"Amma, ice cream. I want ice cream", tangan kecilnya menarik Luhan ke caffe dipinggir jalan. Tempat eskrim gelato dengan banyak rasa ditata rapi.

"No El, you won't"

"Daddy, amma jahat. I want ice cream. Satu saja", Elafi mengeluarkan puppy eyes andalannya kepada Kris

.

.

"Wait uncle, i know him"

"Is that Appa?"

WE CAN START IT

.

.

.

.

.

Chapter 10

"Baek, aku ingin memberinya nama Elafi. Elafi adalah bahasa Yunani dari rusa. Sehun pasti menyukai nama ini. Aku tidak sabar menunggu Sehun melihat Elafi". Rona bahagia sangat tersirat dari wajah Luhan saat ia mendengar suara bayi mungil digendonganya itu.
"Apakah itu hidung Sehun?", sambil tertawa Luhan menelisik wajah Elafi yang pertama kalinya ia lihat.
"Dia cantik sekali, Lu. Sama sepertimu", Baekhyun juga tak kalah bahagianya saat melihat wajah Elafi.

.

Tiga tahun lalu, Luhan sangat ingat bagaimana sakitnya melahirkan Elafi tanpa Sehun. Tanpa ada bayang-bayang Sehun yang sekedar melihatnya sebelum ia pergi. Sehun benar-benar hilang. Bahkan untuk anaknya, Sehun tak mau menampakkan dirinya.

Saat Luhan masih dirumah sakit, menunggu keadaan membaik dan Elafi dapat dibawa keluar dari NICU, tak nampak sedikitpun suara dari suaminya itu. Setelah sakitnya melahirkan dan kecewanya bahwa Sehun sendiri tidak mau menemui anaknya, Luhan sudah cukup diyakinkan, Sehun tidak menginginkannya. Permainannya usai, Sehun menang. Sehun sudah bermain-main dalam hidupnya. Dan ia tak berubah, tetap saja ia bonekanya.

.

Setelah keadaan membaik, Kris mengajak Luhan untuk pindah dengannya ke New York. Membangun keluarga baru tanpa siapapun, tanpa mengikuti alur permainan siapapun. Melihat Elafi tumbuh dan bersenang senang mengganti waktu yang dulu pernah di sia-siakan.

Elafi adalah anak yang baik. Dua tahun ini perkembangannya bisa dibilang cukup cepat. Bahkan di usia tiga tahun, ia sudah lancar berbicara dua bahasa. Ya, Elafi juga diajarkan bahasa Inggris oleh Kris dan Luhan. Elafi juga periang, persis seperti Luhan. Selalu mengajak orang lain tertawa bersamanya. Mekipun begitu, Elafi sedikit keras kepala. Tidak heran, sifat Sehun kali ini terlalu dominan untuk tidak diturunkan pada Elafi. Urusan penampilan, sudah pasti bagaimana wajah khas Asia tampak begitu sempurna pada Elafi. Orang-orang diluar sana pasti akan mengira Luhan-Kris-Elafi adalah pasangan yang sangat serasi.

.

.

"Amma, Daddy. Look. Aku menggambar ini. This is amma, this is daddy, this is El, and this is appa."
Elafi dengan semangat menunjukkan gambar empat orang sedang bergandengan di sebuah taman.

"Wait. Who is this?" Kris sempat kaget saat Elafi menunjuk gambar laki-laki yang disebutnya appa.

"Ini appa, dad."

"Kenapa El gambar appa juga?" Luhan bertanya pada El.
Memang saat itu, Luhan dan Kris sepakat untuk memberitahu El sedini mungkin tentang Sehun. Namun, ia juga kadang dibuat kaget oleh sikap anaknya itu terhadap ceritanya terhadap Sehun.

"I want to meet Appa. El miss appa." Elafi tersenyum sangat lebar kepada Luhan.

