"Aw! Aw! Aw!"

Hinata mengaduh kesakitan saat Sasuke menarik-narik kedua pipinya, membuat warna merah terlihat semakin jelas di sana. Sementara Sasuke mencoba untuk menahan senyum karena tingkah Hinata. Mana sudi ia membagi-bagi senyumnya pada orang lain selain Hinata. Jangan harap.

"Sasuke-nii lepaskan! Sakit tahu.." Hinata memohon dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Suruh siapa kau manis sekali."

"Aaaa jahaaaaat"

"Aku memang ja-"

"Sasuke-sama.."

"Sakura?"

Hinata menatap bingung pada lelaki yang kini berhenti mencubitnya. Dia bilang apa?

"Sa..kura?"

.

.

.

Gone

Ditty Glint ILHyuuga

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Drama

Pair : SasuHina, NaruHina

Warning : AU, Ooc, typo, gaje, dll

Happy Reading!

.

.

.

"Ah itu saya." Suara perempuan bernama Sakura itu terdengar di belakang tubuh Hinata. Gadis cantik itu membalikkan badan merasa penasaran akan perempuan yang memanggil nama kekasihnya itu.

Lavender nya menatap bingung pada Sakura, dahinya mengernyit. Sedangkan Sakura melontarkan sebuah senyuman pada Hinata, bersikap ramah.

Tatapan Hinata berubah cemas saat meneliti penampilan perempuan pink itu. Merasa risih karena ada seorang perempuan cantik yang mengenal Sasukenya. Ia merasa terancam.

Puk

Sebuah tangan menepuk puncak kepala indigo Hinata. Hinata menoleh, itu Sasuke.

"Kenapa cemas begitu? Dia asisten ku, namanya Sakura. Ingat?" ucap Sasuke mencoba menenangkan Hinata saat menyadari kegelisahan gadis itu.

Sakura? Otaknya berputar-putar mencari ingatan tentang perempuan itu. Tak sampai satu menit ia pun menemukan pencerahan. Kalau tidak salah beberapa bulan lalu ia juga bertemu Sakura di kantor kekasihnya. Ia memperkenalkan diri sebagai asisten dari Uchiha Sasuke.

"Oh! Iya aku ingat." Hinata tersenyum ke arah asisten Sasuke itu, merasa bersalah karena menyangka yang tidak-tidak.

Sakura mengulurkan tangan, "Apa kabar Hinata-san?"

Hinata menyambut uluran tangan itu dengan senang hati.

"Baik. Bagaimana denganmu?"

"Saya juga."

Kedua gadis itu kembali saling melempar senyum.

"Oh iya Sasuke-sama. Tadi ada telepon dari Sabaku-san. Beliau meminta saya agar anda menghubunginya karena ada hal penting yang harus dibicarakan." Sakura mengatakan alasannya mendatangi Sasuke. Setelah mendapat anggukan dari lelaki itu Sakura pun ijin undur diri dari sana.

"Wah, Sakura-san cantik sekali ya. Langkahnya saja sangat anggun. Pasti banyak lelaki yang mengincarnya." celetuk Hinata. Gadis itu menatap kepergian Sakura dengan mata berbinar, merasa kagum dengan kecantikan yang Sakura miliki.

Sasuke menoleh, menatap pujaan hatinya dari samping. Apa Hinata tidak sadar bahwa dirinya jauh lebih cantik dari perempuan itu.

Tangan Sasuke terulur menyentuh anak rambut Hinata di sisi wajahnya. Membuat gadis itu menoleh ke arahnya.

"Tapi menurutku kau yang paling cantik di dunia ini. Tenang saja, aku tidak akan berpaling."

Hinata memalingkan wajah, menyembunyikan semburat merah yang menghiasi pipinya.

"J-jangan menggodaku!" ucap Hinata malu, meskipun Sasuke tahu bahwa gadis itu senang mendengar apa yang barusan ia katakan.

Oh ayolah Sasuke tak dapat lagi menahan senyum lebih lama. Ia menyambar tangan Hinata dan segera membawanya ke ruangan tempat Sasuke bekerja.

"Ayo!"

.

.

.

Gadis manis berdarah Hyuuga itu duduk di sebuah sofa merah yang ada di ruangan Sasuke. Tangannya saling bertumpu di atas paha yang berbalut jas milik Sasuke. Tadi Sasuke bilang Hinata memakai rok yang terlalu pendek, ia tak suka melihat para karyawan melirik kaki Hinata yang terlampau mulus itu. Membuat Hinata merasa senang karena sikap kekasihnya yang ia rasa sangat manis. Hinata memandang penuh kagum pada Sasuke.

