"Memang Sasuke tidak memberitahu mu?"

"Dia bahkan tidak memberi kabar tentang pernikahannya." jawab Naruto jengkel.

Mikoto hanya tersenyum maklum. Pasti anaknya itu ingin memberi kejutan pada Naruto.

"Oh iya Baa-chan, kalau begitu calon pengantinnya ada di sini?" tanya Naruto menarik kesimpulan dari kehadiran Hanabi di mansion Uchiha.

"Dia-"

.

.

.

Gone

Ditty Glint ILHyuuga

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Drama

Pair : SasuHina, NaruHina

Warning : AU, Ooc, typo, gaje, dll

Happy Reading!

.

.

.

Drrtt drrrt

Getaran ponsel milik Naruto menginterupsi kalimat yang akan keluar dari mulut Mikoto. Wanita itu menelan semua kata-katanya saat melihat Naruto membuka sebuah pesan di ponselnya.

Naruto memandang benda persegi tipis itu dengan serius. Setelah selesai membaca kata demi kata yang terpampang di layar ponselnya, ia pun mendongkak menatap Mikoto. Mata hitam itu menyiratkan sebuah tanya.

"Baa-chan, sepertinya aku tidak bisa lama-lama. Aku harus pergi menemui Sai."

Nampak gurat kekecewaan di wajah Mikoto. Sedangkan Hanabi hanya melirik pemuda itu sekilas, tak peduli. Toh ia tidak terlalu kenal dengannya.

"Ada apa?" tanya Mikoto sedikit penasaran.

"Urusan pekerjaan." Mikoto ber-oh ria mendengar jawaban pemuda blasteran di hadapannya itu. Lagipula ia juga tidak punya hak untuk menahan Naruto lebih lama. Sahabat anaknya itu pasti juga punya urusan lain di Konoha.

"Baiklah kalau begitu."

Naruto berpamitan pada Mikoto, wanita itu berpesan agar ia harus sering-sering berkunjung ke sini mengingat pernikahan Sasuke yang tinggal menghitung hari. Sedangkan Naruto hanya mengiyakan tanpa bisa berjanji mengingat ia juga memiliki banyak urusan di Konoha.

Naruto pun melangkah keluar dari mansion Uchiha setelah sebelumnya tersenyum pada Mikoto dan juga Hanabi.

Suara langkah kaki terdengar saat Naruto sudah tak terlihat lagi dari pandangan kedua perempuan itu. Membuat mereka menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.

"Kaa-san.."

"Hinata? Sudah selesai?" Hinata mengangguk.

Mikoto menunjukkan senyum keibuannya melihat Hinata yang terus berdiri menatap pintu keluar. Ia mengisyaratkan pada Hinata untuk duduk di sebelahnya.

"Kenapa?"

"Tadi siapa Kaa-san?" Hinata mengungkapkan rasa penasarannya. Ia memang tidak mengenal lelaki itu. Belum sempat Hinata melihat wajahnya, sosok lelaki yang membuat Hinata penasaran malah keburu pergi dari sini.

"Dia sahabat Sasuke, Naruto Namikaze."

Sahabat? Tunggu, dia sepertinya ingat. Sasuke pernah beberapa kali menyebutkan nama Naruto saat ia mengobrol dengannya. Tapi, ia memang belum pernah bertemu langsung dengan sahabat Sasuke itu. Hinata mengangguk mengerti.

"Nee-chan sih lama di kamar mandi, jadi tidak tahu. Makanya kalau tidak kuat pedas, jangan coba-coba makan ramen level 5 milikku. Aku kan harus beli lagi." gerutu Hanabi tiba-tiba. Ia masih kesal mengingat kejadian beberapa jam lalu saat Hinata dengan seenaknya memasak ramen instan yang baru kemarin ia beli. Padahal Hanabi sengaja membeli ramen limited edition itu untuk ia makan di siang hari sambil menonton acara TV kesukaannya. Memergoki Hinata memakan ramen itu dengan lahap, membuat Hanabi merasa kesal seketika. Harusnya ia simpan ramen itu di kamarnya. Ah, menyebalkan.

