Tap tap tap
Suara langkah kaki terdengar di rumah yang sepi itu. Seorang gadis menuruni tangga dengan semangat. Tak sabar bertemu dengan sang kekasih yang menunggunya.
Ia tak peduli jika sekarang nafasnya terengah. Yang terpenting ia bisa cepat menemui pria itu.
Cklek..
"Sasuke-nii.."
Amethys dan onyx bertemu. Amethys menatap penuh rindu pada onyx. Tapi onyx justru menatapnya penuh rasa bersalah.
"Hinata..."
Tunggu, apa ini? Perasaan Hinata benar-benar tidak enak mendengar nada bicara Sasuke. Sesuatu yang buruk tidak akan terjadi bukan?
"Maaf.."
Kali ini senyum Hinata benar-benar luntur.
"Kita sudahi saja."
.
.
.
Gone
Ditty Glint ILHyuuga
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Drama
Pair : SasuHina, NaruHina
Warning : AU, Ooc, typo, gaje, dll
Happy Reading!
.
.
.
Gadis bermahkota indigo itu menatap Sasuke tak percaya. Nafasnya tertahan. Wajah Hinata pucat pasi mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sasuke. Hanya satu kalimat yang membuat sesuatu dalam dadanya berdetak nyeri. Membuat luka yang Sasuke berikan semakin banyak, menghujaminya dengan kesedihan yang teramat sangat.
Amethys berkaca-kaca terkena cahaya bulan. Air mata menggenang mengancam untuk turun. Dengan satu kedipan maka tumpah segala kepahitan yang ia pendam.
"S-s-sasuke-...nii.. Apa maksudmu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Hinata, lelaki sekelam malam itu berbalik melangkah pergi. Runtuh sudah pertahanannya, air mata jatuh berhamburan menuruni pipinya yang memerah menahan tangis. Semakin banyak dan semakin banyak. Tak terkendali. Gadis malang itu mencoba berhenti, tapi tak bisa. Hati yang ia jaga sudah patah, membuat rasa sakit menyerangnya. Seperti sebuah virus yang menyebar, melumpuhkan pergerakannya. Ia hanya berdiri, menatap kepergian sang kekasih. Semakin menjauh menembus kegelapan.
Tidak.. Tidak.. Ia tidak akan membiarkan punggung lelaki itu semakin menjauh. Ia tidak akan membiarkan lelaki itu pergi meninggalkannya. Meninggalkan luka yang ia buat tanpa mau mengobati. Sudah cukup selama ini Hinata berdiam diri atas sikap Sasuke. Ia tak akan diam lagi.
Kaki tanpa alas itu melangkah cepat menyusul Sasuke. Tak peduli jika tanah yang ia pijak semakin dingin saat disentuh. Ia berlari menyusul Sasuke. Tangannya terulur, mencoba menggapai separuh jiwa yang ingin pergi.
Satu jengkal lagi dan gadis Hyuuga itu bisa meraihnya.
Pyassss
Tepat saat Hinata menyentuh tubuh Sasuke, saat itu pula tubuhnya pecah menjadi butiran-butiran intan putih yang belum sempat Hinata genggam. Hinata membelalak melihat kehampaan yang ada di hadapannya. Ia limbung tanpa bisa meraih cintanya.
Hinata terduduk. Menangis sejadi-jadinya.
"Sasuke-nii.." ia gemetar mengucap satu nama yang kini pemiliknya menghilang entah kemana. Meninggalkannya dalam kesunyian malam. Membiarkan ia yang dulu selalu didekap hangat kini diselimuti rasa dingin.
Membiarkan ia sendiri dalam kegelapan yang mulai menyapa...
.
.
.
"Sasuke-nii!"
Hinata terperanjat, bangun tiba-tiba. Peluh membasahi dahinya. Nafas terengah-engah seperti habis berlari. Padahal ia tak pergi kemanapun, ia hanya tidur dan..
Mimpi buruk.
Tangan Hinata yang gemetar terangkat menutupi wajahnya. Menyembunyikan kecemasan dan rasa takut. Apa tadi? Mengapa ia bermimpi seperti itu? Hinata menangis, terisak menemani malam. Salahkan air matanya yang tak mau berhenti keluar. Bahunya yang rapuh berguncang. Ia tak ingin hal yang buruk benar-benar terjadi pada mereka. Terlalu menakutkan bahkan dalam mimpi sekalipun. Dia yakin bisa hilang akal jika hal itu terjadi. Hinata hanya bisa berdo'a semoga Tuhan tak melepaskan Sasuke darinya. Apapun yang terjadi.
