"Halo, Lu. Kau dimana?"

"..."

"Apa? Luhan kecelakaan?"

We Can Start It

.

.

.

.

.

Chapter 8

Tanpa ragu Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Keselamatannya? Ia tak peduli. Yang pasti pikirannya hanya dipenuhi oleh Luhan. Apakah Luhannya baik baik saja? Ah Tuhan bagaimana ini.

Melodi dari klakson mobil menjadi sebuah musik menantang untuk Sehun. Bukannya takut ia malah melajukan kendaraannya lebih cepat menuju rumah sakit. Baru saja ia mendapat kabar bahwa sang istri tertabrak oleh sebuah taksi ketika sedang menyeberang jalan.

Sehun hanya dapat berucap kecil, berharap Luhannya baik baik saja karena ia tau Luhan adalah perempuan kuat. Luhannya harus tetap disisinya, setidaknya sampai ia tau Sehun mencintainya.

Sekali lagi, Sehun mencintainya.

Sampai dirumah sakit Sehun berlari sebisanya. Mencari ada dimanakah Luhannya kini. Dan sekali lagi, ia sangat berharap pada Luhannya. Luhan miliknya. Luhan untuknya. Ah Sehun pria bodoh. Bukankah Luhan seperti ini karena salah pahamnya tadi?

Itu dia,Luhan. Kakinya, Sehun tidak suka melihat kakinya yang lemas. Sehun tidak suka melihat wajahnya yang pucat. Bagaimana seorang bidadari bisa seperti ini? Bukankah hanya seorang iblis dari neraka terjauh yang dapat membuat bidadari seperti ini, dan itu Sehun.

Mata Luhan terpejam. Mengapa ini? Apakah ada yang salah dengannya? Tidak ada luka ditubuhnya, hanya goresan sedikit. Namun mengapa sepertinya Luhan enggan membukakan matanya sedetik saja.

Dengan hati yang tidak dapat ia kendalikan, Sehun menghampiri dokter. Sesekali membentaknya karena tidak kunjung menjawab apa yang dialami Luhan. Dan jawaban yang didapat Sehun

Luhan sering mengeluh kepalanya sakit.

Dugaannya adalah karena benturan yang terjadi cukup keras.

Dan juga, ada satu hal yang sepertinya belum Sehun ketahui.

Luhannya sedang mengandung, seorang bayi dari iblis dan bidadari.

Namun Sehun sendiri baru mengetahuinya.

Dan itu salah Oh Sehun.

Keparat.


We Can Start It


Kris sedang berada di kantor polisi. Ia memilih untuk menuju kesana karena ia merasa Luhannya sudah aman. Kecuali jika ada Sehun disana. Kris tak akan membiarkannya. Kris saja yang tidak tahu.

Sedangkan di rumah sakit, kini ada seorang lagi yang ikut menunggu Luhan, dialah Baekhyun. Beberapa saat yang lalu memang Sehun menelepon Chanyeol, meminta agar Baekhyun kesini. Mengapa? Karena ia memang mengetahui setiap malam Luhannya sering menelepon Baekhyun untuk bercerita tentang dongeng mirisnya. Bahkan Sehun sudah mempersiapkan kalimat indah permintaan maaf dari hasil mengupingnya itu. Ah mengapa takdir begitu kejam.

Disini hanya ada diam. Tidak Baekhyun maupun Sehun berbicara, Chanyeol yang mengantar Baekhyun pun turut membisu. Jujur ia sangat marah kepada sahabatnya yang sungguh begitu bajingan bisa menganggap bidadari serapuh itu sebagai sampah, dan itu adalah dosa besar.

"Ah jika hanya diam. Lebih baik aku tak membawa Baekhyun kesini. Dia hanya khawatir disini."

Chanyeol kesal dengan kebisuan itu, dia berdiri dan menggandeng tangan Baekhyun agar ia turut pulang bersamanya. Namun tanggan Sehun berhasil memegang tangan Baekhyun juga berharap Baekhyun tetap disini, menjelaskan semua. Tentu saja itu berarti, karena itu tentang malaikat kecilnya. Tentang hidupnya seorang malaikat yang pasti dapat mengubah sang iblis menjadi malaikat juga.