Lelaki itu berdiri tidak jauh darinya. Menelpon seorang sahabat dari kota Suna. Ia memunggungi Hinata, membuat gadis itu bisa menatap punggungnya yang tertutupi kemeja biru.

Hinata tak henti-hentinya tersenyum memandang Sasuke. Memerhatikan tubuh jangkung kekasihnya lama. Rambut hitamnya yang selalu Hinata ejek itu kini tumbuh sedikit panjang, nanti ia akan menyuruh Sasuke untuk memotongnya sedikit. Bahu dan punggungnya yang lebar terlihat begitu kokoh dan kuat, Sasukenya tak pernah ketinggalan ke gym setiap akhir pekan membuat tubuhnya terlihat atletis. Kakinya yang jenjang seakan tak pernah goyah dihadang apapun. Ah, Sasuke tumbuh jadi lelaki yang kekar. Karena itu, lelaki yang sekarang menginjak umur 26 itu selalu dipuja-puja oleh setiap wanita. Termasuk dirinya. Ia sangat beruntung memiliki seorang Uchiha Sasuke.

"Aku tahu aku tampan."

Lamunan Hinata buyar mendengar Sasuke berucap demikian. Ia mendongkak melihat Sasuke melangkah ke arahnya. Lelaki itu tersenyum tipis.

"Narsis!" Hinata tersenyum geli. Sasuke sudah berjongkok di hadapannya.

"Memang kan? Kau saja melihatku sampai terpesona begitu." Sasuke menyeringai mendapati Hinata yang kembali merona.

Ah ketahuan! Hinata memalingkan wajahnya malu.

"T-tidak kok!" Hinata mengelak.

Gemas, Sasuke mencubit hidung gadis itu. Membuat Hinata kembali mengaduh.

"Ayo mengaku!"

"T-tidak!"

Jahil, bungsu Uchiha itu menarik hidung Hinata yang semakin mengaduh kesakitan walaupun Sasuke tidak terlalu keras menariknya. Lelaki itu ingin mendengar sendiri pengakuan Hinata.

"Mengaku!"

"T-tidak! Aduh S-sasuke-nii lepaskan~"

Hinata menatap Sasuke dengan mata puppy eyesnya. Berharap Sasuke luluh dan melepaskan dirinya. Bukannya dilepaskan, lelaki itu justru menatapnya mengejek.

"Tidak akan kulepaskan."

Mata yang menjadi favorit Sasuke itu berubah menatapnya jengkel, alis nya menukik tajam.

"Y-yasudah, a-aku t-tidak akan memberikan bekalnya!" ancam Hinata. Sontak Sasuke berubah masam mendengar ancaman Hinata. Gadis itu tersenyum menang.

"Ayo lepaskan!" perintah Hinata sok galak.

Sasuke sekali lagi menarik hidung mancung Hinata yang memerah sebelum akhirnya melepaskan cubitannya.

"Dasar!"

Hinata terkekeh, ia mengelurkan bekal makan siang yang sengaja dibuatnya di rumah. Melihat bekal itu Sasuke berdiri dan memposisikan dirinya di samping Hinata. Menunggu Hinata membuka bekalnya dengan antusias. Melongokkan kepalanya untuk mengintip isi bekal yang dibawa Hinata. Aduuuh Sasuke.. Sejak kapan kau kekanakan seperti itu? Membuat author gemas saja. /plak/

"Ayolah Hinata, jangan membuatku penasaran." Sasuke jengkel saat Hinata tak kunjung memperlihatkan isi bekalnya, gadis itu hanya membuka-tutupkan bekal itu dengan sengaja sehingga hanya sebagian yang dapat ia lihat. Tangannya hendak merampas kotak makan yang ada dipangkuan Hinata, tapi gagal karena gadis itu dengan cepat menjauhkannya.

"Hinata.."

Oh lihatlah tatapan mata itu! Astaga~ Hinata tak dapat lagi menahan tawa.

"Pfftt! Hahahaha.. Baiklah baiklah Sasuke-nii.. Ini,"

Merekapun menikmati bekal makan siang bersama-sama. Diselingi beberapa obrolan ringan dan candaan. Juga acara saling suap-suapan yang membuat semua orang iri jika melihat kemesraan mereka. Apalagi para jomblo yang menangisi nasib mereka.

