lalu ia masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, keadaannya sudah lengang. Sepertinya barang barang mereka sudah di pindahkan ke rumah baru mereka.

"tante, bisa kita bicara sebentar?" ucap Chanyeol sopan.

"kau ingin membicarakan apa nak?" tanya ibu Chanyeol yang tengah sibuk memainkan ponselnya.

"Baekhyun bisa tinggal di rumah ku. Lagi pula, kami sudah membuat kesepakatan tentang rumah itu".

"kalau tentang rumah itu saya sudah tau, tapi tetap saja, aku harus menyelamatkan anak kesayangan ku. Ayah Baekhyun itu sedikit tak waras. Ia bisa melakukan apapun pada ku terlebih Baekhyun" dan ia melihat Chanyeol dengan wajah sarat akan tak suka.

"aku akan melindunginya"

"atas dasar apa kau ingin melindunginya?" suaranya meninggi.

"aku mencintainya dan ingin menikahinya. Biarkan sekarang Baekhyun jadi tanggung jawabku" balas Chanyeol tetap dengan sopan.

"tapi aku masih belum bisa mempercayaimu, bocah"

"jadi dengan cara apa aku harus membuktikannya?"

Ibu Baekhyun terdiam. "lumayan juga anak itu tak akan menyusahkanku" guma ibu Baekhyun.

"Baiklah, bocah. Kau jaga Baekhyun ya. Ambil barang barangnya yg tersisah di kamarnya. Usahakan rumah ini benar benar tampak kosong. Jangan beritahu siapapun bahwa Baekhyun ada pada mu. Kau harus melindunginya".

"jadi mama akan ke mana?" tanya Baekhyun sambil berjalan ke arah ibunya.

"mama akan ke desa. Ke rumah nenek buyut. Kau sekolah baik baik ya. Tinggal bersama Chanyeol. Mama akan mengirimkan uang makan mu setiap bulan jadi nak Chanyeol, berikan nomor ponsel mu" ucap mama Baekhyun dan Chanyeol pun menurutinya.

"anggap saja Baekhyun ngekos di rumah nu. Kau Baekhyun, jangan menyusahkan orang lain. Mama akan sebisa mungkin menghubungimu okey. Jaga dirimu dan mama mempercayaimu sayang" ucap wanita parubaya itu lalu mengecup pucuk kepala Baekhyun.

"lalu kakak ke mana ma?" tanya Baekhyun dan melihat wajah ibunya dengan sedih.

"mereka sudah terlebih dahulu ke ibukota" ucapnya lalu memeluk Baekhyun. Mungkin ini adalah pelukan terakhir tapi, entah lah. Hanya Tuhan yang tau nasib mereka.

"aku akan merindukan mama" ucap Baekhyun membalas pelukan sang ibunda.

"sstt bersabar lah. Makanya kau sekolah baik baik okey? saat kau lulus nanti, ambil lah beasiswa ke luar negeri agar kau selamat dari papa mu" ucap ibu Baekhyun dan Baekhyun hanya menggangguk dan mereka melepaskan pelukan hangat tersebut.

"ya sudah mama harus segera ke terminal. Kau ambil barang mu yg tersisa ya? dan uang serta emas itu untuk sementara kau simpan. Mama percaya pada mu" ucap mama Baekhyun.

Baekhyun pun memeluk mama nya untuk terakhir kalinya. Dengan berat hati ia melepaskan pelukan itu lalu mama nya segera masuk ke taksi online yg di panggilnya.

Setelah kepergiannya, Baekhyun masuk ke dalam rumah mengambil beberapa barangnya di bantu oleh Chanyeol.

"jadi kau resmi benar benar tinggal di rumah ku" ucap Baekhyun sambil menahan senyum.

"ada kamar kosong kan di samping kamar mu? aku akan tinggal di sana" jawabnya lesu. Sangat berat rasanya meninggalkan rumah yang penuh kenangan ini.

"kenapa tidak di kamar ku?" goda Chanyeol

"kau gila? kita belum menikah dan hanya TEMAN" ucap Baekhyun menekan kata TEMAN.