"Jelaskan, Baek." Hanya satu kata namun berarti. Sehun sangat mengharapkan penjelasan itu.

"Kau tau aku tak tau. Jangan berurusan lagi dengan Luhan. Dia terluka. Dia mencintaimu namun kau tak pernah membuatnya ada." Baekhyun enggan menatap Sehun. Dia benar, Luhan mencintai Sehun. Namun kebohongan bahwa ia tak tau tentang kehamilan Luhanlah yang membuatnya tak nyaman yang sangat.

"Lalu untuk apa kau bertemu dengannya hampir setiap hari? Bertelefon dengannya setiap malam?" Sehun menaikkan nadanya, ia hampir tak bisa mengendalikan amarahnya. Dia salah. Dia yang patut disalahkan dari semua yang ada memang. Namun apakah salah ia mengetahui bagaimana kesalahannya.

"Harusnya kau tau diri tuan, aku permisi. Tolong jauhi Luhanku. Aku akan menjemputnya jika ia sudah sehat. Terimakasih." Baekhyun menjawab lagi, ah bukan jawaban. Itu pernyataan sepihak menyakitkan.

Sehun tersenyum miris. Ia pecundang memang.

"Aku mohon Baek. Aku sadar aku salah. Aku mencintai Luhan. Apa aku harus mengulangnya? Aku mencintai Luhan. Tolong jelaskan apa yang pernah ia ceritakan kepadamu. Aku mohon." Sehun memohon. Lututnya sudah terasa lemas.

"Luhan hamil anakmu, bodoh. Dan sekarang apa yang telah kau lakukan kepada Luhan, bodoh?" Baekhyun meluapkan amarahnya. Matanya memerah melihat sahabatnya seperti itu. Bagaimana yang akan terjadi jika ia mengetahui anaknya hialang. Namun disisi lain Sehun juga bahagia mendengar Sehun juga mencintai Luhan walaupun Baekhyun sendiri belum bisa mempercayainya.

"Dia tidak terlalu kuat Sehun. Dia lemah. Dan kau membuatnya seolah olah dia sangat kuat. Jauhilah Luhan kumohon. Dia bukan untukmu." Baekhyun melanjutkan kata katanya dengan sisa sisa amarahnya. Dia bahkan bisa merasakan sakitnya walaupun tak mengalaminya, apalagi Luhannya.

Sedangkan Sehun, apa yang bisa dilakukannya? Ia hanya bisa mengacak rambutnya kasar, menyesali semua kesalahannya. Sehun bodoh dan ia tau itu. Andai waktu bisa diputar kembali ia berjanji akan memperlakukan Luhan sebagai Yang Mulia. Ia janji, asalkan ia dan Luhan akan tetap bersama.

"Baek." Suara Lenguhan kecil memanggil nama Baekhyun dari ranjang rumah sakit itu mengalihkan semua pandangan. Sang topik kini telah membuka matanya. Dan dia, ah jangan bilang dia mendengar semuanya. Bodoh.

"Lu, kau baik?" Tanya Baekhyun kepada Luhan.

"Baek." Panggil Luhan lagi.

Dan Baekhyun seolah mengerti, ia menghampiri Luhan. Membiarkan Luhan terisak di pelukannya. Ia tau sahabatnya sangat terluka.

Sehun hanya mematung. Tak berani berbuat apapun. Ia hanyalah seorang pecudang yang dengan keparatnya membuat Luhan menjadi seorang sampah. Matanya bahkan tak berani menatap Luhan. Di kelopak matanya, hanya terdapat bayangan kesalahannya. Di nafasnya hanya terhembuskan kata maaf. Dan di hatinya hanya menggumamkan kata "Aku mencintaimu, jangan pergi."

Dan kini mata Luhan menatap Sehun. Entah pandangan apa itu, yang jelas ia seperti tak ingin berada di dekat Sehun lagi. Entah perasaan tidak nyaman atau perasaan marah. Namun ia tetap butuh pengertian dari seorang pecundang itu.