"Maaf, maaf.. Hanabi-chan. Nee-chan janji nanti akan menggantinya." pipi Hinata bersemu merah mendengar Hanabi mengatakan aibnya di depan Mikoto. Ini memang kesalahannya sih, tapi kan ia jadi malu di depan calon mertuanya. Duh, Hanabi tidak pernah melihat situasi.

Hinata melirik ke arah Mikoto yang mengulum senyum, sepertinya mertuanya itu sedang menahan tawa. Hinata tambah malu.

"Sudahlah.. Nanti Kaa-san akan buatkan ramen super pedas untuk kalian. Bagaimana?"

"Paling nanti Hinata-nee keluar-masuk kamar mandi terus, Kaa-san." Hanabi tersenyum jahil ke arah kakaknya. Sedangkan Mikoto tertawa geli mendengar perkataan Hanabi. Dasar adik-kakak ini!

"Hanabi!"

.

.

.

Jam menunjukan pukul 10 malam saat Sakura membawakan sebuah kopi untuk Sasuke. Ini adalah gelas kopi kelima yang Sasuke minum hari ini. Membuat Sakura khawatir dengan kondisi kesehatan sang atasan karena banyaknya kafein yang masuk dalam tubuh pria itu.

"Ini Sasuke-sama."

Sakura menaruh kopi itu dengan hati-hati, tak ingin isinya tumpah pada dokumen-dokumen penting yang sedang Sasuke kerjakan. Ia masih sayang dirinya sendiri, jika dipecat akan sulit banginya mencari pekerjaan untuk menopang hidup di kota besar ini.

Mata emeraldnya melirik pada lelaki yang menjabat sebagai atasannya itu. Dimulai dari rambutnya yang hitam legam, alisnya yang tak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis, mata onyx yang indah, hidung mancung, bibir merah yang menggoda. Ketampanan yang sempurna. Semua wanita pasti mengincar makhluk indah ciptaan Tuhan ini.

'Hinata beruntung sekali bisa memiliki Sasuke.'

"Terima kasih."

Sakura terhenyak dari lamunannya, ia menunduk menyembunyikan rasa gugup. Gadis itu tidak sadar jika dari tadi ia memandangi Sasuke. Malu rasanya.

Sasuke mengernyitkan dahi melihat asistennya itu masih berdiri di hadapannya. Lelaki itu melirik jam tangan.

10.45 p.m.

"Bukankah seharusnya kau sudah pulang?"

Sakura mendongkak menatap sang atasan yang bertanya dengan nada heran. Emerald dan onyx bertemu. Tak bertahan lama karena gadis berambut merah muda itu langsung menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"A-ah iya. S-sebaiknya saya pulang."

Astaga! Kenapa ia gugup?! Sakura merutuki dirinya sendiri.

Gadis itu membungkukkan badan, "Saya permisi."

Setelah mendengar kata 'hn' dari atasan tampan-tunggu!Apa?!-nya itu Sakura bergegas mengambil barang-barangnya dan pergi dari sana. Rasa lega menghinggapinya saat ia sudah keluar dari ruang kerja Sasuke. Takut ketahuan jika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika atasannya itu memberikan sedikit perhatian padanya.

Perhatian? Kau pikir tadi itu perhatian? Sasuke hanya mengingatkanmu, Sakura. Atau..

Mungkin dia ingin mengusirmu secara halus?

Tap

Kaki berpentopel itu berhenti melangkah. Membuat hening koridor yang tadinya di isi oleh suara langkah kaki miliknya. Entah kenapa tapi.. Langkah kakinya tiba-tiba saja berhenti saat rasa sakit berdenyut di hatinya akibat kemungkinan yang muncul di kepalanya. Tangan Sakura terangkat meremas dada kirinya yang terasa sesak.

"Mengusir ya?" pertanyaan lirih keluar dari bibirnya. Hatinya semakin sesak.

Ia menggeram, lalu mengusap wajahnya kasar.

Lagipula apa yang ia harapkan? Sasuke itu sudah bertunangan dengan Hinata. Takkan ada ruang untuknya masuk ke lingkaran hidup Sasuke. Semua perhatian yang lelaki itu berikan hanya untuk Hinata.

