Tidak mungkin Sasuke, kan..

Pangerannya?

.

.

.

Gone

Ditty Glint

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Misteri, Supranatural

Pair : SasuHina, NaruHina

Warning : AU, Ooc, typo, gaje, dll

Happy Reading!

.

.

.

Seorang gadis dengan rambut cokelat pendek terlihat tengah duduk di dalam mobilnya dengan wajah gelisah. Kedua tangannya meremas erat kemudi mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menyandarkan kepalanya ke kemudi itu, kemudian menghela napas.

"Bagaimana ini?" lirihnya pelan.

Matanya terpejam mengingat kejadian beberapa hari lalu. Dahinya mengernyit, seakan tidak ingin mengingat kejadian tersebut dan ingin segera melupakannya.

Kembali ia menghela napas kemudian duduk tegak dan bersiap untuk menjalankan mobilnya. Tak lama mobil itu melaju membelah jalan raya Konoha yang tampak masih padat meskipun siang ini matahari tampak terik.

.

.

.

Sementara itu keheningan menyelimuti Naruto dan Sakura sepanjang perjalanan menuju mansion Uchiha. Mereka berdua tengah bergulat dengan pikirannya masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan. Hanya suara deru mobil yang menemani perjalanan mereka kali ini.

"Ohh.. Jadi ini gadis yang kau sukai?"

Naruto menegak mendengar suara yang akhir-akhir ini terus mengganggunya.

Hantu sialan!

Sakura yang merasa lelaki di sampingnya tiba-tiba berubah tegang menoleh ke arah lelaki itu dengan raut heran.

"Kau kenapa?"

"T-tidak apa-apa," Sakura semakin heran mendengar suara gagap Naruto yang tidak biasa.

Sedangkan hantu yang beberapa hari ini menempeli Naruto terkikik menahan tawa di belakang kursi penumpang, merasa lucu dengan reaksi lelaki itu. Ternyata lelaki berambut pirang itu tidak sadar bahwa ia menyelinap masuk ke mobil ini.

Alis Naruto menukik mendengar suara hantu yang kini menertawakannya.

Apanya yang lucu?!

Ah.. moodnya menjadi jelek sekarang.

"Naruto?"

"Tidak apa-apa Sakura-chan. Aku baik-baik saja."

Beberapa menit kemudian gerbang mansion Uchiha yang begitu megah terlihat beberapa meter di depan mereka. Sakura menatap takjub gerbang dengan ukiran khas Eropa itu. Gerbangnya saja sudah megah, bagaimana dengan rumahnya? Sakura tak bisa membayangkan kemewahan yang akan menyambutnya nanti.

Seorang security menghampiri mobil kuning itu dan menanyakan identitas serta keperluan mereka datang ke sana. Naruto memperlihatkan kartu identitasnya dan berkata ia adalah sahabat Sasuke. Setelah mendapat persetujuan dari nyonya Uchiha yang sebelumnya security itu hubungi, akhirnya mereka pun diperbolehkan masuk ke mansion Uchiha.

Sekali lagi Sakura terperangah melihat halaman mansion Uchiha yang sangat luas. Rasanya ia akan lebih dulu kelelahan untuk mencapai rumah utama jika dia berjalan kaki. Untung saja ia menumpang mobil Naruto. Berterima kasihlah kepada sahabat pirangnya.

Hal yang sama dirasakan oleh hantu yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam mobil Naruto. Kini dia tengah terperangah melihat pemandangan di depannya yang sangat membuat takjub siapapun yang melihatnya.

'Orang sekaya apa bos Uchiha ini sampai-sampai ia memiliki rumah-bukan..istana semegah ini?!' hantu gadis itu menjerit dalam hati.

"Ayo turun." Naruto membuka pintu dan turun dari mobil. Begitupun dengan Sakura, gadis musim semi itu turun dari mobil dengan tatapan yang masih terpaku pada pemandangan di sekitarnya.

"Ini benar rumah Sasuke?" tanya Sakura memastikan.

Naruto menaikkan sebelah alisnya, "Kau tidak percaya padaku?"

Sakura tersenyum kaku, "Tentu saja aku percaya."

