"Hm, hati-hati di sana."
"Hai."
Telepon dimatikan. Gadis itu pun menarik napas sebelum memutuskan untuk melanjutkan niatnya. Ia pun melangkah masuk ke dalam hutan berkabut yang membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Perlahan-lahan tubuh kecil gadis itu menghilang diantara kabut yang menyelimutinya.
.
.
.
Gone
Ditty Glint
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Misteri, Supranatural
Pair : SasuHina, NaruHina
Warning : AU, Ooc, typo, gaje, dll
Happy Reading!
.
.
.
"Sasuke-sama.." gumam Sakura pelan saat Sasuke memasuki ruangan tempat Naruto dan Sakura menunggu. Penampilan Sasuke tak secerah biasanya meskipun kini ia tidak semenyedihkan beberapa hari lalu. Sasuke duduk di kursi yang berseberangan dengan mereka.
"Ada apa?" tanya Sasuke to the point.
"Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu, Teme. Kenapa kau ketus begitu?" jawab Naruto sembari melirik ke arah gadis tak terlihat yang kini ikut duduk di samping Sasuke.
"Sakura?" lelaki bermarga Uchiha itu kini menoleh ke arah Sakura.
"Ini, ada beberapa dokumen penting yang harus saya berikan pada Sasuke-sama. Saya sudah menghubungi Sasuke-sama tetapi tidak ada jawaban. Jadi, saya memutuskan untuk datang kemari," jawab Sakura sembari menyerahkan beberapa dokumen penting ke arah Sasuke.
"Hn." Sasuke menerima dokumen-dokumen itu dari tangan Sakura dan mulai membacanya.
Sasuke baru teringat sesuatu, "Bukankah kau bisa menyerahkan semua ini kepada Kakashi? Kenapa kau harus repot-repot mengantarnya ke sini?"
Naruto yang juga baru sadar hal tersebut menatap penasaran pada sahabat musim seminya.
"I-itu.. saya rasa ini dokumen yang sangat penting. Jika saya menyerahkannya pada Kakashi-san, saya rasa beliau juga akan memerintahkan saya untuk menyerahkannya pada anda," jawab Sakura gugup.
Sasuke hanya mengangguk tak mempermasalahkan, sedangkan Naruto menatapnya curiga. Ia sudah hapal gelagat gadis berambut merah muda itu. Waktu yang mereka habiskan selama ini sudah cukup untuk membuat Naruto tahu bahwa ada yang Sakura sembunyikan dari cara bicaranya yang mulai gugup.
"Bagaimana perkembangan Hinata?" tanya Naruto ingin mengetahui perkembangan kasus menghilangnya calon istri Sasuke.
Sasuke menghela napas dan menyimpan dokumen yang ia pegang ke atas meja, "belum ada perkembangan berarti, tapi polisi menyimpulkan bahwa Hinata tidak melarikan diri, kemungkinan besar Hinata diculik entah oleh siapa itu."
Lelaki yang selalu terlihat dingin itu kini tampak gelisah. Ia mengusap wajahnya yang kusut. Pikirannya kalut, ia takut sesuatu terjadi pada gadisnya di luar sana. Kemungkinan-kemungkinan buruk terus berseliweran di otaknya. Membuat nafsu makannya berkurang dan membuat tidurnya tidak nyenyak. Meski tak separah beberapa hari lalu, tapi tetap saja hidupnya terasa kacau tanpa kehadiran kekasihnya itu.
"Ayahku punya kenalan seorang detektif handal di kota Suna. Aku akan menghubunginya untuk membantumu mencari Hinata," ucap Naruto tak tahan melihat keadaan sahabatnya yang kacau. Ia ingin membantu Sasuke meskipun itu hanya sedikit.
"Hn. Terimakasih."
"Untuk sekarang jagalah kesehatanmu. Jangan sampai kau sakit karena terlalu keras pada dirimu sendiri," ujar Naruto menasihati.