Tapi.. Sasuke yang biasanya irit bicara pada orang lain selalu bicara lumayan panjang padanya. Jadi, Sakura sedikit berbeda... Bukan? Lagipula tadi juga-

Tapi Sasuke milik Hinata. Hatinya hanya tentang gadis itu.

Meskipun-

Sakura mengernyit.

"Astaga! Aku bisa gila."

Cepat-cepat ia menggelengkan kepala menghapus seluruh pikiran yang ada di kepalanya. Yang bisa membuat rasa sakit semakin bertambah di hatinya. Ia berjalan memasuki lift dengan terburu-buru, tidak ingin memikirkan Sasuke lebih lama. Itu.. Bisa membuatnya gila.

.

.

.

11.10 p.m.

Sasuke meregangkan otot-ototnya yang kaku sehabis bekerja seharian ini. Pekerjaannya belum selesai, sebaiknya ia segera pulang dan membawanya ke rumah untuk dikerjakan. Jika Sasuke pulang terlalu malam pasti Ibunya akan marah dan mengadukannya pada Hinata. Ia hanya tak ingin membuat kekasihnya itu khawatir.

Sudah cukup ia yang mengabaikan Hinata karena pekerjaannya yang tak bisa dibilang sedikit. Jika ia berleha-leha maka pekerjaannya akan semakin menumpuk dan ia takkan bisa bernafas lega menjelang hari pernikahan.

Tangan yang di lingkari jam tangan bermerk itu mengecek ponselnya. Ada banyak pesan dari Hinata dan kliennya yang belum sempat ia lihat. Mengabaikan pesan dari orang lain, lelaki itu langsung membuka pesan-pesan Hinata. Senyum mengembang, rasa lelahnya hilang seketika melihat semua pesan itu.

Ia mengetik sebuah pesan untuk Hinata. Takut jika ditelepon malah mengganggu tidur nyenyak gadisnya yang manis itu.

To : Hinata-hime

Iya, iya.. Cerewet! Aku pulang sekarang. Tidak terlalu malam, kan?

Ia tersenyum membayangkan Hinata yang pasti akan merutuki dirinya saat membaca pesan ini. Yah mau bagaimana lagi, pekerjaannya banyak begini.

Sasuke merapihkan penampilannya. Memasukkan semua dokumen yang belum selesai ia periksa ke dalam tas kerjanya. Lalu menyampirkan jasnya di bahu kiri. Ia pun pergi dari ruangannya.

.

.

.

Jalanan terlihat lenggang, lampu-lampu penerangan berdiri di tiap sisi membantu penglihatan pengguna jalan. Sasuke mengemudi dengan kecepatan sedang, tak ingin membahayakan diri karena ia sedikit mengantuk. Mobil hitam itu berbelok, mencoba memasuki jalan pintas yang akan membawanya ke rumah lebih cepat. Sedikit lebih gelap dan sepi. Tapi tak membuat pria itu takut sedikitpun.

Fokusnya sedikit hilang saat ia mendengar keributan kecil yang tak jauh darinya. Mungkin beberapa meter? Di gang itu?

"Sialan!"

Sasuke menghentikan mobilnya mendengar suara familiar seorang gadis menyapa gendang telinganya. Ia turun untuk memastikan. Bagaimana pun jika ada tindak kejahatan ia harus menghentikannya. Begini-begini juga Sasuke adalah seorang manusia yang memiliki perasaan. Mana mungkin ia membiarkan seseorang dianiaya. Ia mempercepat langkahnya.

Sasuke terkejut mendapati orang yang ia kenal-asistennya-tengah dicekal oleh tiga orang preman. Keadaan gadis itu sangat tidak baik, ia terus memberontak. Seorang preman yang memegang dagunya mencoba mendekat dan meraba-raba tubuh gadis itu. Dua orang lagi menahan pergerakannya. Emosi Sasuke naik seketika.

"Brengsek!"

Bugh!

Satu pukulan telak mengenai wajah preman yang mencoba menyentuh Sakura. Preman dengan codet di pipinya itu jatuh tersungkur. Sedangkan dua lainnya terkejut melihat bosnya diserang tiba-tiba.

"Bos!"

"Keparat! Siapa kau berani-beraninya menyentuhku!"

