We Can Start It
.
.
.
.
.
Chapter 8
Seorang yang menangis sendirian di balkon kamar. Seorang yang tak tau sejak kapan menyesali semua takdirnya. Padahal seharusnya ia bersyukur dengan semua itu. Namun bagaimana? Dia Rindu. Memang apa yang dapat ia rindukan? Bukan Sehun, bukan juga Kris. Ia Rindu dengan rasanya dicintai. Maksudnya dicintai dan mencintai tanpa melakukan penghianatan. Luhan sangat rindu itu. Tapi masih layak kah Luhan mendapatkannya?
Sedari peristiwa itu yang Luhan lakukan adalah menghindari sebisa mungkin seorang Sehun. Bukan apa apa. Namun rasanya tak dianggap itu sakit. Bukankah pernah dijelaskan? Sangat menikam, tanpa darah. Dan itu membuat Sehun sekiranya mengibarkan bendera kekuasaannya terhadap Luhan.
Luhan sudah memilih. Luhan tak ingin hanya diam, melindungi perasaan seseorang dan tidak menghianatinya namun lelah juga memiliki batas akhirnya bukan? Dan Luhan tak ragu lagi. Bersama lagi dengan Kris bukanlah pilian yang salah. Jika ia diperlakukan sebegitu buruknya, bukankah ia juga bisa seperti itu? Ah tidak, Sehun bahkan tidak akan sedikitpun mempedulikannya. Jangan menginginkan Sehun terbakar api cemburu, Lu. Sehun malah akan membiarkanmu.
Seminggu telah berlalu semenjak kejadian itu. Dan Luhan hanya menjalankan tugas sebagaimana harusnya ia. Namun bedanya adalah ia harus berpura pura tidak mengenal Sehun walaupun setiap malam Sehun tidur di sampingnya, dan menghindarinya di setiap ia berada. Luhan merasa ia tak salah. Ia hanya ingin dihargai. Namun hal itu seperti tak mungkin.
Hari ini Luhan berencana untuk pergi bersama Kris. Ya, kemarin Luhan telah kembali menerima Kris untuk kembali berada di sisinya. Tentunya dengan pengetahuan Sehun namun tidak juga ia pedulikan. Luhan sendiri sudah tak mau menanti Sehun untuk menghargai dirinya. Sedangkan Kris tentunya dengan senang hati menyambut Luhan yang akan kembali ke sisinya. Kembali kepadanya saat menangis. Mengingat selama ini Kris selalu berperasaan buruk jika sesuatu terjadi pada Luhan. Tak tau mengapa seperti ada ikatan yang kuat antara mereka berdua. Tapi Kris suka itu. Setidaknya ia bisa melindungi Luhan.
"Sudah siap tuan putri?" Tanya Kris mengetuk pintu kamar Luhan.
"Sebentar lagi, Kris. Kau tunggulah dibawah." Jawab Luhan setengah berteriak agar Kris dapat mendengarnya.
Kris yang mendengar titah dari Luhan langsung pergi ke bawah, memberi waktu kepada Luhan untuk berdandan untuk kencan mereka.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya sang putri keluar dari persemayamannya, dengan wajah yang dipoles make up natural. Bibir tipisnya berwarna membuatnya terkesan sangat manis. Ia hanya mengenakan dress biru laut selutut dan kalung yang sederhana namun terlihat sangat pas pada tubuh mungilnya dan juga stiletto putih yang sangat indah terpasang di kakinya. Rambutnya yang coklat ia biarkan tergerai indah menyapu bahunya. Bak bidadari dari kahyangan, ia dapat membuat semua laki laki mematung dihadapannya, bahkan perempuan perempuan yang melihatnya pasti bertanya tanya dimanakah ia melakukan operasi plastik sehingga memiliki wajah se-bidadari itu. Padahal Luhan tidak sama sekali melakukan operasi plastik seumur hidupnya.
Kris yang pertama melihat Luhan langsung mematung, tak bergerak maupun berkata kata. Ia tak lagi dapat mendeskripsikan sempurna.