"Iya, Sasuke-sama. Ada baiknya anda menjaga kesehatan anda."
Sasuke mengangguk mengiyakan ucapan dua orang di hadapannya ini. Bagaimanapun ia harus menjaga kesehatannya agar ia tidak jatuh sakit sebelum Hinata ditemukan. Mulai hari ini ia harus memperhatikan pola makan dan tidurnya sembari terus memantau perkembangan Hinata.
Sementara itu, gadis indigo tak terlihat di sebelah Sasuke terus memperhatikan raut wajah gadis Haruno di depannya yang sedikit janggal. Sebenarnya ia tidak ingin berpikiran buruk tetapi gadis itu terlihat tidak nyaman duduk di sana dan terlihat ingin berlama-lama duduk di sana dalam waktu bersamaan.
.
.
.
"Naru, jangan mengantarku ke rumah. Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor," ucap Sakura ketika Naruto mulai melajukan mobilnya.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kantor Uchiha," jawab Naruto sambil melirik Sakura.
Gadis itu terus menunduk menatap kotak makanan di pangkuannya. Mata emeraldnya terlihat sendu. Sebenarnya tadi ia ingin menyerahkan makanan ini untuk Sasuke. Tetapi tiba-tiba ia merasa malu karena makanan yang ia bawa tidak seberapa.
"Makanan untuk siapa?" tanya Naruto tiba-tiba. Sakura tersentak kecil, ternyata Naruto memperhatikannya dari tadi.
"I-ini.. sebenarnya tadi ini untuk makan siangku, tetapi seorang teman mentraktirku sebelum aku berangkat ke mansion Uchiha, padahal aku sudah memesan ini. Akhirnya aku membungkusnya. Apa kau mau, Naruto? Aku sudah kenyang," jawab Sakura asal. Padahal ia pun belum makan siang.
"Aku juga sudah makan siang. Kau simpan saja untuk nanti sore."
"Baiklah.."
Mobil Naruto menepi di halaman kantor Uchiha. Sakura keluar dan tersenyum ke arah Naruto yang kini mulai menurunkan kaca mobil, "terimakasih atas tumpangannya."
"Tidak masalah. Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku."
"Ok!" Sakura mengacungkan tangannya yang membentuk huruf O kemudian melambai saat mobil Naruto melaju meninggalkan kantor Uchiha.
.
.
.
Naruto berdecak kesal saat merasakan rasa dingin menjalar di pipinya. Hantu menyebalkan itu terus menusuk-nusuk pipi Naruto menggunakan tangannya. Ia tidak tahu jika disentuh oleh hantu rasanya seperti es batu yang baru dikeluarkan dari kulkas yang ditempelkan langsung ke kulitnya. Sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, ketika itu gadis hantu ini menembuskan tangannya ke wajah Naruto dan seketika wajahnya terasa dingin dan membeku dalam sekejap. Sialan.
"Berhenti menggangguku!" ucap Naruto tak tahan.
"Whoaa!" gadis itu terperangah. Baru kali ini lelaki itu bicara langsung kepadanya.
"Kau bisa melihatku? Sudah kuduga. Kau berpura-pura tidak melihatku dan mengabaikanku. Menyebalkan sekali," ucap gadis itu dengan bibir mengerucut mengingat perlakuan Naruto terhadapnya selama beberapa hari ini.
'Memang kau juga tidak menyebalkan? Demi tuhan! Kenapa ketika pertama kalinya aku bisa melihat hantu aku harus bertemu hantu yang menyebalkan sepertimu?!'
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Naruto dingin menyembunyikan perasaannya yang meledak-ledak dengan segala kata-kata umpatan yang ada di otaknya.
"Aku?" gadis itu dengan sok imutnya memiringkan kepala dengan tangan yang menunjuk dirinya sendiri.
Naruto memutar bola matanya malas.
Gadis itu mencoba mengingat siapa dirinya sebenarnya. Tapi nihil, tak ada satupun memori tentang kehidupannya yang dapat ia ingat, bahkan namanya sendiri. Ia menggeleng, "aku tidak tahu."