.

.

.

Suara klakson saling bersahutan di jantung kota Suna. Berbagai macam merk mobil berderet memenuhi jalanan. Mulai dari angkutan umum sampai mobil pribadi yang harganya membuat kalian berdecak kagum. Bukan hal langka karena banyak sekali konglomerat yang tinggal di kota Suna. Termasuk mobil sport kuning mencolok keluaran terbaru yang dibawa oleh seorang anak dari klan yang paling berpengaruh di negerinya. Namikaze Naruto.

Darah Jepang dan Amerika mengalir ditubuhnya. Membuat ia banyak digandrungi oleh para wanita pengagum blasteran. Rambut pirang yang diturunkan dari gen Ayahnya berkilau saat diterpa mentari. Kulit tan nan eksotis menjadi daya tarik tersendiri. Jangan lupakan mata birunya yang mengingatkan kita akan musim panas yang menyenangkan. Bibirnya yang penuh selalu tersenyum ramah pada siapapun. Hidung mancung membuat iri siapapun yang melihatnya. Serta 3 garis di masing-masing pipi menjadi ciri khas dari dirinya. Perangainya juga hangat dan ceria.

Kalian bertanya tentang tubuhnya? O-ohhh membuat ngiler para kaum hawa yang melihatnya. Kekar dan perkasa. Tentu, roti sobeknya pun begitu menggoda.

Oke kita hentikan sampai di sini. Mari kita lihat apa yang sekarang sedang ia lakukan..

Naruto berdecak sebal karena mobil di depannya tak kunjung maju. Sudah setengah jam ia terkurung di antara mobil-mobil ini. Membuatnya jengah. Ditambah dengan ponselnya yang terus berdering dari tadi. Sungguh tak sabaran, pikirnya.

Naruto mengangkat teleponnya lalu meloudspeaker agar tidak kehilangan fokus saat menyetir.

"Kau di mana?" suara seorang wanita di seberang sana menyapa pendengarannya.

"Aku masih di jalan. Macet."

"Cepatlah. Mereka menunggumu."

Tut tut tut..

Sialan!

.

.

.

Tap tap tap

Seorang lelaki melangkah dengan tergesa memasuki sebuah restoran bintang lima di kota Suna. Ia mencari sebuah meja di mana keluarganya menunggunya. Telat hampir satu jam, pasti sang ibu mengamuk. Salahkan saja sang ibu yang dengan seenak jidat mengatur pertemuan ditengah-tengah kesibukannya menjadi model. Membuat ia melupakan pertemuan ini.

"Selamat malam. Maaf membuat kalian menunggu." Naruto-lelaki itu-membungkuk sopan di depan keluarga dan orang-orang yang tidak ia kenal saat sampai di meja yang ia tuju. Sulung Namikaze itu lalu menegakkan tubuh dan duduk di salah satu kursi kosong di sebelah Ayahnya, Namikaze Minato. Sedangkan sang Ibu-Kushina-sudah menatapnya tajam sejak ia sampai di tempat itu. Merasa kesal karena keterlambatan sang anak.

Naruto menatap satu persatu orang-orang yang tidak ia kenal. Sepertinya ia tahu salah satu dari orang-orang itu. Rambut merah, mata jade yang khas dengan warna hitam di kantung matanya, tato di dahi dan yang paling aneh ia tidak mempunyai alis. Ah Naruto ingat, dia Sabaku Gaara. Mereka pernah satu kelas saat sekolah menengah di Konoha. Jadi mereka adalah keluarga Sabaku ya?

"Silahkan nikmati dulu makanannya." ucap kepala keluarga Sabaku mempersilahkan orang-orang di sana untuk menyantap makanan yang tersedia. Lalu merekapun menikmati makanan yang tersaji dalam keheningan, khas konglomerat.

Di tengah keheningan itu, Naruto diam-diam melirik ke arah keluarga Sabaku. Tiga orang pria dan tiga orang wanita. Pasti perempuan berambut pendek itu anak bungsu, ditengok dari wajahnya yang terlihat lebih muda dari yang lainnya.

Tanpa sengaja perempuan yang Naruto perhatikan juga melirik ke arahnya. Tapi tak berlangsung lama karena perempuan itu langsung menunduk menatap makanannya. Naruto pun tak ambil pusing. Ia kembali menghabiskan makan malamnya.