Semoga.
.
.
.
Siang yang cukup terik dihari senin membuat para karyawan Uchiha corp lesu menghadapi pekerjaan yang semakin menumpuk. Tak ada habisnya, begitulah konsekuensi yang harus kau terima jika bekerja untuk perusahaan besar.
Berbeda dengan Uchiha Sasuke sang pemegang resmi perusahaan itu. Ia terus bergelut dengan perkerjaannya yang tak pernah usai. Mengurusi kertas-kertas menyebalkan yang menyita seluruh waktunya. Meski penat dan pusing mulai terasa ia terus bekerja demi kelancaran perusahaan.
"Sasuke-sama, sudah masuk jam makan siang. Apa anda tidak ingin istirahat dulu?" suara asisten yang sudah bekerja selama 1 tahun untuknya itu menginterupsi apa yang sedang dilakukan Sasuke.
Sasuke hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti.
"Hn"
Terdengar helaan nafas dari asisten cantik itu.
"Meskipun pekerjaan anda begitu banyak tapi anda tidak boleh mengabaikan kesehatan, Sasuke-sama." nada khawatir terdengar dari kalimatnya.
"Hn." tak digubris.
"Bagaimana kalau saya pesankan makan siang untuk anda?" lagi, suara manis asistennya terdengar. Tapi hey, suaranya masih kalah manis dari sang kekasih, Hinatanya.
"Tidak usah." Sasuke menjawab dingin. Ia melirik handphonenya, teringat sang kekasih yang belum memberi kabar. Kekhawatiran merayapi hati pria beraura kelam itu.
Tring!
Sasuke meraih cepat handphone nya saat melihat notif dari Hinata. Baru juga dipikirkan kau sudah muncul, panjang umur. Sasuke tanpa sadar tersenyum tipis.
Tangannya bergerak cepat membalas pesan Hinata. Ia berdiri lalu merapihkan kemejanya yang kusut. Kemudian menggulung lengan baju sampai siku dan merapihkan rambutnya yang legam. Bersiap meninggalkan ruangannya yang terasa pengap meskipun ruangan itu sangat luas dan nyaman.
"Sakura, aku akan pergi ke cafetaria. Kau rapihkan dokumen-dokumen itu."
"Baik, Sasuke-sama."
Asisten yang Sasuke panggil Sakura itu segera melakukan apa yang ia perintahkan. Setelah itu ia pun meninggalkan ruangannya. Tak sabar bertemu sang kekasih.
.
.
.
Hinata memperhatikan seisi cafetaria berharap dapat menemukan sesosok lelaki berambut hitam dengan model yang tak biasa. Terlalu banyak orang di sini, Hinata tak bisa menemukan Uchiha Sasuke. Ia berjalan memasuki cafetaria lebih jauh. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Gadis ayu itu merenggut karena tak kunjung menemukan Sasuke.
Kehadiran gadis cantik keturunan klan Hyuuga membuat orang-orang di sana memperhatikan dirinya. Pasalnya Hinata bukanlah karyawan Uchiha corp apalagi kecantikan gadis itu menyita seluruh perhatian orang yang melihatnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa auranya menarik seluruh atensi di cafetaria. Membuat Hinata dalam sekejap menjadi pusat perhatian.
"Eh eh siapa gadis itu?"
"Kamu tidak tahu? Itu tunangannya Sasuke-sama."
"Wah benarkah? Beruntung sekali..."
"Mereka cocok sekali bukan? Tampan dan cantik, sama-sama konglomerat lagi."
"Iya iya! Aku juga dengar dia itu berasal dari klan Hyuuga."
"Wow..."
"Katanya sebentar lagi mereka mau menikah."
"Yah... Musnah sudah harapanku bersanding dengan Sasuke-sama."
"Mimpimu itu ketinggian tahu!"
Memang, desas-desus tentang pernikahan Hinata dan Sasuke sudah terdengar oleh sebagian karyawan di Uchiha corp. Bahkan di perusahaan ayahnya pun Hinata sudah bosan mendengar para karyawan membicarakan pernikahannya dengan Sasuke. Jadi tidak heran jika sekarang Hinata mengabaikan bisikan-bisikan itu dan terus celingak-celinguk mencari keberadaan Sasuke.
Rambut pantat ayam...
Rambut pantat ayam...
Rambut pantat ayam...
Rambut pantat a-
Ah! Ketemu!
"Sasuke-nii! Di sini!"
