'Sasuke,'

'Hinata menghilang.'

.

.

.

Gone

Ditty Glint ILHyuuga

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Drama

Pair : SasuHina, NaruHina

Warning : AU, Ooc, typo, gaje, dll

Happy Reading!

.

.

.

Gelap.. Gelap kala kedua netranya perlahan terbuka. Menampilkan bola mata senada warna batu amethys. Seperkian detik kemudian cahaya putih mulai berpendar. Mengelilingi tempat itu, menggantikan kegelapan.

Tubuh sintalnya terasa ringan. Rambut indigonya yang tergerai melambai-lambai. Ia terbaring, tapi melayang. Seperti ada sesuatu yang menahan punggungnya, tapi tak ada apapun di sana kecuali kehampaan.

Gadis itu mulai menggulirkan matanya ke sekeliling. Hanya untuk mendapati warna putih sejauh mata memandang. Tak ada apapun.

Hanya kehampaan.

"Dimana aku?" suara lembut lirih menyebut tanya. Merasa linglung.

'Kau belum bisa pergi.'

Tangan gadis itu terjulur mencoba meraih suara yang tiba-tiba terdengar.

'Kau harus kembali.'

Seketika ruang hampa di sekelilingnya terasa berputar melemparnya ke sebuah dimensi yang berselubung pekat.

.

.

.

Kacau. Semuanya kacau.

Pernikahan dibatalkan.

Keluarga Hyuuga dan Uchiha terus mencoba mencari keberadaan Hinata. Tapi nihil, tidak ada barang sedikitpun tanda-tanda bahwa gadis itu akan ditemukan. Dua keluarga yang harusnya jadi besan itu kebingungan setengah mati. Di samping rasa malu dan marah, mereka justru khawatir dengan keadaan gadis itu. Kemungkinan bahwa gadis itu diculik tentu sangat besar. Mengingat banyaknya musuh-musuh bisnis dari dua perusahaan besar di negara itu yang ingin menjatuhkan mereka.

Tak pelak Hiashi dan Fugaku mengerahkan orang-orangnya untuk mencari gadis cantik bermarga Hyuuga. Ditambah dari pihak kepolisian yang membantu.

Di tengah semua yang terjadi, Sasuke hanya mampu berdiam diri. Mengurung diri di kamar gelap miliknya tanpa sedikitpun penerangan, menutup semua akses masuk cahaya. Lelaki itu menunduk dalam, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sendu.

Cklek

Pintu terbuka, cahaya dari luar menerangi sebagian kamarnya yang gelap gulita. Lelaki berambut pirang muncul di baliknya. Menyalakan saklar lampu sebelum melangkah mendekati Sasuke. Naruto menatap sedih.

"Hey, Teme.." tak di respon. Tidak tatapan mata yang tajam, tidak makian yang menyebalkan. Sasuke tetap menunduk, merasa tak perlu menunjukan wajahnya yang kuyu.

"Tem-"

"Dia meninggalkanku.." Sasuke menjambak rambutnya yang sangat acak-acakkan. Kian detik kian kencang.

"Kau-"

"Dia pergi.." kini kedua tangannya yang menjambak rambut. Sasuke mengkerut, menciut.

Ini bukan seperti Sasuke, ini bukan Sasuke yang suka mengumpat padanya. Sahabatnya ini seperti orang lain. Sahabatnya selalu kuat, tidak selemah ini. Lihatlah betapa menyedihkannya Sasuke sekarang.

Naruto menggeram, ia harus membawa Sasuke kembali.

"Dia mengkhianatiku.."

"Brengsek kau!" tarikan kuat didapat Sasuke membuatnya mau tak mau berdiri dan mendongkak. Menatap sahabat pirangnya yang marah.

"Kau yang paling tahu hal itu takkan terjadi. Dia tidak akan meninggalkanmu bodoh! Apalagi berkhianat! Kau tahu itu." Naruto mengatur napas. Sasuke menatap sayu padanya.

Mencengkeram kerah baju Sasuke semakin erat, "sekarang daripada kau terus mengasihani dirimu, lebih baik kau mencari gadis itu!"

Mata hitam Sasuke terpejam, "kau benar." lalu terbuka lagi seiring tatapan tajamnya yang kembali.

Naruto menghela nafas lega.

.

.

.

Rembulan malam terlihat indah di atas sana. Tanpa bintang, tanpa awan yang bergerak perlahan. Hanya hitam dan putih dari sang rembulan. Tapi langit malam ini sungguh indah bagi mereka yang menikmatinya.

Seorang gadis dengan mata sewarna permata amethys memerhatikan bulan dengan seksama. Rambut indigonya yang terurai melambai-lambai. Gaun hitam selutut yang ia kenakan berkibar. Kakinya telanjang.

Kaki tanpa alas itu melayang lalu perlahan mendarat di atas tanah yang dingin. Kedinginan yang tidak bisa ia rasakan. Sekali lagi gadis itu menatap rembulan. Bertanya-tanya,

Apakah ia bukan bagian dari dunia ini?