Dan lagi, Sehun memang tak berani dan meninggalkan ruangan itu disambut tangisan Luhan yang memuncak. Sehun bukan meninggalkan Luhan selamanya, ia hanya memberi waktu Luhannya.

Tak lama setelah Sehun pergi dari rumah sakit, Kris sampai di rumah sakit.

Kris memeluk Luhan sekarang. Dan Luhan sangat suka pelukan ini, rasanya seperti ia menjadi tenang. Entah mengapa. Luhan suka ini.

"Dia tadi kesini." Chanyeol memberi tahu Kris. Dia yang dimaksud adalah Sehun.

"Biarkan saja, ini akan menjadi terakhir kalinya ia menemui Luhan." Jawab Kris tak memandang wajah Chanyeol. Luhan terkejut tentu saja dengan pernyataan tadi. Harunya ia bahagia. Namun tidak, ia ia juga akan kehilangan kehidupannya dan anaknya? Lalu jika ia dan Kris akan pergi, bagaimana dengan Tao?

Ngomong ngomong soal Tao, dia akan pulang tiga hari lagi dari China. Dan itu juga karena Sehun yang memintanya.

"Baek, kau bisa pulang sekarang, biar Luhan denganku." Kris berujar dengan lembut kepada Baekhyun. Dan Baekhyun menuruti saja. Ia dan Chanyeol pulang ke rumah.

Kini hanya mereka berdua di ruangan itu.

"Besok kita akan pulang." Kris mengajak Luhan berbicara.

"Ya, aku harus menjelaskan semuanya kepada Sehun." Jawab Luhan santai namun penuh arti.

"Tidak ada yang perlu menjelaskan atau dijelaskan. Kalian tidak digariskan bersama. Kau pikir kelakuannya kepadamu bisa kau maafkan? Kita hanya pulang untuk mengemasi barang. Setelah itu kita pergi. Jauh Lu, Jauh hingga tak ada satupun dari mereka yang bisa menemukan kita." Jelas Kris dengan penuh penekanan. Ia tau ia salah jika memaksakan semua pada Luhan. Tapi a yakin dan sangat yakin kalau inilah yang terbaik untuk Luhan.

"Tapi Kris, Dia perlu tau!" Luhan kini merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia ingin memaki pada semua yang ada disekitarnya. Ia ingin mengumumkan juga kepada seluruh makhluk di bumi ini, ia gagal menjadi istri yang baik. Yang membiarkan suaminya selalu bersama sekretarisnya. Yang tidak berusaha mengambil hati suaminya. Yang hanya berusaha terlihat bahagia di depan suaminya tanpa tau apa sebenarnya yang diinginkan suaminya. Luhan merasa sangat bodoh. Dan lagi, dia membiarkan Sehun tidak mengetahui, Luhannya kini sedang mengandung malaikatnya sendiri.

"Apalagi yang perlu ia ketahui Lu? Paling tidak kau hanya akan mengatakan kau baik baik saja dan kembali tersiksa bersamanya. Kau pikir aku akan membiarkanmu? Tidak dan tidak akan pernah." Kris berkata lagi kepada Luhan, dan kini hanya dihadiahi isakan kecil dari Luhan.

"Kau tidak tau Kris, tapi aku harus mengatakannya. Cepat atau lambat."


We Can Start It


Disini Sehun sekarang. Taman yang biasa Luhan gunakan untuk menumpahkan semua kesalnya, semua amarahnya.

Sehun menyesal,sungguh. Apalagi yang dapat ia lakukan? Memohon? Terlambat.

Sehun menggenggam cincin dan kalung yang akan ia berikan kepada Luhan. Mengingat semua perbuatannya kepada Luhan, yang membuat ia kini kehilangan Luhan.

"Wah, apa itu. Gadis pemberani, baru sehari kau menikah dan kau berselingkuh secepat ini? Dan kuacungi kau jempol karena kau berhasil menggaet kakakku sendiri yang telah Beristri!"

"Aku ingin kau menyelesaikan permainanku. Dan setelah itu, aku akan melepaskanmu."