Chanyeol jengkel dengan kata kata TEMAN itu. Ia pun mendorong Baekhyun pelang ke dinding dan memojokannya.

"bagaimana kalau hari ini kau menjadi pacar ku?" tanya Chanyeol dengan suara rendah tepat di telinga Baekhyun.

"apa?" tanya Baekhyun kaku. Ini tiba tiba baginya dan otaknya tidak bisa berfikir dengan jernih.

"aku mencintaimu Baek" ucap Chanyeol dan ia menatap intens Baekhyun tanpa ia tau hal itu mempengaruhi kinerja jantung Baekhyun.

Di tengah debaran jantungnya itu, Baekhyun mencoba mencari kebohongan di mata Chanyeol tapi hanya ketulusan yg di temuinya

"tapi tetap saja Chan, kita tak bisa satu kamar terus menerus sebelum adanya ikatan suci" jawab Baekhyun sedikit gugup apalagi melihat senyum Chanyeol yang semakin membuatnya salah tingkah.

"kau benar. Bisa bisa aku memakan mu kapanpun" balas namja itu kepada yoja manis di hadapannya.

Yeoja itupun mencubit perut kanan Chanyeol lalu mendorong Chanyeol menjauh.

"kau lapar?" tanya Chanyeol sambil berjalan ke arah mobil dengan membawa sekardus barang - barang Baekhyun.

"uhm aku lapar"

"kita ke mall sekalian membeli alat sekolah mu yg rusak" ucap Chanyeol dan Baekhyun membalas dengan tersenyum.

Sesampainya di mall, mereka langsung berbelanja kebutuhan Baekhyun.

Setelah itu, mereka masuk ke salah satu kafe dan Chanyeol memesankan makanan untuk makan malam mereka.

"kau sudah menghubungi ibumu?" tanya Baekhyun.

"oh iya" ucap Chanyeol teringat.

"halo ma" sapa Chanyeol saat telepon sudah terhubung.

"kau di mana Chanyeol?"

"kami di mall ma, membeli beberapa keperluan Baekhyun. Ibu Baekhyun menitipkan Baekhyun agar tinggal di rumah kita karena mereka mengalami sedikit masalah ma"

"kau bisa menceritakan nya saat makan malam jadi cepatlah pulang"

"tapi kami sudah makan deluan sekarang ma. Mama mau aku bawain apa?" tanya Chanyeol untuk mengurangi kemarahan sang ibu.

"tidak ada. Cepat lah segera pulang. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" ucapnya sambil berjalan menuju jendela kamarnya dan benar saja, ada kilatan petir yang menjilat jilat di langit malam itu.

"baik lah ma. Sudah dulu ya dah" ucap Chanyeol lalu memutuskan sambungan setelah di jawab iya oleh ibunya.

"apa kata mama mu?" tanya Baekhyun.

"kita harus menjelaskannya nanti di rumah"

"memang harus. Dan aku masih ingat tentang janji mu tadi soreh"

"yg mana?" tanya Chanyeol berpura pura lupa padahal ia tau maksud Baekhyun.

"aish museum itu. Aku masih merasa tak percaya dengan ucapan mu. 200 tahun yg lalu? yg benar saja" ucap Baekhyun kesal merasa Chanyeol seperti tengah mengarang cerita.

"apa kau masih punya buku sejarah smp?" tanya Chanyeol.

"tidak. Aku telah menghilangkan nya" ucap Baekhyun dan merasa semakin kesal kerena sepertinya Chanyeol mengalihkan pembicaraan.

"apa kau masih ingat tentang kerajaan Kim?" tanya Chanyeol dan tatapannya semakin intens melihat wajah imut yeoja di hadapannya. Selama itu Baekhyun, meskipun Baekhyun yeoja atau namja yang terpenting itu adalah Baekhyun. Orang yang ia cintai dan selamanya akan seperti itu.

"tidak. Kau berbohong kan? Jangan membohongiku Chanyeol!"