Gadis yang sedang di cekal itu membelalakkan mata emeraldnya yang sembab. Terkejut melihat seorang lelaki yang tiba-tiba datang menghajar preman itu. Uchiha Sasuke, menyelamatkannya.

Sasuke tersenyum miring meremehkan, menyulut emosi si preman yang memang sudah emosi semenjak diserang tadi.

"Hajar dia sialan!" perintahnya pada dua orang yang merupakan anak buah sang preman. Tanpa ba-bi-bu mereka langsung menyerang Sasuke bersamaan.

Tak disangka, serangan itu dapat Sasuke tangkis dengan mudah. Latihan bela dirinya ternyata memang bermanfaat. Ia balik menyerang mereka berdua dengan cepat tanpa perlawanan berarti. Dua preman itu jatuh terkapar menahan nyeri.

"Dasar tidak berguna! Awas kau!"

Bos itu bangkit, ia berlari ke arah Sasuke dengan pukulannya yang siap menghantam wajah si Uchiha bungsu. Merasa pasti berhasil menghancurkan wajah tampannya yang memuakkan itu.

"Mati kau!"

Grep

Si bos terbelalak, pukulannya ditahan.

Bugh!

Ia tersungkur lagi. Tangannya memegang hidung yang mengeluarkan darah, jangan bilang hidung nya patah!

Ia tak terima.

"Hyaaa!"

Grep

Bugh!

"Hyaaa!"

Grep

Buggh!

Sasuke telak mengenai ulu hatinya. Membuat si preman berhenti bernafas sesaat.

"B-bos"

"Ayo pergi!"

Dua anak buah yang sedari tadi hanya menonton menghampiri bos mereka yang terkapar tak berdaya. Takut menjadi korban selanjutnya, merekapun pergi membawa bos mereka dari sana.

"Hiks.."

Mata onyx Sasuke menatap pada seorang gadis di hadapannya. Keadaannya begitu buruk. Rambut pink acak-acakkan, baju penuh debu dan robekan di rok spannya. Ia juga melihat lecet di tangan kiri gadis itu. Tubuhnya bergetar ketakutan, jangan lupakan matanya yang sembab karena terus menangis sejak tadi.

Sasuke menghela nafas.

"Ayo, aku antar kau pulang."

Sakura-gadis itu-hanya pasrah saat Sasuke memapahnya menuju mobil, mengantarnya pulang. Ia masih syok mengalami kejadian tadi. Niatnya yang ingin mengirit waktu melewati jalan pintas karena tidak ada kendaraan umum yang lewat justru membawa petaka. Ia sempat melawan tapi sia-sia karena kalah jumlah. Untung Sasuke datang tepat waktu menyelamatkan dirinya sebelum terjadi apa-apa. Kalau tidak..

Sakura mendongkak menatap wajah datar atasannya. Bersyukur karena lelaki itu peduli padanya. Gadis itu tersenyum.

"Terimakasih, Sasuke."

"Hn."

Sakura.. Memang harus mengakui bahwa ia mencintai Sasuke.

Dari dulu.

.

.

.

Dua hari menjelang pernikahan Sasuke dan Hinata. Pria bermarga Uchiha itu cuti dari perkerjaannya untuk mempersiapkan diri. Ia menyerahkan tanggung jawabnya pada Kakashi-atas saran sang Ayah tentunya-. Jadi ia tak ambil pusing.

Dan setelah insiden yang terjadi pada Sakura, gadis itu kembali bekerja seperti semula. Menganggap tak ada yang terjadi pada malam itu. Tapi entah kenapa sekarang sikap Sakura terasa berbeda dari sebelumnya. Gadis itu jadi sedikit..

Perhatian? Dan mendekatinya?

Sasuke juga tak ambil pusing. Ia harus fokus pada pernikahannya dengan Hinata. Meskipun begitu, ia masih belum bisa menemui Hinata, mereka hanya bisa saling bertukar kabar lewat ponsel untuk saat ini. Masih banyak yang harus Sasuke persiapkan.

.

.

.

Satu hari menjelang hari pernikahan, Hinata mempersiapkan dirinya dengan pergi ke salon. Melakukan berbagai perawatan untuk mempercantik dirinya, meskipun tanpa semua perawatan itu pun Hinata sudah terlihat cantik alami. Hari ini ia berkesempatan untuk ditemani Sasuke. Lelaki yang besok resmi menjadi suaminya.