"Kalau begitu, ayo!" Naruto berjalan menuju rumah utama diikuti oleh Sakura di belakangnya juga seorang hantu yang diam-diam mengikuti.

"Kau ini kebiasaan sekali tidak menghubungi Baa-san dulu sebelum datang," Mikoto menyambut Naruto dengan protesan karena kebiasaan lelaki itu yang senang sekali berkunjung tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Bukan apa-apa, hanya saja mungkin Naruto tak akan repot ditahan security jika ia memberitahukan kedatangannya terlebih dahulu.

"Hehe.. Aku lupa Baa-san," Naruto tersenyum meringis membalas protesan Mikoto.

Melihat adanya orang asing yang ikut dengan sahabat anaknya ini, Mikoto pun menoleh dan tersenyum ke arah gadis berambut merah muda yang juga sedang tersenyum ke arahnya. Baru kali ini ia bertemu dengan gadis itu. Pacar Naruto kah?

Karena Mikoto terus memandangnya dengan tatapan bertanya tanpa menanyakan identitas dirinya, Sakura berinisiatif untuk memperkenalkan diri. Tetapi hal itu harus ia urungkan karena Naruto sudah terlebih dulu memperkenalkannya.

"Dia Sakura, Baa-san. Asisten Sasuke."

Sakura tersenyum dan sedikit membungkuk, "Sakura Haruno."

Mikoto hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi perkenalan diri gadis di hadapannya.

"Ku dengar kinerjamu bagus, Haruno-san," kata Mikoto teringat ucapan anaknya, Sasuke beberapa bulan lalu.

Sakura merona mendapat pujian tiba-tiba dari nyonya besar Uchiha ini, tapi kemudian ia tersenyum sopan dan berkata, "arigatou, Uchiha-sama."

"Tolong pertahankan."

"Hai."

"Baa-san di mana Sasuke? Kami ingin bertemu dengannya," ucap Naruto karena tak kunjung melihat keberadaan Sasuke.

"Tunggu sebentar, Baa-san panggil dulu anak itu. Kalian duduklah dulu." Dengan begitu, Mikoto pun pergi meninggalkan mereka berdua untuk sementara.

Naruto dan Sakura memilih untuk duduk di kursi yang disediakan di ruangan itu, berbeda dengan gadis hantu yang lebih memilih untuk pergi berjalan-jalan entah kemana. Naruto yang melihat tingkah hantu itu hanya menghela napas pasrah. Biarlah dia pergi kemana pun dia suka asal kali ini dia tidak mengganggunya.

"Naru kau kenapa? Kau terlihat aneh hari ini. Apa ada suatu hal yang mengganggumu?" tanya Sakura khawatir melihat raut wajah Naruto yang tampak gelisah.

'Ya, ada. Seorang hantu menyebalkan terus menggangguku akhir-akhir ini. Padahal aku bukan seorang indigo dan terlebih lagi aku tidak mengenal hantu itu. Tapi kenapa aku bisa melihatnya dan hantu itu terus mengganggunya?! Apa salahnya?!'

Naruto menghela napas. Jika ia mengatakan semua itu pada gadis di sampingnya mungkin gadis itu akan menganggapnya tak waras dan menyuruhnya pergi ke psikiater.

"Aku baik-baik saja."

.

.

.

Gadis hantu itu terus berdecak kagum sepanjang jalan melihat desain dan interior ruangan demi ruangan yang ia lewati. Ia terus bertanya-tanya berapa banyak uang yang mereka habiskan untuk membangun mansion ini? Gadis tersebut geleng-geleng kepala.

Tiba-tiba seekor kucing menghampirinya dan mengelus-eluskan badannya di kakinya. Si gadis indigo terlonjak kecil.

"Eh?"

"Miaw.." kucing putih itu menatapnya lucu.

"Aaaah lucunyaaaa!" gadis dengan gaun hitam selutut itu berjongkok dan mengusap-usap lembut bulu kucing putih di hadapannya.

"Kau bisa melihatku, kucing manis?"

"Miaw.."

"Ah, aku senang sekali akhirnya ada yang bisa melihatku selain orang itu," ia tersenyum.