"Jadi, begini-" kepala keluarga Sabaku itu kembali memulai pembicaraan setelah mereka semua selesai makan malam.

"Saya ingin menyampaikan hal yang sudah saya dan Minato diskusikan beberapa waktu lalu."

Naruto mendengarkan kata demi kata yang keluar dari kepala keluarga itu dengan seksama. Tak terkecuali orang-orang yang ada di sana juga memusatkan perhatian pada sang kepala keluarga. Kepala keluarga itu menatap satu persatu sebelum melanjutkan ucapannya.

"Kami bermaksud menjodohkan Naruto dan Matsuri."

"Apa?"

"Uhuk!"

Perempuan yang ternyata bernama Matsuri itu tersedak mendengar ucapan sang ayah. Sedangkan Naruto membelalakkan mata ke arah Minato meminta penjelasan. Apa-apaan ini? Menjodohkan? Ini dunia modern! Untuk apa kalian melakukan perjodohan-perjodohan kuno seperti itu!

"Yah, sebenarnya perjodohan ini sudah kami rencanakan beberapa tahun lalu. Ayah dan Ibu juga khawatir melihatmu yang terus membujang, Naruto. Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk menjodohkanmu. Lagipula-"

Naruto tidak lagi mendengarkan penuturan sang Ayah. Pikirannya melayang entah kemana. Bayangan seorang gadis masa kecilnya terpampang di hadapannya. Tersenyum manis ke arahnya. Menyadarkan Naruto bahwa ia sudah memiliki cintanya sendiri. Ia harus menolak perjodohan ini.

"Aku menolak."

Mereka semua menatap Naruto, ingin tahu apa alasan lelaki itu menolak perjodohan. Termasuk perempuan berambut pendek bernama Matsuri itu. Tangannya saling menggenggam menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Naruto.

"Aku tidak bisa menerima perjodohan ini."

"Tapi, Naruto-"

"Ayah, aku mempunyai seseorang yang aku cintai." Naruto menatap tegas Ayahnya, berharap agar Minato tidak melanjutkan perjodohannya dengan Matsuri. Minato tetap bungkam, ia tak memberikan jawaban atas perkataan Naruto. Tiba-tiba suasana pun hening, tak ada yang berani mengeluarkan suaranya.

"Baiklah.." suara kepala keluarga Sabaku memecah keheningan.

"Jika Naruto memang sudah memiliki seseorang yang ia cintai. Kita tidak bisa meneruskan perjodohan ini." Ucapnya tak memaksa. Memangnya apa yang mereka harapkan dari seorang lelaki yang sudah memiliki tambatan hati? Ia tak ingin anaknya tersiksa karena tak bisa mendapatkan cinta lelaki itu.

"Maafkan aku."

Tanpa mereka tahu gadis yang terus bungkam itu sedang menahan nyeri di hatinya. Ia saling meremas kedua tangannya dan menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan rona kecewa diwajahnya karena terlalu berharap pada Naruto. Meskipun ia juga tak tahu perihal perjodohan ini, tapi saat melihat Naruto ia pun sedikit tertarik. Mendengar Naruto menolaknya tentu membuat ia merasa kecewa. Ia memang tak diinginkan.

.

.

.

Dua orang lelaki seumuran itu menikmati sebuah kopi yang baru diantar ke meja mereka beberapa saat lalu. Asap yang masih mengepul menghantarkan hawa panas di wajah mereka. Mengharuskan mereka untuk meniup-niup permukaan kopi hitam itu agar tak membuat lidah mereka melepuh.

"Jadi, bagaimana kabarmu Gaara?" tanya Naruto basa-basi saat selesai menyesap kopinya.

Memang, mereka memutuskan untuk meminum kopi dulu setelah acara makan malam selesai. Ingin sedikit mengobrol karena sudah lama tidak bertemu. Sebagai formalitas kepada kawan yang pernah saling mengenal.

"Baik. Bagaimana denganmu?" Gaara balik bertanya.

"Aku sangat baik. Kudengar kau sekarang menjadi Ceo di perusahaan Sabaku."

"Hn, kau benar." Gaara kembali menyesap kopinya. Memberi jeda pada obrolan mereka.

"Pasti sibuk sekali."

"Ya, saat ini kami sedang menjalankan sebuah proyek dengan Uchiha corp."

"Uchiha Sasuke?"

"Ya, kebetulan dia Ceo nya."