Lelaki itu kini duduk di kursi sebelahnya, membaca sebuah majalah demi mengusir kebosanannya. Ia mengabaikan tatapan memangsa gadis-gadis yang ada di salon itu, merasa jengah dengan atmosfir yang sering ia rasakan. Matanya sesekali melirik Hinata yang saat ini sedang melakukan perawatan pada rambut indigonya. Jika bukan karena gadis itu, ia tak akan sudi datang ke tempat ini.

"Ne, Sasuke-nii.."

"Hn?" Sasuke memfokuskan perhatiannya pada Hinata yang memandang lurus ke arah cermin.

"Sebenarnya aku memiliki satu permintaan yang belum terkabul." ujar Hinata seraya tersenyum kecil.

"Apa itu?" tanya Sasuke penasaran. Sumpah demi apapun, jika gadis itu mengungkapkan permintaan nya maka ia ingin mengabulkannya saat ini juga.

Hinata melirik Sasuke sekilas, masih dengan senyumnya ia menjawab, "Tapi aku rasa permintaanku akan terkabul sebentar lagi."

Sasuke tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, lelaki itu menghela nafas. Sejak kapan Hinatanya ini suka berteka-teki?

"Ya, apapun itu aku harap aku lah yang akan mengabulkannya." ucap Sasuke seraya menggenggam tangan gadis yang ia cintai.

.

.

.

Seorang pemuda berambut pirang meminum segelas air dalam sekali teguk, merasa haus setelah berpose selama sejam tanpa istirahat yang cukup. Ia mendudukkan dirinya di sebuah sofa putih yang ada di studio.

Ia mengambil ponsel dan membuka sebuah notif yang tertera di sana. Tanpa sadar lelaki itu tersenyum. Pesan dari sahabatnya yang menerima tawaran reuni nya. Bisa dibilang begitu mungkin.

Tiba-tiba sosok lelaki lain duduk di sebelahnya.

"Kau seperti orang gila senyum-senyum begitu."

Naruto melirik lelaki yang bekerja sebagai photographer nya.

"Kurasa kalimat itu harusnya ku katakan padamu, Sai."

Sai hanya tersenyum menanggapi. Naruto memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Hari ini pekerjaanku sudah selesai kan? Kalau begitu aku pulang." Naruto berdiri dari posisi duduknya.

"Buru-buru sekali. Kencan kah?"

"Dasar cenayang." ujar Naruto seraya menyeringai sebelum keluar dari studio tempatnya bekerja itu. Meninggalkan Sai yang hanya tersenyum penuh makna melihat kepergiaan sahabatnya.

.

.

.

Taman kota terlihat penuh saat seorang gadis keturunan Haruno datang ke sana. Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri berharap menemukan seseorang yang mengajaknya bertemu. Ketika dilihatnya kepala berambut pirang barulah ia menghampiri orang tersebut.

"Naruto!" panggil nya menyebut nama lelaki itu.

Naruto yang merasa namanya dipanggil menoleh ke sumber suara.

"Sakura.." Mereka saling melempar senyum.

Sudah lama sekali dua muda-mudi itu tidak bertemu. Banyak yang mereka bicarakan, mulai dari kabar sampai pekerjaan. Meskipun mereka sering bercengkerama lewat ponsel, tapi rasanya jauh lebih menyenangkan mengobrol secara langsung seperti saat ini. Terutama untuk Naruto. Mendengar cerita dari gadis yang sudah lama ia sukai tentang kehidupannya di Konoha membuatnya merasa bahagia sekaligus hangat di hatinya. Naruto memandang Sakura yang masih bercerita mengenai kehidupannya, bersyukur karena masih bisa melihat wajahnya yang begitu berseri.

Setelah beberapa menit, mereka memutuskan untuk membeli dua cone es krim. Lalu melanjutkan kembali perjalanan mereka menyusuri taman kota, tanpa repot-repot mencari bangku untuk menghabiskan es krim yang terasa nikmat itu.