Ia tak bisa merasakan dingin. Ia tak bisa menyentuh benda-benda.

Apakah ia sudah mati?

Dan lagi,

Mengapa ia tidak ingat apapun?

Kelopak mata itu memejam, menyembunyikan amethysnya yang indah. Pasrah dengan takdir Tuhan yang diberikan padanya.

Kaki telanjang itu perlahan melangkah, menembus kegelapan di dalam hutan. Melangkah tanpa arah dan tujuan.

.

.

.

Lelaki bersurai pirang yang orang-orang kenal sebagai Namikaze Naruto terlihat sedang duduk di sebuah bangku taman. Mata sapphirenya terus menatap ponsel yang ia genggam dari tadi. Memperhatikan sebuah foto seorang gadis yang ia sayangi. Gadis berambut merah muda, tengah tersenyum manis dalam foto itu.

Naruto tersenyum kecut. Teringat kembali kata-kata yang Sakura ucapkan beberapa hari lalu.

"Naru, kau tahu?"

"Aku sudah menemukan pangeranku."

"Dan kau pasti tahu jawaban dari pertanyaanmu itu."

Dari dulu Sakura memang selalu berbicara tentang 'pangerannya'. Pangeran masa kecil yang menyelamatkan gadis itu dari sekumpulan anak nakal. Pangeran yang tidak diketahui namanya oleh Sakura maupun Naruto.

Dan sekarang Sakura sudah berhasil menemukan pangeran itu. Apalagi yang ia harapkan? Gadis itu dari dulu memang tidak pernah meliriknya. Mereka tak lebih dari sahabat.

Naruto menghela napas berat.

Kisah cintanya tak semulus karirnya.

Malam semakin larut. Naruto memang sengaja datang ke taman ini untuk menenangkan hatinya. Menenangkan pikirannya dari hal-hal yang menyangkut gadis musim semi itu. Memang tak seharusnya ia menghabiskan waktu di taman ini. Ia harusnya membantu Sasuke menemukan tunangannya yang hilang. Sungguh kasihan Sasuke, dia benar-benar kacau saat ini. Tapi hati dan pikiran Naruto juga benar-benar kacau. Ia butuh ketenangan.

Angin berhembus kencang saat sekelebat bayangan seorang perempuan melewati Naruto. Lelaki itu terlonjak.

Sapphire dan amethys bertemu.

Perempuan pemilik mata amethys berkilau terbelalak, menyadari sebuah keanehan. Tubuhnya berhenti di udara.

"Eh?"

Sedangkan Naruto yang menyadari kejanggalan dari gadis itu juga membelalak. Ia tersadar.

Gadis itu bukan bagian dari dunia ini.

Mata sapphirenya secepat kilat mengalihkan pandangan. Menatap layar ponselnya. Berpura-pura tidak pernah melihat gadis bersurai indigo itu. Tapi, si gadis yang penasaran terbang mendekatinya.

'Tatapan kami tadi bertemu. Apa dia bisa melihatku?'

Gadis itu mendekat ke arah Naruto. Memperhatikan wajahnya yang fokus pada layar ponsel. Gadis itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto. Tertarik pada sapphire biru yang terlihat menawan. Sebisa mungkin Naruto tidak menatap gadis di depannya. Tak ingin mengambil resiko.

'Sial! Menjauh dariku!' ucap Naruto kesal dalam hati.

Lelaki blasteran itu mulai terganggu karena kedekatan wajah mereka. Jantungnya berdetak tak karuan.

Gadis itu mengulurkan tangannya, bermaksud menyentuh wajah Naruto. Tapi ternyata tangan putih itu malah menembus wajah tan Naruto. Dia mengerjap-ngerjap.

"Waahh.. Tembus!" ucap gadis itu takjub seraya menarik tangannya dan menatap tangannya sendiri.

'Tentu saja, bodoh! Kau itu hantu!'

Gadis bergaun hitam itu mendarat, lalu duduk di samping Naruto. Ia penasaran dengan ponsel yang terus ditatap oleh lelaki pirang di sebelahnya.

Gadis itu melongokan kepala, "Apa sih yang dia lihat? Serius sekali."

Amethysnya menangkap foto seorang gadis cantik bersurai merah muda. Ia tersenyum.

"Wahh.. Pacarnya ya? Cantik sekali!"

Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di kepala indigonya, "Saat aku hidup, aku punya pacar tidak, ya?"

"Pasti punya!" ucap gadis itu optimis.

"Aku kan cantik." lanjutnya.

Kedutan tak kasat mata muncul di kening Naruto saat mendengar kenarsisan gadis hantu itu.

"Eh, memangnya aku cantik ya?" tiba-tiba gadis itu teringat, ia belum pernah melihat wajahnya sendiri.

Naruto sweatdrop, 'Astaga.. Aku harus pergi dari sini. Hantu ini sangat cerewet.'

Naruto berdiri dari duduknya membuat gadis itu mendongkak menatapnya.