Dia tetap seperti dulu, tidak berubah maupun menghilang. Cantik.
"Oppa, apakah tidak cocok? Apa aku harus mengganti pakaianku?" Menyadari Kris yang hanya memandangi matanya tanpa bergerak maupun bicara, ia merasa seperti ada yang salah dari penampilannya.
"Ah, tidak. Kau eumm cantik. Ya maksudku kau sangat cantik." Kris tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
"Apakah aku harus berpamitan kepada Sehun?" Luhan dengan polosnya bertanya kepada Kris. Luhan merasa seharusnya ia berpamitan karena apapun yang terjadi Sehun tetaplah orang yang sebenarnya memilikinya. Ya, memilikinya. Baik fisik maupun eumm hati –mungkin.
"Tentu, apakah kau akan meneleponnya atau aku yang akan mengantarmu ke kantor an kau, berpamitanlah kepada Sehun." Tawar Kris kepada Luhan.
"Antar saja aku ke kantor. Eumm nanti bisakah kau menunggu di mobil saja? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Sehun." Luhan meminta kepada Kris. Luhan sebenarnya ingin membicarakan kepada Sehun tentang hubungan mereka. mengingat diantra mereka hanya ada saling diam, jika tak ada keperluan yang benar benar penting. Dan Luhan pun bahkan yakin bahwa Sehun sedang menjalin hubungan dengan Tao.
"Baiklah. Telfon aku jika terjadi apa apa." Kris tersenyum lalu menggandeng Luhan untuk berjalan menuju mobil hitamnya.
Di jalan, mereka tak bayak bicara. Itu karena Luhan yang lebih sering melirik ke handphone nya. Jika kalian bertanya apa yang membuatnya selalu memperhatikan ponselnya, jawabannya adalah pada Byun Baekhyun, sahabatnya yang selalu mendengar ceritanya setiap tengah malam yang meratapi nasibnya yang makin hari makin bertambah perasaannya terhadap suaminya itu.
Tak Sehun tau bahwa setiap malam Luhan selalu mencuri kesempatan untuk menelpn sahabatnya itu. Sebenarnya Luhan bisa saja bertemu saat keesokan harinya atau bagaimana dengan Baekhyun, namun Luhan tak ingin. Alasannya hanyalah ia lebih merasakan hal itu saat malam, karena saat malam mau tak mau ia harus menatap wajah malaikat yang setiap hari menghancurkan hatinya, Si Keparat Oh Sehun.
Kini Kris dan Luhan telah sampai pada salah satu restoran langganan mereka. Bukan untuk makan bersama, mereka membeli makanan ini untuk sang keparat. Luhan yang mengusulkan ide ini. Alasannya agar Sehun nanti tak perlu keluar kantor untuk makan siang dan sebagai istri yang baik ia berhak memberi makan suaminya.
Mereka sampai pada kantor Sehun, tepatnya mantan perusahaan Luhan. Dan Luhan menginjakkan kaki menuju perusahaan itu. Para karyawan tentu tidak asing dengan sosok Luhan karena ayahnya sering membawanya kesini, namun tentu saja ayahnya lebih sering membawanya ke perusahaan yang berada di China.
Namun sedari tadi ada sesuatu mengganjal dibenak Luhan. Tak tau apakah ini pertanda buruk atau sebaliknya, yang jelas Luhan tak suka ini. Atau mungkin karena ia hanya takut untuk berbicara dengan Sehun. Ah Lu, berubahlah jika kau ingin dihargai atau kau akan terjebak selalu di cerita ini.
Tak terasa stiletto yang Luhan kenakan sudah berada di depan ruangan sang Iblis. Baiklah saatnya mempersiapkan diri, Luhan. Semangat.
"Sudah kubilang siapapun itu kau harus mengetuk pintu." Satu hal yang terdengar saat Luhan baru saja membuka sepuluh centimeter pintu kantor Sehun.