Ngomong-ngomong soal Sasuke, lelaki dengan tatto di dahinya itu jadi ingat sesuatu.

"Kau sudah tahu Sasuke akan menikah?"

Naruto membelalakkan matanya mendengar kabar yang mengejutkan itu. Pasalnya Sasuke tak pernah mengatakan apapun soal pernikahan meskipun mereka bersahabat. Apa Sasuke ingin membuat kejutan? Cih.

"Menikah?"

"Ya, dalam waktu dekat ini."

Sialan Uchiha itu! Ia tak memberitahukan hal sepenting ini pada Naruto. Mana sulit sekali lagi si Teme itu dihubungi. Memang sebegitu sibuk pekerjaannya?

Lihat saja nanti! Ia akan menagih cerita Sasuke perihal orang yang lelaki itu cintai saat dirinya kembali ke Konoha. Awas kau, Teme!

.

.

.

Sudah seminggu berlalu semenjak pertemuan terakhirnya dengan Sasuke. Sasuke pun semakin sibuk dengan perkerjaannya seiring dengan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Hinata juga disibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan. Dari mulai dekorasi, undangan, hidangan, dan hal-hal kecil lainnya.

Ditemani oleh sang Ibu mertua, Mikoto yang selalu semangat mengurusi pernikahannya. Adiknya Hanabi juga antusias membantu dirinya. Meskipun Sasuke semakin jarang memberi kabar tapi Hinata selalu sabar dan memakluminya. Setidaknya kekasihnya itu memberi kabar sedikitnya satu kali sehari. Dan Hinata mensyukuri itu.

Seperti saat ini, dia sedang memilih hena yang cocok untuk dirinya bersama Mikoto dan Hanabi di kediaman Uchiha. Hinata selalu menyempatkan mengirim pesan pada Sasuke, mengingatkan tentang makan ataupun tentang kegiatannya. Walaupun waktu yang dihabiskan untuk balasan pesannya sangat lama, sekalipun begitu Hinata tetap menunggu.

To : Sasuke-nii

Hey Sasuke-nii? Kau sudah makan siang kan? Hari ini aku dan ibu sedang memilih hena yang cocok untukku. Aku bingung sekali~

Pesan terkirim, Hinata kembali memfokuskan dirinya ke buku yang berisi gambar beraneka macam hena dalam segala bentuk.

"Bagaimana kalau yang ini Hinata-chan?" Mikoto menunjuk sebuah gambar yang memperlihatkan ukiran yang didominasi oleh bunga-bunga.

"Kaa-san, yang itu terlalu runyam dan kecil. Bagaimana kalau ini saja? Simple tapi menarik." Hanabi ikut menimpali, ia menunjuk gambar di sebelah gambar yang ditunjuk Mikoto. Remaja berumur 15 tahun itu sudah menganggap Mikoto sebagai Ibunya sendiri.

Hinata tersenyum tipis melihat adiknya yang 6 tahun lebih muda darinya itu begitu bersemangat. Jika ia sendiri yang memilihnya ia pasti akan sangat kebingungan. Untung Mikoto dan Hanabi rela membantunya dengan senang hati.

"Bagaimana Nee-chan?"

"Uhm, aku suka."

"Tapi lebih baik kita melihat-lihat yang lain dulu."

"Iya Kaa-san benar."

Selang beberapa menit, tiba-tiba Hinata merasakan sakit di perutnya. Seperti melilit, minta dikeluarkan. Gadis itu ingat tadi pagi ia memakan ramen pedas, entah kenapa Hinata sangat ingin ramen saat itu. Ia memang sangat sensitif terhadap makanan pedas. Akibatnya perutnya langsung bereaksi.

"Kaa-san aku ke kamar mandi sebentar ya?" ucap Hinata sambil memegang perutnya.

"Kau sakit perut? Ya sudah sana." Mikoto terkikik melihat gelagat gadis itu. Hinata pun segera pergi ke kamar mandi.

"Dasar Hinata.."

Tak lama setelah itu seorang maid menghampiri Mikoto lalu membungkuk memberi hormat.

"Nyonya, tuan muda Namikaze berkunjung kemari."

Mikoto sedikit terheran. Bukankah sahabat anaknya itu ada di Suna? Mungkinkah dia sudah kembali?

"Bawa dia kemari."

"Baik nyonya."

.

.

.