'Tahan Naruto.. kau sedang berkendara. Jangan biarkan nyawamu melayang dan kau menjadi hantu seperti gadis di sebelahmu ini. Oh! Atau mungkin gadis ini berniat membuatnya hilang konsentrasi dan mati agar ia memiliki teman?! Begitu?!'
Naruto mencengkeram stir kemudinya dengan erat, "apa tujuanmu menggangguku?"
Gadis itu mengernyit, "tujuan? Tidak ada. Aku penasaran karena hanya kau yang bisa melihatku, tapi kau terus mengabaikanku."
Gadis itu menunduk teringat saat pertama kali ia membuka mata, hanya rasa sepi yang menyambutnya. "Saat pertama kali membuka mata, aku sendirian dan tidak ingat siapa diriku bahkan sampai saat ini. Aku tidak mempunyai teman dan tidak tahu apapun tentang hidupku. Bisa kau bayangkan betapa kesepiannya aku? Tidak ada orang yang bisa ku ajak bicara dan tidak ada seorangpun yang bisa melihatku. Lalu saat itu aku tidak sengaja melihatmu dan kebetulan kau juga menatap tepat ke arah mataku. Jadi kupikir hanya kau yang bisa melihatku. Aku ingin menjadi temanmu dan mungkin kau.. bisa membantuku mengingat siapa diriku sebenarnya."
"Mengapa kau tidak berteman dengan hantu saja?"
"M-mereka menyeramkan. Dan kurasa mereka juga menghindari ku. Aku tidak tahu kenapa tapi.. kurasa aku sedikit 'berbeda' dengan mereka," gadis berambut indigo itu berubah sendu memikirkan hidupnya yang entahlah.. ia tidak tahu kenapa berakhir seperti ini.
Dan Naruto pun heran mengapa hanya gadis ini yang bisa ia lihat, jika memang ia bisa melihat hantu seharusnya ia juga bisa melihat hantu yang lainnya. Bukan hanya gadis ini.
Mobil Naruto berhenti karena lampu lalu lintas di depan sana berubah merah. Naruto menoleh dan memperhatikan gadis yang kini duduk di sebelahnya. Lelaki itu merasa ada yang aneh dengan wajah gadis ini. Pertama kali mereka bertemu, wajah gadis indigo itu masih segar seperti manusia pada umumnya tetapi jika ia perhatikan dari hari ke hari wajah gadis itu semakin pucat. Tetapi hal itu tidak mengurangi kecantikan yang terpancar dari wajahnya. Alis sempurna, bulu mata lentik, hidung mancung yang mungil, bibir kecil dan pipinya yang gembil yang terbingkai oleh rambut indigo sepunggung yang terlihat lembut. Sayang sekali gadis ini harus menjadi hantu.
Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh dan menatap tepat ke safir biru yang juga tengah menatapnya. Amethys dan safir bertemu. Untuk beberapa detik mereka terpana dengan keindahan bola mata yang ada di hadapannya.
Kata-kata gadis itu meluncur begitu saja, "Naruto, tolong bantu aku."
Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Kendaraan yang tadinya berhenti mulai menyalakan mesin dan melaju meneruskan perjalanan mereka. Suara klakson mobil yang berada di belakang mobil Naruto saling bersahutan karena mobil kuning itu tak kunjung bergerak.
Naruto tersadar dan mulai melajukan mobilnya menuju hotel tempatnya menginap. Kata-kata hantu di sebelahnya terus terngiang-ngiang di kepalanya. Naruto tidak tahu kenapa wajah gadis itu saat meminta tolong padanya dapat membuat dadanya terasa sesak. Apalagi mata amethysnya yang terlihat begitu sendu.
Naruto menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan raut wajah yang gadis itu perlihatkan beberapa menit lalu. Mungkin itu adalah salah satu trik untuk membujuk Naruto agar ia mau membantunya.