"tidak. Aku tidak membohongimu sayang. Ssh gimana ya menjelaskannya. Dulu ibu ku itu dari kejaraan Kim. Dan kau bisa mengetahui cerita kita dulu melalui selir kerajaan Kim. Nanti ada kerajaan Park dan Byun masuk di cerita kerajaan Kim" ucap Chanyeol mencoba meyakinkan Baekhyun.

"jadi sejak dulu kita memang memiliki darah Park dan Byun?" tanya Baekhyun.

"iyab. Kita mengalami reinkarnasi" ucap Chanyeol dan kembali tersenyum membuat Baekhyun kembali gugup.

"tapi kenapa hanya aku saja yg tidak ingat sementara kau ingat?" tanya Baekhyun dan mengalihkan tatapannya dari Chanyeol karena ia merasa gugup setiap kali Chanyeol menatap intes maupun tersenyum tampan seperti ini.

"ini adalah sebuah hukuman untuk ku Baek. Ini sungguh menyakitkan" ucap Chanyeol dan wajahnya berubah senduh sarat akan rasa bersalah.

"hukuman apanya?" tanya Baekhyun dan rasa gugupnya lenyap melihat wajah sendu namja di hadapannya.

"aku bahkan ingat di saat kita bertiga meninggal dengan tragis. Itu adalah bagian dari hukuman karena kesalahan yg ku lakukan" dan mata mereka kembali bertubrukan.

"kita bertiga? satu lagi siapa?" tanya Baekhyun bingung dan mencoba membaca mata Chanyeol dan menebak apakah ia berbohong atau tidak.

"Putra kita" ucap Chanyeol lalu tersenyum tulus.

"aku jadi semakin penasaran Chan" ucap Baekhyun lalu ia kembali mengunyah makanannya dan sial. Rasa gugupnya kembali muncul.

"aku akan menceritakannya dengan perlahan agar kau tidak syok" balas Chanyeol dan juga kembali menyantap makannya.

"apakah dulu kita menikah karena cinta?" tanya Baekhyun sesedikit takut entah karena apa.

"tidak. Tapi kita mati dengan saling mencintai" ucap Chanyeol sambil tersenyum lalu ia menyentuh tangan kiri Baekhyun sebentar lalu mengelus nya dan mata mereka berbicara. Chanyeol menatap Baekhyun dengan penuh cinta sementara Baekhyun masih bingung dengan semuanya ini.

Setelah percakapan itu, Baekhyun memilih diam dan mencoba mengingat tentang cerita keluarga Kim yg di maksud Chanyeol tadi sementara Chanyeol masih mengelus tangan kiri Baekhyun sambil menikmati wajah berpikir Baekhyun yg tampak imut.

"sudah selesai. Sebaikanya kita harus segera pulang. Daerah ini rawan banjir" dan Baekhyun melepaskan tangan nya dari genggam Chanyeol karena degupan jantungnya kembali membuatnya merasa aneh dan gugup.

"kau seperti trauma terhadap banjir" balas Chanyeol lalu mereka menghabiskan makanan di piring itu.

"tentu saja. Kerena banjir itu tak enak. Ia biasa membuat kerusakan dan penyakit padahal hanya air" jawabnya sambil tetap menghabiskan makanan di piringnya hingga tak tersisa.

"ya sudah ayo kita pulang" setelah makanan mereka habis lalu ia mengeluarkan dompet dan memanggil pelayan untuk membayar pesanan mereka.

Setelah itu, mereka bangkit dari bangku dan berjalan ke arah parkiran sambil Baekhyun tetap menggengam barang belanjaannya.

"Chanyeol" cicit Baekhyun tiba tiba sambil mengikuti Chanyeol dari belakang menuju mobil.

"ya?" tanya Chanyeol sambil tetap melangkah.

"terima kasih" ucap Baekhyun membuat Chanyeol berhenti dan menatap ke arah nya.

"tak perlu berterima kasih. Sudah kewajibanku memenuhi kebutuhanmu" dengan senyum tulus di akhir perkataannya.

"tapi kita masih anak sma Chanyeol belum bekerja" ucap Baekhyun tak enak.

"sejak smp aku bahkan sudah bermain dengan saham perusahaan" ucap Chanyeol membuat Baekhyun terdiam.