"Tapi aku mau melihat-lihat isi rumah ini, kau mau ikut?" si indigo menatap kucing putih di hadapannya.

"Kau ikut. Ayo!" ia bangkit dan berjalan menuju ruangan lain yang menarik perhatiannya dengan kucing putih yang terus mengekornya.

Sepanjang jalan gadis indigo itu tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat kemewahan rumah utama keluarga Uchiha. Apa mereka tidak sayang dengan uang mereka? Pasti butuh jutaan dollar untuk membangun rumah semewah ini. Gadis itu kembali geleng-geleng kepala.

Tapi, ngomong-ngomong lewat jalan mana tadi ia pergi?

Ah, sepertinya ia tersesat.

"Miaw.." tiba-tiba kucing putih yang sedari tadi mengekornya berjalan cepat menuju sebuah ruangan yang tidak terkunci dan memasukinya.

"Eh, kucing manis kau tidak boleh masuk ke sana!" seru si indigo sembari menghampiri kucing putih yang malah masuk ke dalam ruangan tersebut.

Dengan sedikit perasaan tidak enak dan penasaran, gadis itu memasuki ruangan yang ternyata ruang kerja seseorang. Ia menatap satu-persatu barang yang didominasi oleh buku-buku tebal dan dokumen penting. Seperti ruang kerja pada umumnya. Tapi ada satu benda yang menarik perhatiannya. Sebuah foto berbingkai putih. Ia mendekat untuk melihat lebih jelas foto tersebut.

Seorang lelaki berambut hitam dengan model pantat ayam, seorang gadis manis berambut indigo panjang dan seekor kucing putih terlihat bersama dalam foto tersebut.

"I-ini.. kau?" hantu tersebut bertanya pada kucing putih yang menatapnya polos.

"Miaw?"

"Heee benar ya ini kau, tapi siapa dua orang ini? Mereka majikan mu, ya?"

"Miaw.."

Gadis indigo itu hanya menghela napas pasrah. Tidak ada gunanya bertanya pada seekor kucing. Toh mereka tidak akan mengerti ucapan kita, pun sebaliknya.

"Sasuke.." suara seorang wanita mengalihkan perhatian gadis itu. Ia cepat-cepat keluar untuk melihat apa yang terjadi.

"Sasuke buka pintunya, Naruto dan asisten mu ingin bertemu denganmu," seorang wanita berumur memanggil seseorang yang sepertinya enggan keluar dari kamarnya.

"Sasu-"

Cklek

Gadis indigo itu terus memperhatikan seorang lelaki yang keluar dari kamarnya. Rambut hitam dengan model pantat ayam dan wajah tampan yang sedikit lesu itu sangat mirip dengan seseorang yang ia lihat di foto tadi.

Gadis itu menunduk menatap kucing yang berada tak jauh dari kakinya.

"Dia majikanmu?" tanya gadis itu penasaran. Sedangkan kucing putih itu hanya menatapnya dengan tatapan tak tahu apa-apa.

"Miaw.."

Dua orang yang berada tak jauh darinya menoleh terkejut ke arah kucing putih yang diam di depan ruang kerja Sasuke. Gadis indigo itu panik karena kini lelaki berambut pantat ayam itu berjalan menghampirinya-oh, bukan-tapi berjalan menghampiri kucingnya. Gadis itu menghela napas. Kenapa ia bisa lupa bahwa ia bukanlah bagian dari dunia ini? Ia tidak perlu takut jika mereka akan memergokinya. Toh, dia tidak terlihat.

Gadis itu memperhatikan wajah yang kini berjarak beberapa jengkal darinya. Wajah tampan itu tampak diselimuti kesedihan yang sangat kentara. Apalagi mata onyxnya yang menyorotkan kehampaan. Gadis itu bertanya-tanya kenapa lelaki itu tampak begitu...sedih? Hal apa yang membuatnya menjadi seperti itu?

Lelaki bermarga Uchiha itu perlahan berjongkok kemudian mengelus bulu lembut kucing putih miliknya. Si kucing hanya diam menikmati elusan hangat dari sang majikan. Sedangkan gadis tak terlihat yang berdiri di samping mereka tersenyum memperhatikan pemandangan tersebut. Hatinya terasa hangat.