"Maafkan aku. Tapi kita harus bicara, aku mohon." Luhan tak ingin berbasa basi. Ia hanya ingin mengutarakan semuanya sekarang.
"Luhan. Mengapa kau kesini. Aku sibuk." Jawab Sehun berharap Luhan enyah dari sana.
"Aku membawa makan siang. Dan aku ingin berbicara denganmu." Jawab Luhan tegas sambil memberikan makanan tadi untuk Sehun.
"Bukankah itu termasuk bicara Nyonya?" Jawab Sehun jengah.
"Oke, aku ingin bicara serius denganmu. Tentang pernikahan kita. Apa kau menganggap pernikahan kita adalah permainan?" Tanya Luhan langsung kepada Sehun.
"Emm, tidak sepenuhnya. Tapi ya. Setidaknya aku memiliki banyak untung. Selain perusahaan aku juga tak akan dijodohkan dengan jalang jalang atau sebagainya." Jelas Sehun menginginkan Luhan tak kembali bertanya. Namun malah mendapat jawaban air mata pada kelopak mata Luhan. Oke, Sehun membuatnya menangis.
"Wah, bukankah kau perlu berterimakasih padaku? Aku telah memberimu keuntungan, setidaknya hargai aku sedikit sebagai istrimu, bukan sampahmu. Dan aku juga akan berterimakasih kepadamu karena kau telah menyadarkanku. Seharusnya seseorang harus berharap tentang apa yang dapat dia harapkan. Dan ya, pertanyaan terakhir untukmu tuan Oh, apakah kau mencintaiku?" Luhan mengusap air matanya dengan punggung tangan dan jari lentiknya. Dengan sisa sisa emosi yang berusaha ia pendam ia ingin semua jelas, agar Luhan bisa mendirikan permainan diatas permainan Sehun. Bukankah itu lebih adil?
"Tuan Oh mari kita makan siang. Eh maaf aku mengganggu jadwal anda tuan, aku akan segera kembali." Bukan Sehun, itu Sekretarisnya, Irene.
Oh Tuhan kenapa dengan hati Luhan? Kenapa sakit sekali? Ia sebagai istrinya saja sangat jarang makan siang bersamanya. Lalu siapa itu?
"Ah, jadi memang benar, seharusnya takdir kita memang tidak bersama. Kau berselingkuh, akupun bisa. Kris akan menjadi pendampingku. Kris lah yang akan menjadi ayah dari anak anakku kelak. Kris yang akan selalu melindungiku. Bukan berengsek sepertimu." Sisa sisa kepingan hati Luhan yang hancur itu berusaha ia satukan kembali. Dan dengan air mata yang akan menjatuhi pipinya ia berlari menuju kamar mandi, mengutarakan semua perasaannya, dengan air mata. Sedangkan jarinya mengetikkan pesan kepada Kris bahwa ia pergi ke suatu tempat yang sangat penting.
Sehun mengacak rambutnya kasar. Dan setelahnya ia menelepon sekretarisnya tadi untuk kembali ke ruangannya. Tujuannya adalah ingin mengajak Irene kembali pada rencana awal mereka. Luhan? Paling sikapnya nanti akan berubah ketika ia dirumah. Bukankah Luhan adalah orang baik. Bahkan sangat baik hingga Sehun yang kini menyadari itu. Ya, Sehun kalah dengan rencananya. Sehun menyerah dan Sehun akan merubah rencananya untuk Luhan.
Sedangkan yang Luhan lakukan sekarang adalah meneteskan bulir air dari kelopak matanya atau dengan kata lain menangis. Mengeluarkan segala emosinya. Mengapa selama ini nasib buruklah yang selalu menghampirinya? Adakah seorang pangeran yang dapat melengkapi hidupnya? Luhan sendirian sekarang.
Ah untuk Kris, Luhan sudah mengetikkan pesan bahwa Luhan sedang ada urusan mendadak dengan Luhan.
