Gone
Ditty Glint
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Drama
Pair : SasuHina, NaruHina
Warning : AU, Ooc, typo, gaje, dll
Happy Reading!
.
.
.
"HU-HUWAAAA!" Naruto berteriak kalap. Ia bergerak menjauhi gadis yang tengah tertidur di kasurnya. Wajahnya pucat pasi.
Benar-benar bukan pagi yang indah.
"Ternyata kau memang bisa melihatku," ucap gadis itu seraya bangun dari tidurnya.
Jantung Naruto berdetak cepat karena keterkejutannya. Lelaki itu mengerjap.
"K-kecoak!" Naruto membelalakkan matanya berlebihan, tangannya menunjuk sesuatu yang bahkan tak ada di sana. Ia sedang berpura-pura.
"HUWAAAAAA!" Naruto lari terbirit-birit seperti orang bodoh menuju kamar mandi. Berpura-pura ketakutan.
Dibantingnya pintu kamar mandi dengan kencang sehingga bunyi berdebum mengagetkan sang gadis. Gadis itu mengernyit bingung. Tatapannya beredar mencari makhluk kecil menjijikkan yang mungkin berkeliaran di kasur itu.
"Memangnya di hotel sebagus ini ada kecoak?" gumamnya bingung.
.
.
Naruto keluar dari kamar mandi dengan tubuh setengah telanjang. Ia mengacak-acak rambut kuningnya yang basah lalu berjalan menuju lemari.
Sebelumnya, mata safir Naruto mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia tak menemukan hantu itu. Seperti perkiraannya, akting yang ia lakukan berhasil membuat hantu gadis itu pergi. Hantu itu pasti mengira Naruto tidak bisa melihatnya dan akhirnya pergi.
Syukurlah, dengan begini dia tidak akan diganggu.
Selama memakai baju, otak Naruto terus berputar mencari jawaban akan kehadiran hantu itu. Ia bukanlah seorang indigo. Tetapi kenapa lelaki itu bisa melihat hantu?
Dari yang ia perhatikan di film-film sih, jika kau bisa melihat hantu itu artinya ada hubungan antara hantu itu dengan dirimu. Tapi, apa? Naruto bahkan tidak mengenal siapa hantu gadis itu.
Lagipula, Naruto tidak ingin direpotkan oleh hantu yang mengikutinya. Apalagi meminta bantuannya.
'Jangan sampai.'
Naruto melangkah keluar dari kamar setelah selesai memakai baju. Dia berjalan santai ke arah kulkas kemudian mengambil softdrink dan meminumnya. Seketika tenggorokannya yang kering menjadi terasa segar.
"Hei!"
Byurrr!
"Uhuk! Uhuk!"
Tiba-tiba hantu itu muncul di hadapannya. Naruto terbatuk saking kagetnya. Matanya melotot menyeramkan menatap hantu itu.
"Ya ampun! Minuman ini sudah kaladuwarsa, untung saja aku tidak meminum semuanya," Naruto memperhatikan tanggal kaladuwarsa di kaleng minuman yang ternyata masih sangat lama. Ia kemudian berlalu tanpa menghiraukan hantu itu.
Sementara sang hantu menatap sedih punggung Naruto yang mulai menjauh. Ia yakin lelaki itu pasti bisa melihatnya. Hanya saja, lelaki blasteran itu pura-pura tidak melihatnya.
Baiklah, ia tidak akan menyerah.
.
.
'Sumpah! Apa sih maunya hantu itu!'
Naruto dibuat kesal setengah mati karena tingkahnya. Hantu menyebalkan itu kini mengganggunya setiap saat. Tidak peduli pagi, siang, malam Naruto terus diganggu. Saat makan, nonton tv, tidur bahkan mencukur jenggot pun ia diganggu.
Tunggal Uzumaki itu meringis menyentuh dagunya yang tergores pisau cukur. Naruto tidak tahu kejadian apalagi yang akan menimpanya nanti.
"Dagumu kenapa?" Sai bertanya setelah memperhatikan Naruto yang terus meringis sambil menyentuh dagu.
"Pisau cukur," jawab Naruto tak jelas tetapi bisa dimengerti rekannya itu. Sai mengangguk-angguk.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Sasuke?"
Naruto menghela napas, "Dia sudah lebih baik. Tetapi tunangannya belum ditemukan."
"Kasihan sekali dia," gumam Sai.
"Andai aku bisa menemukannya."
Mereka terdiam beberapa saat memikirkan nasib yang menimpa Sasuke. Entah kapan tunangannya itu bisa ditemukan. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap agar Sasuke baik-baik saja.
"Naruto cepat ganti baju!" seru seorang penata rias seraya menjinjing baju yang akan Naruto pakai. Naruto menghampirinya dengan malas.
Penata rias berkaca mata itu mengernyit melihat dagu Naruto yang tergores.