"dan kau sejak sma kelas 10 sudah bermain bisnis jual beli" ucap Chanyeol menebak.

"tapi penghasilannya hanya cukup buat pulsa internet".

"tapi itu sudah uang mu sendiri. Sudah lah tak usah di pikirkan. Ayo kita pulang. Mama pasti sudah menunggu di rumah".

"sekali lagi terima kasih" ucap Baekhyun saat mereka sudah di dalam mobil.

Chanyeol hanya tersenyum lalu menarik Baekhyun mendekat guna mencium dahi Baekhyun. Dan hal itu berhasil membuat Baekhyun merona.

"ayo pulang ke rumah kita" ucap Chanyeol lalu ia mulai menyalakan mobilnya.

Dan saat gas mobil mulai di pijak Chanyeol, suara guntur mengagetkan mereka.

"kita harus cepat" ucap Chanyeol dan ia mengendarai mobil sedikit terburu buru.

Saat di jalan, petir menyambar dengan keras membuat tubuh Baekhyun tersentak kaget dan mengigil ketakutan.

"hei kau masih takut petir?" tanya Chanyeol sambil tetap menyetir dan sesekali melihat yeoja tersebut.

"apakah dulu aku takut petir?" tanya Baekhyun pada Chanyeol.

"iya. Kau tetap taku petir" ucap Chanyeol lalu mencuri pandang ke arah Baekhyun.

"apakah dulu aku suka pedas?".

"tidak. Kau suka makanan manis".

"wah kau tau banyak tentang ku sementara aku tidak tau banyak tentang mu" ucap Baekhyun merajuk.

"kau bisa bertanya apapun tentang ku" balasnya. Ia merasa bersyukur karena ketakutan Baekhyun terhadap petir mulai teralihkan.

"apakah kemarin itu ciuman pertamamu?" tanya Baekhyun entah memiliki keberanian dari mana.

"iya. Itu ciuman pertama ku".

"tapi kau bilang dulu kita pernah punya seorang putra".

"kita memulai semuanya dari awal. Jadi yah walau dulu kita sudah melakukan sejauh itu tetap saja sekarang kita masih suci".

"tapi kau sudah menodai bibirku".

"kau tak suka ku cium?" tanya Chanyeol kembali menggoda Baekhyun nya.

"berhenti bertanya hal seperti itu" ucap Baekhyun sedikit membentak.

"tapi kau deluan memancingnya" ucap Chanyeol tersenyum senang melihat tingkah malu Baekhyun.

"baik lah pertanyaan lain. Apakah kau pernah memilik pacar?" tanyanya mencoba mengganti topik.

"pertanyaan mu selalu saja yg melewati batas privasi" ucap Chanyeol menggoda Baekhyun.

"baik lah baik aku akan diam saja" jawab Baekhyun kesal.

"kau yg pertama dan ku pastikan kau akan menjadi yg terakhir" ucap Chanyeol walaupun matanya seolah olah fokus ke jalanan, ia tetap bisa melihat Baekhyun melalui ekor matanya.

"kenapa? pada hal kau bisa mencari wanita lain yg lebih dari pada ku" jawab Baekhyun terkejut.

"karena ini sebuah hukuman. Aku tak bisa mengulanginya dengan wanita lain karena aku sudah di hukum oleh Tuhan sehingga aku hanya bisa fokus kepadamu" ucap Chanyeol dan ia kembali tersenyum tetap memandang jalanan.

Baekhyun hanya terdiam. Ia tak memiliki ide lain untuk menghangat suasana canggung tersebut. Dan berakhir dia memilih menutup mata dan jatuh tertidur di mobil. Chanyeol yg menyadari hal itu hanya membiarkan Baekhyun terlelap.

Sesampainya di rumah, Chanyeol pun keluar dari kursi mengemudi dan berjalan menuju kursi penumpang tempat Baekhyun masih terlelap. Ia membukakan pintu dan sabuk pengaman lalu menggendong tubuh tak sadarkan diri itu karena terlelap dengan lembut.

Tanpa ia sadari saat ia menaiki tangga, ibu Chanyeol mengintip dari celah pintu dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.

TBC