Naruto memasuki rumah utama di mansion Uchiha. Ia membuntuti seorang maid yang membawanya pada Mikoto. Ya, kemarin malam ia pergi ke Konoha. Dan tanpa membuang waktu langsung datang ke sini. Meskipun Naruto tahu sahabatnya itu kemungkinan besar tak ada di rumah. Setidaknya pasti ada Ibu Sasuke ataupun Itachi di sana yang akan menyambutnya. Sedangkan Fugaku pasti juga sibuk bekerja di perusahaan utama.

Di sana Naruto melihat Ibu Sasuke yang sedang duduk di salah satu sofa dengan sebuah buku di pangkuannya. Mikoto tersenyum ramah, berdiri dan langsung menghampiri Naruto.

"Baa-chan!" Naruto memeluk Mikoto saat wanita yang menginjak usia tua itu menyambutnya. Keakraban jelas terlihat di antara mereka.

"Kapan kau sampai ke sini?" Mikoto menepuk punggung lelaki yang sudah ia anggap anak itu. Naruto pun melepaskan pelukannya.

"Aku sampai kemarin malam, Baa-chan."

Mikoto membawa Naruto duduk di sebuah sofa yang ada di sana. Wanita itu mengisyaratkan maidnya untuk menyiapkan sebuah minuman.

"Kenapa tidak bilang mau ke sini? Kan Baa-chan bisa masak untukmu."

"Tadinya aku ingin mengejutkan Sasuke. Tapi si Teme itu sulit dihubungi."

Naruto melirik ke arah seorang gadis yang duduk tak jauh darinya, di sofa yang berbeda. Ia belum pernah melihatnya. Dan sepertinya gadis remaja itu bukan anggota keluarga Uchiha.

"Iya akhir-akhir ini pekerjaannya semakin banyak. Bahkan Sasuke juga sulit meluangkan waktu untuk persiapan pernikahannya." Mikoto mengikuti arah pandangan Naruto yang sedari tadi tidak menatapnya.

"Oh iya, dia Hyuuga Hanabi."

Hyuuga? Hanabi menatap Naruto mendengar Mikoto memperkenalkan dirinya, ia tersenyum ramah.

"Dia calon pengantin Sasuke?"

.

.

.

Hinata selesai dengan masalah perutnya. Lega rasanya. Ia mencuci tangan dan sedikit merapihkan diri. Gadis itu harus segera kembali ke ruang tamu, pasti Mikoto dan Hanabi menunggunya.

.

.

.

Pudar sudah senyuman Hanabi. Kedutan tak kasat mata terlihat di dahinya. Apa lelaki itu tidak punya otak? Masa Sasuke menikah dengan seorang gadis remaja yang bahkan belum lulus SMP?

Mikoto terkekeh, "Dia adiknya."

Naruto yang sempat kaget juga akhirnya hanya ber-ohh ria mendengar penjelasan Mikoto. Ia mengangguk mengerti. Segila-gilanya Sasuke, dia tidak mungkin menikahi anak kecil.

"Hanabi, dia Namikaze Naruto. Sahabat Sasuke." Hanabi hanya mengangguk.

"Memang Sasuke tidak memberitahu mu?"

"Dia bahkan tidak memberi kabar tentang pernikahannya." jawab Naruto jengkel.

Mikoto hanya tersenyum maklum. Pasti anaknya itu ingin memberi kejutan pada Naruto.

"Oh iya Baa-chan kalau begitu calon pengantinnya ada di sini?" tanya Naruto menarik kesimpulan dari kehadiran Hanabi di mansion Uchiha.

"Dia-"

.

.

.

Hinata berjalan pelan, ia melirik handphone nya berharap ada sebuah pesan dari Sasuke. Tapi nihil. Hinata menarik nafas, ia menegakkan kepalanya.

'Sasuke-nii pasti sibuk.'

Saat akan sampai di ruang tamu Hinata menangkap sosok asing berambut pirang sedang bersama Mikoto dan adiknya. Ia tidak dapat melihat wajahnya karena sosok yang sepertinya seorang lelaki itu membelakangi nya.

"Eh, siapa dia?"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Maafkan saya yang terlalu lama update ff ini.. /T_T/ Maaf juga Naruto baru muncul di chapter ini. Kemungkinan chapter selanjutnya udah masuk konflik utama, jadi tunggu saja ya!

Saya juga ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada readers-san yang udah review, fav dan follow ff Gone ini. Makasih banyak ya! :')

Akhir kata,

Mind to RnR?

.

.

Salam,

Ditty Glint