Tepat sebelum Naruto turun dari mobilnya, lelaki itu berkata tegas, "aku tidak bisa membantumu."
Gadis itu hanya menatap sendu punggung Naruto yang terus berjalan menjauh meninggalkannya.
.
.
.
"Nona, nona harus makan meskipun hanya beberapa suap. Kami khawatir nona jatuh sakit," seorang wanita berumur hampir 60an mencoba membujuk bungsu Hyuuga yang sulit makan akhir-akhir ini. Gadis itu hanya mengurung dirinya di kamar dan menatapi foto kebersamaannya bersama sang kakak.
"Aku tidak mau, Chiyo-baa-san. Nanti saja," jawab Hanabi lemah sembari menarik selimutnya lebih tinggi kemudian menatap sendu bingkai foto di atas meja sebelah tempat tidurnya. Foto Hinata dan dirinya.
"Harusnya malam itu aku memeriksa kamar Nee-chan. T-tapi aku malah diam saja meskipun tahu Nee-chan tidak keluar kamar, k-kukira Nee-chan butuh waktu sendiri karena besok ia akan menikah. A-andai saja saat itu a-aku.. aku- hiks.." tubuh Hanabi bergetar menahan tangis. Nenek Chiyo menepuk-nepuk bahu gadis yang sudah ia asuh dari bayi ini. Kehilangan ibu ketika gadis ini masih bayi mungkin tidak terlalu membuatnya merasa kehilangan, tetapi ketika sang kakak yang selalu menemaninya menghilang tiba-tiba, gadis ini tentu sangat terpukul karena mereka terbiasa bersama.
Semua maid yang ada di sana menunduk menyembunyikan kesedihan. Mereka juga merasa kehilangan karena nona Hinata selalu bersikap baik pada semua orang yang bekerja di rumahnya. Hinata tak pernah membeda-bedakan status, ia bahkan berteman dengan para maid di sini.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, nona. Kita semua tidak tahu jika hal seperti ini akan menimpa nona Hinata," ucap nenek Chiyo menenangkan. Ia terus menepuk-nepuk bahu Hanabi dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang makanlah dulu agar nona tetap sehat saat nona Hinata ditemukan nanti."
Tak berselang lama Hiashi memasuki kamar anak bungsunya. Semua maid termasuk nenek Chiyo membungkuk hormat pada Hiashi. Sedangkan tuan rumah itu hanya mengangguk menyapa mereka.
"Bagaimana?" tanyanya pada nenek Chiyo.
Nenek Chiyo menggelengkan kepalanya.
"Kalian boleh keluar sekarang."
"Hai Hiashi-sama."
Nenek Chiyo dan para maid akhirnya keluar dari kamar Hanabi, memberi privasi kepada tuan mereka untuk berbicara empat mata dengan anaknya.
Hiashi duduk di sisi kasur Hanabi. Tangannya bergerak mengelus surai cokelat gadis itu, "jangan terus begini Hanabi. Menangis tidak membantu kita untuk menemukan kakakmu."
Tak ada jawaban. Anak bungsunya itu terus terisak pelan dan menatap sendu foto kebersamaannya bersama sang kakak.
"Ayah hari ini akan pergi ke Suna untuk mengurus beberapa hal di sana."
"Suna?" Hanabi akhirnya membuka suaranya. Ia bertanya parau pada ayahnya.
"Iya."
"Berapa hari?"
"Ayah janji langsung pulang jika urusannya sudah selesai."
"Apa ini ada hubungannya dengan Nee-chan?"
Hiashi mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Hanabi hanya tersenyum ke arah ayahnya. Apapun yang ayahnya lakukan untuk menemukan kakaknya akan Hanabi dukung.
"Pergilah ayah. Dan jaga diri ayah baik-baik."
"Pasti."
.
.
.
"Siapa gadis ini?"
Tbc
Siapa~ gadis~ itu~? /Sok misterius/Hohoho