"Dan mereka kadang menyebalkan. Membicarakan ku di bel-"

"Sakura.." Naruto terkekeh, ia mengusapkan jempolnya pada ujung bibir Sakura yang ternodai oleh es krim. Gadis ini seperti anak kecil saja.

Mata emerald itu naik menatap wajah Naruto yang terasa dekat. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur, membuat Naruto tersentak.

"Maaf, tapi ada es krim di bibirmu." ucap Naruto sedikit menjauh.

Hening beberapa saat. Hingga helaan panjang keluar dari bibir Naruto.

"Sakura.. Kau masih belum bisa menerimaku?"

"Naru, kau tahu?"

Naruto menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut gadis musim semi itu.

"Aku sudah menemukan pangeranku."

Mata pemuda pirang itu membelalak.

"Dan kau pasti tahu jawaban dari pertanyaanmu itu." bisik Sakura. Mata safir itu melayu.

"Tapi, Sakura-"

"Maaf, tapi aku sibuk." ucap Sakura saat menyadari hari sudah beranjak sore. Ia bergegas pergi dari taman itu setelah berpamitan pada sahabat kecilnya yang terus menunduk.

.

.

.

Sasuke menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya. Ia tersenyum tipis melihat dirinya yang memakai setelan baju pengantin berwarna putih. Rambutnya tertata lebih rapih dari biasanya. Dadanya bergemuruh merasakan kebahagiaan yang melingkupi hatinya. Meskipun ia juga merasa gugup karena sebentar lagi ia akan mengucap janji setia di hadapan orang-orang. Lelaki itu menghela nafas, menetralisir detak jantungnya yang berdetak tak karuan.

Cklek..

Seorang lelaki yang secara visual mirip dengannya memasuki kamar mewahnya. Lelaki yang lebih tua darinya itu menghampiri Sasuke disertai sebuah senyum. Jas hitam berharga jutaan yen melekat pada tubuh aniki-nya.

"Aku tidak percaya kau akan melangkahi ku." Aniki-nya, Itachi menepuk pundak sang adik tercinta.

"Aku memang selalu selangkah lebih maju darimu."

Itachi terkekeh.

"Sasuke.." suara seorang wanita di ambang pintu mencuri perhatian kedua adik-kakak itu. Wanita dengan umur yang bisa dibilang tidak muda lagi tetapi awet muda itu memakai gaun yang juga dirancang khusus untuk ia pakai di pernikahan anaknya.

"Ada apa ibu?" tanya Sasuke melihat raut cemas di wajah cantik ibunya. Sang ibu berjalan mendekati kedua anak lelakinya.

"Keluarga Hyuuga, mereka masih belum menelepon. Harusnya mereka menelepon jika sudah siap jadi kita bisa langsung pergi ke sana. Tapi..."

"Mungkin mereka masih sibuk, aku akan coba menelepon Hiashi-Otou-san." ucap Sasuke menenangkan kegelisahan sang ibu. Meskipun ia juga merasa khawatir karena dari kemarin malam Hinata juga tidak menjawab telepon ataupun membalas pesannya.

Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Hiashi.

"Hallo, Otou-san?"

'...'

"Tou-san?"

Sasuke mengernyit bingung karena tak mendapat jawaban dari seberang sana.

'Sasuke,'

.

.

.

'Hinata menghilang.'

.

.

.

Tbc

A/N: Hai semuanya! Apa kabar? Adakah yang masih menunggu ff ini? :'D Saya minta maaf karena lama update ff Gone ini huhuhu/silahkan timpukin saya/ Banyak banget yang harus saya urusin di duta apalagi mood saya yang suka hilang tiba-tiba menghambat proses pembuatan ff Gone. Maaf sekali lagi.

Dan untuk scene Naruhina saya belum bisa tunjukkin di chapter ini. Mungkin di chapter depan scene NH akan muncul. Jadi mohon bersabar.

Awalnya saya juga bikin ff ini cuma pengen buat 2-3 chapter. Tapi ternyata... Ah sudahlah :D

Lalu, terimakasih untuk yang sudah review, fav dan follow. Jujur itu semua memberikan saya sebuah semangat untuk melanjutkan ff ini :D

Akhir kata,

Mind to RnR?

.

.

.

Salam,

Ditty Glint