"Kenapa kau ada di sini, Snowy?" suara maskulin yang entah mengapa terasa familiar menyapa gendang telinga si gadis indigo.

"Miaw.." kucing itu mengelus-eluskan kepalanya ke tangan Sasuke.

"Kau merindukan Hinata?" Sasuke tersenyum lemah.

"Miaw.."

"Sasuke.." Mikoto mendekati anaknya. Ia menepuk bahu anak bungsunya itu pelan.

Sasuke sekali lagi mengelus lembut Snowy sebelum akhirnya ia berdiri dan pergi menemui Naruto dan asistennya. Mikoto meraih kucing kesayangan anak dan calon menantunya itu dan menggendongnya.

"Kenapa kau bisa berkeliaran sampai ke sini? Biasanya kau datang ke sini kalau Hinata-chan berkunjung, hm? Kau merindukannya?" tanya Mikoto penasaran karena biasanya kucing itu tak pernah meninggalkan ruangan khusus yang dibuat untuknya kecuali jika Hinata berkunjung ke sana.

"Miaw.."

"Tenang saja, kita sedang berusaha menemukannya."

Mikoto memutuskan untuk pergi ke ruangan Snowy yang berada di seberang ruangan yang Sasuke tuju. Gadis indigo yang terus diam memperhatikan itu akhirnya memilih ikut bersama Sasuke untuk menemui Naruto dan Sakura di ruang tamu.

.

.

.

Sebuah mobil hitam menepi di sisi jalanan sepi yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Kabut tebal di sekelilingnya juga menambah kesan misterius hutan tersebut. Apalagi jalanan tersebut jarang dilalui oleh kendaraan karena banyaknya mitos yang beredar tentang keangkeran hutan di kedua sisi jalan itu.

Tiba-tiba seorang gadis berambut pendek keluar dari mobil. Selama beberapa menit ia hanya memperhatikan hutan yang ditutupi kabut di sebelah kirinya. Hingga sebuah dering menyadarkannya dan gadis itu pun mengangkat telepon dari kakaknya.

"Matsuri kau dimana? Sebentar lagi kita harus berangkat ke Suna, kau tidak mau kami tinggalkan bukan?" ucap seseorang di seberang sana..

Gadis itu menjawab dengan gugup, "b-bolehkah aku tinggal di Konoha beberapa hari lagi? L-lagipula aku bawa mobil sendiri, Gaara-nii t-tidak perlu khawatir. Aku bisa pulang sendiri."

"Tapi Matsu-"

"Aku mohon Gaara-nii.. H-hanya beberapa hari saja."

Gadis itu menunggu jawaban di seberang telepon dengan cemas. Bagaimana jika kakaknya tidak mengijinkan?

"Baiklah."

Wajahnya berubah sumringah mendengar jawaban dari sang kakak, "a-arigatou, Nii-san."

"Hm, hati-hati di sana."

"Hai."

Telepon dimatikan. Gadis itu pun menarik napas sebelum memutuskan untuk melanjutkan niatnya. Ia pun melangkah masuk ke dalam hutan berkabut yang membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Perlahan-lahan tubuh kecil gadis itu menghilang diantara kabut yang menyelimutinya.

.

.

.

Tbc

A/n : Uhum, hai readers semuanya! Apa kabar? /menampakkan wajah tanpa dosa/huhuhu maafkan saya karena tidak pernah update ff ini :') semoga kalian tidak melupakan alur cerita ff ini /padahal author sendiri juga sempat lupa alur ceritanya sendiri/plakk/ gomen :(

Oh ya, jika kalian perhatikan saya mengubah genre cerita ini menjadi misteri dan supranatural. Saya rasa genre itu lebih cocok karena sekarang ff ini sudah mulai masuk ke misteri penyebab menghilangnya Hinata/yeeeay/

Semoga saya update tidak terlalu lama lagi ya. Doakan saja mood saya tetap bagus dan imajinasi saya tetap lancar untuk melanjutkan ff ini sampai selesai.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!