Lelaki yang juga sedang mencarinya menoleh saat namanya disebut. Hinata melambai agar Sasuke mudah menemukannya. Melihat gadis kesayangannya membuat lelaki tampan itu langsung berjalan dengan tergesa. Memacu langkahnya agar segera sampai ke sana. Tidak ingin lagi menahan rindu lebih lama.
Sasuke terpesona melihat senyum yang Hinata berikan, untuk kesekian kali. Menyalurkan rasa hangat di hatinya yang dingin.
Bagaimana bisa gadis itu membuat semangat membuncah dalam dirinya? Bagaimana bisa gadis itu membuat rasa rindu semakin menyeruak seiring jarak yang ia kikis? Bagaimana bisa dia semakin jatuh cinta hanya dengan menatap matanya yang teduh itu? Bagaimana bisa? Hyuuga Hinata..
Grepp
"E-ehhh.."
... Aku tidak akan melepaskanmu.
Pelukan itu tak dapat ia tolak. Rasa hangat dari dekapan yang selalu ia rindukan tak urung membuat detak jantung bertalu dengan cepat. Pipinya memanas. Hinata salah tingkah.
"Aku merindukanmu, Hinata.." Sasuke berbisik mesra di telinga Hinata, membuat sang empunya meremang tak karuan.
Hinata menutup mata, balas memeluk Sasuke. Menikmati desiran hangat di dalam hatinya. Sudah lama sekali ia tak merasakan dekapan ini. Kenyamanan yang selalu membuatnya terbuai. Hingga dia enggan melepaskannya.
Tapi.. Ya Tuhan! Ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Membuat Hinata sedikit gelisah karena Sasuke masih tak mau melepaskan pelukannya.
"Kyaaa! Manis!"
"Sasuke-sama menang banyak tuh!"
"Ya ampun kenapa aku yang baper?"
"Ya Tuhan kuatkan hati hamba."
"Jomblo sabar yaaa!"
"Sialan!"
Astaga Hinata malu sendiri. Gadis itu menggeliat mencoba melepaskan diri. Bukannya dilepaskan justru pelukan itu semakin erat. Ayolah Sasuke.. Ini tempat umum. Jika ini rumahku maka aku akan membiarkanmu untuk memelukku sepuasnya. Tapi hey di sini ada banyak orang!
"Sasuke-nii l-lepaskan, aku malu dilihat banyak orang." Hinata berbisik lembut sambil sedikit melepaskan Sasuke yang tak mau mengalah malah semakin mendekap Hinata.
"Sebentar lagi Hinata. Memang kau tidak rindu padaku, hm?" balas Sasuke. Lelaki itu menghirup wangi khas yang keluar dari tubuh Hinata. Lavender yang memabukkan, membuatnya candu untuk menghirupnya lagi dan lagi.
Ya ampun Sasuke!
"Aw!"
Sasuke melepaskan pelukannya saat sebuah tangan mencubit perutnya. Lelaki itu merenggut pada Hinata, merasa kesal. Sedangkan Hinata hanya terkikik geli.
"Suruh siapa tidak mau melepaskanku."
"Awas saja nanti ku balas!"
"Pfftt! Balas saja."
Lihat wajahnya yang imut itu. Kedua pipi gembil Hinata membuat Sasuke gemas. Ia tak tahan lagi, pipi itu minta dicubit ya.
"Aw! Aw! Aw!"
Hinata mengaduh kesakitan saat Sasuke menarik-narik kedua pipinya, membuat warna merah terlihat semakin jelas di sana. Sementara Sasuke mencoba untuk menahan senyum karena tingkah Hinata. Mana sudi ia membagi-bagi senyumnya pada orang lain selain Hinata. Jangan harap.
"Sasuke-nii lepaskan! Sakit tahu.." Hinata memohon dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Suruh siapa kau manis sekali."
"Aaaa jahaaaaat"
"Aku memang ja-"
"Sasuke-sama.."
"Sakura?"
Hinata menatap bingung pada lelaki yang kini berhenti mencubitnya. Dia bilang apa?
"Sa..kura?"
.
.
.
Tbc
Mind to RnR? ^^
.
.
A/N: Hai readers semua! Maaf ya kalau fanfic ini update nya lama. Entah kenapa saya selalu ragu buat update chapter ini karena banyaknya kekurangan di sana sini. Waktu saya baca ulang chapter ini astaga, kok jelek banget tulisan saya ya. Saya masih harus banyak belajar lagi. Dan terimakasih kepada kalian yang mau menanti fanfic ini. Maaf jika kurang menghibur.
Salam,
Ditty Glint