Luhan butuh seseorang yang dapat membenarkannya, melarangnya meneteskan air mata itu. Luhan butuh kakaknya. Luhan tidak mau sendirian. Apalagi disini, ia harus pergi ke tempatnya seperti biasanya. Tempat dimana bulan dan bintang dapat menjadi teman sejati untuk mendengarkan dongeng sendunya dengan alunan suara tangisan yang semakin menjadi.
We Can Start It
Sehun kini berada di sebuah tempat perbelanjaan bersama Irene. Tepatnya mereka berada di toko perhiasan. Sehun memang sengaja mengajak Irene untuk membeli cincin berlapis berlian itu.
Ah jangan salah paham dulu, Sehun hanya mengajak Irene karena ia menganggap jari Irene akan pas jika untuk mengukur cincin khusus pesanan Sehun itu. Lantas untuk siapa cincin itu?
Tentu untuk Luhan.
Sudah lama sebenarnya, Sehun merasakan sesuatu aneh mengganjal di kepalanya. Ah tidak, lebih tepatnya di hatinya. Luhan mengabaikannya. Dan mengapa rasanya sakit? Apakah ini yang selama ini ia rasakan selama ini?
Seminggu yang lalu Luhan juga mengatakan kepada Sehun bahwa ia sering bersama dengan Kris, dan kenapa ia ingin melempar jauh jauh Kris dari hidupnya. Sehun telah menyadari itu.
Sehun akui dia pria terbodoh di dunia. Sehun telah diberikan banyak anugerah dari sang Tuhan. Dan kenapa ia sia siakan? Ia anggap sampah. Seorang manusia berwajah bakbidadari dan berhati malaikat telah dikirimkan untuknya, lalu kenapa Sehun lebih memikirkan rencana awalnya yang bahkan sudah hampir berhasil.
Sehun menyesal, karena Sehun mencintainya. Namun pertanyaannya apakah hati Luhan masih sanggup untuk diberikan kepada Sehun sedangkan ia dihantui perasaan sakit ketika berada di sekitarnya.
Aku mencintainya, namun terlambat.
Rencananya Sehun akan menga,bil cincin itu bersama Irene dan akan memberikan sebuah kejutan untuk Luhan. Namun kejadian tadi siang pasti akan sedikit merusak kejutan untuk Luhan, namun tak apa. Setelah ini Sehun pasti akan bisa melanjutkan hidupnya dengan Luhan sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Setelah selesai mengambil cincin berlian tadi, Sehun beralih ke toko pakaian. Ia ingin mengajak Luhan untuk makan malam di restoran mewah dan Sehun akan meminta maaf akan segalanya. Maka dari itu Sehun ingin memberikan Luhan gaun tercantik untuknya. Terlihat seperti Cinderella dan Pangerannya, mereka pasti akan cocok. Dan pilihan Sehun jatuh kepada gaun merah yang ia tebak akan sangat pas dengan tubuh mungil Luhan. Sehun menyunggingkan senyum tampannya membayangkan sang istri yang cantik memakai gaun itu.
"Aku banyak bersalah padanya." Bicara Sehun kepada Irene yang kini sedang makan siang bersamanya.
"Ya, maafkan aku yang tadi menggangu kalian tuan. Tolong sampaikan maafku pada nyonya Oh. Aku tidak bermaksud membuat kalian bertengkar." Irene menjawab. Ia meminta maaf karena ia jugalah yang memacu pertengkaran mereka.
"Tak apa. Ngomong ngomong terima kasih telah menemaniku hari ini memilihkan segalanya untuk Luhan." Sehun menjawab.
"Aku harus mempersiapkan diri dan juga memberitahukan kepada Luhan. Sekali lagi terimakasih Irene." Pamit Sehun dan kemudian meninggalkan Irene.
"Seandainya aku dapat menjadi Luhan. Kau sangat beruntung Lu. Aku telah mengharapkan Sehun sejak bangku SD tetapi dia tidak mengenalku lagi sepertinya." Ucap Irene pelan berharap tidak ada yang mendengarnya.