Sudah seminggu ini El selalu membahas tentang Sehun. Bahkan kemarin, ia menangis karena meminta foto Sehun. Untungnya Kris masih memiliki foto keluarga, dan ada Sehun di foto itu.

"Sudah malam, El tidur ya?" Luhan berjongkok didepan Elafi, memintanya untuk mengakhiri topik tentang Sehun. Kalau tidak diakhiri, Elafi akan selalu menuntut cerita tentang Sehun.

"No". Elafi menolak mentah-mentah ajakan Luhan.

"Besok El harus bangun pagi. Nanti kalau gak bangun pagi, sarapannya dihabiskan daddy loh." Luhan terus membujuk El

"No." See, sifat keras kepala Sehun memang menempel jelas pada anak ini.

"Sekarang El tidur ya. Besok daddy ajak El jalan-jalan. Nanti kalau El bangun kesiangan Daddy gakmau loh jalan-jalan" Kris akhirnya ikut turun tangan dan menggendong Elafi ke kamarnya.

Akhirnya dengan setengah terpaksa Elafi menuruti Daddy dan Amma nya.

"Goodnight princess. Have a nice dream" pamit Kris saat melihat El sudah setengah tertidur di kasurnya.

"Nice dream, Appa." El yang setengah sadar itu salah mengucapkan Appa.

Kris menyadari ini. Cepat atau lambat, El pasti akan lebih memilih appa nya daripada ia. Namun ia belum berani untuk membuat permainan baru untuk menyingkirkan Sehun lagi. Baginya sekarang, kesehatan Luhan dan El lah yang harus ia perhatikan dengan sangat.

"Setidaknya dia tidak tahu aku ada disini. Walaupun aku sedikit cemas, tapi New York tidak sesempit itu." Setelah itu Luhan mematikan teleponnya.

Kris yang akan memasuki kamar sedikit mendengar percakapa Luhan di telepon.

"Siapa yang kau telfon?" Tentu saja Kris menanyakannya pada Luhan.

"Hanya sedikit kabar tidak menyenangkan." Hanya itu yang bisa ia jawab. Jika ia mengatakan Sehun akan berada di New York dalam waktu dekat ini, pasti Kris akan mengkhawatirkannya. Lagipula, New York kan tidak sempit. Hanya sedikit peluang untuk mereka bertemu.

"Yasudah, tidurlah. Besok kita akan jalan-jalan, sekarang, kita harus istirahat." Untung saja Kris tidak menanyakan kabar buruk apa itu.

"Oh iya, buku diary mu itu. Bolehkah aku pindah? Aku takut jika El bisa membaca, ia akan meminta banyak penjelasan darimu." Tiba-tiba saja Kris menanyakan tentang buku diary yang tersimpan rapi di rak buku kamar mereka.

"Boleh saja. Dari pertama kita pindah kesini, aku tidak berani membukanya. Kau tau aku akan selalu merasa bodoh bahkan hanya dengan mengingat Sehun." Luhan menjawab pasrah.

.

.

Sinar matahari sudah menembus jendela kamar Luhan. Membuat Luhan mengusap matanya lalu bangun. Pagi ini Luhan akan memasak spaghetti carbonara kesukaan Elafi.

Belum sampai kakinya menginjak lantai dapur, ia mendengar suara Elafi yang berlari senang menujunya.

"Morning amma." Sapa Elafi sambil memeluk Luhan.

"Morning dear." Luhan menyapa balik Elafi sambil mengecup pipinya.

"Sekarang, bangunkan daddy, terus bilang Daddy buat mandikan El. Amma mau masak buat sarapan. Habis sarapan kita jalan-jalan, okay?" Luhan membuat kesepakatan bersama Elafi yang biasanya selalu menolak kalau urusan mandi.

"Sure amma." Kali ini untung Elafi tidak susah untuk diajak mandi.

Setelah mereka selesai dengan urusan rumah, mereka lalu pergi jalan-jalan keliling kota. Berjalan kaki dan melihat orang-orang lalu lalang saja sudah membuat mereka senang. Setelah itu, mereka berencana untuk ke Manhattan Mall. Sudah lama mereka tidak berbelanja.