"Apakah sudah cukup bicaranya? Ayolah aku lelah dan ingin beristirahat. Ah apakah sebentar lagi kalian akan berciuman? Baiklah kutunggu lima menit dan aku harap aku dapat beristirahat dengan tenang tanpa rengekan sok tegar dari kalian."

"Emm, tidak sepenuhnya. Tapi ya. Setidaknya aku memiliki banyak untung. Selain perusahaan aku juga tak akan dijodohkan dengan jalang jalang atau sebagainya."

"Aku mencintaimu, jangan pergi."

Semua perkataannya, terlintas di pikirannya. YaTuhan tolong maafkan kesalahan Sehun kepada Luhan. Sehun tak bisa tanpa Luhan.

Sehun mengacak rambutnya asal. Ia terlalu pusing memikirkan segalanya. Rasanya seperti hancur.

Bukankah ia adalah suami yang gagal? Anaknya, bahkan ia tak tau Luhan sedang mengandung anaknya.

Ia mengingat salah satu saatnya bersama Luhan.

Dulu Luhan berusaha berbicara dengannya. Memohon kepada Sehun agar ia memeluk Luhan semalam saja. Luhan berkata ia tidak tau kenapa dan ia memohon kepada Sehun untuk memeluknya semalam saja. Dan Sehun dengan bodohnya malah menolaknya dan memilih untuk tidur di sofa ruang tamu.

Jika saja ia tau, ada nyawa lain didalam tubuh Luhan, ia tak akan seperti itu.

Namun sekarang. Sehun hanya dapat menyesal untuk segalanya. Menyesal untuk perbuatannya. Menyesal untuk perkataanya. Menyesal untuk menyia nyiakan miliknya.

Tapi Sehun mohon, Sehun sangat memohon untuk ini. Tolong jangan hilangkan semua ini dari kehidupan Sehun. Karena mereka kehidupan Sehun. Bahkan saat kehidupan itu baru akan Sehun buat, apakah Tuhan akan se tega itu membuat Sehun kehilanganya?

Sehun melangkah menuju mobilnya. Ia berniat pulang sekarang. Badannya telah lelah, tapi tak selelah pikirannya, apalagi hatinya. Ia ingin tidur sejenak, melupakan semua hal yang terjadi hari ini. Melupakan masa depannya.

Saat berjalan, ia menemukan sebuah toko. Ia masuk, berharap ada sesuatu yang dapat ia berikan kepada Luhan untuk permintaan maafnya. Tak sebanding memang, namun ia tetap berharap.

Sehun menemukan sebuah boneka beruang putih yang memeluk sebuah boneka kecil didepannya. Dan Sehun memilihnya.

Sampainya dirumah, Sehun memasuki kamarnya. Disini masih tercium aroma tubuh Luhan. Sehun mengambil bonekanya.

Dan ia merekam suaranya.

"Aku bersalah, maaf. Aku mencintaimu."

Ia menekan bonekanya, mendengarkan suaranya sendiri. Setelah ini, ia berniat untuk pergi seharian penuh, tidak pulang kerumah. Agar Luhannya dapat memiliki waktu sendiri. Besok Sehun akan pergi. Dari pagi buta hingga pagi selanjutnya dan mematikan ponselnya.

Sehun beralih ke dapur. Ia beberapa waktu yang lalu saat Sehun terbangun di malam hari dan akan melanjutkan pekerjaannya, ia melihat Luhan sedang membuat teh sendiri. Menikmatinya seperti ia tidak pernah meminumnya berabad abad. Namun Sehun kembali merasa tertampar setelah mengingat dulu ia bahkan tak berani mendekat kepada Luhan demi rencananya. Agar rencananya tak tercampur aduk dengan perasaannya. Dan kini Sehun kehilangan keduanya,bukan? Bodoh.

Sehun kembali masuk ke kamar. Ia menuju meja dimana Luhan sering menulis atau embaca beberapa novel terjemahan.

Sehun menemukan sebuah buku dengan gambar sampul bertuliskan 'MINE' yang Sehun yakini adalah buku harian Luhan. Ia membuka halaman pertamanya.