Sesampainya dirumah Sehun langsung mencari Luhan karena memang Luhanlah tujuannya. Dan ya, Luhan tidak ada.
Tersangka pertama Sehun yaitu Kris karena beberapa hari terakhir ini Kris lah yang sering berjalan keluar bersama Luhan. Ah bukankah itu aneh sementara Tao mengisi waktu luang dengan bekerja sepanjang hari?
"Kau dirumah? Kemana Luhan?" Itu kalimat pertama yang diucapkan Sehun ketika mendapati Kris sedang berada di kamar dengan pakaian serba rapi.
"Kau pikir siapa suaminya?" Jawab Kris dengan nada tak suka. Tak tau mengapa firasatnya buruk terhadap Luhan. Seperti Luhan sedang memanggilnya namun ia tak tau Luhan dimana.
"Katakan padaku dimana Luhan?" Sekarang Sehun sudah mulai menaikkan suaraya.
"Well, sebenarnya hari ini aku berniat akan melamar Luhan, namun ia mengatakan bahwa ia akan mengantarkan makan siang dulu kepadamu dan setelah itu dia pergi dan hanya meninggalkan pesan kepadaku. Untuk kali ini, firasatku sangat buruk terhadap Luhan. Dan jika terjadi apa apa dengan Luhan jangan harap kau bisa bertemu dengannya lagi." Jelas Kris padat dan jelas.
Sehun yang tak tahan langsung keluar dari kamar Kris dengan berlari. Ia juga berlari menuju mobil kesayangannya menuju tempat tempat tertentu berharap ia dapat menemukan Luhannya. Bukankah ini sangat memalukan? Luhannya pergi meninggalkannya sementara ia sedang berada di ambang perasaanya.
Dan untuk pertama kali ini, Sehun menangis.
Ia berlari menuju kantor. Mengintruksikan seluruh karyawannya mencari Luhan di kawasan kantor. Memeriksa beberapa cctv agar menemukan Luhannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah Luhan yang masuk lalu keluar kamar mandi yang dapat Sehun tebak ia sedang menangis.
Sehun benci ini, dimana rasa bersalahnya harus ditebus dengan kehilangannya. Apakah ini satu satunya takdir untuk Sehun?
Luhan bukan orang yang mudah menangis, kecuali saat dirinya merasa hampa. Dan bahkan Sehun tidak banyak mengetahui alasan apa yang membuat Luhan menangis. Yang Sehun tau hanyalah Luhan sering sekali pergi ke suatu tempat ketika ia sedang menangis.
Ah, tempat itu. Sehun harus kesana sekarang. Luhannya ada disana. Dan Sehun berani menjamin itu.
Sehun memasuki mobil sport nya itu lagi. Dengan wajah yang lebih cerah daripada tadi ia melajukan mobilnya menuju tempat Luhan.
Ah apa ini? Telepon ditengah tengah jalan seperti ini? Saat Sehun sedang menyetir menuju masa depannya? Ingin rasanya ia membanting kerasa ponselnya. Namun tunggu, siapa yang menelepon?
Luhan?
Ada apa ia menelepon?
"Halo, Lu. Kau dimana?"
"..."
"Apa? Luhan kecelakaan?"
.
.
.
.
.
.
TBC
HAI JANGAN BUNUH DEDEK KARENA TBC NYA GANTUNG OKE?
Jangan salahkan dedek kalo ceritanya pendek dan gaje.
Sering banget bilang maaf yaampun maafin gueee serius maafinn.
Dan makasih banyak loh yang udah baca apalagi yang review.
Dan buat yang baca tapi nggak review mbok ya dimasukin saran kritik atau gimana gitu.
Beneran deh aku gak sombong kok.
Kalo yang mau chat aku silahkan loh, aku nggak sombong beneran. Nambah temen gitu.
DAN TERAKHIR MARILAH KITA BERDOA AGAR HUNHAN KEMBALI DIPERSATUKAN