"Amma, ice cream. I want ice cream", tangan kecilnya menarik Luhan ke caffe dipinggir jalan.

"no El, you won't." Luhan memang tak sembarangan memberikan makanan pada Elafi. Tadi pagi saja El sudah mengeluhkan tenggorokannya sedikit sakit. Apalagi El tidak mau kalau hanya makan satu eskrim, setidaknya ia harus makan tiga.

"Daddy, amma jahat. I want ice cream. Satu saja", Elafi mengeluarkan puppy eyes andalannya kepada Kris.

"No. El bilang satu, tapi nanti akan tambah terus." Luhan yang menjawab.

"But Amma.. I really want it, please." El masih berusaha membujuk Luhan.

"No. Kita ke mall saja sekarang. Pasti El sudah ingin ke mall kan" Luhan mengalihkan percakapan dengan anak itu.

"Hmm, okay." Elafi sedikit lesu menjawabnya.

"Hey, bukankah itu Vic?" Kris berkata saat melihat Vic. Vic merupakan teman Luhan dn Kris saat di New York. Vic juga sangat dekat dengan Elafi.

"Uncle Vitto..." teriak El saat melihat Vic.

Vic yang menyadari dirinya dipanggil El pun segera menuju mereka. Ia langsung menggendong EL yang langsung memasang ekspresi manja kepadanya. Setelah digendong, El membisikkan sesuatu pada Vic dan dibalas dengan senyuman menahan tawanya.

"Sepertinya aku mendapat misi dari princess ini." Setelah mendengar bisik-bisik dari El, Vic lalu berpamitan pada Kris dan Luhan untuk mengajak El ke suatu tempat.

"Kami duluan, kita bertemu di Manhattan mall." Teriak Vic saat sudah berjalan menjauhi Kris dan Luhan. Meninggalkan Kris dan Luhan yang masih geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya itu.

.

"I want strawberry ucle." Kata Elafi saat memilih eskrim gelato di caffe yang dilewati mereka tadi.

"Cuma ini?" tawar Vic, mengingat El selalu tidak puas jika hanya memakan satu eskrim.

"Satu saja ucle." Jawab Elafi sambil tersenyum kepasa Vic.

"Dimana kita makan eskrimnya ya?"

"There uncle. Near the window" El menunjuk tempat duduk yang ada di dekat jendela besar disamping caffe.

Tak lama setelah mereka duduk, datang seorang laki-laki yang memiliki wajah asia memesan eskrim berukuran sangat besar. Vic yang melihatnya, menawarkan ekrim yang sama pada El. Sebenarnya karena Vic sedikit bingung kenapa El hanya menginginkan satu eskrim.

"El, you wanna ice cream like that?" sambil menunjuk laki-laki yang memesan eskrim jumbo itu.

"Wait uncle, i know him" El lalu memasang wajah lucu seperti mengingat-ingat seseorang.

"Is that Appa?"

.

.

.

.

.

To be Continued

Holla, akhirnya aku memutuskan untuk comeback walaupun lama huhuhu maafkan:"

Ceritanya aku buat El agak ke inggris inggrisan karena dari orok dia udah di New York. Maaf ya kalo agak gak nyaman bacanya.

Sedih sedihnya ntar dulu deh, capek sedih mulu. Ini kubawakan sedikit yang manis manis walaupun bukan hunhan. Gemes banget waktu nulis Elafi, anak pinter banget ya, udah minta Appa nya terus wkwkwk.

Oh iya aku mau bilang makasih banget yang udah nungguin ff ini, aku gak nyangka ff ini ada juga yang nungguin .

Sama kaya dulu, kritik ataupun saran selalu aku terima kok, asal jangan bikin down nulis ya:"

See you next chapter, chapter depan mau hunhan moment apa sehun-elafi moment nih? wkwkwkw