"Eh? Mau kemana?" meskipun ia tahu suaranya tidak bisa didengar ia tetap bertanya.

Naruto tak bergeming. Lelaki itu terus melangkah, menjauh dari sana. Meninggalkan gadis yang tengah menatapnya sendu. Tak peduli jika gadis itu akan sendirian. Toh, dia adalah hantu. Untuk apa dipedulikan.

Memasuki mobilnya, Naruto pulang ke hotel yang ia tinggali.

Gadis itu menundukkan kepala saat Naruto tidak lagi terlihat. Surai-surai indigonya yang halus menutupi sebagian wajah ayunya. Tangannya saling meremas. Sesuatu dalam dadanya terasa hampa setelah kepergian Naruto. Keheningan menyelimutinya. Rasa sepi menyambutnya.

Ia sendiri lagi.

.

.

.

Di atas sebuah kasur putih, seorang gadis tengah merebahkan tubuhnya. Sebelah tangannya menggenggam surat undangan pernikahan. Tercetak dua nama mempelai yang membuat hati sang gadis berdenyut nyeri saat melihatnya.

Membuka mata, gadis itu memperhatikan surat undangan tersebut. Seharusnya dua pemilik nama itu sudah resmi menjadi pasangan suami-istri dua hari yang lalu. Tapi sesuatu terjadi dan pernikahan dibatalkan. Mata emerald milik sang gadis menatap nama mempelai pria dengan penuh makna.

"Sekarang aku yang akan menyelamatkanmu, Pangeranku."

"Menyelamatkanmu dari keterpurukan."

.

.

.

Rembulan digantikan sang surya. Gelap berganti terang. Pagi pun menjelang.

Di sebuah kamar hotel mewah terdapat seorang lelaki tengah tertidur pulas di kasurnya. Tubuh bagian atasnya tidak memakai sehelai benang pun. Memperlihatkan dada bidang berwarna tan yang eksotis. Rambut pirangnya berantakan, menambah kesan badas bagi para kaum hawa. Wajah dengan tiga garis di masing-masing pipi itu terlihat tenang. Setenang pagi yang menyambutnya. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama ketika matanya mulai terbuka.

Hal pertama yang dilihatnya adalah bulu mata lentik berwarna indigo, lalu hidung mungil yang mancung, dan bibir merah muda yang merekah. Naruto yang baru terbangun mencoba memproses visual seseorang yang tertidur di hadapannya.

Selain dirinya, tidak ada yang menempati kamar hotel ini. Ia juga ingat bahwa dirinya tidak pergi ke Konoha dengan orang lain. Apalagi meminta seseorang untuk menemaninya tidur. Lalu, siapa orang ini?

Kelopak mata seseorang di hadapannya terbuka, menampilkan pupil amethys yang berkilau saat menatapnya. Barulah Naruto sadar sepenuhnya.

"H-HUWAAAA!"

Gadis itu tersenyum manis, "Ohayou."

.

.

.

Tbc

Chapter sekarang kependekan, ya? Gomen.. T-T Sebenernya saya mau update nanti, tapi karena kuota menipis jadi saya update sekarang saja. Takutnya kalau saya tunda-tunda jadi makin lama. :')

Oke, kalau gitu saya mau membalas reviews di chapter 4. Langsung saja,

ranmiablue: Hayo.. Naruhina atau Sasuhina? :D Kalau kamu penasaran baca terus Gone, ya!

Caaries Laventa: Halo Caaries! Iya, saya juga seneng bisa update chapter baru. :D Sekarang NH udah saling ketemu, loh! Dan kenapa NH jadi slight? Sebenernya NH bukan slight pair, sih. Saya dari awal emang niatnya ada 2 pair buat Hinata, karena itu mereka ada dalam satu kurungan. Iya saya tag Sakura juga, ya. Rasa penasaran kamu sudah terbayar kah di chapter ini?

KaoriRiin: Kenapa Hinata bisa menghilang? Saya rasa kamu sudah bisa menebaknya di chapter ini. Hehe.. Siap ^^ Yosh, ganbatte!

161200-chan: User name kamu tanggal lahir kamu kah? Hinata diculik? Bisa jadi. Mungkin dari chapter ini kamu bisa menebak kenapa Hinata menghilang. Yosh siap! ^^

Pikajun: Wah, arigatou.. :D Nah, soal yang diawal Sasu minta putus sama Hinata itu cuma mimpi, kok. Ikutin terus ceritanya ya! ^^

NARHINA: Yosh, Naruhina! :D

Clareon: Yhaa.. Kenapa di skip? Wihh biarkan alam yang memisahkan sepertinya kejadian, ya. :D Waduh gimana ya, soalnya ada pair NH juga. :D Tapi semoga happy end, ya.

loki: Yosh, Naruhina! ^^

Untuk reviews di chapter sebelum-sebelumnya, maaf saya tidak sempat membalasnya. T-T Gomen..

Dan terimakasih untuk fav, follow dan reviewsnya minna. ^^

Akhir kata,

Mind to RnR?