"Dagumu kenapa?"
"Tergores pisau cukur," jawab Naruto acuh tak acuh. Ia kemudian menerima baju yang akan dikenakannya untuk pemotretan hari ini.
"Ya ampun! Memangnya kau baru belajar pakai pisau cukur apa! Menambah pekerjaanku saja!" penata rias itu mengomel dengan jengkel karena ia harus menutupi luka itu agar tak terlihat.
"Ya ya ya~" Naruto menjawab malas. Ia kembali teringat hantu itu dan kesialan yang menimpanya. Seketika moodnya menjadi jelek.
Ah, sebenarnya kenapa ia bisa bertemu dengan hantu itu?
.
.
Sebuah mobil hitam menepi ke sisi jalan di hutan itu. Awan hitam bergemuruh di atas sana, angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering. Udara seketika melembab dan terasa dingin.
Seorang Sasuke Uchiha termenung di dalam mobil. Menatap kosong hutan yang dilingkupi gelapnya malam. Pikirannya buntu, ia tidak tahu lagi kemana ia harus mencari Hinata. Semua orang telah mencari jejaknya tapi tak ada tanda-tanda dari gadisnya itu.
'Kemana kau, Hinata?'
Sasuke menggeram kesal. Ia benar-benar tidak berdaya tanpa Hinata.
Lihatlah kantung mata dan wajah pucatnya yang semakin tirus. Beberapa hari ini ia tidak bisa tidur memikirkan tunangannya. Makan pun ia enggan.
Bagaimana ia bisa tidur dan makan dengan tenang sementara ia tidak tahu keadaan Hinata saat ini?
Ia harus mencari Hinata.
Sasuke memutar arah mobilnya untuk kembali ke arah kota. Ia ingin pergi ke kantor polisi untuk menanyakan perkembangan Hinata. Dan mungkin meminta tambahan personil dalam pencarian gadis itu.
Mobil hitam itu melaju membelah kabut hutan yang mulai menebal. Deru mobil semakin menjauh dari hutan itu. Menyisakan hening diantara dinginnya hutan.
Andai saja Sasuke tidak memutar arah dan meneruskan perjalanannya beberapa ratus meter lagi. Mungkin ia akan menemukan sesuatu di sana yang menunggu kehadirannya.
.
.
Sakura berdiri santai di trotoar jalanan. Tangan kanannya menjinjing kotak makanan yang baru di belinya tadi. Sementara tangan kirinya menenteng tas yang berisi dokumen-dokumen penting. Gadis pink itu berencana untuk berkunjung ke rumah Sasuke. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan sekalian juga melihat keadaan sang bos.
Sakura menunggu taksi dengan senyuman.
Tak berselang lama, sebuah mobil sport kuning berhenti di depannya. Kaca mobil perlahan terbuka memperlihatkan Naruto yang tersenyum cerah menyapa Sakura. Sakura membelalak.
"Naruto?"
"Hai, Sakura-chan! Kau sedang apa malam-malam begini?" tanya Naruto hangat.
"Aku sedang menunggu taksi."
"Mau kemana? Biar aku yang antar."
"Ke rumah bosku. Bolehkah?" Sakura berjalan mendekat.
"Tentu saja. Ayo!"
Gadis itu akhirnya masuk ke dalam mobil milik Naruto. Ia mengucapkan terimakasih dan memasang sabuk pengaman.
"Memangnya siapa bosmu? Kenapa kau sampai repot-repot datang ke rumahnya?" tanya Naruto setelah mobil kembali melaju.
"Sasuke Uchiha."
"HAH?!" Naruto menoleh cepat dengan wajah terkejut.
Sementara Sakura mengernyit bingung, "kenapa?"
Naruto kembali fokus mengemudi, "Jadi selama ini kau bekerja di perusahaan Uchiha?"
Sakura mengangguk, "Iya. Memangnya kenapa?"
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu. Sasuke itu sahabatku," ucap Naruto cemberut karena baru mengetahui fakta bahwa Sakura bekerja di perusahaan Uchiha.
"Benarkah?"
Naruto mengangguk, "Kebetulan aku juga mau ke rumahnya sekarang. Aku khawatir dengan keadaannya."
"Ya, aku juga. Aku khawatir karena ia tidak mau mengangkat teleponku, padahal ada beberapa hal yang harus dibicarakan masalah pekerjaan. Makanya aku memutuskan untuk ke rumah bos saja," jelas Sakura seraya tersenyum menatap kotak makan di pangkuannya.
Naruto melirik gadis di sampingnya. Jantungnya bergemuruh tidak senang. Ia merasakan firasat buruk saat ini.
Tidak mungkin Sasuke, kan?
.
.
Pangerannya?
TBC
Hai, Minna! Gomenasai kalau chapter ini kurang panjang, padahal saya updatenya lama. Yang penting saya update dulu, ya.. Hoho
Yuk, review!