"Kemarin aku telah menikah. Dear Diary, bisakah kisahku kali ini lebih indah dari kisah Romeo dan Juliet yang mati bersama? Bisakah kisahku kali ini berakhir tanpa perpisahan menyakitkan?
Dear Diary, aku ingin pernikahanku bahagia.
Setiap pagi bangun dan melihat wajah suamiku yang tampan.
Membuatkan sarapan dirinya.
Menyiapkan pakaiannya untuk bekerja.
Memiliki anak dengannya dan hidup bahagia sampai kita menua."

Sehun membuka halaman kedua.

"Hari ini aku akan ke mansion suamiku. Aku akan tinggal bersama mantan kekasihku. Bukankah itu sedikit keterlaluan?
Aku tak ingin terjadi kesalah pahaman.
Tadi Kris menghubungiku dan Sehun mengetahuinya.
Sehun menolak penjelasanku.
Tapi aku akan berusaha memenangkanya haha.
Walaupun dia sepertinya agak dingin."

Sehun kembali menyimpan diary itu. Bisa bisanya Luhan masih memiliki buku itu. Apakah itu tak terlalu kekanakan? Tapi tak apa, setidaknya nantinya Sehun dapat mengetahui perasaan Luhan dari buku itu.

Sehun meletakkan kalung dan cincinnya kedalam buku itu, Di sampingnya ia menuliskan,

"Aku tau kau butuh waktu sendiri, jangan pergi, aku mencintaimu."

Berharap Luhan membacanya dan mengerti ia mencintainya.


We Can Start It


Esoknya Luhan diajak Kris kembali ke rumah. Ya, seperti keinginannya tadi diawal bahwa ia akan membawa Luhan pergi sejauh mungkin dengan Sehun.

Sampai dirumah Luhan menuju kamar. Sehun tak ada disana. Apakah ia pergi? Benarkah ia sama sekali tak mempedulikan Luhan?

Luhan kemudian mengemasi semua barangnya. Membawa salah satu baju Sehun. Ia tau ia akan merindukan Sehun, ah anaknya yang merindukan Sehun. Kehamilannya membuatnya sering menginginkan untuk berada di dekat Sehun, walaupun itu sering Luhan lakukan dengan mencuri curi kesempatan. Kadang demi ingin mencium aroma tubuh Sehun, Luhan mencari cari baju yang baru saja dipakai Sehun.

Luhan ragu. Bisakah ia melewati ini semua tanpa Sehun? Padahal kemarin ia sangat marah kepada Sehun, tapi kenapa hari ini ia sangat rindu? Ah Luhan tak akan memperdulikannya lagi.

Luhan mengambil kertas. Menuliskan sebuah surat yang cukup panjang kepada Sehun. Entah apa yang ditulisnya, namun air matanya menetes dengan jelas dipipinya.

Baru kali ini Luhan merasakan sakit yang seperti ini. Sakit sekali. Bukankah Luhan juga manusia? Bukankah manusia juga butuh istirahat? Terimakasih Sehun atas penderitaan Luhan.

Luhan melihat Kris sudah berada dibawah menunggu Luhan.

Luhan memasukkan semua novel yang belum ia baca ke dalam tasnya. Memasukkan diarynya ke dalam tasnya. Dan terakhir ia berusaha menelepon Sehun. Berpamitan agar Sehun mau dan anaknya.

Namun nihil, ponselnya tidak aktif.

Kini tinggal Luhan melangkah pergi. Luhan menyerah. Luhan kalah.

Maafkan aku Sehun, aku bukan istri yang baik. Jaga dirimu, jangan biarkan tubuhmu sakit. Mungkin anak kita tak mengenalmu sebagai ayahnya. Namun nanti aku akan mengenalkan kau kepadanya. Terimakasih Sehun. Aku pergi. Selamat tinggal.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Pendek lagi kan ya. Lama lagi kan ya.

Duh maafin nggak bisa ngusahain panjang sama cepet. Ini juga berantakan ya? Sekali nulis ini.

Tuhkan Luhannya pergi, sukurin tuh, Hun

Maafin pokoknya kalo gagal baper wkwk

Jangan lupa ripiu ya wqwq^^